Rabu, 23 Mei 2018

Lima Lomba Menulis Paling Mengesankan yang Pernah Saya Ikuti (Bagian Dua)

Di bagian ini, saya akan menceritakan tiga lomba menulis lain yang sangat mengesankan yang pernah saya ikuti. Dua lomba lainnya bisa dilihat di sini, Lima Lomba Menulis Paling Mengesankan yang Pernah Saya Ikuti (Bagian Pertama).




Ketiga, Lomba Karya Tulis Kebanksentralan oleh Bank Indonesia

Lomba yang akan saya ceritakan kali ini, berlangsung ketika saya masih berstatus mahasiswa sehingga kategori yang saya ikuti adalah kategori mahasiswa. Lomba ini ketika itu rutin diselenggarakan oleh Bank Indonesia setiap tahun. Lomba paling berkesan yang akan saya ceritakan adalah lomba kedua yang saya ikuti. Tahun sebelumnya, saya juga terpilih sebagai finalis dan diundang ke Jakarta untuk presentasi karya tulis bersama sembilan finalis lain. Untuk lomba tahun selanjutnya, alhamdulillah saya kembali terpilih sebagai finalis dan diminta datang ke Jakarta. Namun kondisinya sangat berbeda dengan saat undangan pertama datang. Saya sudah punya baby berusia hampir lima bulan. Dan undangan datang H-1 dengan jadwal harus sudah berada di Jakarta. Saya hanya punya beberapa jam untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


'Drama' yang menyertai lomba yang satu ini tidak hanya ketika saya harus presentasi di Jakarta. Drama telah terjadi sejak proses penulisannya. Tema yang saya pilih ketika itu adalah bank syariah sebagai role model. Secara keilmuan, tema ini cukup jauh dengan bidang studi saya. Namun karena minat yang besar pada topik yang satu ini, saya bersikeras menulisnya sebisa mungkin.

Hunting data dan proses penulisan berlangsung beberapa bulan sebelumnya, ketika usia Sasha sekitar 2-3 bulan. Internet masih harus diakses di warnet sehingga selain membawa Sasha ke perpustakaan, kadang saya juga membawa Sasha ke warnet. Gerak menjadi sangat terbatas dengan satu tangan harus menggendong bayi, sedang tangan yang lain berselancar. Kenapa harus bawa baby? Sasha bukan tipe bayi yang mudah ditinggal dan dititipkan pada orang lain. Dan saya tidak ingin ini menjadi halangan bagi saya untuk mengejar impian yang lain. Maka, membawanya dalam aktivitas saya adalah pilihan terbaik yang tersedia ketika itu.

Drama satu tangan menggendong bayi dan tangan lain bergerak di atas keyboard menjadi lebih menyita emosi ketika proses penulisan berlangsung. Tulisan yang diminta cukup banyak. Saya lupa, 10 atau 20 halaman. Saya belum punya komputer sendiri ketika itu. Sehingga ketika 'jadwal'-nya menulis, saya ke rumah bapak ibu mertua untuk numpang mengetik. Di sana, saya harus mengantri karena komputer hanya ada satu sedang yang pakai ada beberapa. Giliran saya tiba kadang bersamaan dengan jadwal Sasha rewel. Jadinya, sembari mengetik sembari menenangkan bayi dalam gendongan. Sangat menguras tenaga dan emosi. Tapi lagi-lagi saya tidak ingin menyerah. Tulisan itu akhirnya rampung dengan sangat penuh perjuangan. Dan saya merasa telah menjadi pemenang dengan hanya telah menyelesaikannya. Saya telah 'mengalahkan' segala hambatan dan keterbatasan yang menghadang untuk bisa mengikuti lomba itu.

Undangan presentasi dari Jakarta sangat diharapkan di satu sisi, namun sekaligus menakutkan di sisi lain. Bagaimana Sasha jika benar saya menjadi finalis, sedang ditinggal beberapa jam saja sulit apalagi beberapa hari? Bismillah. "Mama akan membawamu Nak, kalau undangan itu benar-benar datang" bisik saya di hati ketika itu. Dan benar, undangan itu datang. Saya tahu kabar itu malam hari sekitar jam delapan malam, lalu sekitar jam enam keesokan harinya saya berangkat ke Jakarta, dengan travel paling pagi menuju Surabaya dilanjut dengan pesawat ke Jakarta. Karena Sasha saya bawa, maka suami otomatis menemani. Karena suami belum cukup piawai menjaga bayi saat saya presentasi nanti, dan itu berlangsung seharian, saya meminta ibu saya di Lampung untuk menyusul kami ke Jakarta. Jadi, ketika finalis lain bisa melengggang santai dan bisa fokus pada presentasi, saya hadir bersama rombongan komplit. Anak, suami dan ibu. Karena BI hanya menanggung biaya perjalanan saya, biaya perjalanan anggota keluarga lain ditanggung sendiri. Sebuah perjuangan yang 'mahal'.

Presentasi berlangsung menegangkan. Ada tiga orang penguji ahli yang menanyai saya. Saya berusaha keras mempertahankan tulisan saya, namun mungkin karena itu bukan bidang studi saya, bank syariah juga masih relatif baru, saya hanya terpilih sebagai finalis. Kalah. Tapi tetap ada rasa sebagai pemenang di hati. Saya sudah mengupayakan hal terbaik yang bisa saya upayakan. Saya tidak menyerah dengan keterbatasan.


Keempat, Lomba Karya Tulis Perpajakan oleh Direktorat Jenderal Pajak

Sasha sudah setahun lebih, dan saya masih belum lulus juga. Dia masih susah ditinggal, jadinya saya sempat cuti satu semester dan skripsi yang sudah hampir rampung, jadinya terbengkalai. Dirjen Pajak ketika mengadakan lomba menulis. Temanya tentang pajak dan kemandirian bangsa. Pajak, seperti halnya dengan bank syariah, cukup jauh dengan bidang studi saya. Tapi kemandirian bangsa itu materi kuliah saya. Inilah yang membuat saya tertarik untuk ikut lomba. Tapi tunggu, masihkah saya pantas untuk ikut kategori mahasiswa sedang ketika itu saya sudah memasuki tahun keenam studi saya di bangku S1?

Saya lupa, apakah kategori mahasiswa ketika itu juga mencakup mahasiswa S2, yang pasti saya akhirnya ikut lomba itu. Topiknya cukup berat dan asing. Saya merasa otak saya cukup mengerut ketika itu. Mungkin karena stressnya, sampai-sampai saya tidak punya ide untuk judul. Jadinya, judul yang saya pakai saya persis dengan subtema yang disediakan panitia. Hehehe.

Merasa asing, sulit juga, sepertinya saya tidak terlalu berharap soal lomba itu. Hingga di suatu hari yang hectic, saya mendapat telpon dari Jakarta jika saya terpilih sebagai pemenang pertama. MasyaAlloh, alhamdulillah. Bahagia tapi juga bingung bagaimana mau datang. Saat saya terima telpon itu, saya sedang berada di salah satu kamar di RS. Sasha harus rawat inap karena diare. Kami mungkin baru beberapa jam berada di kamar itu.

"Maaf Pak, saya tidak yakin bisa datang. Ada keluarga yang sedang rawat inap dan harus saya temani" suara di seberang sepertinya bingung juga.

"Hanya pemenang pertama yang kami undang Mbak...."

"Oya? Kalau diwakilkan bagaimana Pak?" saya mencoba bernegosiasi.

"Acaranya masih tiga hari lagi Mbak, di Jakarta juga hanya menginap semalam, siapa tahu Mbak tetap bisa hadir. Kalau diwakilkan, kami khawatir yang mewakili Mbak gak bisa jawab kalau kebetulan ada wartawan yang tanya...."

Tuing.....

Untunglah kondisi Sasha semakin membaik. Pas hari di mana saya semestinya berangkat ke Jakarta, Sasha diperkirakan sudah boleh pulang dari RS. Suami mengijinkan saya berangkat ke Jakarta sementara dia menunggu visite terakhir dokter untuk kemudian membawa Sasha pulang ke rumah.

"Untuk tiket pesawat apakah perlu kami pesankan Mbak?" tanya panitia lagi begitu tahu saya menyanggupi untuk menghadiri undangan mereka. Ketika itu kalau tidak salah sudah mendekati hari raya, arus mudik telah dimulai namun belum ramai. Panitia sepertinya sedikit khawatir soal moda transportasi saya.

"Tidak usah Pak, saya beli langsung di bandara biar lebih fleksibel" jawab saya. 

"Oke. Silahkan pakai maskapai apa saja Mbak, asal tetap kelas ekonomi. Seluruh biaya nanti kami ganti" kata suara di seberang.

"Oya, tolong kabari kami segera jadwal penerbangannya, nanti kami jemput di bandara" lanjutnya lagi.

"Tidak perlu dijemput Pak, saya insyaAlloh bisa berangkat sendiri ke hotel"

"Tidak Mbak, kami harus jemput. Mbak tamu kami...." Duh, bingung bagaimana mau menolak lagi.

Dari sekian undangan, ini undangan yang membuat saya kikuk. Dan benar, panitia sudah stand by di Soeta sebelum pesawat saya mendarat. Yang menjemput seorang bapak-bapak yang pembawaan yang teduh. Beliau membawa putranya yang masih usia SD untuk menemani.

Sesampai di hotel, saya biasanya reservasi sendiri. Kali itu tidak. Panitia yang mereservasi sedang saya duduk manis di lobi. Hampir magrib ketika dua bapak dengan baju batik menghampiri saya.

"Mari kami antar Mbak"

"Saya bisa sendiri Pak"

"Maaf, Mbak tamu kami. Tugas kami untuk melayani sebaik mungkin..." huff, kikuk banget, serasa orang penting, hahaha. Jadinya, saya benar-benar diantar sampai depan pintu kamar oleh mereka berdua. Itu pun masih dipesani untuk tidak sungkan menghubungi mereka jika ada keperluan.

Keesokan harinya, saya dan dua pemenang lain dari kategori umum dan wartawan menghadiri hari puncak keuangan. Penyerahan hadiah dilakukan langsung oleh Menteri Keuangan ketika itu. Hadiah yang saya terima sebagai pemenang pertama, sebuah laptop dan printer. 

Lomba ini menjadi sangat berkesan juga karena setelah pengumuman, saya tahu bahwa pemenang kedua dan ketiga adalah mahasiswa paskasarjana jurusan ekonomi dan bisnis dari dua universitas terkemuka di Tanah Air.



Kelima, Anugerah Jurnalistik Ancol

Jarak antara lomba berkesan keempat dan kelima cukup jauh, hampir lima tahun. Sepanjang waktu itu sebenarnya ada beberapa lomba yang saya ikuti dan menang. Antara lain lomba menulis oleh Kementerian Perumahan Rakyat di mana saya berhasil menjadi pemenang pertama untuk kategori Umum. Dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, juga juara pertama. Di XL Award saya berhasil menjadi juara ketiga. Sedang lomba menulis yang diselenggarakan oleh LPS saya berhasil menjadi juara kedua untuk kategori umum. Sebagian besar lomba yang saya ikuti sejak kemenangan pada lomba menulis pajak adalah lomba untuk kategori umum. Karena sekitar dua bulan setelah kemenangan itu, saya maju ujian skripsi. Ya, akhirnya. Alhamdulillah.

Mengapa sejumlah lomba-lomba di atas yang sebenarnya tak kalah bergengsi dari segi segmen dan hadiah 'terkalahkan' oleh lomba jurnalistik Ancol? Lagi, jawabannya karena kemenangan tak semata soal prestis dan hadiah. Lomba menulis Ancol sangat berkesan bagi saya, karena banyak pelajaran berharga yang saya dapat dari sana. Tentang ini saya pernah menuliskannya di status Facebook dengan judul "Bahkan Tulisan Pun Memiliki Jodoh". Berikut cerita lengkapnya :


Setiap kali 'berpapasan' dengan ide dan tak sempat menulisnya, biasanya saya menyimpannya di kepala. Tak bisa dipastikan kapan si ide akan menetas menjadi tulisan; bisa satu hari, satu minggu, bahkan tiga tahun  Biasanya bukan soal waktu yang paling menentukan, tapi momentum. Saya baru ingat si ide kalau misalnya ia menjadi buzzword di media, atau kebetulan menjadi tema sebuah lomba. Inipun tak langsung memuluskan perjalanan si tulisan menemukan 'jodoh'nya 
Soal 'jodoh' tulisan, ada satu kisah tulisan saya yang saya rasa begitu inspiratif (menurut saya sebagai penulisnya  )
Kala itu untuk pertama kalinya saya mencoba memberanikan diri ikut sebuah lomba karya jurnalistik. Sesuai dengan namanya, maka si tulisan harus sudah tayang di media. Dan ini merupakan salah satu lomba yang rumit (yang biasa ikut lomba pasti paham cukup rumitnya mekanisme lomba yang satu ini  )
Langkah pertama adalah menulis dengan gaya jurnalistik. Dan kala itu, ini tak mudah bagi saya yang biasa menulis tulisan yang kalau diumpamakan dengan kendaraan, ibarat truk tronton  Padahal, tulisan untuk media harusnya ramping bak peragawati 
Sudahlah dengan sangat susah payah si ide ditulis, ternyata gak ada media yang mau memuatnya saudara-saudara, haha (kesedihan kala itu akhirnya bisa saya tertawakan sekarang  )
Saya lupa berapa tepatnya media yang menolaknya, mungkin hampir sama dengan jumlah jari satu tangan. Bahkan salah satu media online yang kala itu hampir selalu memuat tulisan saya, juga menolaknya 
Deadline tulisan yang semakin mepet sempat membuat saya mencoba memasukkannya lewat 'pintu samping', alias memanfaatkan kedekatan dengan sejumlah teman redaktur dengan catatan tulisan saya memang layak muat, bukan semata karena faktor pertemanan. Hasilnya juga sama, tulisan itu tetap tak bisa dimuat dengan sejumlah alasan. Gak tanggung-tanggung, tiga teman redaktur dari tiga media yang menolaknya 
Mungkin karena kasihan, suami akhirnya menawari saya untuk mengirimkan tulisan tersebut ke media tempatnya bekerja dengan peluang muat yang lebih besar, tapi tawaran ini saya tepis dengan jawaban "Aku belum mau menyerah". Sip, pertahankan ya Rin semangat yang satu ini 
Finally, dengan semangat yang hampir habis, saya kirimkan tulisan itu ke sebuah media online nun jauh di sana, media yang sebenarnya kurang saya perhitungkan. Sempat tertolak beberapa kali karena masalah teknis yang nyaris membuat saya menyerah. Susah payah lalu saya cari contact person redaksi, sampai kemudian tulisan itu akhirnya menemukan 'jodoh'nya di detik-detik terakhir deadline lomba. Lega rasanya, tahap pertama sudah terlalui meski dengan sangat susah payah, setidaknya 'tiket' untuk berkompetisi sudah di tangan. Sampai di tahap ini saja rasanya saya sudah menjadi 'pemenang' 
"Aku tidak yakin kamu menang, aku hanya menggenapkan ikhtiarku" kata saya pada si 'tulisan' ketika itu sembari mengirimkannya ke panitia lomba. Jelas saja mental saya ciut, dalam antrian muat di media saja ia ditolak hampir sepuluh media. Apalagi jika nanti saya harus berkompetisi dengan tulisan-tulisan yang sudah jelas lolos seleksi, dan bisa jadi mewakili media-media terbaik di Tanah Air. Tapi, siapa yang tau rahasia 'jodoh'? Tulisan itu, yang ditolak banyak media bahkan teman sendiri, akhirnya dinobatkan menjadi salah satu pemenang (tak perlu disebut tulisan dan lomba yang mana ya  )
Jadi, siapa bilang cuma orang yang punya jodoh, tulisan juga  Dan kadang, sama seperti jodoh dalam arti pasangan, tulisan kadang juga harus menunggu sangat lama, berjuang sangat keras dan menemui banyak kegagalan serta penolakan sebelum akhirnya menemukan jodoh terbaiknya...... 

Well, tuntas sudah sharing saya tentang lomba-lomba sangat berkesan yang pernah saya ikuti dalam periode saat semangat menulis saya belum memasuki masa hibernasi. Semoga bermanfaat. Bagi saya pribadi, semoga sharing ini bisa merefresh kembali semangat saya untuk menulis lebih baik lagi. Aamiiin.....

2 komentar:

  1. Ayo mba Ririn kembali ke kancah lomba menulis. Sekarang eventnya makin banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus banyak belajar sama Mbak Arin nih.... :)

      Hapus

 
;