Jumat, 31 Januari 2020

Rubrik-rubrik Tulisan yang Hilang (Bagian Dua)

Setelah lama tidak menulis opini di media massa, sekitar lima tahunan terakhir, resolusi saya di tahun 2020 ini adalah mencoba untuk kembali produktif. Resolusi ini baru akan dieksekusi beberapa hari lalu, kalender bulan Januari akan segera berganti Februari. Dan seperti biasa, sebelum menulis biasanya saya mengunjungi rubrik yang ingin saya kirimi untuk mempelajari topik dan gaya penulisan terbaru yang dimuat di sana. Salah satunya rubrik Gagasan di Koran Jakarta.

Koran Digital Koran Jakarta 25 Juli 2018
Salah satu edisi yang memuat tulisan saya...

Saat membuka lamannya, keanehan langsung terlihat. Update terakhir tulisan yang dimuat adalah di tanggal 31 Desember 2019. Dan feeling saya benar, rubrik itu resmi ditutup. Ada pengumuman resmi dari pihak redaksi.

Ditutupnya rubrik Gagasan di Koran Jakarta ini menyusul sejumlah rubrik-rubrik lain yang sejak lama satu per satu ditutup oleh pihak redaksi. Beberapa di antaranya bisa dilihat di Rubrik-rubrik Tulisan yang Hilang. Sedih pastinya. Satu 'lahan' menulis kembali hilang :( Senjakala media cetak memang sudah di depan mata. Tapi tak boleh terlalu bersedih. Jaman memang terus berubah, dan kita dituntut untuk bisa mengikuti trennya jika tak ingin tertinggal dan tergilas. Ketika satu pintu tertutup, InsyaAlloh pintu yang lain akan terbuka.

Di tulisan kali ini, saya ingin bercerita tentang kesan dan cerita saya sebagai salah satu penulis opini di rubrik Gagasan Koran Jakarta (KorJak). Bisa dibilang, KorJak ini media yang ramah perempuan. Selain tulisan-tulisan yang dimuat cukup banyak yang mengulas tentang perempuan, tim redaksi KorJak juga relatif ramah penulis perempuan. Tulisan yang saya kirim ke media ini biasanya tidak menunggu lama. Paling lama menunggu dua-tiga hari. Beberapa ada yang langsung dimuat keesokan harinya. Soal honor, lumayan juga. Lima ratus ribu dipotong pajak untuk satu tulisan yang dimuat. Biasanya honor dikirim 3-4 minggu setelah tulisan dimuat.

Selain cerita dan kesan manisnya, ada juga cerita yang menyedihkan bersama KorJak. Apa itu? Saya pernah di-blacklist oleh media ini atas laporan seseorang yang isinya kurang lebih saya telah melakukan pemuatan ganda tulisan yang (relatif)  sama pada media yang berbeda. Di-blacklist media itu merupakan salah satu horor bagi penulis opini. Semoga lain ada mood untuk menuliskan cerita ini lebih lengkap ya, InsyaAlloh dan mohon doa :)

Atas laporan seseorang itu, honor menulis saya yang 500 ribu dicancel, plus berdasarkan kebiasaan, selama beberapa bulan tulisan kita tidak akan dimuat di media tersebut. Saya lupa untuk berapa bulan. Tiga atau lima bulan. Blessing in disguise, pem-blacklist-an itu bertepatan dengan mulai berhibernasinya saya dari dunia menulis. Saya tidak hanya berhenti (sementara dalam waktu cukup yang lama) menulis dan mengirim ke KorJak namun juga ke media lain. Ketika beberapa waktu kemudian saya kembali menulis dan mengirim ke KorJak, alhamdulillah kembali dimuat (jika memang layak muat). Honor pun diberikan seperti biasa.

Well, yang hilang semoga segera tergantikan....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar