Jumat, 10 Agustus 2018

Collaborative Parenting, Aktualisasi Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Pendidikan Kekinian

Gambar dari www.6seconds.org


Perpustakaan Kampoeng Batja di hari Minggu biasa ramai dengan kegiatan keluarga. Ada yang asyik membaca buku di ruang perpustakaan. Ada yang sibuk bermain aneka permainan di teras. Ada yang berlari-lari di halaman. Atau main prusutan di taman. Kadang ada latihan memanahnya juga. Kampoeng Batja yang terletak di area padat penduduk di kota Jember ini memang selain diperuntukkan untuk taman bacaan masyarakat, juga mendedikasikan dirinya sebagai tempat bagi berbagai kegiatan bertema sosial dan pendidikan bagi masyarakat sekitar. Dan di hari Minggu di bulan April saat itu, ada acara kumpul-kumpul yang sedikit beda dari biasanya.

Beberapa orang tua hadir dengan anak-anaknya. Setiap orang tua nampaknya sudah berbagi tugas dengan cukup baik. Ada orang tua yang menemani anak-anak bermain. Ada orang tua yang intens mengajak anak-anak bercerita seperti layaknya teman. Aneka camilan juga tersedia. Acara kumpul-kumpul yang seyogyanya bermisi ‘belajar’ itu menjadi tidak terasa seperti belajar bagi anak-anak. Mereka terlihat rileks dan gembira. Saya yang tidak sengaja berkunjung ke Kampoeng Batja saat itu, turut nimbrung dan mendapati, sebuah konsep besar aktualisasi peran orang tua dan masyarakat dalam pendidikan yang kekinian sedang dipraktikkan. Apakah itu? Sejumlah ayah dan ibu yang saya ajak ngobrol, menyebut acara mereka sebagai collaborative parenting. Mendengar istilahnya saja saya merasa seperti menemukan oase.


Setitik harapan membuncah di hati saya, yang sejujurnya, saya pun mengalami semacam kebuntuan dalam mencari pola asuh kekinian yang efektif dan nyaman bagi anak-anak saya yang termasuk generasi milenial. Melihat sekelompok orang tua dan anak-anaknya yang memraktikkan collaborative parenting hari itu, saya seperti menemukan sejumlah benang merah dan solusi-solusi alternatif bagi sejumlah problematika dan hambatan yang umum kita hadapi di masa sekarang.


Adaptasi Konsep Collaborative Parenting di Indonesia

Konsep collaborative parenting telah banyak dipraktikkan di negara-negara maju sebagai sebuah konsep baru dalam pola pengasuhan yang mengedepankan pentingnya komunikasi, negosiasi, dan kompromi antara anak dan dan orang tua. Dalam konsep ini, anak-anak juga dilibatkan sebagai subjek aktif dalam pola pengasuhan yang suaranya didengar dan dipertimbangkan sebagaimana halnya orang dewasa. Sikap orang tua yang umumnya otoriter (top down) dalam pola pengasuhan konvensional mengalami sejumlah penyesuaian-penyesuaian dengan kemampuan dan kemauan anak. Anak-anak diberi ruang dan kesempatan lebih besar untuk berpendapat dan bernegosiasi sehingga perdebatan, pertentangan dan penolakan mereka terhadap konsep pengasuhan yang dibuat oleh orang tua dapat diminimalisir. Dengan collaborative parenting diharapkan didapat titik temu yang nyaman bagi kedua belah pihak sehingga proses pengasuhan bisa berjalan lebih baik dari sebelumnya. Salah satu referensi tentang collaborative parenting bisa dilihat di laman www.6seconds.org.

Jika di negara maju konsep collaborative parenting lebih menekankan pada pola pengasuhan yang umumnya lebih banyak melibatkan keluarga inti saja (anak dan orang tua), maka collaborative parenting di Indonesia mengalami sejumlah adaptasi sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Collaborative parenting di negara kita memiliki cakupan yang lebih luas sejalan dengan kompleksnya problematika pendidikan dan pengasuhan yang kita hadapi. Dalam aktualisasinya, collaborative parenting dalam pendidikan kita tidak hanya berbasis keluarga, namun juga komunitas baik dalam skala kecil dan terbatas (kelompok/grup), hingga komunitas yang cukup besar (satu dusun atau satu desa misalnya, atau gabungan dari sejumlah komunitas). Cakupan yang luas membuat aktor-aktor yang terlibat pun kemudian banyak dan beragam. Mulai dari anak dan orang tua, kerabat terdekat, lingkungan sekitar, komunitas, lembaga dan sebagainya.

Salah satu komunitas yang intens memraktikkan konsep collaborative parenting dan bisa menjadi role model bagi praktik collaborative parenting di tanah air adalah komunitas Tanoker Ledokombo di Jember Jawa Timur. Konsep collaborative parenting oleh komunitas Tanoker utamanya ditujukan bagi anak-anak buruh migran yang ditinggal orang tuanya (salah satu atau bahkan keduanya) bekerja ke luar negeri dalam kurun waktu yang cukup lama. Anak-anak buruh migran yang umumnya masih usia sekolah bahkan ada yang balita, sangat membutuhkan kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang mereka. Kekosongan ini tak bisa dibiarkan. Karena pengasuhan seperti hutang. Jika tidak diberikan saat anak-anak masih kecil, maka mereka akan menagihnya saat dewasa dalam bentuk perilaku yang menyebalkan. Kekhawatiran ini membuat sejumlah orang yang peduli pendidikan, salah satunya Ibu Cicik, berusaha mencari solusi alternatif. Di antaranya dengan menyelenggarakan sekolah bagi para ibu (Sekolah Bok-Ebok), bapak (Sekolah Pak-Bapak), bahkan kakek nenek dari anak-anak buruh migran (Sekolah Yang-eyang), agar mereka bisa mengisi ‘ruang kosong’ yang ditinggalkan oleh orang tua si anak. Potensi lost generation berusaha diminimalisir. Pengasuhan dan pendidikan anak buruh migran diharapkan bisa terus berjalan dengan baik dengan adanya orang-orang yang berkolaborasi secara intens di sekitar mereka. Tentang penguatan collaborative parenting di Tanoker, salah satunya bisa dilihat di link berikut, tanoker.org.



Salah satu kegiatan di Tanoker dalam rangka penguatan Collaborative Parenting.
Sumber foto : tanoker.org

Konsep collaborative parenting dalam konteks yang lebih sederhana, yang hanya melibatkan sejumlah keluarga misalnya seperti yang saya ditemui di Kampoeng Batja, secara umum mengadopsi prinsip-prinsip dasar dalam collaborative parenting. Setidaknya saya mencatat ada tiga prinsip dasar yang penting dalam collaborative parenting, yakni : (1) adanya kolaborasi/kerjasama antar berbagai pihak dalam hal ini terutama orang tua atau pihak-pihak yang memiliki peran dan fungsi sama, (2) melibatkan anak secara aktif baik sebagai subjek maupun objek dalam pengasuhan, (3) komunikasi yang intens antara pihak orang tua dan anak, termasuk di dalamnya negosiasi dan kompromi tentang berbagai hal terkait dengan pengasuhan.

Ketiga prinsip dasar ini juga dapat diterapkan dalam skala lebih kecil lagi yakni keluarga inti. Ayah dan ibu menjadi partner yang saling berkolaborasi. Seyogyanya, ini adalah sebuah keharusan. Keluarga adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Namun dalam praktiknya, adakalanya terdapat ‘ruang kosong-ruang kosong’ yang tidak diisi dengan baik dan semestinya. Entah karena kesibukan salah satu orang tua yang sangat luar biasa. Atau kekurangmampuan orang tua sendiri dalam menghadapi hambatan dan tantangan pendidikan anak yang dirasa melampaui batas kemampuan mereka. Bila demikian, maka aktualisasi collaborative parenting dalam skup terkecil yakni keluarga, perlu dikaji kembali apakah telah berjalan dengan semestinya. Orang tua mungkin perlu berkolaborasi dengan pihak-pihak lain, orang tua lain misalnya, dalam rangka memaksimalkan pendidikan dan pengasuhan anak-anak, selain tentu saja berpartner baik dengan pihak sekolah.



Collaborative Parenting Tips dari www.6seconds.org



Mengapa Kolaborasi Penting?

Secara biologis, pendidikan pola asuh anak adalah tanggung jawab penuh orang tua. Namun secara moral, tanggung jawab mendidik anak-anak adalah tanggung jawab kita semua. Peran kolaborasi antara orang tua, sekolah (pendidik) dan masyarakat/komunitas sangat dibutuhkan.



Integrasi Tri Pusat Pendidikan yang terdiri dari sekolah, masyarakat dan keluarga.
Sumber foto : Twitter Kemdikbud

Problematika dan tantangan pendidikan di era milenial saat ini sangat kompleks. Pengaruh televisi, gadget, lingkungan sosial yang tidak selalu kondusif, dan masih banyak lagi. Anak-anak kita hidup di jaman yang penuh tantangan. Pendidikan karakter berpacu dengan pengaruh hedonisme dan gaya hidup instan yang bertebaran di mana-mana. Persaingan hidup yang semakin ketat juga menuntut anak-anak memiliki life skill yang mumpuni. Ancaman dan persoalan serius ini membuat para orang tua di era milenial merasa perlu untuk merapatkan barisan. Seolah ingin berpacu dengan kecepatan pengaruh buruk gadget yang bisa merusak anak. Beragam upaya dilakukan. Dan collaborative parenting hadir sebagai salah satu solusi alternatif.

Collaborative parenting terutama yang berbasis komunitas yang terdiri dari para orang tua yang saling berkolaborasi, bisa menjadi aktualisasi dari penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam pendidikan yang kekinian. Dengan berkolaborasi, para orang tua saling bergandengan tangan membentuk barisan yang solid dalam rangka melindungi anak-anak mereka dari berbagai pengaruh buruk saat ini. Saling berkolaborasi dengan kelebihannya masing-masing memberi anak kesempatan dan fasilitas lebih besar untuk terus belajar dan belajar.


‘Anakku, Anakmu, Anak kita bersama’

Collaborative parenting terutama yang berbasis komunitas, memerlukan komitmen yang besar. Menarik apa yang menjadi tagline komunitas Tanoker dalam rangka penguatan collaborative parenting di sana, yakni ‘Anakku, Anakmu, Anak kita bersama’. Memang perlu ada kesadaran mendalam dalam diri masing-masing orang tua yang berkolaborasi bahwa pendidikan anak secara moral adalah tanggung jawab kita bersama, secara bersama-sama.

Lalu, bagaimana memulainya? Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana konsep collaborative parenting yang telah saya praktikkan dan yang masih saya impikan hingga sekarang. Setelah membaca lebih banyak tentang collaborative parenting, saya semakin meneguhkan komitmen untuk lebih memantapkan collaborative parenting saya dengan suami. Pembagian tugas pengasuhan dibuat semakin terarah dan jelas. Anak-anak yang kini semakin besar juga semakin saya libatkan. Kesempatan mereka untuk menyuarakan pendapat dan bahkan protes kian kami buka lebar. Tujuannya tentu saja agar pola pengasuhan ke depan semakin optimal karena anak-anak memiliki sense of belonging sekaligus responsibility terhadap pola pengasuhan yang kami sepakati.

Problematika dan tantangan jaman semakin kompleks. Jujur, secara pribadi saya merasa, terlalu berat untuk berjuang sendiri hanya dengan mengandalkan kolaborasi dalam keluarga inti saja. Anak-anak perlu belajar tentang banyak hal selain di sekolah, dan saya merasa tak bisa mengajari semuanya sendiri. Collaborative parenting semestinya menjadi solusi. Tidak hanya agar mereka bisa belajar lebih banyak lagi selain materi pelajaran di sekolah dan pelajaran lain yang mampu diberikan oleh orang tuanya. Collaborative parenting dengan orang tua lain saya rasa juga menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenal lebih banyak orang selain yang sudah mereka kenal selama ini.

Secara umum, cikal bakal collaborative parenting di sekitar kita sebenarnya cukup potensial. Saat ini, seiring dengan tren di era digital, banyak orang tua yang memiliki komunitas berbasis internet. Salah satunya yang sangat populer adalah WhatsApp Group (WAG). Kehadiran WAG selain sebagai lifstyle, juga merupakan kebutuhan vital orang tua kekinian terutama untuk menjalin komunikasi dan kordinasi yang lebih intens dengan pihak sekolah. Tentang pentingnya membangun komunikasi yang efektif antara orang tua dan pihak sekolah, ada artikel menarik yang patut dibaca oleh para orang tua dari laman Sahabat Keluarga Kemdikbud, berjudul 'Pentingnya Membangun Komunikasi Efektif Orang Tua-Sekolah (klik di sini). 



Satu orang, bisa tergabung dengan puluhan bahkan ratusan Whatsapp Grup (WAG).
Sumber foto : http://nextren.grid.id

Maraknya penggunaan WAG di kalangan orang tua terkait dengan pendidikan anak-anaknya bisa menjadi indikasi bahwa orang tua sudah cukup terbiasa berkomunitas dan berkomunikasi. Tinggal lebih diarahkan tujuan dan prioritasnya. Untuk saya pribadi, ada sejumlah orang tua dan komunitas yang masuk dalam list saya sebagai kandidat partner untuk berkolaborasi. Pertama, anggota keluarga dalam lingkungan keluarga besar. Yang terdiri dari paman, bibi, atau bahkan kakek dan nenek anak-anak juga. Berkolaborasi dengan mereka memiliki nilai tambah. Selain bisa saling mengisi dalam hal hal pendidikan dan pengasuhan, juga bisa lebih menguatkan ikatan kekeluargaan. Kedua, komunitas saya dan suami. Misal sesama teman pengajian, komunitas hobi, paguyuban orang tua ataupun rekan kerja. Salah satu kelebihan berkolaborasi dengan para orang tua dari luar lingkungan keluarga akan membuat anak-anak mengenal lebih banyak orang selain keluarga dan teman-teman di sekolah. Ini sangat penting menurut saya. Bersosialisasi menjadi salah satu masalah besar anak-anak jaman sekarang. Sekolah yang umumnya full day, belum lagi ditambah dengan kegiatan ini itu. Sampai rumah sudah lelah atau kemudian sibuk dengan gadget, membuat anak menjadi jarang bersosialisasi. Collaborative parenting bisa menjadi sarana bagi anak untuk bersosialisasi.



Peran Orang Tua dalam Mencegah Anak Kecanduan Gadget
Gadget dan anak, seringkali susah untuk dipisahkan.
Sumber foto : www.matailmu.com

Lalu, bagaimana gambaran kegiatan dalam collaborative parenting? Ini sebenarnya bersifat kasuistis sesuai dengan kondisi orang tua dan anak masing-masing. Tahapan pertama, para orang tua perlu bersepakat tentang tujuan besar dan problematika yang mereka hadapi. Lalu memetakan potensi yang ada. Misal, ayah A bisa mengajari mengaji. Ayah B bisa mengajar komputer. Ibu C bisa mengajar memasak. Ibu D bisa mengajar origami. Dan sebagainya, dan sebagainya. Potensi-potensi orang tua yang sebelumnya tidak tahu mau disalurkan ke mana bisa menemukan ruang aktualisasinya. Anak-anak bisa jadi semakin semangat belajar karena ada temannya. Ada perubahan suasana juga karena belajar bersama dengan teman-teman di luar teman-teman sekolah. Sepertinya menyenangkan ya? :) Acara dan kegiatan dalam collaborative parenting dapat dibuat sesuai kesepakatan, misal 2 minggu sekali atau sebulan sekali.

Semoga bisa segera berkolaborasi dengan orang tua lain dalam collaborative parenting. Semoga tulisan ini juga bisa menginspirasi para orang tua untuk segera berkolaborasi. 

* * *

Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Blog Kemendikbud 2018 dengan tema Pelibatan  Keluarga  pada  Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian”.

#collaborativeparenting
#sahabatkeluarga 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;