Minggu, 20 Oktober 2019

Kiprah Emak-emak Milenial dalam Merintis Koperasi Zaman Now

Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, luar ruangan
Ibu Bupati Jember di salah satu stan komunitas perempuan. 

Semangat dan eksistensi koperasi tak lekang oleh waktu. Kehadirannya tetap kontekstual dan aktual untuk menjadi soko guru perekonomian bangsa. Semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang menjadi landasan dasar koperasi, juga sangat relevan dengan kehidupan bangsa saat ini. Kita perlu bersatu dan bergotong royong untuk mencapai kemajuan bersama. Mengutip sebuah kalimat, bersama kita emas, sendiri kita bukan siapa-siapa.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana koperasi bisa hadir dan eksis di masa sekarang, di era digital di mana perubahan bergerak sangat cepat dan individualisme begitu dominan? Jangan pesimis dulu. Setiap zaman memiliki 'bintang'-nya sendiri. Salah satu aktor yang kita harapkan menjadi pionir bagi lahirnya koperasi baru di masa sekarang juga sudah ada. Siapakah dia?


Secercah harapan itu muncul melalui kiprah sejumlah emak-emak milenial. Iya, emak-emak. Mereka yang sering diidentikkan dengan daster dan kerempongannya yang seperti tiada akhir :) Ternyata, mereka punya potensi besar untuk menjadi pelaku handal koperasi di masa sekarang. Beberapa bahkan telah melakukan sejumlah langkah nyata.


Bermula dari WAG

Stereotipe jadul seringkali melekat pada sosok emak-emak. Namun, mereka juga fleksibel dan cepat belajar. Termasuk dalam hal penguasaan terhadap benda canggih nan ajaib bernama gadget. Dalam hitungan hari bahkan jam, mereka bisa menguasai dengan baik. Maka tak heran jika kemudian kita melihat banyak emak eksis dan narsis di sejumlah media sosial dengan intensitas yang kadang tak kalah dengan anak muda. Tapi bukan emak namanya kalau mereka hanya bisa eksis dan narsis, hehe.

Emak adalah pilar bangsa sekaligus pilar ekonomi. Dengan gawai di tangan, mereka mencipta lagi sebuah keajaiban. Yakni hadir sebagai salah satu penggerak ekonomi yang utama, salah satunya melalui aktivitas jual beli online yang marak akhir-akhir ini. Perempuan sebagai makhluk sosial yang setiap harinya dikaruniai sekitar 20 ribu kata untuk ‘dibelanjakan’ seolah menemukan tempat yang tepat ketika Whatsapp Group (WAG) booming akhir-akhir ini. Dengan kemampuannya bermultitasking, banyak perempuan bisa mengikuti puluhan grup tanpa keluhan pusing dan pening. Salah satu WAG yang menjadi favorit para emak adalah grup jual beli.

Mulanya, banyak emak ikut grup jual beli agar mudah mencari barang dan aneka kebutuhan tanpa perlu capek keluar rumah. Virus entrepreneurship yang ada di grup ternyata kemudian menjangkiti, sehingga yang awalnya hanya ingin beli, lama-lama tertantang juga untuk ikut menjual. Kemudahan berbisnis di masa sekarang membuat banyak emak mampu dengan cepat masuk ke dalam hampir semua lini ekonomi. Sebagai pembeli sekaligus penjual bahkan produsen, dengan jangkauan bahkan bisa sampai ke mancanegara.


Gambar mungkin berisi: 33 orang, orang tersenyum, luar ruangan
Perempuan terus belajar hingga lintas komunitas.


Srikandi-Srikandi Koperasi Masa Kini

Potensi dan kekuatan ekonomi perempuan banyak yang masih sporadis. Sejumlah perempuan yang memiliki jiwa pionir dan kepemimpinan merasa perlu untuk membentuk wadah bagi kaumnya agar ‘gerakan’ mereka bisa lebih solid dan terorganisir. Banyak komunitas lalu tumbuh yang bermula dari WAG. Komunitas itu umumnya berbentuk paguyuban dengan tujuan agar para anggota lebih merasa memiliki, lebih jelas tujuan yang ingin dicapai, juga memiliki bargaining position yang lebih besar dengan pihak lain. Dari WAG ke paguyuban, kebersamaan mereka menjadi lebih tertata. Memiliki susunan pengurus dan juga tata tertib anggota. Dengan begitu, pihak luar baik instansi pemerintah maupun swasta menjadi lebih percaya untuk mengajak bermitra atau bekerja sama. Ada banyak bentuk kerjasama yang mungkin dijalin. Bazar bersama, penyuluhan dan latihan, bahkan pemberian bantuan dengan sistem tanggung renteng misalnya. Simbiosis mutualisme tercipta. Program pemerintah dan swasta akan lebih mudah direalisasikan. Di pihak lain, komunitas perempuan juga akan mendapat banyak manfaat.

Dari WAG ke komunitas, ini baru permulaan. Beberapa komunitas perempuan terus bermetamorfosis menjadi lebih baik lagi. Sejumlah emak yang memiliki semangat sebagai Srikandi-Srikandi koperasi masa kini merasa perlu untuk mendirikan koperasi. Kenapa koperasi?

Seperti saya tulis di awal tulisan ini, semangat koperasi masih relevan dan kontekstual untuk diterapkan di masa sekarang. Perempuan perlu bersatu agar kekuatan dan kontribusi semakin optimal. Dengan sejumlah penyesuaian dengan kondisi zaman, sejumlah komunitas lalu membentuk koperasi. Salah satu koperasi yang bermula dari dari WAG jual beli khusus perempuan yang penulis ikuti adalah koperasi dari Komunitas Niaga Jujur di Kabupaten Jember.

Sesuai dengan namanya, komunitas yang beranggotakan khusus perempuan ini berharap kaum perempuan khususnya para emak, mampu menjadi bagian penting dalam roda perekonomian bangsa dengan terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi yang produktif dengan mengedepankan sikap jujur dan solidaritas antar anggotanya. Seperti tagline mereka yang penulis kutip di awal tulisan. Bersama kita emas, sendiri kita bukan siapa-siapa. Tagline ini, jika kita pahami lebih dalam, sejalan dengan prinsip-prinsip dasar koperasi yang dicetuskan oleh Bapak Koperasi kita, Muhammad Hatta, tentang kekeluargaan dan kebersamaan para anggota.


Jalan Masih Panjang

Menginjak usianya yang hampir 2 tahun pada November nanti, Komunitas Niaga Jujur telah menoreh sejumlah pencapaian penting. Salah satunya, mereka telah membentuk koperasi yang beranggotakan anggota komunitas sehingga para anggota dapat lebih saling bahu membahu untuk mencapai kemajuan bersama. Seperti semangat koperasi, dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Selain kesejahteraan dan kemandirian anggota, dengan adanya koperasi mereka berharap program-program komunitas yang selama ini berjalan bisa memiliki kontribusi dan pengaruh yang lebih besar bagi sekitar.

Ditilik dari eksistensinya, Koperasi Niaga Jujur merupakan salah satu embrio koperasi zaman now. Koperasi-koperasi inilah yang nantinya akan menjadi bagian dari entitas besar koperasi digital yang saat ini tengah digalakkan. Namun, sebagaimana koperasi lain pada umumnya, Koperasi Niaga Jujur juga menghadapi sejumlah kendala klasik.

Sejumlah kendala dan permasalahan itu antara lain, antusiasme dan kesolidan anggota yang masih perlu terus dibina. Selain mengalami pasang surut, tak bisa dipungkiri juga masih banyak anggota komunitas yang belum paham dan belum tertarik untuk bergabung menjadi anggota koperasi. Kualitas SDM terutama yang terkait dengan penguasaan teknologi informasi juga menjadi kendala lain yang perlu terus di-upgrade. Selain itu, totalitas komitmen dan kinerja pengurus dan anggota juga acapkali menjadi kendala karena masing-masing juga memiliki kesibukan dan kegiatan. Kendala besar lain yang juga tak kalah krusial adalah masalah modal yang masih jauh dari memadai untuk menopang kegiatan koperasi yang lebih optimal.

Sejumlah kendala ini memerlukan dukungan nyata yang terus menerus dari semua pihak. Koperasi-koperasi baru yang tak ubahnya masih seperti bayi merah ini perlu terus dikuatkan dan diberdayakan. Dengan begitu, kembalinya koperasi sebagai soko guru perekonomian rakyat di masa sekarang, semoga bisa segera kita wujudkan.


2 komentar:

  1. Keren banget ibuk2nya. Ini namanya memanfaatkan the power of emak2 ke arah yg positif ya mbk. Yakin deh, koperasi yg digagas oleh emak2 ini insyaAllah bakal makin berkembang. Aamiin.

    BalasHapus
  2. Iya Mbak Inda, emak-emak memang luar biasa. Salut. Semoga kontribusi mereka semakin nyata untuk kemajuan negeri ini, aamiin....

    BalasHapus

 
;