Sabtu, 01 Februari 2020

Plagiat, Pemuatan Ganda dan Blacklist Media

Di tulisan sebelumnya saya sedikit menyinggung tentang pernah di-blacklist oleh salah satu media atas laporan seseorang (bisa dibaca di Rubrik-rubrik Tulisan yang Hilang (Bagian Dua)).

Blacklist merupakan salah satu momok menakutkan bagi penulis opini di media massa. Ini biasanya terjadi untuk kesalahan penulis yang bisa dianggap fatal. Di antaranya, memplagiat tulisan orang lain (baik sebagian atau keseluruhan) dan pemuatan ganda. Plagiat biasanya ada unsur kesengajaan, dan ini biasanya sulit untuk dimaafkan. Nyaris tidak ada toleransi. Tapi untuk pemuatan ganda, ada beberapa kemungkinan mengapa ini bisa terjadi meski tetap ada kemungkinan unsur kesengajaan dari penulis.


Pemuatan ganda yang tidak disengaja oleh penulisnya bisa terjadi karena masa tunggu tayang di media yang lama dan tidak ada informasi dari pihak redaksi tentang batas waktu menunggu. Penulis, biasanya penulis pemula, bisa saja merasa tulisannya tidak layak muat lalu berinisiatif mengirim ulang tulisannya ke media lain yang ternyata langsung dimuat atau tidak perlu menunggu waktu lama untuk dimuat. Pada saat yang bersamaan atau berselang tidak terlalu lama, media yang sebelumnya dikirimi ternyata memuat tulisannya. Tulisan bisa saja tayang di waktu yang sama atau berdekatan, sedang kronologis proses pengirimannya berbeda bahkan bisa berentang waktu cukup lama. Satu hingga dua bulan misalnya. Dalam kasus seperti ini, penjelasan dari pihak penulis disertai dengan bukti-bukti otentik seperti bukti pengiriman artikel, mungkin saja membuatnya terhindar dari hukuman blacklist media.

Bagaimana jika blacklist tidak juga terhindarkan? Ya, ada kalanya, penjelasan apapun tak akan menghasilkan perubahan apapun. Blacklist tetap harus terjadi. Posisi tawar penulis umumnya tidak cukup besar, terlebih jika yang dihadapi adalah media besar. Saat sanksi ini harus penulis terima, maka konsekuensi pertama yang ia dapat dapat adalah pembatalan honor menulis berikut tulisannya yang akan di-blacklist dalam kurun waktu cukup lama. Sekitar enam bulan.

Pada kasus saya, pihak pelapor melaporkan via email yang ia kirim berantai ke beberapa media sekaligus berisikan link tulisan saya. Saya tidak memplagiat tulisan orang lain. Saya juga tidak melakukan pemuatan ganda dalam arti tulisan yang saya kirim benar-benar sama persis. Hanya, tulisan yang saya kirim memiliki ide besar yang sama ditambah ada paragraf yang saya copas apa adanya. Topik yang saya minati dan tulis ketika itu tidak memungkinkan untuk saya tuangkan hanya dalam satu tulisan dengan jumlah tulisan berkisar 700-1.000 kata. Sehingga perlu saya pecah dalam beberapa artikel yang bisa jadi antara satu tulisan dengan tulisan lain memiliki irisan tema. Atas dasar pemikiran ini, maka ada paragraf yang saya copas adanya. Dalam setiap pecahan tulisan tersebut, saya mencoba menekankan poin mana yang lebih saya tonjolkan dari tema besar yang saya angkat.

Saya sudah memberikan penjelasan yang saya kirim secara berantai pula termasuk pada si pelapor. Tentang bagaimana kronologis tulisan itu bisa seperti mirip juga mengapa ada paragraf yang saya copas apa adanya. Tidak ada tanggapan. Blacklist tetap harus saya terima.

Sedih? Pasti. Bukan soal honornya semata. Saya merasa untuk beberapa saat 'karir menulis' saya seperti di ujung tanduk. Saya yang ketika itu sudah dijangkiti virus malas menulis, semakin enggan menulis. Saya menyimpan pena saya beberapa lama. Cukup lama. Baru sekitar setahun kemudian, saya mencoba untuk menulis lagi ke media, alhamdulillah semua berjalan seperti sedia kala.


Pelajaran Berharga

Tak ada kesedihan dan kesalahan tanpa pembelajaran. Pem-blacklist-an itu memberi saya banyak pelajaran berharga. Sejak saat itu, saya lebih berhati-hati dalam menulis dan mengirimkan tulisan. Kalaupun tema besarnya sama, saya mencoba untuk melawan rasa malas untuk mengubah susunan kata agar copas paragraf antar artikel tidak terulang lagi. Begitu pula ketika akan mengirimkan ke media lain, ada kalanya saya memberi konfirmasi pada media yang sebelumnya, meski sebenarnya tidak yakin juga tulisan saya akan dimuat di sana. Bersyukur, ada redaktur yang baik hati. Balik merespon dengan baik bahkan mengucapkan terimakasih dan mendoakan agar terus produktif menulis.

Pelajaran yang lain, saat melihat ada pemuatan ganda, saya tidak langsung melaporkan ke media yang bersangkutan. Kita tidak tahu bagaimana kronologis di belakangnya. Bisa jadi yang bersangkutan adalah penulis pemula. Blacklist di awal mulai merintis jejak karya bisa jadi akan mematikan semangatnya. Maka, akan lebih baik jika mengingatkannya secara personal agar hal itu tidak terulang lagi. Pemuatan ganda bisa dibilang adalah masalah umum bagi penulis opini. Penulis senior pun kadang mengalami hal yang sama.

Beda halnya dengan plagiat. Saya pernah melaporkan seorang pejabat publik yang namanya tertulis sebagai penulis di satu tulisan yang merupakan karya saya dan tayang di salah satu media yang cukup besar. Tulisan saya dicopas hampir keseluruhan. Hanya beda judul sepertinya. Yang membuat saya cukup emosi ketika itu, si penulis berdasarkan profil diri yang ditulis merupakan orang penting dan tokoh masyarakat. Sosok yang mestinya memberi teladan yang baik. Ironis sekali kalau mengopipaste tulisan orang lain. Atas bantuan teman, saya berhasil terhubung dengan yang bersangkutan. Namun beliau menyangkal telah mengirimkan tulisan tersebut. Jadi, entah siapa yang melakukannya. Kasus ini akhirnya saya laporkan ke pihak redaksi.

Kasus plagiat, pemuatan ganda dan blacklist dalam dunia kepenulisan, banyak sekali ragamnya. Apapun itu, semoga kita terhindar dengan terus memegang adab dan etika dalam menulis. Reminder terutama untuk saya. Bahwa menulis bukan hanya menuangkan ide, tapi juga adab, etika dan rambu yang harus dipatuhi.

1 komentar:

  1. makasih sharingnya, perlu berhati2 ya dalam pembuatan tulisan

    BalasHapus