Senin, 30 Juli 2018

Inspirasi ‘Tabungan Rahasia’ Emak-emak Jaman Old

Meme tentang ‘simpanan’ beredar di beberapa WAG yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Teman-teman yang baca post ini mungkin lihat juga ya? Itu lho, tentang suami yang minta ijin pada istrinya untuk punya ‘simpanan’ karena penghasilan bulanannya 20 juta. Meme yang berakhir dengan si istri kejang-kejang karena ‘simpanan’ yang dimaksud si suami ternyata istri baru dengan anaknya. Sedang si istri, saya, dan mungkin mayoritas yang baca, mikirnya itu simpanan dalam bentuk uang. Polosnya kita yah, haha.


Sumber foto : khadimul-ummah.or.id

Meme jenis itu seperti biasa mengundang banyak respon. Yang bapak-bapak, we know-lah ke mana arahnya. Yang ibu-ibu, saling merapatkan barisan. Haha. Lalu saya? Saya malah jadi ingat dan berpikir, kalau bapak-bapak bisa punya simpanan, yang emak-emak boleh juga dong? Simpanan di sini dalam arti yang sebenarnya ya. Tabungan. Dalam bentuk uang, atau semacamnya yang bernilai, seperti perhiasan. Soal simpanan model ini, saya jadi ingat bagaimana piawainya emak-emak jaman old dalam hal menabung.

Orang tua jaman dulu yang sekilas terlihat pekerjaannya biasa, umumnya punya banyak anak juga, seringkali secara mengejutkan mampu melakukan hal-hal yang kadang tidak sanggup dilakukan oleh orang-orang masa kini yang umumnya memiliki pekerjaan cukup mapan. Banyak orang tua yang tiba-tiba mengeluarkan banyak uang saat didapati putra-putrinya membutuhkan banyak biaya dan kebingungan mencari jalan keluar. Beda dengan pekerja di masa sekarang yang seringkali mendapatkan dana segar atau talangan dari pinjaman atau menggadaikan barang. Para orang tua kita seringkali mengeluarkan uang dari tabungan. Tabungan yang mereka simpan diam-diam. Tabungan yang kadang anak-anaknya bahkan tidak tahu dari mana sumbernya, bagaimana menyimpannya dan berapa jumlahnya. Ah, sebuah rahasia dan filosofi yang patut kita sibak lalu kita tiru inspirasinya.


Kearifan Finansial Orang Tua Tempo Dulu

Memiliki tabungan dalam jumlah yang signifikan merupakan salah satu saja dari kearifan finansial orang tua tempo dulu. Masih ada sejumlah kearifan finansial lain yang sebagian besar di antaranya masih relevan untuk kita terapkan di masa sekarang. Beberapa di antaranya mari kita ulas bersama.

Pertama, memiliki orientasi keuangan jangka panjang. Berpendidikan rendah dan berpenghasilan pas-pasan seringkali tidak menjadi batu penghalang bagi orang tua tempo dulu untuk memiliki cita-cita setinggi langit terutama terkait dengan masa depan anak-anaknya. Tak sekedar bercita-cita, mereka seringkali juga menyiapkan persiapan dana yang bahkan lebih dari cukup untuk mengantarkan putra-putrinya ke jenjang pendidikan impian. Imbas dari orientasi jangka panjang ini melahirkan kearifan finansial berikutnya.


12 Nasehat Warren Buffet Ini Akan Membuatmu Berada di Jalur yang Benar
Nasihat warren Buffet tentang pengeluaran. Sumber foto : idntimes.com

Kedua, hidup hemat dan bersahaja. Ada harga mahal yang harus dibayar bagi mereka yang memiliki cita-cita setinggi langit. Dan salah satu ‘harga mahal’ yang harus orang tua tempo dulu bayar demi masa depan cemerlang anak-anaknya adalah hidup hemat dan bersahaja. Ya, mereka hemat dan bersahaja hampir di semua hal. Baik makanan, pakaian bahkan juga terkait papan. Terlebih untuk kebutuhan lain yang tergolong sekunder apalagi tersier. Bukan karena tidak ada uang yang bisa dipakai, tapi karena ingat cita-cita jangka panjang yang sudah terpatri di sanubari. Komitmen mereka patut kita acungi jempol. Tak mudah goyah. Meski kadang menuai cibiran dari banyak orang bahkan mungkin anak-anaknya sendiri sebagai orang tua yang pelit. Pelit dan hemat memang kadang terlihat beda tipis ya? Soal prinsip hidup hemat dan bersahaja ini mengingatkan saya pada karakteristik utama sejumlah orang terkaya di dunia. Warren Buffet misalnya. Pria yang dinobatkan menjadi orang terkaya ketiga di dunia pada tahun 2011 lalu dengan total kekayaan mencapai Rp 439 triliun ini, menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Begitu pula dengan sejumlah miliarder dunia lainnya seperti Ingvard Kampard (pemilik gerai ritel furniture Ikea) dan Chuck feeney (pendiri Duty free store), juga sangat terkenal dengan kesederhanaan mereka dalam kehidupan sehari. Dalam soal rumah dan kendaraan misalnya. Padahal jika mau, menjalani kehidupan glamour sangat mudah mereka lakukan. Tapi mereka memilih hidup sederhana.


12 Nasehat Warren Buffet Ini Akan Membuatmu Berada di Jalur yang Benar
Salah satu nasihat Warren Buffet tentang menabung. Foto dari idntimes.com

Ketiga, rajin menabung. Kemana perginya sisa pendapatan yang didapat orang tua setelah dikurangi biaya hidup yang hemat dan bersahaja jika bukan menabung. Menabung telah menjadi prioritas utama orang tua tempo dulu. Uniknya lagi, meski jaman dulu lembaga tempat menyimpan uang seperti bank tak sesemarak sekarang, semangat mereka menabung sangat luar biasa. Lagi-lagi, ini mengingatkan saya pada salah satu resep rahasia orang-orang terkaya di dunia. Seperti yang dinasihatkan Warren Buffet misalnya, do not save what is left after spending but spend what is left after saving. Utamakan berhemat, gunakan sisanya dengan bijak. Hebat ya orang tua kita tempo dulu. Mereka mungkin tidak kenal siapa itu Warren BuffetIngvard Kampard  atau Chuck feeney  dan rahasia mereka menjadi kaya, tapi banyak nasihat dan prinsip hidup para miliarder itu yang dipraktikkan secara nyata dalam keseharian.

Luar biasa sekali yang kearifan finansial orang tua tempo dulu? Patut kita acungi jempol dan kita tiru semangat dan filosofinya.


Rahasia ‘Simpanan Rahasia’ Emak-emak Jaman Old

Bagian ini secara khusus akan membahas tentang kearifan finansial emak-emak jaman old khususnya dalam hal ‘simpanan rahasia’ yang menurut saya sangat inspiratif. Koq emak-emak saja sih, memang bapak-bapaknya gak inspiratif? Inspiratif juga sih, tapi emak-emak jauh lebih inspiratif, haha. Daripada kita terus meributkan siapa yang lebih inspiratif, langsung kita bongkar saja inspirasi simpanan atau tabungan rahasia emak-emak jaman old.

Pertama kita bahas dulu, kenapa topiknya simpanan atau tabungan rahasia. Di sinilah keunikannya emak-emak. Jadi, jika bapak-bapak punya orientasi jauh ke depan, maka emak-emak seringkali memiliki orientasi yang jauh ke depan lagi, haha. Hmmm, ini berdasarkan pengamatan saya pada sejumlah emak-emak jaman old ya. Tidak semua, tapi mungkin mayoritas ya. Mungkin, karena kebanyakan perempuan tempo dulu tidak bekerja, alias kebanyakan sebagai ibu rumah tangga saja, mereka berpikir jika sewaktu-waktu ada apa-apa dengan suami, sakit misalnya, lalu tabungan keluarga terpakai sedang penghasilan keluarga mandeg, mereka juga tidak bekerja, maka adanya ‘tabungan rahasia’ bisa menjadi semacam jaring pengaman. Jaring pengaman yang membuat keluarga tidak perlu berutang atau terpaksa menjual aset yang ada. Syukur-syukur jika kondisi keluarga dan keuangan segera membaik sehingga tidak perlu memakai tabungan rahasia. Maka tabungan rahasia itu akan tetap menjadi rahasia hingga sampai pada momen di mana terpaksa digunakan. Jika tidak, sebagian ibu ternyata mampu menyimpan rahasianya dengan baik bahkan hingga di ujung usianya. Keren banget ya? Konsisten dan pantang tergoda.


Gagal panen, sebuah kondisi buruk yang tidak terduga. Sumber foto : Twitter lps_idic

Lanjut ke inspirasi kedua dari tabungan rahasia emak-emak jaman old, yakni kreativitas dalam menabung. Jaman dulu lembaga keuangan seperti bank dan koperasi masih sedikit sekali kan, kalau pun ada belum ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menjamin simpanan kita aman. Masih ingat gak dengan kasus Bapindo dengan dana nasabah 1,3 triliunan yang raib? Ortu saya termasuk yang trauma nyimpan uangnya di bank. Susah-susah ngumpulkan uang, terus simpan di bank biar aman, eh ternyata dibawa kabur L Dalam kondisi seperti ini, bank dan koperasi masih sedikit terus nyimpan di bank tidak seaman dan sepraktis sekarang, ortu khususnya emak-emak jaman old nabungnya koq terus jalan ya? Banyak jalan menuju Roma benar-benar mereka praktikkan ternyata. Apa saja kreativitas mereka dalam menabung, beberapa saya kulik dari kebiasaan ibu, nenek dan buyut saya nih, hehe.

Pertama, melalui cara nabung yang benar-benar konvensional, yakni menyimpan uang di rumah melalui berbagai macam cara. Mulai dengan menaruh uang di celengan hingga menyimpan di bawah kasur atau lipatan baju di lemari. Celengan bisa dalam bentuk kaleng sisa, celengan tanah, atau dari bambu. Biasanya ini untuk receh ya, hehe. Kalau yang kertas biasanya disimpan di bawah kasur atau lipatan baju hingga jamuran dan uang versi barunya keluar. Haha. Ortu, khususnya emak-emak kita ternyata sadar juga kalau menabung model ini cukup beresiko. Kemalingan misalnya, atau ketika ada bencana. Maka selain menabung dengan cara konvensional ini, emak-emak jaman old juga menabung dalam cara lain terutama jika jumlah tabungan yang ada jumlahnya sudah cukup banyak.

Kedua, berinvestasi dalam bentuk barang, ternak atau perhiasan. Cara ini biasanya ditempuh terutama jika tabungan yang ada jumlahnya sudah cukup banyak. Recehan atau uang nominal kecil yang dikumpulkan kemudian dibelikan perhiasan, tanah atau ternak. Perhiasan dipilih karena kelebihannya yang multifungsi, sebagai tabungan sekaligus perhiasan. Mudah juga dijual, atau digadaikan kalau kepepet. Sedang tanah dan ternak bisa dimanfaatkan yang hasilnya bisa menambah pundi-pundi tabungan keluarga sekaligus untuk investasi jangka panjang.

Ketiga, titip uang kepada orang yang dipercaya. Menyimpan di rumah takut ketahuan, takut hilang juga. Maka kadang emak-emak jaman old memilih menyimpan atau menitipkan uangnya pada orang yang dipercaya. Misal, guru ngaji, istri kepala dusun, atau juragan apa yang dipercaya warga setempat. Mekanismenya kadang berupa arisan atau murni tabungan yang bisa diambil di waktu-waktu yang urgent, misalnya saat tahun ajaran baru atau lebaran. Lagi-lagi, simpanan rahasia ini biasanya ditujukan sebagai jaring pengaman keuangan keluarga, berjaga-jaga jika tabungan resmi keluarga tidak mencukupi atau antisipasi jika ada kejadian buruk yang tidak terduga.

Cukup ya ulasan kita soal kreativitas emak-emak jaman old dalam hal menabung. Pertanyaan selanjutnya, kalau itu tabungan atau simpanan rahasia, terus yang untuk menabung dari mana? Ini lagi keunikan emak-emak jaman old yang tak kalah kreatif dalam mengelola keuangan keluarga, padahal mayoritas mereka adalah ibu rumah tangga.



Tips Supaya Bisa Menabung ala Emak-emak Jaman Old

Umumnya menjadi ibu rumah tangga yang nyaris menggantungkan sepenuhnya soal pendapatan pada suami sebagai kepala keluarga, tapi bisa menabung dalam jumlah signifikan. Bagaimana tips dan rahasianya?

Hemat dan sederhana jelas adalah salah dua dari rahasia terbesar mereka. Jadi, sebagian tabungan mereka bisa jadi adalah alokasi anggaran untuk pakaian, make up atau apa yang mungkin mereka alihkan ke tabungan. Atau kalaupun tetap beli, merek bukan yang utama. Ah, lagi-lagi mereka memraktikkan nasihat para miliarder dunia. Tidak mudah tergoda dengan merk ternyata juga menjadi salah satu resep rahasia para miliarder lho. Seperti yang dikatakan Warren Buffet, jangan memaksakan diri untuk memiliki barang-barang bermerk, pakailah apa yang sekiranya nyaman bagi AndaSungguh luar biasa kearifan finansial ibu-ibu kita ya. Para ibu berpikir jauh ke depan, saat keluarga tiba-tiba membutuhkan banyak dana. Sehingga mereka rela menyisihkan apa yang menjadi ‘hak’nya sebagai dana cadangan rahasia.

Selain menyisihkan sebagian anggaran dari pos pribadi, emak-emak jaman old juga kreatif memanfaatkan sumber daya sekitar agar memberi sumber pendapatan finansial atau setidaknya bisa lebih menghemat anggaran pengeluaran. Misal memanfaatkan pekarangan untuk menanam aneka sayur dan buah. Atau memelihara sejumlah hewan ternak sehingga sisa makanan tidak terbuang percuma karena bisa diberikan pada ayam misalnya. Ayam yang sewaktu-waktu bisa dijual dan menghasilkan uang, atau jika dipotong dan dikonsumsi sendiri, bisa memangkas pengeluaran keluarga dengan cukup signifikan.

Ibu-ibu jaman dulu juga melakukan kreativitas dalam menyajikan menu yang sehat dan menggugah selera tanpa menyedot banyak anggaran. Dengan begitu ibu bisa menyisihkan sedikit uang untuk tabungan rahasia. Sisa uang belanja yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun, dan berusaha menahan diri untuk tidak membelanjakannya untuk keperluan yang konsumtif, acapkali menjadi ‘malaikat penolong’ saat keluarga tengah menghadapi krisis keuangan.


Inspirasi Menabung yang Masih Relevan hingga Sekarang

Banyak hal inspiratif yang bisa kita tiru dari kearifan finansial orang tua tempo dulu khususnya dalam hal semangat dan kreativitas menabung emak-emak jaman old yang begitu luar biasa. Namun demikian, kita hidup di jaman yang berbeda. Beda jaman, beda pula karakteristik dan tantangannya. Karena itu, ada yang bisa langsung kita praktikkan, ada pula yang membutuhkan penyesuaian.

Semangat menabung dan memiliki orientasi jangka panjang. Yup, ini adalah salah satu poin utama yang patut kita tiru dan kita letakkan di list teratas. Ibarat sebuah bangunan, maka semangat menabung yang besar dan orientasi jangka panjang yang kuat adalah pondasinya. Yang nantinya, akan berpengaruh pada langkah-langkah kita selanjutnya sebagai satu kesatuan. Polanya hampir sama dengan pola orang tua tempo dulu. Mempersiapkan dana pendidikan yang cukup untuk anak-anak, menabung untuk berkunjung Baitullah, mempersiapkan dana hari tua, dan sebagainya. Mari memiliki orientasi jangka panjang dan mempersiapkan dengan baik sedini mungkin, salah satunya dengan tabungan.


Belilah karena kebutuhan, bukan karena inginan, apalagi tekanan. Ini terkait dengan pengeluaran kita sehari-hari. Jangan terlalu konsumtif. Belilah karena kita memang butuh, bukan karena memuaskan keinginan apalagi karena adanya tekanan sosial dari sekitar. Mari memerdekakan diri dari 'perbudakan' di era milineal yang satu ini. Sulit? Pasti. Dan inilah salah satu tantangan besar kita saat ini. Orang tua tempo dulu mungkin relatif lebih mudah untuk hidup sederhana dan lalu menabung karena godaan untuk konsumtif tidak segila sekarang. Sedang kita, hemat dan bersahaja di masa sekarang seperti mempertaruhkan separuh iman, hehe. Ada godaan iklan, promo dan diskon di mana-mana, belum lagi tuntutan sosial dan pergaulan untuk selalu up to date sehingga tak jarang kita terpaksa utang di sana sini untuk pemenuhan kebutuhan baru bernama gengsi. Mirisnya, berutang di masa sekarang bisa sedemikian mudahnya. Cukup gesek kartu kredit misalnya. Apa saja bisa kita beli tanpa perlu orang tahu itu adalah hasil dari utang. Menggiurkan, melenakan. Sehingga jika di waktu dulu, banyak orang tua punya 'simpanan' alias tabungan rahasia, kita di masa sekarang bisa jadi memiliki rahasia utang di mana-mana, yang jumlahnya bisa fantastis. Yang jika idak segera diinsyafi, bisa menjadi bom waktu yang jika tiba waktunya meledak, bisa meluluhlantakkan semua yang kita miliki. Sungguh mengerikan. Stop utang sekarang juga jika tidak mendesak sekali. Mari hidup sederhana sesuai kebutuhan, sesuai kemampuan. Para miliarder saja tidak malu hidup sederhana padahal kekayaannya lebih dari cukup untuk dinikmati dan diwariskan hingga tujuh turunan. Ah, ini reminder untuk saya utamanya....

Fasilitas sangat lengkap, tinggal niat dan tindakan nyata. Kita di masa sekarang sangat diuntungkan dengan hadirnya sejumlah fasilitas baru yang tidak ada di masa orang tua kita tempo dulu. Salah satunya, fasilitas menabung yang semakin mudah, praktis dan aman. Di masa orang tua kita dulu, lembaga keuangan seperti bank masih sangat terbatas, tidak ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pula. Sedang sekarang, bank ada di mana-mana, instrumen investasi juga banyak dan beragam. Semestinya, ini semakin membuat kita semakin semangat untuk menabung.

Terkait dengan bank sebagai tempat menyimpan uang yang populer saat ini, ada pilihan bank syariah selain bank konvensional yang sudah ada sejak lama. Bank syariah juga semakin banyak pilihannya, karena bank syariah di Indonesia termasuk yang terbanyak di dunia. Tidak perlu khawatir soal fasilitas. Mayoritas bank syariah juga memiliki fasilitas dan sarana yang tak kalah kekinian dengan bank konvensional. Begitu dalam hal keamanan. Bank syariah juga dijamin keamanannya oleh LPS dengan sejumlah syarat dan ketentuan yang berlaku. Secara umum, nilai simpanan yang dijamin oleh LPS adalah maksimal sebesar Rp 2 Miliar per nasabah per bank. Simpanan yang dibayar adalah simpanan yang memenuhi “syarat layak bayar” penjaminan dengan ketentuan yang dikenal dengan “3T”, yaitu: (1) Tercatat dalam pembukuan bank; (2) Tingkat bunga yang diperoleh tidak melebihi bunga yang ditentukan LPS (pembatasan bunga tidak berlaku untuk simpanan di Bank Syariah); dan (3) Tidak ikut menyebabkan bank menjadi gagal (misalnya memiliki kredit macet). Adapun simpanan yang dijamin adalah tabungan, deposito, giro dan jenis simpanan lain yang dipersamakan dengan jenis-jenis simpanan yang disebutkan sebelumnya, termasuk juga untuk produk-produk simpanan dari bank syariah. 


Sumber foto : Twitter lps_idic


Konsisten, itu kuncinya. Menabung memerlukan konsistensi. Salah satu kunci keberhasilan orang tua tempo dulu dalam menabung, selain menjadikan menabung sebagai kebutuhan dan prioritas, mereka juga konsisten dalam menabung. Konsisten untuk terus menabung meski kadang jumlahnya sedikit. Konsisten pula untuk menjaga tabungan agar tidak tergoda menggunakannya di luar kebutuhan yang sudah direncanakan. Semangat dan filosofi yang satu ini masih relevan untuk kita tiru dan praktikkan di masa sekarang. Sisihkan sejak awal, bukan sisakan. Seperti yang dinasihatkan Warren Buffet, do not save what is left after spending but spend what is left after saving. Utamakan berhemat, gunakan sisanya dengan bijak.



Serba Serbi Menabung di Masa Sekarang

Sarana dan fasilitas menabung di masa sekarang semakin lengkap, variatif dan aman. Mestinya, tak ada alasan lagi bagi kita untuk malas menabung khususnya menabung di bank. Bergantung pada niat dan tindak nyata kita untuk menjadikan menabung sebagai prioritas dan kebutuhan. Apalagi, menabung di bank di masa sekarang sebenarnya bukan hanya sebagai lifestyle, tapi juga sekaligus sebagai kebutuhan. Banyak hal terutama terkait dengan transaksi keuangan yang menjadi lebih mudah karena memiliki tabungan di bank. Saat berbelanja online dan membayar sejumlah tagihan misalnya. Menabung di masa sekarang juga bisa dilakukan melalui ATM setor tunai sehingga tidak perlu ribet antri lama di bank. Menabung semakin praktis kan?


Terus, tabungan perlu dirahasiakan gak sih? Hehe, kalau ini bergantung situasi dan kondisi kita masing-masing ya. Menabung itu kan sudah menjadi hak asasi umat manusia di era kekinian, jadi wajar dan bahkan perlu setiap kita punya tabungan. Saya sendiri hingga kini menempuh dua cara sekaligus dalam menabung. Menabung di bank dan menabung di rumah. Menabung di bank sudah menjadi keniscayaan, kebutuhan yang sulit dielak di masa sekarang. Banyak aktivitas keuangan di masa sekarang yang mau tidak mau harus melibatkan bank. Selain itu, tidak bisa dipungkiri juga dalam hal keamanan, menabung di bank terutama dalam jumlah yang lebih besar, relatif lebih aman.

Menabung konvensional di rumah dalam bentuk celengan juga masih saya lakoni. Uang receh juga perlu ditampung, hehe. Ini juga dalam rangka memberi keteladanan pada anak-anak agar gemar menabung sejak dini. Sebelum memperkenalkan mereka pada bank, perlu ditanamkan dulu filosofi menabung yang kuat sejak dini dalam sanubari mereka. 



Foto Ririn Handayani.


Gambar di atas adalah celengan kami di rumah. Yang kiri, celengan saya dan suami. Sengaja isinya receh. Yang kanan, celengan putri sulung kami, Sasha. Kebetulan isinya juga receh. Celengan Sasha dari toples bekas sosis, yang bagian atasnya diberi tulisan 'FUTURE'. Katanya, karena tabungan ini memang untuk 'masa depan'. So sweet ya :) Celengan-celengan model konvensional dan tradisional seperti ini adakalanya perlu juga untuk memompa semangat dalam menabung. Sesekali melihatnya, seperti melihat kepingan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Kadang sebagai pengerem juga tatkala nafsu untuk konsumtif membuncah.


Banyak pilihan kan menabung di masa sekarang? Generasi terdahulu sudah memraktikkan dan memberi contoh betapa menabung itu perlu dan penting. Sebagian kita mungkin turut merasakan manfaatnya. Jadi, masih malaskah untuk menabung? Ayolah, masak kalah dengan emak-emak jaman old :)




6 komentar:

  1. http://www.amir-silangit.com/2018/07/karena-menabung-impianku-memiliki-rumah.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Goodluck Mas, tulisannya inspiratif....

      Hapus
  2. Waah Mbak Ririn dsh mulai aktif nulis lagi. Good luck Mbak. Tulisannya inspiratif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbak. Good luck juga ya buat Mbak Nunung... :)

      Hapus
  3. Baca ini jd inget mama. Beliau jg ibu rumah tangga. Dan papa sbnrnya sangat melek ttg investasi dan menabung di bank. Tp mama memang sedikit konservatif :p. Aku inget banget pernah disuruh ganti sepre dan kemudia melihat di bawah kasurnya banyak uang hahahaha.. Wkt itu beneran ga ngerti kenapa ada yg iseng naro uang di situ :p. Untung aja skr mama ga sekuno itu lg. Malu ah, apalagi aku toh kerja di bank skrg :p. Jd ga mungkin aku ngebiarin mama msh pake cara lama :p.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ibu kita samaan ya Mbak :) Ibu saya dulu juga suka punya simpanan di bawah kasur, pernah sampai jamuran katanya :)

      Alhamdulillah sekarang mulai beralih ke bank dan investasi yang produktif....

      Hapus

 
;