Kamis, 30 Januari 2020

Mendampingi si Speech Delay Mengejar Ketertinggalannya


Lama tidak menulis. Lama tidak berlaga di arena lomba, hehe, salah satunya karena ini juga. Mendampingi si bungsu, Bilal (4,5 tahun), yang mengalami keterlambatan bicara atau speech delay.


Dibanding dua kakaknya, dibanding teman-teman sebayanya, kemampuan komunikasi Bilal memang cukup tertinggal. Ketertinggalan yang membuatnya masuk dalam kategori anak-anak special needs. Sebuah kenyataan yang bagi kami orang tuanya, terutama saya, perlu waktu untuk menerimanya dengan hati yang lapang. Ah, banyak hikmah dan pelajaran yang kami dapatkan dari keistimewaan Bilal. Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Semula kami menganggap kemampuan bicara Bilal yang kurang sebagai sesuatu yang biasa. Sampai usianya 2,5 tahun ketika itu. 

"Aku juga dulu kayak gitu, lamban ngomongnya. Sampai dikira gak bisa bicara sama Tante".

"Kayaknya, kalau dari garis keluargaku, biasa deh anaknya dikit ngomong gitu".

Dan sebagainya. Dan seterusnya.

Sampai suatu hari, saat saya mengantar Ibu mertua rahimahullah kontrol ke dokter spesialis rehab medik, Bu Dokter merasa ada yang perlu diperhatikan lebih dari kemampuan bicara Bilal yang waktu ikut masuk ke ruang dokter. Alhasil, kondisi Bilal akhirnya ikut dikonsultasikan. Dan dokter memberi saya sejumlah masukan tentang bagaimana baiknya. Petualangan pun dimulai. Juga, kecamuk emosi yang cukup signifikan bagi saya sebagai ibunya. Antara rasa tidak percaya, sedih, merasa bersalah, juga takut akan cibiran orang terhadap anak saya.

Tak menunggu lama, keesokan harinya saya membawa Bilal ke RSUD untuk konsultasi dengan dokter anak. Alhamdulillah ketika itu bertemu dengan dokter anak yang care sekali. Petualangan dilanjutkan dengan mengunjungi sejumlah tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Atas rekomendasi dokter dan juga teman-teman. Ada banyak pendapat dan pandangan. Jujur, kami merasa buntu dan kurang sreg dengan pendekatan-pendekatan yang mereka tawarkan. 

Saya pun mulai berburu referensi di media sosial dengan bergabung dengan sejumlah grup orang tua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Tak juga mendapat solusi yang dirasa pas dan sesuai dengan kemampuan kami. Namun, bergabung dengan beberapa grup orang tua ABK membuka hati kami, betapa kami masih relatif sangat beruntung. Ada banyak anak yang lebih kompleks keluhan dan masalahnya sehingga orang tuanya harus mesti sabar, juga mesti mengeluarkan materi, tenaga dan pikiran yang sangat besar. Selain juga kekuatan mental untuk menghadapi cibiran dan cemoohan sosial. Subhanalloh. Sungguh pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Terutama untuk lebih banyak bersyukur dengan kondisi anak-anak.

Meski belum menemui tempat dan sistem terapi yang kami anggap benar-benar pas, kami menstimulus kemampuan bicara Bilal dengan lebih intens lagi dengan melibatkan kakak-kakaknya. Alhamdulillah mereka sangat sportif. Ada sedikit kemajuan, meski tetap saja kemampuan bicara Bilal bisa dibilang jauh tertinggal dari teman seusianya.

Akhirnya, setelah konsultasi dengan sejumlah dokter anak dan beberapa psikolog, petualangan kami sampai juga di psikiater. Lagi-lagi, ini ternyata adalah cara Alloh untuk kian membukakan pikiran kami bahwa pergi ke psikiater bukanlah hal yang tabu, menakutkan dan memalukan. Subhanalloh....

Sebagai akumulasi dari banyak saran, maka sejak tahun ajaran baru kemarin, Bilal kami masukkan sekolah. Di sekolah umum yang alhamdulillah sangat ramah ABK. Meski sempat rewel di bulan-bulan pertama, Bilal akhirnya bisa ditinggal sendiri. Bagi kami, ini sungguh pencapaian yang luar biasa. Atas saran dokter pula, Bilal akhirnya mengikuti terapi wicara di rumah sakit. Seminggu dua kali. MasyaAlloh, meski kini baru pada tahap membiasakan menyambung dua tiga kata, kami lagi-lagi sangat bahagia. Karena selain lebih ceriwis, komunikasi Bilal dengan kami juga semakin sesuai dengan konteks.

Alhamdulillah untuk semua hal yang telah dan insyaAlloh akan kami dan Bilal lalui. Semoga banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kami ambil. Terutama bagi kami orang tuanya. Bahwa setiap anak seyogyanya adalah istimewa. Bahwa setiap anak memiliki proses belajar dan kemampuan yang tidak sama. Bahwa tugas kami hanyalah dan adalah berikhtiar, hasilnya Alloh yang menentukan. Dan juga, bahwa anak-anak hanyalah titipan, yang wajib kita jaga sebaik mungkin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar