Rabu, 16 Mei 2018

Berdamai dengan HNP

Sebagian kita mungkin masih asing dengan istilah HNP. Begitu pula dengan saya sampai kemudian sekitar setahun yang lalu, dokter menyatakan saya menderita penyakit ini.



Image result for hnp adalah
Foto dari mediakonsumen.com



HNP atau Hernia Nukleus Pulposus adalah kondisi ketika bantalan atau cakram di antara vertebrata (tulang belakang) keluar dari posisi semula dan menjepit saraf yang berada di belakangnya. Kondisi ini juga disebut dengan istilah “saraf terjepit”. Nah, kalau istilah saraf kejepit mungkin lebih familiar ya?


Dalam bayangan saya sebelum mengalami sakit ini, saraf kejepit itu identik dengan orang tua atau yang sudah berumur, rasanya sangat sakit sekali, dan bisa sembuh dengan dipijat atau diurut. Ternyata setelah benar-benar mengalaminya, beberapa hal tidak seperti yang saya bayangkan. Terutama untuk hal pencegahan dan penyembuhannya.

* * *

Keluhan yang pertama kali saya rasa hingga dokter menyatakan saya terkena HNP adalah nyeri perut bawah yang tembus hingga panggul. Sakitnya hilang timbul dan kadang intens. Awalnya saya mengira terkena usus buntu. Dalam pandangan awam, agak mirip gejalanya. Saya mengonsultasikan keluhan saya ke klinik terdekat dan ditangani oleh dokter umum. Dapat antibiotik plus anjuran untuk menjaga makan. Hingga waktu kontrol lagi, keluhan tidak berkurang. Pada kunjungan dokter berikutnya, dokter memeriksa lebih intens dan menduga ada organ perut yang saat diraba terasa bengkak. Huff, jujur saya jadi takut. Dugaan saya mengalami usus buntu semakin kuat dan mulai mempersiapkan mental jika harus operasi. Selanjutnya saya dirujuk ke spesialis penyakit dalam.

Di rumah sakit, dokter internis menyarankan untuk melakukan cek urin. Hasilnya mengarah ke infeksi saluran kencing. Cukup familiar dengan penyakit ini. Saya cukup sering sakit ini karena saya kurang suka menggunakan toilet umum saat bepergian. Lebih suka menahan pipis. Kebiasaan yang perlu dikoreksi. Untuk sakit ini, dokter memberi saya antibiotik. Hingga dua kali kunjungan dan antibiotik saya minum dengan disiplin, hasil lab bagus tapi saya masih merasa kurang nyaman meski untuk bagian perut sakitnya mulai berkurang. Dokter lalu menyarankan untuk USG perut untuk memeriksa kemungkinan sakit lain selain infeksi saluran kencing. 

Hasil USG perut ternyata baik juga. Tidak ada masalah dengan perut, ginjal dan juga organ reproduksi. Sakit di perut semakin banyak berkurang namun untuk bagian panggul sakitnya semakin terasa bahkan mulai menjalar ke kaki. Dokter penyakit dalam mulai merasa bahwa sakit saya membutuhkan konsultasi dengan dokter lain, namun sebelum itu beliau sekali lagi mengirim saya ke radiologi untuk melakukan rontgen tulang belakang, barulah diketahui jika ada masalah di sana. Selanjutnya saya dirujuk ke dokter rehabilitasi medis. Alhamdulillah, satu titik terang mulai jelas.

Bersyukur, dokter rehabilitasi medisnya perempuan dan ada praktik pagi hari. Pertama konsultasi, beliau mengabaikan hasil rontgen dan langsung melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa bagian yang disentuh, raba dan tekan antara lain panggul, tulang ekor, paha hingga betis. Di hampir semua bagian ini, tepatnya di tubuh bagian sebelah kanan, saya merasa sakit. Sehingga tanpa hasil rontgen sekalipun, pemeriksaan fisik yang beliau lakukan cukup jelas mengindikasikan bahwa saya mengalami HNP. Dari beberapa artikel yang saya baca tentang HNP, nyeri yang menjalan dari panggul hingga kaki adalah ciri khas HNP.

Karena hasil pemeriksaan fisik dan rontgen positif mengarah ke HNP, maka dimulailah sesi terapi dengan minim obat. Hanya pereda sakit dan vitamin tulang kalau tidak salah. Terapi dilakukan di Fisioterapi rumah sakit. Terdiri dari pemanasan dan getaran di area yang sakit. Satu pengantar terdiri dari 5 kali terapi setiap dua hari sekali. Seperti dugaan saya sebelumnya jika saraf kejepit umumnya identik dengan orang-orang yang berumur, maka setiap kali terapi saya berjumpa dan menunggu bersama dengan pasien lain yang umumnya memang sudah berumur. Sesekali ngobrol. Ada yang heran dan tidak percaya kalau saya pasien HNP juga. Relatif masih muda dan tidak terlihat sakit. Bukan tidak sakit, tapi sebisa mungkin menyembunyikan rasa sakit. Sungkan dengan yang tua-tua, hehehe.

Setiap sesi terapi berlangsung kurang lebih 30-40 menit. Ini belum termasuk waktu antrian ya. Apa rasanya setelah terapi? Nyaman. Tiba-tiba tidak seperti sakit. Tapi ini berlangsung hanya sekitar sehari. Besoknya ya sakit lagi. Mengaduh lagi. Dan banyak istirahat. Hampir seperti ini terus pola hingga belasan terapi. Saya ketika itu mengeluhkan betapa 'repot" dan lelahnya' terapi. Dokter menganjurkan untuk renang yang kabarnya bisa sebagai 'terapi' untuk pasien HNP. Well, sepertinya ini lebih menyenangkan daripada antri terapi di rumah sakit, pikir saya ketika itu. Segera saya berburu instruktur untuk les renang dan kolam renang khusus perempuan. Karena susah menemukan jadwal yang cocok, untuk sementara saya dilatih oleh suami. Hampir seminggu sekali saya renang. Efeknya ternyata hampir menyamai terapi di rumah sakit. Nyaman, tapi rasa sakit masih acapkali timbul.

Saya mulai menunjukkan tanda-tanda mulai bosan dan mungkin putus asa dengan pengobatan dan terapi yang sedang dijalankan. Melihat ini, dokter lalu menyarankan saya melakukan MRI untuk melihat sejauh mana tingkat HNP saya. Hmmm, sebenarnya dokter tahu gambaran sakit saya. Tapi mungkin ini juga sebagai penguat psikologis bagi saya kalau saya benar-benar sakit sehingga lebih aware pada sakit dan lebih sabar dalam menjalani pengobatan. 

Hasil MRI menunjukkan, HNP terjadi pada lumbal ke-4 dan ke-5 grade dua. Area ini memang umum yang mengalami HNP. Grade dua artinya kurang lebih HNP saya sebenarnya belum terlalu parah tapi cukup mengganggu. Pada konsultasi yang ke-5 kalau tidak salah, Dokter Vanda, dokter rehabilitasi medik yang menangani saya, menganjurkan untuk menggunakan metode lain yakni dengan diet.

"Diet ya Bu? Kalau gak diet agak susahnya HNP-nya sembuh. Apalagi mulai males terapi dan renang" kata beliau ketika itu, secara garis besarnya.

"Berapa BB-nya sekarang?" hahaha. Pertanyaan yang sensi.

"Hmmm, gak terlalu over juga sih. Coba deh turunin 10 kilo" Apa? 10 kilo? Itu luar biasa, Dok. Satu dua kilo aja susah, apalagi 10 kilo. Ini sih komen saya dalam hati saja.

Selanjutnya, saya mulai berkenalan dengan diet keto. Diet yang dianjurkan oleh dokter. Gak terlalu asing dengan diet ini karena cukup sering saya temui di Facebook. Kebetulan salah satu teman penulis sering mengulas tentang diet ini di berandanya. Dia dalam rangka program hamil. Yup, secara teori gak blank banget. Tapi untuk mengekskusi? Nasi oh nasi, mie, gorengan, yang manis-manis.... Ah, serasa mengucap kata 'putus' pada pacar, hahaha.

Sepulang dari konsul dokter siang itu, saya menyiapkan mental saya untuk mengucapkan selamat tinggal pada nasi, dkk. Malamnya dan esok harinya masih makan nasi sih, tapi cuma beberapa sendok. Baru beberapa hari kemudian benar-benar stop, tapi gorengan masih comot. Hahaha, ternyata musuh terindah indah bukan nasi Saudara-saudara, tapi gorengan....

Amunisi mulai saya lengkapi satu demi satu sembari lebih mendisiplinkan diet. Tak pernah benar-benar bisa. Oh, diet ternyata benar-benar susah ya? Meski demikian, hasilnya ternyata cukup lumayan. BB bisa turun sekitar 4-5 kg dalam jangka waktu kurang lebih dua bulan dan keluhan HNP mulai jauh berkurang. Saya tidak lagi melanjutkan terapi di rumah sakit. Alhamdulillah.

Terkena HNP di usia yang relatif muda memberi saya banyak hikmah dan pelajaran berharga. Lebih memperhatikan kesehatan diri, banyak membaca dan cari info meski belum sakit dan kalau bisa tidak sampai sakit. Membaca sebanyak mungkin bacaan terkait dengan pengobatan dan pencegahan alternatif seperti dalam kasus saya yakni ternyata HNP bisa disembuhkan atau setidaknya diminimalisir dengan diet dan renang. Ya, berbekal dengan beberapa hal ini, selain banyak berdoa dan terus memperbaiki diri, saya merasa lebih bisa berdamai dengan HNP....





2 komentar:

  1. Halo mba, gejala urat terjepit itu hanya sakit bagian perut aja kah?

    Saya semenjak abis sesar pertama, tulang belakang di bagian belikat ya namanya, itu sering sakiiiittt banget, biasanya dipijitin suami dan ditempel koyo baru sembuh, tapi kambuh lagi terutama jika tidurnya salah posisi.

    Anehnya setelah sesar kedua Alhamdulillah jarang sakit lagi, apa itu syarat kejepit juga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo juga Mbak Reyna, salam kenal....

      Kalau saya sakitnya lebih dipanggul Mbak, yang menjalar hingga kaki, tergantung tingkat sakit. Kalau pas kambuh sekali, mungkin karena kurang mencoba menjaga pola makan, terlalu capek, dsb, sakitnya bisa sakit sekali, panas dan seperti ditarik. Bahkan saat tidur pun sakit. Kalau sudah begini, biarpun dikasih pereda sakit oles misalnya, gak terlalu ngefek.

      Perut waktu itu sakit juga mungkin karena bersamaan dengan infeksi saluran kencing. Ciir khas HNP katanya sakit yang menjalar dari panggul hingga kaki Mbak. Untuk lebih pastinya, butuh dokter untuk memastikan.

      Tapi sekarang sudah gak sakit lagi kan Mbak? Kabarnya keluhan HNP bisa jauh berkurang dengan menjaga pola makan dan BB juga renang....

      Hapus

 
;