Senin, 23 September 2019

Mencetak Generasi Muda Candu Membaca ala Keluarga Kampung Baca

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang tersenyum
Pendiri Kampung Baca, Bapak Imam Suligi, bersama cucu.

Kampung Baca telah banyak di kenal masyarakat, baik di lingkup lokal, nasional bahkan ke mancanegara. Hadir sebagai oase di tengah kegersangan minat dan fasilitas baca masyarakat, Kampung Baca mencoba menawarkan sesuatu yang unik dan beda. Membaca diharapkan hadir sebagai kebutuhan, bukan sebagai tuntutan. Dan perpustakaan adalah tempat rekreatif yang menyenangkan, bukan tempat usang yang membosankan. Untuk itu, Kampung Baca hadir dengan konsep perpustakaan yang baru, yakni dengan konsep garden libraryBagaimana Kampung Baca tumbuh dan berkembang sebagai taman baca masyarakat, telah banyak diulas baik dalam bentuk tulisan maupun video. Untuk postingan di blog ini, salah satunya bisa dilihat di tentang Kampung Baca

Untuk update blog kali ini, penulis akan mengulas sisi lain dari Kampung Baca yang mungkin belum banyak diulas. Yakni tentang bagaimana aktivitas membaca keluarga Kampung Baca sendiri, terutama generasi mudanya. 

Dirunut dari pendirinya, yakni Bapak Imam Suligi, generasi muda Kampung Baca kini telah sampai pada generasi ketiga, yakni para cucu yang hingga saat ini berjumlah belasan. Usia mereka variatif, dari belasan tahun hingga bawah lima tahun. Hampir semua cucu umumnya suka membaca, gila membaca bahkan mungkin masuk dalam kategori candu membaca. Benarkah?

Jika banyak orang tua lain harus melakukan hampir segala macam cara untuk membuat anaknya mau membaca, kami para orang tua di keluarga Kampung Baca bahkan kadang harus sedikit mengancam agar anak-anak mau break membaca di waktu-waktu yang sebaiknya tidak membaca. Jadi, jika di keluarga lain umumnya berlaku jam wajib membaca, di keluarga kami justru sebaliknya. Ada waktu-waktu di mana anak dilarang pegang buku dan baca. Sebagai contoh, tidak membaca saat makan. Tidak membaca sampai larut malam atau diam-diam membaca dalam kamar dengan penerangan yang kurang memadai.


Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan luar ruangan
Antri angpao sembari membaca.

Selain harus menerapkan waktu tidak boleh membaca, kami kadang harus juga menyetop anak-anak untuk beli buku. Iya, selain gemar membaca, anak-anak juga suka membeli buku dengan alasan semua buku (terutama buku anak-anak) di perpustakaan kakeknya sudah dibaca. Padahal koleksi buku anak jumlahnya ratusan di antara koleksi buku yang sudah ribuan. Beberapa buku bahkan sudah mereka baca lebih dari sekali tapi mereka masih ingin membaca lebih banyak buku lagi dan lagi.

Minat baca anak-anak yang menurut saya sudah sampai taraf ‘candu’ ini tidak lain merupakan buah dari hasil jerih payah pendiri Kampung Baca yang telah menyemai benih-benih literasi sejak puluhan tahun lalu. Beliau sendiri sejak kecil sudah akrab dengan dunia literasi karena ayah beliau atau kakek buyut anak-anak adalah seorang agen koran saat itu, Surabaya Pos. Bapak Imam kecil sudah terbiasa membaca dan semakin suka membaca seiring dengan pertambahan usia. 

Kecintaan pada aktivitas membaca menjadi atmosfir keseharian yang kemudian dirasakan oleh keluarga kecil beliau. Semua anggota keluarga suka membaca dan mulai menunjukkan gejala candu membaca. Koleksi buku semakin bertambah dan semakin bertambah sehingga terbentuklah perpustakaan keluarga. Koleksi buku yang mulanya banyak didominasi oleh buku-buku sastra dan komik, mulai diisi juga dengan buku-buku agama, sains, dan sebagainya. Seiring waktu, perpustakaan keluarga itu kemudian bermetamorfosis menjadi taman baca masyarakat. Kampung Baca bukan lagi milik keluarga tapi milik semua yang suka dan butuh membaca. Kampung Baca dipilih sebagai nama yang diharapkan membumi dan lebih dekat dengan masyarakat.

Generasi milenial Kampung Baca umumnya lahir saat Kampung Baca sudah berdiri dengan berbagai fasilitas yang sangat memadai baik dari segi koleksi buku, permainan, maupun sarana dan prasarana penunjang lainnya. Mereka tidak hanya mudah mendapatkan bacaan yang berkualitas bahkan sejak dalam kandungan, namun juga bisa menikmati permainan edukatif dengan suasana alam yang kondusif saat sudah lahir dan mulai tumbuh besar. Dengan keadaan yang demikian, anak-anak menjadi terkondisikan untuk cinta bahkan candu membaca sejak dini.


Gambar mungkin berisi: orang duduk dan dalam ruangan
Salah satu sudut Kampung Baca.

Dari perjalanan panjang bagaimana benih-benih literasi disemai dalam keluarga Kampung Baca ada beberapa pola dan formulasi yang bisa ditiru oleh banyak keluarga lain. Tentu, dalam praktiknya tidak harus persis sama. Namun beberapa filosofi dasarnya bisa diadopsi dan diadaptasi. Berikut beberapa poin pentingnya:

Pertama, membangun generasi muda cinta membaca harus dimulai dengan niatan dan komitmen yang kuat terutama dari orang tua. Membaca dicanangkan sebagai kebiasaan sekaligus kebutuhan. Terwujudnya keluarga yang cinta membaca dan berliterasi baik adalah salah satu goal besar yang ingin dicapai. Karena keluarga yang berliterasi baik umumnya akan bersikap lebih open minded, kaya akan ilmu pengetahuan dan informasi, pada akhirnya diharapkan bisa bijak dan tanggap dalam menghadapi perubahan jaman.

Kedua, aksi nyata bisa dimulai dengan mengoleksi sejumlah bahan bacaan sesuai dengan minat dan kebutuhan keluarga. Tak mesti buku baru dan mahal. Berburu buku diskon atau mencari buku second berkualitas baik bisa menjadi alternatif. Menambah koleksi bacaan bisa masuk dalam pos rutin pengeluaran keluarga. Jika mengoleksi bacaan sendiri terasa sulit dan berat terutama dari segi finansial, rajin dan rutin mengunjungi tempat-tempat di mana buku bacaan mudah diakses bisa menjadi alternatif. Bisa berkunjung ke perpustakaan, taman baca masyarakat, sudut baca, toko buku, atau pinjam teman dengan sistem bergilir. Pokoknya, jangan patah arang untuk terus bisa membaca.



Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan luar ruangan
Membaca buku favorit.

Ketiga, membudayakan membaca dalam keseharian bagi seluruh anggota keluarga. Buku-buku dan sumber bacaan tidak cukup hanya dikoleksi, terus menumpuk dan berdebu. Membaca perlu dijadikan rutinitas sehari-hari. Jika memungkinkan, buat area khusus di rumah sehingga suasana membaca semakin kondusif. Agar aktivitas rutin membaca mudah dibiasakan, kami mengurangi porsi nonton televisi. Bahkan ada anggota keluarga kami  yang meniadakan televisi di rumahnya. Tak hanya televisi, penggunaan gadget juga diatur dengan cukup ketat. Dan orang tua harus menjadi teladan sekaligus partner terbaik anak dalam aktivitas membaca. Salah satu momen terbaik untuk membiasakan membaca terutama bagi anak-anak adalah aktivitas membaca atau dibacakan cerita menjelang tidur. Pilih cerita yang menarik dan sarat dengan nilai-nilai edukasi sehingga anak tidak hanya semakin akrab dengan bacaan namun juga ada nilai-nilai baik yang tertanan di sanubarinya. Bila aktivitas ini telah menjadi rutinitas dan anak telah ‘jatuh  cinta’, mereka akan merasa ada yang hilang bila aktivitas yang satu ini satu malam saja terlewati. Membaca kemudian tidak hanya mereka inginkan menjelang tidur saja, tapi juga di banyak waktu lain. Saat membaca menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan, biasanya anak-anak akan lebih mudah dialihkan dari televisi dan gadget.


Bosan membaca di perpustakaan,
anak-anak bisa bermain di halaman Kampung Baca.

Keempat, membudayakan diskusi dan sharing. Dalam tahapan selanjutnya, dalam rangka menumbuhkembangkan budaya literasi dalam keluarga, membaca buku saja tidaklah cukup. Aktivitas diskusi dan sharing antar keluarga perlu juga dibudayakan. Ini bertujuan selain untuk lebih mengakrabkan antar anggota keluarga, juga agar transfer of knowledge bisa berlangsung lebih optimal. Karena tidak semua anggota keluarga memiliki minat yang sama. Tidak pula memiliki kemampuan dan kesempatan membaca yang sama. Diskusi dan sharing yang intens diharapkan bisa menjembatani kesenjangan literasi yang mungkin ada.  

Beberapa poin di atas bisa dibilang cukup konsisten diterapkan di keluarga Kampung Baca dalam kurun waktu yang cukup lama. Meski koleksi buku di perpustakaan kami relatif lengkap, anak-anak tetap memiliki jadwal kunjungan yang cukup rutin ke toko buku dan membeli sejumlah buku baru di momen-momen tertentu. Saat ada yang ulang tahun atau saat lebaran di mana biasanya mereka punya banyak uang sendiri, hehe.  Diskusi juga menjadi rutinitas yang tak kalah intensnya. Agar transfer ilmu dan pengetahuan bisa lebih optimal.



Gambar mungkin berisi: 1 orang, duduk
Membaca bersama.

Pertanyaan selanjutnya, apakah hasil yang kami rasa dan dapatkan dari investasi panjang membuat generasi muda kami cinta membaca sejak dini? Setiap anak dan setiap orang dalam keluarga kami memiliki proses dan hasil berliterasi yang tidak sama. Namun secara umum, ada beberapa poin umum yang bisa kami bagi dan semoga menjadi inspirasi bagi keluarga Indonesia lainnya.

Pertama, terbiasa dan gemar membaca sendiri sejak dini membuat anak-anak memiliki antusiasme untuk belajar dan ingin tahu yang sangat besar. Membaca buku, dan juga belajar, seringkali mereka lakukan spontan tanpa perlu suruhan apalagi hardikan. Membaca bagi mereka tak ubahnya seperti bermain. Sebuah aktivitas yang menyenangkan sehingga mereka ingin lagi, lagi dan lagi.


Gambar mungkin berisi: orang duduk dan dalam ruangan
Membaca, dan bermain.

Kedua, beberapa anak dalam keluarga kami memiliki kemampuan bahasa di atas rata-rata teman sebayanya. Banyak membaca apalagi ditambah dengan intens berdiskusi, membuat kosakata dan khasanah pengetahuan mereka bertambah cukup signifikan. Semakin banyak membaca, semakin banyak yang kita tahu. Karena buku adalah jendela dunia. Banyak membaca juga bisa membuat seseorang semakin bijak dan tanggap terhadap perubahan jaman. Anak-anak yang relatif masih kecil, kadang bisa menjadi teman diskusi yang nyambung dan menyenangkan ketika diajak berdiskusi oleh orang yang lebih tua. Saat membaca dan mendengar info atau berita, mereka juga seringkali berusaha untuk mencernanya lebih dahulu. Tidak serta merta bereaksi spontan.


Gambar mungkin berisi: orang duduk dan dalam ruangan
Ruang baca yang cukup luas memungkinkan
anak-anak membaca sekaligus bermain.

Ketiga, banyak membaca bisa membantu mengenali potensi anak sejak dini. Beberapa anak dalam keluarga kami mulai terbaca minat dan bakat emasnya. Salah satunya terbantu oleh jenis bacaan yang mereka minati sejak dini. Jadi, sejak usia yang sangat dini, anak-anak sudah diketahui jenis bacaan apa yang menjadi favorit mereka. Koleksi buku di Kampung baca yang banyak dan cukup variatif jenisnya, membuat anak-anak memiliki pilihan. Anak-anak ada yang mulai menunjukkan minat besarnya pada sains, teknologi, psikologi, agama. Beberapa anak bahkan mulai mengasah skillnya sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Akhirnya, sampai juga di pengujung cerita. Semoga kisah kami, tentang bagaimana membangun dan mencetak generasi muda yang candu membaca sejak dini bisa menjadi inspirasi keluarga Indonesia lainnya. Kami juga masih harus belajar lagi dan lagi. Semoga cita-cita besar kita untuk mewujudkan Indonesia yang berliterasi baik bisa kita akselerasi dengan munculnya keluarga-keluarga Indonesia yang gemar membaca.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;