Minggu, 20 Oktober 2019

Kiprah Emak-emak Milenial dalam Merintis Koperasi Zaman Now

Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, luar ruangan
Ibu Bupati Jember di salah satu stan komunitas perempuan. 

Semangat dan eksistensi koperasi tak lekang oleh waktu. Kehadirannya tetap kontekstual dan aktual untuk menjadi soko guru perekonomian bangsa. Semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang menjadi landasan dasar koperasi, juga sangat relevan dengan kehidupan bangsa saat ini. Kita perlu bersatu dan bergotong royong untuk mencapai kemajuan bersama. Mengutip sebuah kalimat, bersama kita emas, sendiri kita bukan siapa-siapa.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana koperasi bisa hadir dan eksis di masa sekarang, di era digital di mana perubahan bergerak sangat cepat dan individualisme begitu dominan? Jangan pesimis dulu. Setiap zaman memiliki 'bintang'-nya sendiri. Salah satu aktor yang kita harapkan menjadi pionir bagi lahirnya koperasi baru di masa sekarang juga sudah ada. Siapakah dia?

Minggu, 13 Oktober 2019

Perempuan Cerdas dan Kopi, Adakah Hubungannya?


Gambar mungkin berisi: tanaman dan luar ruangan
Kopi Arabika dari Kintamani. Teksturnya agak kasar.
Rasa sedikit asam.

Perempuan cerdas dan kopi, adakah hubungannya?

Pertanyaan ini sekian lama menghinggapi benak saya. Saat dalam banyak kesempatan, saya menemukan beberapa perempuan cerdas ternyata sama-sama menyukai kopi. Kopi, bagi mereka seperti teman baik. Yang kerap menemani di waktu-waktu yang 'spesial'. Saat dikejar dan atau mengejar deadline misalnya, hahaha.

Perempuan smart pertama yang saya ketahui merupakan seorang penyuka kopi adalah dosen yang sekaligus penulis. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia sering bercerita tentang membutuhkan kopi untuk menemaninya begadang. Karena ia juga memiliki masalah dengan lambungnya, maka sang suami mencarikan kopi dengan kadar kafein rendah yang bisa lebih bersahabat dengan lambung istrinya, yang sepertinya, tak bisa meninggalkan kopi dari list konsumsinya.

Kamis, 03 Oktober 2019

Berkunjung ke Pasar Lumpur Ledokombo

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan luar ruangan

Sejak lama, ingin mengajak anak-anak ke pasar lumpur Ledokombo, sekalian main ke Tanoker yang fenomenal. Ingin mengenalkan pada anak-anak, suasana dan nuansa tradisional yang kini kian terkikis. Agar mereka masih bisa mengenal kekayaan nusantara dan kearifan masyarakat.

Ledokombo memiliki jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan dari tempat tinggal kami. Perjalanan ke sana relatif lancar dengan infrastruktur yang cukup baik. Suasana desanya masih terasa. Lokasi pasar lumpur sendiri agak melosok. Sehingga untuk orang yang memiliki ingatan terbatas soal jalan, rute dan lokasi seperti saya, perlu punya guide yang mumpuni :)
 
;