Senin, 14 Oktober 2019

Perempuan Cerdas dan Kopi, Adakah Hubungannya?

Perempuan cerdas dan kopi, adakah hubungannya?

Pertanyaan ini sekian lama menghinggapi benak saya. Saat dalam banyak kesempatan, saya menemukan beberapa perempuan cerdas ternyata sama-sama menyukai kopi. Kopi, bagi mereka seperti teman baik. Yang kerap menemani di waktu-waktu yang 'spesial'. Saat dikejar dan atau mengejar deadline misalnya, hahaha.

Perempuan smart pertama yang saya ketahui merupakan seorang penyuka kopi adalah dosen yang sekaligus penulis. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia sering bercerita tentang membutuhkan kopi untuk menemaninya begadang. Karena ia juga memiliki masalah dengan lambungnya, maka sang suami mencarikan kopi dengan kadar kafein rendah yang bisa lebih bersahabat dengan lambung istrinya, yang sepertinya, tak bisa meninggalkan kopi dari list konsumsinya.

Rabu, 18 September 2019

Bom Waktu Kesehatan Masyarakat


Per 1 Januari 2019, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS Kesehatan genap berusia 5 tahun. Dengan jumlah peserta per 1 Juli 2018 yang mencapai 199 juta jiwa atau sekitar 80 persen dari keseluruhan populasi penduduk Indonesia, BPJS Kesehatan menjadi peserta program jaminan sosial terbesar di dunia. Jumlah peserta BPJS akan terus meningkat sebagaimana target pemerintah mencapai Universal Health Coverage (UHC) pada 2019. Artinya, sebanyak 257 juta penduduk Indonesia sudah harus menjadi peserta program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Sejumlah sanksi telah disiapkan bagi mereka yang tidak mematuhi aturan ini. Seperti, tidak bisa membuat sejumlah dokumen kependudukan. Pra kondisi peraturan ini bahkan telah berlangsung sejak 1-2 tahun terakhir. Menjadi peserta BPJS Kesehatan telah menjadi syarat wajib untuk berbagai kepentingan, seperti melamar pekerjaan di sejumlah instansi. Baik pemerintah maupun swasta.

Senin, 16 September 2019

Problem Sampah saat Ramadan


Salah satu masalah klasik yang kita hadapi saat Ramadan adalah peningkatan jumlah sampah yang sangat fantastis. Untuk wilayah Jakarta saja, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada 2018 lalu mencatat terjadi peningkatan tonase sampah sebesar 289 ton per hari atau meningkat empat persen dari bulan biasa. Peningkatan ini disebabkan oleh perubahan dan peningkatan pola konsumsi masyarakat pada waktu berbuka puasa dan sahur. Kenaikan jumlah sampah umumnya juga terjadi di daerah-daerah lain terutama kota-kota besar yang memiliki tren peningkatan konsumsi selama Ramadan. Sejumlah aktivis lingkungan memperkirakan, setidaknya terjadi peningkatan sebanyak 500 ton sampah makanan khusus Ramadan. Sama dengan Jakarta, kebanyakan sampah adalah gabungan dari makanan yang tidak habis serta kemasan makanan.

Peningkatan jumlah sampah yang sangat signifikan ini tentunya sangat mengkhawatirkan mengingat pada bulan-bulan lain di luar Ramadan, produksi sampah kita terutama yang berasal dari sisa makanan, menempati peringkat kedua dunia yakni sebanyak 300 kilogram per orang per tahun. Data yang dilansir oleh Pusat Makanan dan Nutrisi Barilla pada tahun 2018 yang juga dimuat oleh The Economist Intelligence Unit ini mencatat Arab Saudi di posisi pertama dengan jumlah sampah makanan mencapai 427 kilogram per orang per tahun. Disusul oleh Amerika Serikat di posisi ketiga dengan jumlah 277 kilogram per orang per tahun.

Selasa, 06 Agustus 2019

Revolusi Sehat dari Dapur

Kesehatan kini merupakan salah satu isu utama kehidupan, baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dunia internasional. Kualitas kesehatan sendiri sangat dipengaruhi banyak faktor seperti gaya hidup, pola makan, lingkungan, dan hubungan sosial. Banyak penyakit masa kini yang sering dikaitkan dengan kesalahan pola makan. Dua isu utama yang kini menjadi perbincangan hangat, kekurangan gizi kronis (malnutrisi). Hal ini dikaitkan dengan stunting (postur kerdil) dan obesitas (sumber berbagai penyakit serius seperti stroke, diabetes, darah tinggi, dan jantung).
Malnutrisi sering dikaitkan dengan kemiskinan. Ini identik dengan negara-negara berkembang dan daerah tertinggal. Akses orang miskin terhadap makanan bergizi dan berkecukupan tidak bisa optimal. Ditambah lagi sanitasi buruk dan layanan kesehatan kurang baik. Di negara-negara maju, problem kesehatan utamanya berat badan berlebih atau obesitas.