Kamis, 26 Juli 2018

ABK dalam Gerbong Revolusi Industri 4.0


Koran Digital Koran Jakarta 25 Juli 2018

Dalam rangka menyongsong era revolusi industri jilid 4 (RI 4.0) yang sudah di depan mata, sektor pendidikan menjadi salah satu sektor strategis yang mengalami pembenahan signifikan. Di Indonesia, salah satu program konkritnya adalah melalui pendidikan vokasi industri baik di jenjang perguruan tinggi maupun di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). Program ini juga diharapkan menjadi solusi bagi problematika mismatch atau ketidaksesuaian antara output pendidikan dan kebutuhan dunia kerja di tanah air. Data ILO menyebutkan, hanya sekitar 37 persen dari total output pendidikan di Indonesia yang well match.


Pendidikan vokasi kita memang masih rendah. Dari total sistem pendidikan di Indonesia, baru 5,6 persen yang berbasis vokasi. Sementara di negara-negara maju, persentase pendidikan vokasi berimbang dengan persentase pendidikan keilmuan dan akademik yakni 50:50. Pendidikan vokasi sebagai langkah konkrit dan strategis menyongsong RI 4.0 adalah pilihan yang tepat. Namun, di tengah kompleksnya persoalan yang dihadapi bangsa saat ini, pendidikan vokasi belum bisa dilakukan secara menyeluruh dan serentak. Sebagai tahap awal, pendidikan vokasi membidik SMK sebagai prioritas utama karena urgensinya sebagai wadah pendidikan yang memungkinkannya menjadi shortcut (jalan pintas) untuk percepatan peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia yang match dengan dunia kerja.

Di luar SMK dengan program resminya dari pemerintah, pendidikan yang vokasional sebenarnya menjadi salah satu trending baru dalam dunia pendidikan kita, baik dalam konteks pendidikan formal maupun informal. Keahlian yang khusus dan mumpuni, terlebih dalam sejumlah bidang yang diprediksi akan menjadi primadona di era RI 4.0 mulai diburu oleh para orang tua dan siswa. Keahlian khusus dan mumpuni dianggap memiliki bargaining position dan nilai tambah yang lebih besar dibanding selembar ijazah tanpa keahlian yang jelas.

Apa Kabar ABK?

Lalu, apa kabar anak berkebutuhan khusus atau ABK yang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari era industri 4.0 nantinya? Pembahasan tentang ABK terkait RI 4.0 seolah senyap. Padahal, mereka adalah bagian tak terpisahkan yang kelak akan turut menyongsong RI 4.0.

Berbicara tentang pendidikan vokasi, pendidikan ABK seyogyanya adalah pendidikan yang vokasional atau khusus. Dengan keterbatasannya, ABK tidak memungkinkan untuk mempelajari dan menekuni banyak bidang dan ilmu sekaligus seperti anak normal pada umumnya. Oleh karena itu, manakala sejak dini mereka telah menemukan potensi emasnya, maka ABK biasanya akan langsung fokus mempelajari dan menekuni itu saja. Dengan bimbingan yang intens, beberapa ABK bisa menjadi ‘bintang’ di bidangnya yang kadang pencapaiannya bisa melampaui pencapaian orang-orang normal pada umumnya. ABK semacam ini sering kita dapati di sejumlah negara maju. Keterbatasan dan kespesialan mereka tidak menjadi penghalang untuk menjadi bintang dan profesional di bidangnya. Sayangnya, ABK yang beruntung seperti ini masih segelintir jumlahnya di tanah air kita.
Pendidikan untuk ABK adalah pendidikan yang spesial. Mereka membutuhkan media, sarana, fasilitas dan partner belajar yang juga spesial. Dan yang serba spesial ini tentu tidak murah. Hanya segelintir ABK yang beruntung mendapatkannya. Memiliki orang tua dan lingkungan yang paham dan menerima, support, dan memfasilitasi kebutuhannya dengan baik. Tak sedikit dari ABK-ABK yang beruntung ini yang di kemudian hari menjadi bintang dan profesional dalam bidang yang mereka tekuni sejak dini. Sedang sebagian besar ABK yang lain masih berjibaku dengan orang tua dan lingkungan yang bahkan tidak paham bahwa mereka spesial. Sebagian lagi menyikapi keberadaan mereka dengan apatis dan pesimis, bahwa mereka juga memiliki kesempatan dan berhak untuk memiliki masa depan yang baik, termasuk di era RI 4.0 dengan persaingannya yang sangat sengit.

Pendidikan ABK di Indonesia
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah ABK di Indonesia mencapai 1,6 juta anak. Bagi para ABK ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan akses pendidikan formal melalui Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Inklusi (SI). Setiap tahunnya, pemerintah umumnya membangun 25-30 unit sekolah baru untuk SLB. Namun untuk 2017 lalu, pengurangan anggaran membuat jumlah unit sekolah baru yang mestinya dibangun mengalami penurunan yang cukup drastis, yakni hanya menjadi 11 unit SLB.
Secara keseluruhan, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, masih terdapat 62 kabupaten/kota yang belum memiliki SLB. Dengan kondisi ini, dari total 1,6 juta ABK yang ada di tanah air, yang sudah mendapat layanan pendidikan baru mencapai angka 18 persen. Ada sekitar 82 persen lagi yang masih belum terlayani. Sebanyak 115 ribu ABK bersekolah di SLB, sedangkan ABK yang sekolah di sekolah regular pelaksana Sekolah Inklusi berjumlah sekitar 299 ribu. Sebuah tantangan yang sangat besar. Tidak hanya dalam rangka menyongsong revolusi industri 4.0, namun juga dalam rangka memenuhi hak pendidikan ABK sebagai bagian tak terpisahkan dari keseluruhan komponen bangsa.

Peran Strategis Keluarga
Pentingnya pendidikan vokasi formal bagi ABK disambut baik oleh sejumlah pihak. Menindaklanjuti Gerakan Indonesia Pintar (GIP) untuk ABK, tahun depan pemerintah berencana membuka jurusan vokasi yang khusus diperuntukkan bagi ABK. Jurusan vokasi yang dibuka tidak hanya meliputi musik, yang selama ini banyak digeluti oleh ABK. Namun juga jurusan lain seperti kelautan, pariwisata dan pertanian, hingga tata boga. Di Bandung, juga telah berdiri lembaga pendidikan setingkat universitas yang diperuntukkan untuk ABK. Jurusan yang tersedia memiliki relevansi yang besar dengan tren bidang pekerjaan yang menjadi favorit di era industri 4.0, seperti komputer, pemrograman, desain dan sebagainya. Secercah harapan yang membahagiakan bagi ABK dan keluarganya. Namun, PR kita masih panjang dan banyak. Karena pendidikan bagi ABK, terlebih pendidikan vokasi, adalah pendidikan yang spesial. Sedang untuk pendidikan dasarnya saja, banyak ABK kita yang belum bisa mengenyamnya.
Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan bagi ABK, juga faktor lain yang menghambat seperti jarak dan waktu juga kondisi ABK-nya sendiri, maka peran strategis keluarga untuk menjadi partner, supporter sekaligus fasilitator ABK menjadi kunci utama. Keluarga menjadi partner pertama dan utama bagi ABK untuk belajar dan mengembangkan potensinya. Karena keluarga semestinya adalah yang paling memahami dan memungkinkan untuk mendampingi lebih intens sehingga pendidikan ABK bisa lebih tepat sasaran dan berkesinambungan.
Menjadikan keluarga sebagai ujung tombak pendidikan bagi ABK tentu memerlukan sejumlah syarat. Secara emosional mereka harus siap dan bisa menerima, secara keilmuan dan informasi juga cukup memadai untuk mendampingi proses belajar ABK. Dalam konteks ini, pembekalan orang tua ABK menjadi langkah yang strategis dan mendesak untuk segera direalisasikan. Seminar, pelatihan, dan semacamnya perlu digalakkan bagi orang tua ABK ataupun anggota masyarakat yang concern pada pendidikan ABK. Juga perlu adanya pendampingan yang sebisa mungkin menjangkau banyak lapisan masyarakat, agar dalam tataran praktiknya, orang tua ABK memiliki tempat untuk bertanya dan mengonsultasikan perkembangan pendidikan ABK-nya.
Bagi orang tua ABK sendiri, saatnya untuk bersikap lebih terbuka, proaktif dan menjemput bola bagi segala sesuatu yang terkait dan penting bagi ABK. Membuka hati dan pikiran akan membuat kita semakin tegar dan optimis. Terlebih jika menemukan komunitas yang pas dan sehati. Kita tidak akan merasa sendiri, karena ada yang menguatkan, ada yang memotivasi, juga berbagi ilmu dan informasi.
Begitu besar peran orang tua bagi pendidikan ABK. Orang tua adalah tumpuan harapan dan partner utama ABK untuk menyongsong masa depan. Orangtualah pemegang kunci utama pembelajaran yang optimal bagi ABK. Bila orang tua menutup diri dan bersikap pasif, ABK tidak bisa berjuang sendiri untuk membekali dirinya. Mereka butuh orang tua sebagai supporter utama, ABK butuh kita semua. Akhir kata, mari bersinergi untuk menyiapkan ABK memiliki kesempatan dan kesiapan yang lebih baik untuk menyongsong masa depan yang juga lebih baik.
* * *
Tulisan telah dimuat di Rubrik Gagasan Koran Jakarta, edisi 25 Juli 2018 dengan judul "Pendidikan dan Revolusi 4.0. Selengkapnya bisa dilihat di Gagasan Ririn Handayani di Koran Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;