Minggu, 02 Februari 2020

Beginikah Rasanya Menjadi Orang Tua ABK?

Hari itu jadwal saya mengantar Bilal terapi wicara (TW) di Fisioterapi RSUD Soebandi Jember. Bilal yang bangun kesiangan membuat kami tiba sedikit lebih siang dari biasanya. Dan benar, kami dapat antrian yang harus menunggu belasan nomor antrian di bagian administrasi. Begitu masuk ke Poli Fisioterapi, ruang tunggu penuh, nyaris tak ada tempat duduk tersisa. Bersyukur, antrian hari itu lebih banyak orang dewasa. Yang artinya, antrian TW bisa jadi lebih sedikit karena terapi yang satu ini biasanya didominasi oleh anak-anak.



Akhirnya, setelah beberapa lama saya dan Bilal mendapat tempat duduk yang berdampingan. Seperti biasanya, saat menunggu di ruang tunggu Fisioterapi, saya banyak habiskan waktu untuk melihat-lihat sekitar daripada sibuk dengan HP atau menonton televisi. Di ruang ini, banyak pemandangan yang bikin speechless. Orang-orang yang duduk di kursi roda, berbaring di tempat tidur dengan kondisi lemah bahkan tidak sadarkan diri, atau anak-anak yang masih harus memakai stroller padahal usia mereka mestinya sudah TK atau bahkan SD. Jadi malu. Selama ini banyak mengeluh, kurang bersyukur.


Saat sedang khusyu' melamun, seorang anak perempuan tiba-tiba masuk. Sekilas, saya menerka usianya sekitar SMP. Cantik, dengan kulit berwarna kuning bersih. Ia mematung di depan pintu. Kondisinya yang sekilas terlihat normal membuat saya berpikir bahwa dia sedang menemani keluarganya untuk terapi. Namun, beberapa saat kemudian terdengar dia mengeluarkan suara yang agak meracau. Seorang laki-laki dewasa yang saya duga adalah ayahnya, menuntunnya untuk duduk. Kami kembali ke aktivitas masing-masing. 

Saat suasana ruang tunggu relatif hening, si anak tadi kembali meracau dengan suara yang lebih keras bahkan menggema. Saya menundukkan pandangan, meski hati sangat ingin menatap ke arahnya. Tapi tidak, saya tetap mengalihkan pandangan saya ke arah lain. Tak ada komentar apapun yang saya dengar di ruang tunggu. Semua orang bisa jadi paham. Membiarkan si anak bebas berekspresi. 

Pikiran saya lalu mengandaikan, bagaimana kalau si anak sedang berada di ruang publik. Restoran misalnya. Atau ruang tunggu stasiun/bandara. Suaranya yang keras dan terkesan aneh mungkin saja akan membuat banyak mata lalu menatap ke arahnya. Tatapan yang bisa jadi menjadi seumpama sembilu bagi orang tua dan keluarganya. Belum lagi jika tatapan itu masih diikuti oleh pertanyaan dan atau komentar yang menyudutkan. Ah, bisa dibayangkan bagaimana perasaan orang tua dan keluarganya. Saya saja yang hanya dianuegerahi anak terlambat bicara butuh waktu untuk menata perasaaan dan menguatkan mental saat harus menerima tatapan aneh dan pertanyaan tidak empati dari orang sekitar. Apalagi anak dengan kebutuhan khusus yang lebih kompleks.

Kondisi Bilal yang memerlukan penanganan khusus membuat saya berkenalan dengan banyak orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK), terutama melalui media sosial. Salah satunya melalui Whatssapp Group (WAG). Meski lebih sering menjadi silent reader, saya mencoba mengikuti obrolan dengan seksama. Termasuk curhatan mereka tentang bagaimana beratnya menjadi orang tua ABK.

* * *

Anak-anak spesial memang diperuntukkan untuk orang tua yang hebat. InsyaAlloh. Inilah salah satu pemikiran yang coba saling kami kuatkan satu sama lain. Menjadi orang tua ABK memang tidak mudah. Butuh tenaga ekstra, juga biaya dan pikiran yang tidak sedikit. Belum lagi harus menyiapkan mental yang kuat untuk menghadapi orang-orang dan lingkungan yang tidak selalu mengerti kondisi kami.

Sebagai contoh, banyak yang belum paham bahwa ABK seringkali adalah special gifted. Tapi masih saja banyak yang bertanya dan atau berkomentar miring.

"Kok bisa begini anaknya? Dulu kurang berhati-hati yang saat hamil?"

"Kok baru sekarang dibawa ke dokter dan terapi? Coba dari dulu, jadi gak separah sekarang"

"Wah, padahal anaknya cantik/ganteng. Kasihan kamu Nak...."

Ini sejumlah komentar dan pertanyaan yang biasanya ditanyakan langsung kepada orang tua ABK. Di belakang, kadang masih ada yang menjadikannya sebagai bahan obrolan.

"Jangan-jangan anaknya jadi tumbal untuk kekayaan orang tuanya...." 

Atau,

"Padahal ayah ibunya pinter tapi anaknya terbelakang. Jangan-jangan karma...."

Hufff, berat kan. Butuh mental baja. Yang ortunya baperan bisa jadi sering babak belur perasaannya, hehe. Padahal mengurus satu anak yang ABK saja sudah berat. Ada lho yang dikarunia anak ABK lebih dari satu. Ada yang tak cukup dibawa konsul dan terapi di kota domisili, tapi harus dibawa ke RS luar kota secara berkala dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Bisa dihitung berapa alokasi biaya, waktu dan tenaganya. Ada pula yang harus merawat ABK-nya seperti bayi padahal usia anak semestinya sudah sekolah. Maka, masihkah kita akan menambah beban mereka dengan tanya dan komentar yang tidak empati?

* * *

Ruang tunggu fisioterapi mulai tak sepenuh sebelumnya, tapi tetap saja Bilal belum dipanggil. Di ruang ini memang harus menyetok banyak kesabaran saat menunggu antrian :) Bersyukur, para staf, terapis dan bahkan dokternya sangat ramah. Di sini, kebersamaan dan saling menghargainya sangat terasa. Maka, jika hati terasa hampa, bingung mau mensyukuri apa, cobalah sesekali main ke mari....



2 komentar:

  1. Jadi inget, waktu itu di samsat pernah ketemu saat anak abk. Awalnya kita semua bingung ini anak kenapa. Tapi pas si anak sampe dituntun dan diarahkan harus apa. Baru deh semua mata ga lagi fokus ke anak ini. Karena pikirannya hampir sama, mungkin, takut kalau anak ini mengalami kekerasan atau apa. Ternyata ABK dan si Ibu dan bapaknya dengan sabar menuntun anak ini :'(

    BalasHapus
  2. saya salut dg ortu yang mmeiliki anak abk tapi mereka gak malu bawa anaknya keluar rumah, dan sy juga mengajar sahabat2ku abk cooking class, seru sama mereka kalau kita bisa menerima mereka apa adanya

    BalasHapus