Jumat, 27 April 2018

Pengalaman Pertama Operasi

Hasil gambar untuk takut operasi
Sumber Foto : metrotvnews.com

Perawat memanggil nama saya untuk bersiap menuju kamar operasi. Saya sedang menerima pesan dari suami ketika itu. Khawatir tidak sempat membalas pesan dan bisa membuatnya khawatir, saya mengetik pesan balasan sembari berjalan menuju lift.

Perawat menekan tombol dengan ekspresi datar, sedang saya masih melanjutkan pesan yang belum selesai.

“Sendiri Bu?” tanya perawat, masih dengan wajah datar.

“Iya Mbak, sendiri. Saya ada baby, suami jaga anak-anak di rumah” jawab saya masih dengan ketikan pesan yang belum selesai. Lalu sepi lagi. Hingga kami sampai di lantai yang dituju.

Lantai di mana kamar operasi berada relatif sepi. Saya mencoba melangkah setenang mungkin. Saya ajak ngobrol lagi Mbak Perawat untuk mengurai galau. Dan sampai juga akhirnya kami di kamar yang keramat itu. Yang melihatnya saja sekilas sudah bikin deg-degan.

Dingin. Inilah kesan pertama yang saya rasa ketika memasukinya. Perawat mengarahkan saya ke ruang persiapan untuk berganti pakaian sedang ia menuju ke bagian lain yang lebih dalam untuk menyerahkan berkas medis saya ke perawat kamar operasi.

“Pasiennya sendiri?’ sekilas saya dengar perawat kamar operasi menanyakan itu. Pertanyaan ini kembali diulang. 

Perawat yang tadi menemani saya membantu membetulkan pakaian operasi yang saya pakai. Dan tibalah saat itu, ketika ia ‘menyerahkan’ saya pada perawat kamar operasi yang semuanya laki-laki. Awalnya saya lihat ada tiga orang. Lalu datang lagi seorang.

Kamar operasi terbilang luas dibanding kamar perawatan. Lebih dingin dari ruang sebelumnya. Dan tempat di mana pasien berbaring, memang lebih menyerupai ‘meja’ daripada tempat tidur. Mungkin karena itu, ia lebih sering disebut dengan meja operasi, bukan tempat tidur operasi. Hehe.

Ada lampu besar dengan tiga lampu yang menyala sangat terang ketika saya berbaring di sana. Perawat membenarkan posisi saya. Memberi selimut lalu memberi penutup kepala. Tetap silau bahkan ketika saya sudah menutup mata. Perawat memberi penutup lagi hingga semua terasa gelap. Dan saya merasa mulai ‘mengembara’.

Perawat membersihkan area yang akan dioperasi. Tak lama setelah itu dokter bedah muncul. Dari suaranya terdengar ‘sepuh’ dan berwibawa. Waktu di kamar operasi nampaknya harus efisien karena di luar sana bisa jadi sudah ada pasien lain yang sudah antri untuk operasi selanjutnya. Atau, dokter yang akan mengoperasi saya sudah ditunggu oleh pasien lain di rumah sakit lain. Wallahualam.

Prosesi pun segera dimulai dengan ucapan Basmallah dari dokter bedah. Saya yang sebelumnya melihat berbagai botol obat di meja perawat mencoba menghalau berbagai rasa ngeri yang menghinggapi. Mencoba untuk fokus menghalau rasa takut. Karena operasi dilakukan dengan bius lokal, maka saya akan mengetahui, setidaknya mendengar, apa yang akan berlangsung kemudian.
Dokter melakukan tes rasa. Saya masih merasa. Beberapa saat kemudian, saya mulai merasa mati rasa di area yang dibius dan sayatan itu pun cepat dilakukan tanpa saya rasakan sakit. 

Percakapan kemudian antara dokter dan perawat tak terlalu saya pahami. Hanya, saya mengira itu semacam kordinasi. Percakapan cukup intens. Sepertinya, bagian yang perlu diambil tak langsung mudah diambil. Beruntung, ‘drama’ yang ini tak berlangsung lama. Saya sempat mengaduh sakit. Saya lupa, ini mulai saya rasa ketika proses pengambilan masih berlangsung atau ketika sudah mulai pada proses menjahit bekas sayatan. Saya sempat dengar instruksi untuk kembali menyuntikkan obat bius. Ketika obat bius sudah ditambah, saya masih merasa sakit meski kadarnya berkurang. Ini mengingatkan saya pada saat melahirkan Sasha. Saya masih merasa sakit ketika bidan melakukan jahitan perineum padahal obat bius menurut beliau sudah dalam dosis maksimal. Mengingat kejadian itu, saya mencoba menyugesti diri ketika tusukan panas dan sakit masih juga saya rasakan pada operasi kali ini meski obat bius sudah ditambah. Dari balik selimut operasi, saya berdzikir sambil menangis sementara luka operasi dijahit. Wajah-wajah terkasih pun terbayang. Wajah-wajah yang jika saja tahu saya sedang di kamar operasi mungkin akan khawatir dan sangat ingin menemani. Atau paling tidak, larut dalam doa yang khusyuk.

Sekitar 30 menit yang mendebarkan itu akhirnya berlalu. Saya meninggalkan kamar operasi menuju kamar ganti. Perawat yang bertugas menjemput tak kunjung datang. Jadilah saya sempat bengong sendirian dan kembali melow. Hahaha, tapi lega juga. Akhirnya, operasi yang menakutkan dan menghantui saya selama bertahun-tahun berlalu juga. Tak seseram yang dibayangkan, ini kesimpulan besarnya. Meski ada sedikit rasa sakit yang saya rasa, operasi relatif berjalan lancar dan cepat.

Drama kesendirian belum usai ternyata. Saya lagi-lagi harus antri obat sendiri. Hampir satu jam lamanya. Datang ke rumah sakit sendiri, pulang sendiri, nyetir sendiri. Total hampir 7 jam saya di rumah sakit dengan waktu di perjalanan.

“Are you okay Mama?” tanya Sasha menyambut kedatangan saya dengan wajah khawatir sesampainya di rumah. Ketika jam menunjukkan hampir jam setengah 10 malam. Saya tersenyum tapi sekaligus ingin menumpahkan air mata yang tak tuntas saya cicil selama di rumah sakit.

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;