Senin, 23 Juli 2018

5 Destinasi Wisata Jember yang Menjadi Rujukan Penelitian

Suasana belajar di Tanoker Ledokombo. Foto dari tanoker.org
Jember makin rame. Sektor pendidikan semakin maju, investasi juga semakin menggeliat. Didukung oleh sarana transportasi yang lengkap dan mudah, ditambah fasilitas akomodasi yang juga lengkap dan variatif, Jember semakin dilirik oleh banyak kalangan. Baik sebagai tujuan wisata, pendidikan, bisnis, maupun penelitian. Nah, untuk tujuan yang terakhir ini, sebagai rujukan penelitian, ternyata sejumlah destinasi wisata Jember menjadi rujukan penelitian untuk dipelajari bahkan menjadi role model di tingkat nasional bahkan dunia. Keren kan? Jember ternyata tidak hanya memiliki kecantikan dan keunikan alam dan sosial yang menarik untuk dikunjungi, namun juga dipelajari dan menjadi rujukan.

Dalam post kali ini, saya merangkum 5 destinasi wisata Jember yang tidak hanya dikunjungi untuk dinikmati keindahannya, namun juga dipelajari konsepnya, bahkan tak jarang kemudian diaplikasikan di tempat lain.




1.     Puslitkoka

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia atau disingkat Puslitkoka, merupakan salah satu destinasi wisata edukasi yang cukup tersohor di Jember. Tempat ini, terutama menjadi pilihan destinasi anak-anak sekolah. Karena di sini, anak-anak tidak hanya berekreasi namun juga belajar bagaimana coklat yang umumnya menjadi favorit anak-anak, diproses untuk kemudian diolah menjadi sejumlah varian, baik untuk makanan, minuman, ataupun perlengkapan mandi. Anak-anak jadi tahu, bahwa coklat tidak hanya berupa minuman, cake, namun juga bisa berbentuk sabun. Mereka juga tahu bahwa coklat diolah dari kakao sebagai bahan bakunya. Lalu pada akhirnya mereka juga tahu, bahwa Indonesia dan Jember khususnya, adalah salah satu penghasil kakao terbesar dunia. Indonesia merupakan negara produsen kakao terbesar kedua di dunia setelah Pantai Gading. Luar biasa kan?



Foto Ririn Handayani.
Ada restonya juga, dengan aneka menu dari coklat....

Di Puslitkoka yang kini dikemas dengan lebih apik dan rekreatif, pengunjung tidak hanya akan disuguhi hamparan kebun, namun juga sejumlah fasilitas rekreasi pada umumnya, seperti kolam renang, café, dan kebun holtikultura. Ada kendaraan khusus yang bisa dipergunakan untuk mengelilingi area Puslitkoka yang cukup luas. Kian hari, pengunjung Puslitkoka yang terletak sekitar 20 menit dari pusat kota ini, kian ramai didatangi pengunjung, baik dari dalam maupun luar kota.

Sekarang, mari kita ulas nilai sejarah dan urgensi Puslitkoka yang mungkin belum dikenal luas.

Puslikoka seyogyanya merupakan peninggalan Hindia Belanda, yang didirikan pada tanggal 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation, Lalu pada 20 mei 2016, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Menristekdikti meresmikan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menjadi Sains dan Teknologi Kopi dan Kakao  (Coffee and Cocoa Science Techno Park-CCSTP). Ini karena Puslitkoka telah memiliki sejumlah fasilitas yang cukup yakni : (1) Taman eduwisata kopi dan kakao terlengkap di Asia, (2) Plasma nuftah kopi terbesar se-Asia Pasifik, (3) Plasma nutfah kakao terbesar se-Asia, (4) Perpustakaan kopi dan kakako terlengkap se-Indonesia, (5) Pabrik pengolahan hilir kopi dan kakao, dan (6) Unit workshop alat mesin pengolahan dan pertanian.

Selain sejumlah fasilitas di atas, Puslitkoka juga memiliki area yang luas dan memadai. Dari sisi inovasi ipteknya, Puslit kakao telah menghasilkan klon baru tanaman kakao (Theobroma Cacacao L), hasil kultur jarigan dan pemuliaan kakao Sulawes i – 1, yang diberikan nama oleh Menristekdikti, yaitu Monasa dan Hanasa. Monasa dapat menghasilkan buah hingga 4,8 ton per hektar dan Hanasa mencapai 3,2 ton per hektar melebihi kakao Sulawesi – 1 hanya 2,2 ton per hektar. Untuk kopi, telah dilakukan persilangan klon antara klon Quilo yang tahan hama dan klon dari kopi Robusta BP-409 yang rendah tingkat keasamaannya, menjadi “Kopi Super”. Produksi bibit kopi dan kakao terus meningkat, dalam empat tahun terakhir mencapai 70 juta batang. Sangat menarik untuk diteliti bukan?


2.      Museum Tembakau dan Perusahaan Cerutu

Selain menjadi penghasil kakao terbesar bahkan sejak jaman Hindia Belanda, Jember juga dikenal sebagai penghasil tembakau kelas dunia. Jember bersaing dengan Kuba yang sejak dahulu dikenal sebagai pengahasil cerutu dan tembakau terbaik dunia. Terdapat dua jenis tembakau yang sangat populer dan familiar dari hasil olahan produksi Jember ini, yakni jenis kasturi dan nag oost .
sebagai salah satu wilayah penghasil tembakau terbaik pemerintah kabupaten Jember mulai mengenalkan potensi ini kepada khalayak luas salah satunya adalah dengan mendirikan museum tembakau. Dari museum inilah kita dapat mengetahui bagaimana proses dimana tembakau diolah dari awal hingga proses siap ekspor. Selain daun tembakau dari jenis kasturi  dan nag oost, di museum ini dihadirkan pula cacahan daun tembakau dari daerah lain seperti tembakau rajang Maesan (Bondowoso), Tanjungsari Tasikmalaya, Paiton, Sumenep, Bojonegoro dan Sinjai.
Museum Tembakau juga dilengkapi dengan alat-alat yang digunakan untuk proses pengolahan tembakau seperti mesin pemotong maupun mesin pencacah. Di museum ini juga terdapat perpustakaan yang berisi literatur mengenai Jember secara umum dan tembakau serta hal yang berkaitan lainnya. Pengunjung juga akan dimanjakan dengan lukisan tarian khas Jember (Labako), lukisan orang menghisap cerutu, lukisan seorang petani yang sedang menanam tembakau di sawah, dan sebagainya yang berhubungan dengan tembakau.
Museum yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Sertifikasi Mutu Barang – Lembaga Tembakau Jember Dinas Peindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim ini berada di Jalan Kalimantan Nomor 01 Jember. Lokasinya berdekatan dengan Kampus Universitas Jember. Sangat strategis dan mudah dijangkau. Sehingga sayang untuk dilewatkan saat Anda berkunjung ke Jember.

Selain sebagai penghasil tembakau kelas dunia, Jember juga adalah penghasil cerutu terbaik kedua di dunia setelah Kuba. Boss Image Nusantara (BIN) Cigar adalah salah satu produsen cerutu terbesar di Jember yang produknya sudah diekspor ke sejumlah negara seperti negara-negara Uni Emirat Arab, Singapura, dan Malaysia. Yang terbaru, BIN Cigar juga mengekspor cerutunya ke Denmark. Sebagai salah satu produk unggulan sekaligus destinasi wisata edukasi di Jember, BIN Cigar seringkali mendapat kunjungan dari mahasiswa manca negara dan mahasiswa lokal yang ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan cerutu mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, petik, hingga proses pembuatan cerutu melalui video. Mereka bahkan praktik membuat cerutu sendiri. Seperti kunjungan sejumlah mahasiswa dari 11 negara pada Jum'at (20/7/18) lalu. Mereka di antaranya berasal dari Malaysia, Filipina, Thailand, Inggris, Jepang, Korea, Laos dan negara lainnya. Lokasi BIN Cigar relatif dekat dengan pusat kota dan mudah dijangkau dari berbagai arah. Yakni di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Jember.



Kunjungan 11 mahasiswa mancanegara ke BIN Cigar pada 20/7/2018 lalu.
Foto dari http://dialogtvnews.com


3.      Tanoker Ledokombo
Beralih dari kekayaan dan keunikan alamnya sebagai penghasil kakao dan tembakau kelas dunia, kita beralih ke destinasi wisata Jember lain yang berbasis masyarakat. Yang tidak hanya banyak dikunjungi untuk dinikmati keunikannya, namun juga menjadi rujukan pembelajaran dan penelitian. Salah satunya yang banyak dikunjungi baik oleh wisatawan dalam maupun luar negeri, adalah Komunitas Tanoker Ledokombo.
Tanoker atau Kepompong dalam bahasa Madura, adalah sebuah komunitas belajar masyarakat di wilayah Ledokombo Jember. Kegiatan komunitas terutama  berfokus pada pengembangan potensi anak-anak melalui proses pengorganisasian dengan pendekatan budaya. Dengan semboyan ‘bersahabat, bergembira, belajar, berkarya’,  saat ini sedang dilakukan pendampingan anak-anak terutama setingkat SD dan SMP untuk dapat mengembangkan potensinya. Mereka pada umumnya adalah putra-putri TKW/TKI, buruh tani, tukang ojek, supir, pedagang kecil, guru dan pekerja rumahtangga.
Dalam perkembangannya, Komunitas Tanoker tidak hanya memfokuskan kegiatannya pada anak-anak saja. Masyarakat sekitar juga turut ambil bagian dengan mengembangkan Kampung Wisata Belajar Ledokombo. Melalui konsep kampung wisata ini, penduduk setempat yang masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli, mengembangkan sejumlah potensi desanya untuk menarik wisatawan berkunjung. Sejumlah potensi itu antara makanan khas, sistem pertanian dan juga sistem sosial masyarakatnya. Sejumlah inovasi dikemas dengan apik. Seperti permainan tradisional, musik tradisional, makanan dan minuman tradisional, hingga souvenir yang bercirikan lokalitas setempat. Destinasi wisata edukasi yang sayang untuk dilewatkan bukan?

4.      Taman Baca Kreatif
Selanjutnya, hal menarik lain dari Jember yang sayang untuk dilewatkan adalah sejumlah Taman Baca Masyarakat (TBM) kreatif yang jumlah dan pertumbuhannya cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ada beberapa nama taman baca di Jember yang namanya sudah meng-Indonesia, bahkan dikenal juga di sejumlah negara, salah satunya TBM Kampoeng Batja.
TBM Kampoeng Batja didirikan oleh Bapak Iman Suligi, seorang pensiunan guru yang juga seorang pegiat literasi di Jember. Kampoeng Batja terletak tidak jauh dari pusat kota, namun lokasinya sedikit ‘nyempil’ di antara perumahan penduduk. Konsep yang ditawarkan oleh Kampoeng Batja adalah perpustakaan kebun atau garden library. Sebuah inovasi untuk mendobrak persepsi umum tentang perpustakaan yang identik dengan ruang tertutup. Di Kampoeng Batja, membaca buku bisa dilakukan di teras ataupun gazebo. Di sana, selain menikmati sejumlah koleksi bacaan yang jumlahnya ribuan dari berbagai jenis buku, pengunjung juga bisa menikmati suasana alam. Di hari-hari tertentu juga bisa sekaligus bermain panahan.


Foto Ririn Handayani.
Membaca di Kampoeng Batja bisa juga sambil duduk di tengah taman seperti ini.....
Dengan fasilitas perpustakaan yang cukup lengkap, area yang cukup luas dan representatif, Kampoeng Batja acapkali menjadi tujuan wisata edukasi sejumlah lembaga pendidikan, mulai tingkat playgroup hingga perguruan tinggi. Inovasi di bidang literasi ini membuat Kampoeng Batja mendapat penghargaan dari Kemendikti sebagai TBM kreatif pada 2016 lalu. Menarik untuk memasukkannya dalam list destinasi Anda saat berkunjung ke Jember.

5.      Pusat Studi Islam dan Al Quran

Selain dikenal dengan destinasi wisata alam dan sosialnya yang unik, Jember juga memiliki julukan sebagai Kota Santri. Ini karena Jember memiliki banyak pesantren dengan santri yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Selain diburu oleh para santri, sejumlah pesantren di Jember juga menjadi destinasi ‘wajib’ dalam ziarah Walisongo. Salah satunya, Pondok Pesantren Al Qodiri.

Dalam lingkup destinasi wisata religi, Jember semakin diminati karena memiliki sejumlah bangunan tempat ibadah yang legendaris dan fenomenal. Seperti Masjid Chengho yang memadukan kebudayaan Islam dan China, juga Masjid Roudhotus Sholihin yang tersohor dengan kemegahannya. 

Gambar mungkin berisi: langit dan luar ruangan

Foto Ririn Handayani.
Masjid Chengho saat malam hari, beberapa saat usai sholat Magrib....


Selain dua hal di atas, Jember juga kian diminati untuk dikunjungi bahkan dijadikan sebagai tempat belajar dalam kurun waktu yang lama karena eksistensinya sebagai pusat studi Islam dan Al Quran yang semakin diperhitungkan di kancah regional, nasional, bahkan mancanegara. Agak sulit dipercaya ya? Saya juga berpikir begitu awalnya.


Sebagai salah satu pusat studi Islam, adalah Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember atau STDIIS yang menjadi salah satu daya tarik utamanya. Perguruan tinggi ini menawarkan dua program studi sarjana, yakni Prodi S1 Ahwal Syakhsiyah (Gelar sarjana Fikih Islam) dan Prodi S1 Ilmu Hadits (Gelar sarjana Hadis). Kegiatan pembelajaran sepenuhnya dilakukan dalam Bahasa Arab. Sebagian besar kurikulumnya diadopsi dari Universitas Islam Madinah. Lembaga pendidikan dengan pengantar Bahasa Arab semacam ini relatif masih langka sehingga STDIIS menjadi tujuan pendidikan banyak santri dan mahasiswa dari seluruh penjuru tanah air. Terlebih kini juga mulai dibuka kelas untuk santriwati.

Dalam perkembangannya, Yayasan Imam Syafii juga mendirikan sekolah untuk jenjang playgroup, TK, SD dan SMP. Selain sekolah umum, didirikan pula sekolah khusus untuk menghafal Al Quran atau yang dikenal juga dengan Kuttab. Selain Kuttab Imam Syafii, ada pula Kuttab Al Fatih. Lembaga pendidikan lain yang juga concern mendidik santrinya untuk menghafal dan mempelajari Al Quran adalah Yayasan Ibnu Katsir. Cukup pesat sekali bukan perkembangan Jember sebagai pusat studi Islam dan Al Quran dalam berbagai jenjang? Masyarakat Jember dan sekitarnya semakin punya banyak pilihan. Dan Jember menjadi salah satu yang masuk dalam daftar. Bagi para pembelajar Al Quran, Jember seakan telah menjadi “Madinah Kedua’ bagi mereka.

Yup, akhirnya tuntas sudah ulasan saya tentang 5 destinasi wisata Jember yang juga menjadi tempat rujukan penelitian. Semakin penasaran untuk berkunjung? Jangan khawatir. Moda transportasi ke dan dari Jember banyak pilihan. Mulai dari jalur darat dengan kendaraan pribadi, travel, bus, ataupun kereta api. Jalur udara juga tersedia yang untuk saat ini telah tersedia dua jadwal setiap harinya.

Tak perlu khawatir juga soal penginapan dan akomodasi. Banyak hotel dan penginapan dengan beragam pilihan yang tersedia. Soal kulinernya juga juara dengan harga yang relatif ramah di kantong. Jadi, jangan ragu lagi untuk memasukkan Jember dalam destinasi wisata Anda….


Referensi :

https://www.ristekdikti.go.id/kebangkitan-kopi-dan-kakao-indonesia-dari-jawa-timur/
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/07/23/asyiknya-berkunjung-ke-museum-tembakau-di-jember
http://jatimprov.go.id/read/umkm/cerutu-produksi-jember
http://dialogtvnews.com/rokok-cerutu-bin-jember-dikunjungi-19-mahasiswa-dari-manca-negara/

* * *

2 komentar:

  1. wah keren2 dan wisata edukasinya juga patut dikunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Tira, Jember punya banyak mutiara terpendam :)

      Hapus

 
;