Minggu, 13 Mei 2018

Diet Gluten Pada Batita Speech Delay



Image result for diet gluten
Foto dari www.healthline.com

Speech delay atau keterlambatan bicara yang dialami putra saya, Bilal, membuat saya dan suami harus konsultasi ke beberapa dokter spesialis dan psikolog. Satu dari tiga psikolog yang kami kunjungi menekankan pentingnya diet gluten dan kasein untuk Bilal. Dalam tataran teori, ini bukan hal baru bagi saya. Tapi mana kala harus benar-benar mempraktikkannya, pada anak yang usianya ketika itu belum genap tiga tahun, saya sedikit gamang. Belum lagi ditambah, si psikolog juga menganjurkan agar Bilal segera lepas diapers dan juga disapih. Huff, sepanjang perjalanan pulang sore itu, saya lebih banyak diam. Memikirkan dari mana memulainya.

Ternyata, semua berjalan secara alami. Yang lebih dulu saya lakukan adalah toilet training karena kebetulan cloth diapers Bilal banyak yang sudah soak. Hahaha, ada unsur pertimbangan ekonomis ya, emak-emak bingit ini....

Bismillah, bersiap dengan banyak kejutan pipis dan mungkin juga pup. Yup, dan memang iya. Keterlambatan bicara dan kurangnya kontak yang membuat mengapa toilet training pada Bilal bisa dibilang terlambat. Saya pesimis dia akan paham. Nyatanya, Bilal hanya butuh beberapa hari untuk beradaptasi untuk kemudian paham bahwa jika diajak ke kamar mandi itu berarti dia pipis di sana. Kadang-kadang masih kecolongan. Namun secara umum, apa yang terjadi tak semenakutkan yang saya bayangkan sebelumnya. Sangat jauh bertolak belakang bahkan. Saya pernah mendapati Bilal yang sudah terlanjur pipis di ruang tengah, pergi ke kamar mandi sendiri. Membuka celana sendiri lalu mencoba untuk basuh sendiri. Dia sangat paham ternyata.

Toilet training masih on process, tanpa disengaja diet gluten dan kasein menyusul. Hanya berjarak beberapa hari. Ini pun bisa dibilang tanpa rencana. Saya yang masih maju mundur cantik untuk menerapkan diet, karena Bilal sangat suka mie dan pasta, ternyata ayahnya justru memutuskan bahwa mulai hari itu, kami stop mie untuk Bilal. Maka, di malam minggu yang biasanya kami beli mie ayam, malam itu tidak lagi. Sebagai gantinya kami beli nasi goreng, hehehe.

Makaroni, yang sering menjadi menu sarapan anak-anak, juga dicoret dari daftar belanja. Lalu dengan sedikit tak enak juga, kabar mengenai Bilal yang diet gluten harus kami sampaikan juga ke tetangga yang jual mie ayam, yang heran kenapa kami jarang beli akhir-akhir ini. Kunjungan ke Alfa dan Indo juga menurun drastis, hahaha. Koq bisa? Karena selain mie, Bilal juga harus mengurangi susu, makanan dan minuman kemasan. Dan sebagai bentuk dukungan, empati, dan entah apa lagi namanya, maka kami serumah berusaha untuk diet juga.

Lagi-lagi, ketakutan saya soal diet gluten akan susah sekali, ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan sebelumnya. Ternyata bagi Bilal, yang penting ada makanan, yang sesuai dengan seleranya dan bisa membuatnya kenyang. Sebagai pengganti mie, saya sediakan lebih banyak sayur dan buah. MasyaAlloh, dia yang semula gak suka pepaya, ternyata mau. Dia juga hayuk saja ketika sesi makan siangnya hanya berupa ceker. Kadang sesekali dia mau juga makan tempe. Dan Bilal yang semula bisa menghabiskan 1 liter susu UHT dalam sehari, juga tidak protes ketika mendadak tidak ada susu di kulkas. Sebagai gantinya dia jadi lebih sering minum air putih dengan inisiatifnya sendiri. Pernah sih beberapa kali dia tantrum karena ingin susu. Tapi so far, proses penyapihan susu dan turunannya berjalan cukup lancar.

Melihat dua agenda sebelumnya berjalan lancar, mulailah saya melirik agenda yang ketiga, menyapih. Sempat ragu, karena dalam beberapa upaya sebelumnya gagal, akhirnya saya mantapkan malam itu tidak lagi menyusui Bilal. Sampai keesokan harinya, keesokan hari lagi dan lagi. Dia mencari pastinya, kadang menangis sebentar, kadang tantrum juga. Sedih, sayanya yang malah melow sangat dan sempat ingin menyusui dia lagi. Alhamdulillah, satu minggu akhirnya berlalu. Dan lagi-lagi saya mengacungkan jempol pada Bilal yang bisa melalui momen 'perpisahan' dengan cukup baik. Excellent bahkan mungkin ya, karena dalam kurun waktu sekitar dua minggu, Bilal secara kontinu melakukan tiga agenda besar yang disarankan oleh psikolog. Lepas diapers, diet gluten dan kasein, dan disapih. MasyaAlloh, alhamdulillah Alloh memudahkan.

Lalu, terlihatkah hasilnya? 

Malam di mana menjadi starting point Bilal memulai diet gluten, kami membawanya ke alun-alun. Di sana, Bilal seperti tak terkendali. Lari ke sana ke mari yang membuat saya sempat khawatir karena suasana malam minggu sangat ramai. Selain hiperaktif, Bilal juga terlihat moody. Saya menjauh sedikit saja dia langsung menangis bahkan teriak lalu kadang ndelosor di lantai atau lapangan. Kurang lebih 1,5 bulan setelah dia mulai diet gluten (meski tidak ketat 100 persen), saya melihat perubahan yang cukup signifikan dari sikapnya. Hiperaktifnya lumayan berkurang, dia lebih fokus dan komunikasi dengan kami lebih bagus.

Diet gluten juga membuat BAB-nya menjadi lebih lancar. Awal diet, dia sempat diare beberapa hari. Cukup parah, namun saya berkukuh tidak memberinya obat atau membawanya ke dokter. Alhamdulillah, akhirnya berangsur berkurang. Dia tidak terlihat lemas karena asupan cairan insyaAlloh cukup. Setelah itu, perutnya yang semula terlihat agak besar, akhir-akhir ini terlihat lebih rata. Banyak yang bilang Bilal jadi lebih kurus meski BB-nya tetap. memang dia terlihat lebih tinggi.

Kosa katanya bertambah. Baik yang dia ucapkan spontan maupun yang ditiru. Tatap matanya lebih fokus dan pemahamannya akan banyak hal semakin baik. Alhamdulillah. Tapi PR kami masih banyak. Semoga Alloh mudahkan selalu, aamiin....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;