Senin, 05 Agustus 2019

Revolusi Sehat dari Dapur

Keterangan foto tidak tersedia.

Kesehatan kini merupakan salah satu isu utama kehidupan, baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dunia internasional. Kualitas kesehatan sendiri sangat dipengaruhi banyak faktor seperti gaya hidup, pola makan, lingkungan, dan hubungan sosial. Banyak penyakit masa kini yang sering dikaitkan dengan kesalahan pola makan. Dua isu utama yang kini menjadi perbincangan hangat, kekurangan gizi kronis (malnutrisi). Hal ini dikaitkan dengan stunting (postur kerdil) dan obesitas (sumber berbagai penyakit serius seperti stroke, diabetes, darah tinggi, dan jantung).
Malnutrisi sering dikaitkan dengan kemiskinan. Ini identik dengan negara-negara berkembang dan daerah tertinggal. Akses orang miskin terhadap makanan bergizi dan berkecukupan tidak bisa optimal. Ditambah lagi sanitasi buruk dan layanan kesehatan kurang baik. Di negara-negara maju, problem kesehatan utamanya berat badan berlebih atau obesitas.

Makanan berlimpah, jarang gerak karena sarana dan prasarana begitu baik. Tambah gaya hidup makanan dan minuman cepat saji. Sebagaimana halnya sejumlah negara berkembang yang menghadapi persoalan serius warga negaranya yang mengalami malnutrisi, sejumlah negara maju sering juga kewalahan menghadapi ledakan obesitas warganya. Beberapa negara bahkan mengampanyekan perang melawan obesitas sebagai salah satu ancaman serius ketahanan masyarakat.
Obesitas akan lahirkan banyak penyakit yang memengaruhi kualitas dan produktivitas warga, akhirnya mengurangi daya saing sumber daya manusia. Banyaknya warga yang sakit, juga bisa menambah beban keuangan negara, terutama negara-negara yang menerapkan Universal Health Coverage (UHC). Itulah alasan dorongan hidup sehat dengan pola makan yang benar. Ironisnya, ada pula negara yang secara serius menghadapi malnutrisi dan obesitas ssekaligus, termasuk Indonesia.

Malnutrisi vs Obesitas
Ketika di sejumlah daerah pedalaman diberitakan tentang kejadian gizi buruk yang bahkan hingga menelan korban jiwa, di sejumlah daerah lain khususnya di perkotaan, tren penduduk berat badan berlebih kian naik. Dikotomi malnutrisi dan obesitas kini tidak lagi sama dengan miskin vs kaya. Malnutrisi bisa menyebabkan stunting, tidak lagi semata faktor ekonomi. Ada faktor-faktor lain yang juga berkontribusi tak kalah signifikan karena kesalahan pola makan dan lingkungan yang buruk.
Begitu pula dengan obesitas. Dulu kegemukan diidentikkan dengan kemakmuran dan kebahagiaan. Kini juga bisa bertanda timbunan penyakit dan ini tidak lagi didominasi kalangan berada saja. Kaum obesitas juga mudah ditemukan di perdesaan dan perkampungan kumuh perkotaan, meski mungkin jumlahnya tak sebanyak dari kalangan berada. Jadi, malnutris dan obesitas bisa bersumber masalah yang sama seperti kesalahan pola makan.
Pentingnya memperbaiki pola makan dalam rangka menjaga kualitas kesehatan secara keseluruhan kini menjadi salah satu trending. Di media sosial, misalnya, muncul sejumlah kelompok diet. Ada yang mengedepankan pola makan seimbang. Ada yang lebih mengutamakan sayuran dan buah-buahan. Ada yang lebih banyak mengonsumsi protein dan lemak. Pilihan pola makan ini memungkinkan orang mengamil pola makan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Pentingnya makanan sehat menjadi tema komunitas Tanoker Ledokombo pada “Festival ke-9 Egrang” 22 September lalu dengan tema “Food for Peace”. Tanoker ingin menyerukan, revolusi sehat diawali dari dapur. Festival juga menyajikan bazar kuliner tradisional berbahan pangan lokal. Tidak hanya dari beras, ada dari singkong, ubi, dan mocaf. Sejumlah sentuhan kreatif dan inovatif terlihat dalam camilan tradisional seperti aneka kripik sayuran.
Revolusi sehat dari dapur mengajak untuk lebih bijak dan selektif mengonsumsi makanan pabrikan dan instan. Makanan dan minuman kini telah menjadi salah satu bentuk imperialisme modern. Invasi kuliner asing dalam konteks luas memiliki banyak pengaruh yang seringkali tak disadari. Di antaranya, imbas pada perubahan budaya terutama generasi muda, tergesernya ekonomi kerakyatan berbasis pangan local. Peningkatan problem kesehatan karena makanan instan dalam jangka lama berbahaya.
Masyarakat terutama generasi muda kini lebih familiar dengan makanan dan minuman instan serta cepat saji daripada kuliner tradisional. Padahal, di balik makanan dan minuman cepat saji banyak penambahan zat kurang baik bagi kesehatan. Dari segi kemasan, kuliner tradisional umumnya banyak menggunakan dedaunan atau bahan lain yang lebih ramah lingkungan. Sedang, makanan modern banyak dikemas dengan plastik, steroform, aluminium foil, atau bahan-bahan lain yang sulit diurai. Tidak mengherankan, Indonesia menempati urutan dua sebagai negara penghasil limbah plastik terbanyak dunia.
Sejumlah kekhawatiran yang bersumber dari makanan ini sudah menyalakan lampu merah. Artinya, kita tak bisa membiarkannya lagi, tanpa ada upaya nyata untuk menanggulanginya. Maka, mari mulai revolusi sehat dari dapur. Caranya, mengurangi asupan makanan dan minuman instan. Mari mulai membiasakan mengomsumsi makanan minuman berbahan pangan local. Mari sebisa mungkin mengurangi limbah plastik. Semua langlah ini tidak hanya penting bagi kita dalam konteks pribadi. Tapi juga bisa menjadi bagian dari upaya nyata membangkitkan kembali kedaulatan pangan dan kejayaan kuliner Nusantara.

** Tulisan telah dimuat di Rubrik Gagasan Koran Jakarta, pada Jumat, 28 September 2018. Pemuatan bisa dilihat di link berikut Revolusi Sehat dari Dapur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;