Rabu, 26 September 2018

Melawan Mitos, Mari Cegah Stunting dengan Cerdas

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
Food for Peace. Sumber Foto : IG Tanoker.id


“Hei, ibu hamil jangan makan ikan, nanti anaknya amis…..”

“Habis melahirkan jangan makan telur, ayam, ikan. Nanti anaknya gatal-gatal, jahitan ibunya lama sembuh…..”

“Bayi itu semakin cepat makan semakin cepat besar, anaknya jadi lebih sehat….”

“ASI kamu sudah gak bagus itu, ayo kasih susu tambahan anakmu. Bayi itu kalau gendut jadi jarang sakit…..”

“Anak itu semakin mahal harga susunya, nanti tumbuh jadi anak yang lebih pintar dari teman-temannya….”

* * *

Pernah dengar kalimat-kalimat di atas ya teman-teman? Atau sering banget? Atau pernah nemui yang lebih ekstrim lagi? Yup, ini memang hanya sebagian kecil dari pemikiran dan pemahaman yang keliru di masyarakat kita tentang bagaimana pola makan yang baik bagi kesehatan dan kehidupan kita. Ada beberapa di antaranya yang bahkan menjadi mitos, dipercaya secara turun temurun. Inilah mengapa, dalam kasus stunting atau malnutrisi akut yang saat ini hangat dibicarakan bahkan menjadi kampanye nasional, penyebab utamanya bukan hanya karena faktor ekonomi. Nyatanya, sekitar 30 persen dari totalitas anak stunting di Indonesia berasal dari kalangan mampu.

Eh, sudah pada tahu kan stunting itu apa? Istilah ini mungkin sedikit asing untuk kebanyakan kita. Nah, biar gak bingung, kita ulas yuk pengertiannya. Secara sederhana, stunting adalah masalah gizi kronis dalam waktu panjang akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kondisi ini menyebabkan anak memiliki postur tubuh tidak maksimal saat dewasa dan kemampuan kognitif penderitanya juga berkurang. Perlu dicatat bahwa, berpostur tubuh pendek tidak berarti selalu stunting. Namun stunting pasti berpostur pendek. Berpostur pendek bisa terjadi karena faktor genetik dan hormon. Adapun stunting disebabkan karena malnutrisi kronik dan penyakit kronik. Untuk membedakannya kita perlu mengamati dan mencatat dengan baik proses pertumbuhan dan tumbuh kembang anak secara berkala sesuai dengan fasenya. Perlu pula berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapat diagnosa yang lebih tepat terutama dalam masa-masa krusial 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Minimal, datang secara rutin ke Posyandu setiap bulan.

Kembali ke masalah stunting yang saat ini menjadi buzzword. Jadi, meski negara kita sudah merdeka 73 tahun, ternyata jumlah anak stunting di Indonesia masih relatif tinggi. Menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO), Indonesia ada di urutan keempat jumlah anak stunting terbanyak di dunia, dengan persentase rata-rata nasional sebesar 37,2 persen pada 2013 lalu (info bisa dilihat di laman sehatnegeriku). Padahal, batas toleransi yang ditetapkan WHO maksimal hanya 20 persen atau seperlima dari jumlah seluruh balita. Meski sempat mengalami penurunan, persentase stunting kita masih jauh di atas rata-rata negara ASEAN lainnya seperti Singapura  yang hanya 4%, Malaysia 17%, Thailand 16%, Filipina 20%, dan bahkan kita masih lebih tinggi dari Vietnam yang hanya 23%. Yang lebih miris lagi, ternyata ada beberapa daerah di Indonesia yang memiliki persentase stunting di atas rata-rata nasional. Salah satu wilayah dengan angka stunting tertinggi adalah kabupaten Ogan Komering ilir (OKI). Angka stunting di OKI menurut Riskesdas mencapai 40,5% atau hampir setengah balita di OKI mengalami stunting. 

Tingginya kasus stunting di Kabapaten OKI ini cukup menarik sekaligus mematahkan pandangan umum kita selama ini bahwa stunting, malnutrisi akut, atau gagal tumbuh, sangat identik dengan faktor ekonomi. Kenyataannya, Kabupaten OKI bisa dibilang bukan daerah miskin. Kabupaten OKI yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan ini, merupakan salah satu penghasil utama ikan dan juga hasil pertanian. Mereka memiliki ketersediaan sumber protein hewani yang sangat berlimpah. Dan sebagaimana kita ketahui, protein adalah salah satu elemen utama untuk tumbuh kembang anak. Faktor yang menyebabkan banyak anak di Kabupaten OKI mengalami stunting justru karena masih tingginya kepercayaan masyarakat setempat terhadap mitos. Salah satunya, ibu hamil sebaiknya tidak memakan ikan karena dipercaya bisa membuat anak-anak yang akan dilahirkan nanti menjadi bau amis. Mitos ini sangat bertentangan dengan fakta ilmiah, bahwa ikan justru merupakan salah satu sumber protein utama yang dibutuhkan oleh ibu hamil dan juga anak-anak untuk tumbuh berkembang terutama di 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yakni sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Info lebih lengkap tentang makan ikan bisa cegah stunting bisa dilihat di Makan Ikan Cegah Stunting.
Selain mitos tentang sumber protein hewani yang bisa menyebabkan bau amis dan juga gatal-gatal, mitos berbahaya lain yang juga masih banyak berkembang di masyarakat kita adalah memberi makan bayi lebih cepat dari batas usia yang dianjurkan oleh WHO. Di banyak daerah, banyak bayi yang bahkan telah diberi makan sejak usia 1-2 bulan. Dan pisang adalah salah satu makanan yang paling sering diberikan. Padahal, pisang mengandung enzim yang sulit dicerna oleh bayi di bawah usia 9 bulan. Pemberian makan yang dini dan tidak sesuai dengan sistem cerna bayi akan berpengaruh besar terhadap sistem cerna dan bahkan kesehatan anak secara umum di kemudian hari. Mitos atau kepercayaan lain yang tidak kalah menyesatkan adalah anggapan bahwa kualitas ASI di bawah kualitas susu formula. Bahkan tak jarang, banyak masyarakat yang memiliki anggapan bahwa harga  susu formula berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan anak di kemudian hari. Miris.
Sejumlah fakta ini menyadarkan kita, bahwa selain memperbaiki taraf ekonomi masyarakat, faktor lain yang juga patut diperhatikan untuk mencegah stunting adalah menyadarkan masyarakat tentang mitos-mitos yang tidak benar lalu menggantinya dengan informasi yang benar dan memadai. Banyak cara-cara yang lebih cerdas, dan sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan, untuk mencegah stunting menuju Indonesia sehat.


Cegah Stunting itu Sebenarnya ‘Mudah’ Koq…..


f4e1ee7d-4fa7-48c2-a68e-173972fa4e5a
Kampanye Pencegahan Stunting Nasional telah dideklarasikan pada 16 September 2018.
Sumber foto : sehatnegeriku.kemkes.go.id

Subjudul ini tidak bermaksud menyepelekan masalah stunting ya. Hanya saja, jika kita paham masalahnya, berpikiran terbuka, dan sungguh-sungguh ingin lebih sehat, banyak upaya yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi hingga stunting semestinya tidak perlu menjadi sebuah problem kesehatan yang sepertinya sangat menakutkan dan bahkan seperti kutukan. Sama sekali tidak. Yuk cegah stunting dengan cerdas, bijak dan sungguh-sungguh.

Pertama, mari jalani pola makan yang baik. Masa-masa krusial untuk pencegahan stunting adalah terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) yakni 270 hari di dalam kandungan dan 730 hari setelahnya atau hingga anak berusia 2 tahun. Pola makan yang baik adalah pola makan dengan gizi seimbang, seperti dikampenyekan oleh pemerintah dengan istilah ‘Isi Piringku’ di mana dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat. Lebih lengkap mengenai kampanye ‘Isi Piringku’ bisa dilihat di Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi.


Hasil gambar untuk isi piringku kemenkes
Komposisi pola makan seimbang dalam kampanye 'Isi Piringku'.
Sumber Foto : sehatnegeriku.kemkes.go.id

Terkait dengan pola makan ini, menarik apa yang dikampanyekan oleh Komunitas Tanoker Ledokombo pada festival Egrang ke-9 yang diselenggarakan pada 22 September lalu. Tema yang diangkat adalah Food for Peace. Melalui tema tersebut, mereka ingin menyerukan pada dunia bahwa revolusi sehat itu berasal dari dapur. Koq dapur sih? Ternyata banyak filosofi di baliknya. Revolusi sehat dari dapur mengandung pesan untuk tidak menyepelekan dapur sebagai salah satu komponen utama dalam rumah, dan juga kehidupan kita secara umum. Revolusi sehat dari dapur juga mengandung ajakan untuk lebih bijak dan selektif dalam mengonsumsi makanan pabrikan dan instan termasuk di dalamnya aneka makanan dan minuman asing yang saat ini membanjiri pola makan kita sehari-hari. Pasti di antara kita banyak yang sudah ngeh ya bahaya apa saja ada di balik makanan instan dan cepat saji?

Tidak hanya mengajak untuk melakukan revolusi sehat dari dapur, komunitas Tanoker juga mengajak segenap elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali makanan dan minuman tradisional berbahan dasar pangan lokal. Kenapa sumber pangan lokal? Di sini tidak hanya berarti kembali berdaulatnya ketahanan pangan nasional, tapi sekaligus juga ajakan untuk mengakselerasi ekonomi kerakyatan serta kekayaan kuliner nusantara yang sebenarnya tidak kalah dengan kuliner asing. Secara umum, sumber pangan lokal memiliki sejumlah keunggulan. Ketersediaan cukup berlimpah sehingga harga relatif lebih murah dari yang impor. Lebih aman dari kemungkinan terpapar zat tambahan dan berbahaya. Pangan lokal juga memungkinkan untuk ditanam sendiri bagi mereka yang memiliki kecukupan lahan, terutama yang berbentuk sayuran dan buah-buahan.

Selain mengajak memasyakatkan kembali kuliner nusantara yang berbasis pangan lokal, Komunitas Tanoker juga mengajak kita terutama orang tua yang memiliki anak-anak yang pemilih dalam hal makanan, untuk kreatif dan inovatif dalam mengolah dan menyajikan menu agar lebih menggugah selera. Bukan tidak mungkin kreativitas ini juga bisa dikembangkan sebagai usaha. Banyak kan ya sekarang yang buka usaha catering makanan sehat? Nah, sambil menjalani pola makan sehat, bisa dapat tambahan uang saku juga, hehe.

Kedua, pola asuh yang baik juga penting karena stunting juga dipengaruhi oleh aspek perilaku, terutama pola asuh yang kurang baik dalam praktik pemberian makan bagi bayi dan balita. Kehadiran gadget dan perangkat teknologi lain seperti televisi acapkali mengganggu pola makan yang baik pada anak dan balita. Keasyikan bermain gadget dana tau nonton TV seringkali membuat mereka lupa makan Atau kalaupun makan, fokus dan konsentrasi mereka seringkali tidak pada makanan, tetapi lebih pada gadgetnya. Kecanduan gadget dan televisi juga seringkali membuat mereka kurang bergerak dan kurang mendapat sinar matahari pagi yang cukup. Padahal, gerak tubuh yang cukup dan terpapar matahari pagi yang kaya dengan Vit D, sangat baik pengaruhnya bagi tumbuh kembang anak. Pola asuh lain yang juga baik bagi tumbuh kembang anak adalah istirahat yang cukup. Pola asuh yang kurang baik, acapkali tidak hanya membuat anak lupa makan, tapi kualitas istirahatnya juga bisa terbengkalai.

Ketiga, menjaga sanitasi lingkungan dengan baik. Faktor ini seringkali dianggap kurang penting dalam mencegah stunting. Padahal sangat penting, terutama terkait dengan ketersediaan air dan udara yang bersih, juga pengelolaan sampah dan limbah di sekitar dengan baik. Pencemaran lingkungan sebisa mungkin harus kita tekan. Anak-anak juga sebaiknya dihindarkan dari sumber polusi di sekitar seperti asap kendaraan dan juga rokok. Sanitasi yang kurang baik juga bisa mengundang penyakit, seperti demam berdarah, typhus, diare, dan sebagainya. Pertumbuhan anak akan kurang optimal jika ancaman penyakit akibat sanitasi yang buruk bertebaran di mana-mana.

Aktualisasi upaya membangun sanitasi yang baik untuk mencegah stunting dapat dilakukan dengan 5 pilar sanitasi total berbasis lingkungan yang antara lain meliputi : (1) Mencuci tangan dengan sabun; (2) Tidak buang air besar sembarangan; (3) Pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga; (4) Pengelolaan sampah rumah tangga; dan (5) Pengelolaan limbah cair rumah tangga.



Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
5 Pilar Sanitasi Total Berbasis Lingkungan.
Sumber Foto : IG Indonesiabaik.id

Keempat, edukasi parenting pra nikah untuk generasi muda. Sebagaimana telah kita ulas sebelumnya, masa krusial untuk mencegah stunting adalah terutama pada 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Artinya, akan lebih baik lagi jika pemahaman tentang parenting dan kesehatan telah dibekalkan kepada generasi muda jauh hari sebelumnya, terutama bagi remaja putri. Tentang pentingnya edukasi dini ini bisa dilihat di Cegah Stunting Sedini Mungkin. Sejumlah asupan penting yang perlu ditabung sejak dini adalah zat besi, kalsium dan asam folat. Zat dan mineral ini tidak hanya penting bagi mereka yang memang sudah program hamil, namun juga penting bagi anak-anak dan remaja karena anemia juga bisa mengancam mereka. Selain tentang pentingnya asupan gizi sedini mungkin, sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya ASI juga sangat penting dan mendesak. Karena ASI merupakan salah satu asupan penting bagi bayi untuk terhindar dari stunting.

Kelima, mari peduli dan berbagi. Pencegahan stunting tidak hanya perlu dilakukan oleh mereka yang punya anak di masa pertumbuhan. Siapapun kita, punya kewajiban yang sama untuk terlibat aktif baik dengan ilmu, informasi, maupun dengan materi. Mari terus belajar dan membuka diri untuk meraup informasi dan ilmu tentang kesehatan, parenting dan stunting khususnya sebanyak mungkin, untuk kemudian kita bagi dengan orang-orang sekitar yang mungkin tidak memiliki akses cukup terhadap sumber informasi. Berbagi ilmu dan informasi bisa menjadi langkah strategis untuk menyadarkan masyarakat dari mitos dan pemikiran yang keliru tentang pola makan dan pola hidup yang salah.

Berbagi juga bisa dilakukan dalam bentuk materi, terima bagi kita yang berkecukupan bahkan berkelebihan makanan sehat. Satu minggu sekali atau dua kali, mari berbagi makanan sehat dengan sekitar terutama mereka yang bahkan untuk makan saja sulit. Sudah banyak gerakan berbagi semacam ini yang berkembang di masyarakat. Yang muslim, ada memilih hari Jumat sebagai hari berbagi. Ada pula yang memilih hari Senin dan Kamis, disesuaikan dengan rutinitas puasa Sunnah Senin dan Kamis. Sejumlah keluarga ada pula yang memilih hari MInggu, karena banyak keluarga yang libur pada hari itu. Sedikit dari kita sangat berarti bagi mereka.

Akhir kata, pencegahan stunting sedini mungkin sangat mungkin kita lakukan kan? Mari bersama dan bersinergi. Mencegah stunting adalah tugas kita bersama. Untuk Indonesia sehat dan terwujudnya generasi emas pada 2045 nanti. Semoga….





3 komentar:

  1. Terlalu banyak stunting di sekitar kita. Sip, mari cegah stunting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bu. Mirisnya, stunting juga bisa menimpa anak-anak dari kalangan mampu. Mestinya ini bisa diantisipasi....

      Hapus
  2. Baru ngeh kalau Indonesia termasuk darurat stunting huhu sedih banget

    BalasHapus

 
;