Minggu, 22 Juli 2018

Yang Inspiratif dan Seru di Taman Botani Sukorambi Jember

Foto Ririn Handayani.
Jalan dengan payung warna-warni. Salah satu ikon TBS....
“Ririn, ini di Botani? Wah, banyak berubah ya. Semakin cantik” ini komen salah satu teman saat melihat foto yang saya posting di salah satu akun media sosial. Foto yang bertempat di Taman Botani Sukorambi (TBS). Bukan sekali itu saja saya dapati keheranan dan ketakjuban orang-orang  terhadap perubahan TBS yang begitu drastis.

Sebagai orang Jember yang sudah sering ‘main’ ke Botani (ini sebutan singkat keluarga kami untuk Taman Botani Sukorambi), saya sendiri kerap dibuat takjub oleh perkembangannya yang sangat pesat dan wahana serta fasilitasnya yang semakin lengkap. Padahal saya dan keluarga cukup sering berkunjung sejak TBS Jember baru berdiri, sampai sekarang.

Jadi teringat saat-saat pertama mengenal TBS. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

“Ada tempat rekreasi baru di Jember, Taman Botani. Bagus lho, beda dengan yang lain” kurang lebih inilah yang suami katakan saat pertama kali cerita tentang TBS.

“Taman Botani itu apa, kolam renang?” tanya saya penasaran.

“Iya, tapi ada kebun dengan flora dan faunanya juga. Ini salah satu bedanya dengan kolam renang lain” jelas suami. Dia lalu menceritakan tentang sejarah TBS yang awalnya diperuntukkan untuk tempat rekreasi keluarga. Bagian ini yang justru membuat saya semakin penasaran sekaligus ‘jatuh hati’ pada TBS bahkan sebelum mengunjunginya. Bagian ini pula yang menurut saya sangat inspiratif dari TBS.

Sarana rekreasi yang awalnya diperuntukkan untuk keluarga, dalam bayangan saya ketika itu, adalah tempat yang selain indah juga adalah tempat yang penuh cinta. Tempat yang diharapkan akan membuat semua anggota keluarga merasa nyaman dan betah. Tempat yang membuat setiap yang berkunjung akan merasa dekat dengan alam. Ya, ini bayangan saya tentang sebuah tempat rekreasi keluarga.

Uniknya, ketika pada akhirnya TBS dibuka untuk umum, kurang lebih setahun sejak pertama dibangun, yakni tepatnya pada 24 Februari 2007, konsep dan filosofi sebagai tempat rekreasi keluarga ini nampaknya terus dipertahankan, dan bahkan menjadi salah satu ciri khas TBS. Konsep dan filosofi kekeluargaan itu antara lain bisa kita lihat dalam sejumlah uraian berikut.

Pertama, saat TBS dibuka untuk umum, yang artinya bukan lagi tempat rekreasi privat keluarga pemilik, TBS seolah membuka dirinya untuk ‘keluarga’ yang lebih besar, yakni masyarakat umum khususnya masyarakat Jember yang sekitar. Siapapun kemudian memiliki kesempatan untuk menikmati TBS dengan segala sarana prasarananya (S&K berlaku ya J). Masyarakat tidak hanya semakin mudah dan murah untuk berekreasi, namun juga turut merasa ‘memiliki’ TBS sebagai salah satu ikon destinasi wisata Jember.

Kedua, keluarga adalah salah satu segmen yang dibidik oleh TBS sebagai pengunjung utama. Untuk itu, salah satu konsep utama pengembangan TBS adalah membuat seluruh keluarga bisa menikmati sarana dan prasarana di TBS secara bersamaan dengan pilihan wahananya masing-masing. Uniknya, TBS bisa dibilang adalah tempat rekreasi pertama dan satu-satunya di Jember yang bisa mengakomodir kebutuhan dan tren pilihan rekreasi setiap anggota keluarga, mulai balita hingga lansia. Sebagai contoh, anak-anak suka sekali dengan kolam renang. Soal fasilitas yang satu ini, fasilitas kolam renang anak-anak di TBS adalah yang terlengkap di Jember. Anak-anak bisa memilih sejumlah kolam renang anak yang ada. Ingin kolam renang yang lebih besar bahkan kolam renang khusus perempuan pun juga sudah tersedia. Malas basah-basahan? Masih banyak pilihan lain yang tersedia. Yang ibu-ibu bisa melihat sekaligus belanja sayur di kebun hidroponik. Yang bapak-bapak bisa melihat-lihat kolam ikan koi. Sejumlah fauna unik juga tersedia di TBS. Begitu pula dengan sejumlah flora yang beberapa di antaranya mungkin baru kita lihat melalui di media. Tertantang untuk menguji adrenalin, terutama untuk remaja? Ada flyng fox yang bisa dicoba. Atau hanya ingin santai sembari menikmati alam sekitar, ada rumah pohon yang bisa menjadi pilihan. Lengkap kan? Semua anggota keluarga bisa menikmati banyak pilihan wahana yang memang sudah dikonsep sebagai sarana rekreasi integratif oleh manajemen TBS.

Selain konsep dan filosofi kekeluargaannya, saya masih melihat beberapa hal lain yang juga sangat inspiratif dari TBS. Masih terkait dengan revolusinya dari tempat rekreasi untuk keluarga menjadi tempat rekreasi yang diperuntukkan untuk publik, setidaknya saya mencatat dua hal lagi yang inspiratif dari TBS.

Pertama, TBS memiliki pandangan jauh ke depan tentang bahwa rekreasi akan menjadi salah satu kebutuhan sekaligus tren masyarakat milenial. Secara umum, tren ini terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan masyarakat ke tempat rekreasi dari waktu ke waktu. Terhadap prediksi ini, TBS secara nyata ambil bagian untuk menjadi salah satu pemain utama sekaligus role model bagi pengembangan sektor wisata khususnya di Jember.

Kedua, TBS juga memprediksi bahwa ke depan, Jember akan semakin rame. Dan benar saja, dalam kurun waktu kurang lebih satu dekade sejak TBS resmi dibuka untuk umum, kemajuan Jember di berbagai bidang sangat pesat, termasuk di sektor wisata. Lagi-lagi, TBS memosisikan diri sebagai salah satu pemain utama dalam membuat Jember makin rame.

Oke, cukup ya ulasan tentang hal-hal yang inspiratif dari TBS, yang di antaranya membuat saya jatuh hati bahkan sebelum mengunjunginya. Selanjutnya, saya ingin menapak tilas kunjungan pertama saya ke TBS, yang ternyata meski sudah cukup lama, kesannya masih membekas sampai sekarang.

Jadi, tidak lama setelah cerita soal TBS dan berhasil membuat saya penasaran sekaligus jatuh hati, beruntung tak lama setelah itu kami berkesempatan berkunjung ke TBS. TBS kala itu masih sederhana. Kami sempat bablas karena papan petunjuk yang masih kecil dan kurang mencolok. Sempat heran juga saat sudah melewati loket.



Foto Ririn Handayani.
Kalau sekarang, saat malam pun papan petunjuknya terlihat jelas.....

“Mana kolamnya? Mana koleksi faunanya? Ini seperti kebun biasa” tanya saya penasaran begitu mulai memasuki area TBS.

“Bukan ini tempat rekreasinya, ayo turun” kata suami seperti akan memberi kejutan. Sembari terus berjalan, saya dapati beberapa tumbuhan diberi nama. Bagus juga ya, jadi tahu itu tanaman apa, juga tahu nama latinnya. Puji saya dalam hati.

Lalu sampailah kami di anak tangga yang menuju ke bawah. It’s surprised.

“Kolamnya ada di bawah” tunjuk suami.

Wow. Saya terkesima. Di kejauhan, di bagian bawah yang menyerupai lembah, terlihat kolam yang biru di antara rerimbunan pohon. Terdengar sedikit keriuhan. Tak jauh dari sana, ada hamparan sawah yang hijau. Sangat asri. Saya semakin penasaran.

Tapi tunggu, untuk ke sana harus menuruni anak tangga yang juga wow.

“Kalau tidak kuat, naik tossa saja” saran suami seperti membaca kegamangan saya menuruni anak tangga.

“Sudah sampai sini. Patut dicoba” maka mulailah kami menuruni anak tangga dengan mengucap ‘Basmallah’. Semoga kuat, haha.

Tanpa persiapan fisik dan mental, di separuh anak tangga sudah ngos-ngosan. Apalagi ketika itu kami membawa Sasha, si sulung yang baru berusia 3 tahun.

“Pulangnya gak mau lewat sini lagi” kata saya sembari tertawa sekaligus meringis. Rasanya ingin menyerah, tidak kuat lagi sepertinya untuk melanjutkan perjalanan. Nyatanya, ketika pulang tetap lewat tangga lagi. Bahkan ketika kemudian berkunjung lagi ke TBS hingga berkali-kali, jarang sekali melewatkan bagian yang ini. Kalau merasa tidak kuat atau ingin mencoba suasana lain, ada jalannya kok. Dulu sih agak curam, tapi sekarang seiring dengan inovasi TBS yang berkomitmen membuat pengunjung merasa semakin nyaman, jalannya relatif landai dengan sejumlah pemandangan yang bagus untuk foto-foto.


Foto Ririn Handayani.
Selain lewat tangga, lewat jalan ini juga oke.
Jalan yang landai dengan sejumlah spot cantik untuk foto-foto.

Sayang foto pas di tangga yang fenomenal dan filosofis itu belum ketemu juga hingga tulisan ini posting. Kita lanjutkan soal kesannya ya. Jadi, turun naik tangga di TBS itu seperti kapok sambel. Sering bilang kapok, tapi kadang bagian ini yang kadang sangat dirindukan dari TBS. Karena selain menikmati sensasi ngos-ngosan dan otot kaki yang seperti tertarik sebagai efek belum pemanasan dan jarang olahraga, berada di antara anak tangga-anak tangga sembari mengatur nafas dan mengumpulkan energi untuk meneruskan perjalanan, kita bisa menikmati gemericik air dan suara dedauan pohon bambu yang tertiup angin. Suara alam yang begitu syahdu.

Sensasi turun naik tangga di TBS juga bisa memberi kita pelajaran hidup yang filosofis. Hidup itu keras Jenderal. Perjuangan itu tidak mudah. Sukses harus ditapaki satu per satu. Ayo semangat turun naik tangganya. Kapan lagi coba bakar kalori seasyik ini? Haha. Eits, jangan lupa foto-foto ya. Sebagai dokumentasi dan bukti otentik bahwa kita telah gigih berjuang menaklukkan anak tangga-anak tangga di TBS. Jaman dulu, punya foto berlatar belakang anak tangga di Botani itu bisa mengundang banyak decak kagum. Keren. Haha. Ini juga membuktikan betapa visionernya TBS. Sejak awal, TBS sudah menyediakan spot-spot cantik untuk foto dan narsis J Instagramable istilah sekarang.

Sesampai di bawah, saya pikir kami akan langsung nyemplung kolam. Ternyata tidak. Usai menuntaskan anak tangga terakhir, langkah kami tertahan oleh pohon durian monthong. Kalau pas pohonnya berbuah, bisa lebih lama lagi tertahannya. Karena kala itu, lihat pohon durian monthong masih terbilang langka.

Puas lihat pohon durian, suguhan selanjutnya adalah kandang burung dengan sejumlah koleksi yang unik dan langka juga. Anak-anak biasanya suka. Setelah itu ada kolam ikan dengan koleksi ikan yang besar-besar. Nah, jadi kapan nih ke kolam renangnya? Kolam renang adalah suguhan selanjutnya.


Foto Ririn Handayani.
Kolam renang dewasa, bersebelahan dengan Pondok Seni....

Kolam renang pertama adalah kolam renang dewasa. Cukup luas dan bersih. Sesuai dengan namanya, anak-anak apalagi yang masih balita pasti takut di di kolam yang ini. Untunglah, sejak pertama kami berkunjung ke TBS, kolam renang anaknya sudah ada. Baik untuk anak yang masih kecil maupun untuk anak yang agak besaran. Anak-anak bisa puas bermain karena kolam renangnya cukup besar. Orang tua yang hanya menemani dan mengawasi juga tak perlu khawatir karena tempat untuk menunggu cukup representatif. Jarak kolam yang cukup dekat juga memungkinkan orang tua bisa renang sembari sesekali mengawasi anak-anak yang cukup mandiri bisa main sendiri di kolam renang.


Foto Ririn Handayani.
Salah satu kolam renang anak-anak di TBS, kolam renang pelangi....
Gambar mungkin berisi: pohon, luar ruangan dan alamGambar mungkin berisi: pohon, luar ruangan dan alam

Puas, menyenangkan, fasilitas cukup lengkap. Ini adalah kesan pertama saat berkunjung ke TBS. Kami pun segera mengagendakan lagi kunjungan berikutnya. Juga mempromokan TBS pada anggota keluarga yang lain sebagai salah satu pilihan destinasi wisata dalam kota yang cukup lengkap. TBS pun kemudian semakin dikenal masyarakat. Semakin ramai. Tidak hanya sebagai tujuan rekreasi keluarga, namun juga menjadi tujuan wisata dan acara lembaga atau komunitas. Jika sebelumnya anak-anak ke TBS bersama dengan kami, mereka akhirnya kadang pergi sendiri bersama teman-teman sekolahnya baik karena ada acara resmi dari sekolah maupun acara informal bersama teman-temannya. Saya dan suami juga kadang punya acara sendiri-sendiri ke TBS. Ini artinya, TBS semakin menjadi pilihan masyarakat.

Ada sejumlah alasan dan faktor mengapa TBS kian menjadi pilihan utama rekreasi keluarga ataupun tempat kegiatan acara lembaga atau komunitas. Sejumlah alasan dan faktor itu antara lain :

Pertama, TBS memiliki sarana dan prasarana rekreasi yang lengkap. Inilah poin utama yang menjadi pertimbangan. Kelengkapan di sini meliputi sarana rekreasi seperti kolam renang dan wahana bermain lain, juga sarana pendukung seperti tempat istirahat dan kamar mandi. Untuk kolam renang, kolam renang di TBS adalah kolam renang terlengkap di Jember yang meliputi kolam renang dewasa, kolam renang anak-anak (ada beberapa), juga ada kolam renang muslimah. Sarana kamar mandi dan bilasnya juga cukup banyak dan bersih, bahkan ada juga fasilitas kamar mandi VIP dan difabel. Semua free kecuali untuk fasilitas kamar mandi VIP dan difabel. Selain fasilitas kolam renang yang banyak dan beragam, di TBS juga ada sejumlah sarana bermain lain. Di TBS pernah saya temui flying fox, wahana sepeda air dan dayung. Pernah juga mendapati permainan bola air raksasa. Fasilitas lain yang juga lengkap di BTS adalah lahan parkirnya yang luas baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Seiring semakin dikenalnya TBS hingga luar kota, sarana parkir untuk bus dan kendaraan besar lainnya juga semakin representatif.

Kedua, harga tiketnya murah. Yup, setelah kualitas, hal lain yang menjadi pertimbangan adalah harga tiket. Untuk tempat rekreasi selengkap TBS, harga tiket sebesar Rp 12 ribu saat weekday dan Rp 20 ribu untuk wiken, bisa dibilang sangat murah. Karena dengan tiket seharga ini, banyak fasilitas yang bisa dinikmati gratis di TBS.

Ketiga, lokasi yang strategis. Meski bukan pertimbangan yang utama, lokasi yang strategis dan jarak yang relatif dekat turut menjadi pertimbangan masyarakat dalam menentukan destinasi wisata pilihan. TBS yang bertempat di Sukorambi hanya berjarak sekitar 15-20 menit dari pusat kota. Lokasinya juga relatif mudah dijangkau dari luar kota terutama dari arah barat kota Jember.

Keempat, TBS memiliki sejumlah nilai tambah. TBS tidak hanya sebagai tempat rekreasi namun juga representatif sebagai pusat edukasi. Edukasi di sini tidak hanya terbatas untuk anak sekolah, namun juga bagi orang tua. Anak-anak bisa mengenal lebih banyak keragaman flora dan fauna melalui sejumlah koleksi yang ada di TBS. Orang tua, para ibu misalnya, saat berkunjung ke TBS bisa sekalian belajar tentang tanaman sayur hidroponik. Untuk bapak-bapaknya bisa sekalian belajar tentang holtikultura dan budidaya ikan koi. Sarana belajar yang secara integratif belum tentu kita temui di tempat lain.

Foto Ririn Handayani.
Koleksi ikan Koi di TBS.....
Sejumlah alasan dan faktor di atas juga menjadi pertimbangan saya dan keluarga saat memilih TBS sebagai salah satu destinasi wisata keluarga. Faktor-faktor ini juga yang membuat kami acapkali merekomendasikan TBS pada keluarga, kerabat, teman dari luar kota.


Foto Ririn Handayani.
Suasananya asri, tempat rekreasi yang recommended.....

Sedikit pertanyaan mengusiknya kemudian, cukup sering ke TBS, gak bosan apa ya ke sana lagi dan lagi? Apalagi di tengah kian maraknya tempat rekreasi lain yang bermunculan di kota Jember dan sekitarnya. Pertanyaan ini bisa jadi mewakili pertanyaan dan kebutuhan masyarakat pada umumnya. Masyarakat jelas akan bosan dan sangat mungkin berpaling kalau fasilitas dan sarananya itu-itu saja. Soal ini, manajemen BTS menjawabnya dengan cantik dan konkrit, melalui sejumlah inovasi dan dedikasi.


INOVASI

Di era ekonomi kreatif seperti sekarang, di mana sektor pariwisata adalah salah satu sektor yang utama, inovasi dan kreativitaslah yang akan membuat pelaku ekonomi kreatif berada di posisi terdepan. Formula ini yang diterapkan oleh TBS.

Sebagai salah satu keluarga di Jember yang cukup sering berkunjung ke BTS, kami sekeluarga nyaris tidak merasa bosan untuk berkunjung ke TBS. Jika ada anggota keluarga yang baru saja ada acara di sana, kami yang kebetulan tidak ikut seringkali mengutarakan kalimat ini.

“Apa yang baru di Botani?”

Yup, karena TBS seperti tidak pernah berhenti berinovasi. Jika jawaban yang kami dapat adalah, “Masih seperti tahun lalu kita ke sana”, maka the end-lah rasa penasaran kami. Kenyataannya, TBS hampir selalu bisa memberi jawaban menarik untuk pertanyaan ini.


Foto Ririn Handayani.
Salah satu wahana baru yang seru di TBS, memberi makan ikan Koi.....

“Kolam renang anaknya nambah Dek, lebih luas” jika yang bertanya adalah anggota keluarga terkecil di rumah.

“Kolam renang muslimahnya baru direnov lho Ma, lebih bagus” kalau ini kalau mamanya yang tanya.

“Ada permainan bola airnya Mbak, seru lho lihat videonya di hape Papa” untuk anak yang lebih besar.

“Kung, koleksi tanaman dan hewannya semakin banyak. Gazebonya juga ada yang baru, desainnya bagus” untuk kakek yang gemar dengan flora dan fauna.

“Uti gak perlu lewat tangga kalau Botani pas hari Minggu, sekarang ada bus yang antar jemput, free” untuk Uti yang kelelahan kalau harus turun naik tangga saat ke TBS.


Foto Ririn Handayani.
Kehadiran bus ini membuat pengunjung semakin nyaman....

Well, hampir selalu ada jawaban tentang sesuatu yang baru dan seru di TBS. Sesuatu yang membuat kami ingin datang lagi dan lagi ke TBS.


DEDIKASI

Inovasi itu penting, berdedikasi itu istimewa.

Soal inovasi, TBS melakukannya dengan sangat luar biasa. Tagline yang kami buat untuk TBS dalam lingkup keluarga yakni ‘selalu ada yang baru dan seru di Taman Botani Sukorambi’ acapkali membuat anggota keluarga lain yang sudah lama tidak ke TBS jadi penasaran. Rasa penasaran yang kadang baru tuntas dengan harus mengunjungi TBS. Eh, ini kalau saya ya, haha.

Sebagai peminat ekonomi kreatif khususnya yang terkait dengan sektor pariwisata, saya melihat ada hal unik lain yang dikembangkan oleh TBS selain dengan inovasi yang nyaris tiada henti. Yakni dedikasi yang luar biasa untuk mengembangkan sektor pariwisata dengan melibatkan seluruh stakeholder termasuk masyarakat di dalamnya. Bukan hanya untuk mengembangkan sektor pariwisata, namun juga pendidikan, pelestarian seni dan budaya tradisional. Unik kan?

Semakin penasaran dengan TBS? Mari berkunjung ke Jember……



****



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Taman Botani Sukorambi dan Blogger Jember Sueger #2 



Add caption




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;