Kamis, 12 April 2018

Cegah dan Lawan Penipu Online yang Bergentayangan


Pernah tertipu saat bertransaksi online sekitar 2,5 tahun yang lalu, memberi saya banyak pelajaran berharga betapa sangat pentingnya menjadi konsumen cerdas di era digital. Mengingat, transaksi online kini tidak hanya sebagai gaya hidup kekinian, namun juga kebutuhan yang memberi banyak kemudahan.


Si Koncer, icon Konsumen Cerdas


Transaksi daring atau online khususnya jual beli barang dan jasa semakin booming dan kian menjadi pilihan. Lebih mudah, lebih efisien, banyak pilihan, dan bahkan bisa mendapatkan barang/jasa berkualitas dengan harga lebih murah dan bersaing. Transaksi ini memberi banyak keuntungan dan kemudahan baik bagi penjual maupun pembeli. Pengaruhnya dalam menggerakkan sektor riil dan kerakyatan juga sangat besar. Begitu pula kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja baru terutama yang berbasis ekonomi kreatif dan pro perempuan. Tak mengherankan jika dalam beberapa tahun terakhir, perkembangannya sangat pesat.

Nilai transaksi online di Indonesia pada 2015 mencapai US$ 3,5 miliar. Angka ini naik 34,6 persen dari tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan 2011, nilai transaksi perdagangan elektronik di tanah air telah melonjak 250 persen. Bank Indonesia memperkirakan ada 24,7 juta orang yang berbelanja online. Nilai transaksi e-Commerce diprediksi mencapai Rp 144 triliun pada 2018, naik dari Rp 69,8 triliun di 2016 dan Rp 25 triliun di 2014. Dengan jumlah populasi yang sangat besar dan menempati urutan ke-6 pengguna internet terbanyak dunia, Indonesia menyimpan potensi ekonomi digital yang sangat besar di masa mendatang. Diperkirakan, jumlahnya akan mencapai lebih dari 1.000 triliun pada 2020.

Tren Ekonomi Baru, Tren Kejahatan Baru

Seperti dua sisi mata uang, transaksi online yang kini marak, selain menjadi tren baru dengan segudang keuntungan dan kemudahan yang dimiliki, ia juga memiliki sisi ‘gelap’ yang merugikan yakni munculnya sebuah tren kejahatan baru bernama penipuan online yang nilai kerugiannya cukup signifikan dan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Menurut hasil penelitian terbaru Kaspersky Lab dan B2B International, sebanyak 26 persen konsumen Indonesia kehilangan uang karena menjadi sasaran tindak penipuan daring (online). Indonesia sendiri menjadi negara dengan korban penipuan daring tertinggi menurut hasil penelitian itu, disusul Vietnam (26 persen) dan India (24 persen). Ross Hogan, Pemimpin Global Divisi Pencegahan Penipuan Kaspersky Lab dalam siaran persnya, Senin, 30 Mei 2016, mengatakan bahwa bentuk ancaman keuangan online terhadap konsumen semakin berkembang. Selain dengan gaya tradisional, para penjahat siber juga mengeksploitasi serta mencari cara baru untuk menipu konsumen.

Di luar angka statistik ini, dalam beberapa grup jual beli yang penulis ikuti atau kunjungi, cerita dari banyak orang yang mengalami penipuan online juga semakin banyak dan beragam. Kebetulan, grup jual beli tersebut mayoritas menjual kebutuhan rumah tangga dan keperluan sehari-hari, sehingga nominal kerugian umumnya berkisar ratusan ribu saja dengan dominasi korban para ibu rumah tangga. Nampaknya, segmen ini, nominal relative kecil dan dominasi korban adalah perempuan khususnya ibu rumah tangga, menjadi salah satu ceruk pendapatan baru yang sangat menggiurkan bagi para penipu online. Kelihatannya sekilas seperti ‘recehan’, namun jika kita telusuri lebih dalam, kerugian yang ditimbulkan bisa sangat mencengangkan secara nominal, dan bisa cukup traumatis dari sisi psikologis.

Tips Menjadi Konsumen Cerdas

Saat saya tertipu sekitar 2,5 tahun lalu, kejadian terjadi saat saya berniat membeli sejumlah keperluan bayi. Ibu yang baru melahirkan, rempong dengan baby kecil dan urusan domestik, ingin ikut tren kekinian punya perlengkapan bayi yang imut dan lucu, lalu tergiur iklan perlengkapan bayi yang berseliweran namun minim pengalaman soal jual beli online, sungguh calon korban yang potensial dalam pandangan para penjahat siber. Sebelum lanjut pada cerita selanjutnya, jelas terlihat di sini, bahwa salah satu hal penting yang harus kita lakukan untuk menjadi konsumen cerdas di era digital adalah banyak baca dan baca, agar pengetahuan dan pemahaman kita tentang seluk beluk transaksi online kian mumpuni. Salah satu laman yang perlu dikunjungi untuk meng-up date wawasan dan informasi mengenai transaksi online dan bagaimana menjadi konsumen cerdas di era digital adalah http://www.harkonas.id/.

Apa yang Perlu Dibaca?

Pertama, pahami alur transaksi online. Transaksi online memiliki sejumlah perbedaan dengan transaksi konvensional. Sesuai namanya, maka segala tahapan transaksi mulai pemilihan barang/jasa, proses tawar menawar jika ada (ehem, khas emak-emak banget ini), proses pembayaran, hingga barang/jasa diterima, berlangsung melalui perangkat pendukung (digital/elektronik) tanpa ada atau minim pertemuan langsung antara penjual dan pembeli. Karena tidak ada kontak langsung, maka sebagai konsumen kita mesti lebih berhati-hati dan memiliki referensi yang cukup agar tidak seperti membeli kucing dalam karung.

Kedua, gali referensi sebanyak mungkin mengenai barang/jasa yang akan kita beli. Ini penting karena penjual tidak selalu mau dan mampu menjelaskan barang/jasanya dengan baik dan detil. Apalagi kini banyak barang/jasa yang sekilas terlihat serupa namun aslinya tidak sama. Ke mana mencari referensi yang terpercaya? Kunjungi situs yang terpercaya. Forum diskusi tentang barang/jasa juga marak. Bisa juga langsung tanya pada teman atau kerabat yang pernah beli atau memakainya. Referensi barang/jasa sudah ada? Bersiap untuk lanjut pada tahapan yang krusial dan rentan penipuan, tahap pen-deal-an transaksi. Yakin mau beli? Perhatikan dulu poin yang ketiga, kenali record penjualnya, terpercayakah?

Prinsip utama transaksi secara online di Indonesia masih lebih mengedepankan aspek kepercayaan atau trust antara penjual dan pembeli. Masalahnya, penjual yang benar-benar amanah dan penipu yang menyamar menjadi penjual di dunia maya seringkali sulit dibedakan. Cara yang cukup aman salah satunya dengan berbelanja di marketplace yang banyak bertebaran di jagad online. Berbelanja di marketplace ada jaminan barang akan diterima, meski secara kualitas tidak selalu menjamin akan sama persis dengan tampilan di katalognya. Beberapa marketplace ada yang memberi fasilitas garansi atau retur jika barang tidak sesuai. Keuntungan lain jika belanja marketplace, seringkali bertabur banyak diskon. Jika memang sudah rizki, sudah dapat barang bagus, dapat diskon lumayan, bebas ongkir pula. Ini yang membuat belanja online bisa menjadi candu.

Meski punya segudang kelebihan, adakalanya hasrat dan kebutuhan belanja tidak selalu bisa dipenuhi di marketplace. Maka, adakalanya kita akan terus gentayangan (baca: berselancar) di dunia maya untuk mencari yang kita butuhkan (atau inginkan). Sebelum kebablasan, adakalanya kita merenungkan sebuah pepatah bijak yang kontekstual dalam berbelanja. “Belilah yang kau butuhkan, bukan semata yang kau inginkan”. Jika memang berdasarkan pertimbangan matang, hunting barang/jasa memang perlu, mari pencarian kita lanjutkan. Dan pencarian di rimba maya kadang membuat kita terdampar di tempat-tempat yang begitu asing dan misterius terutama dari sisi record penjualnya. Bila menghadapi situasi seperti ini, katakanlah menemukan barang/jasa di sebuah grup jual beli , blog/website atau laman Instagram seseorang yang baru kita kenal, jangan malas untuk browsing. Jejak rekam digital seseorang di masa sekarang sangat mudah dilacak. Meski tidak selalu menjamin info yang kita dapat pasti benar. Apalagi di masa sekarang, para penipu online sudah begitu piawai dalam memanipulasi jejak rekam digitalnya. Bagaimanapun, tetap perlu untuk cek dan ricek record calon penjual yang kita minati barang/jasanya.

Sejumlah grup jual beli atau pemilik akun jual beli dan titip jual beli mengantisipasi penipuan online di grup atau akunnya dengan mengadakan rekening bersama (rekber). Calon pembeli tidak menransfer uangnya langsung kepada penjual, melainkan transfer ke rekening admin atau pemilik rekening yang diitunjuk oleh admin. Barulah ketika barang sudah diterima oleh pembeli dan tidak ada complain atau masalah, uang pembelian baru ditransfer ke rekening penjual. Sedikit ribet dari segi proses belum lagi jika ditambah dengan biaya transfer dan admin, namun cara ini bisa menjadi alternatif untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Bagaimana bila tidak ada admin dan rekber, sedang kita naksir berat dengan barang/jasanya? Rekam jejak digital juga fifty fifty akurasinya. Pertama, jangan lupa baca bismillah, semoga Alloh melindungi. Kedua, kenali ciri-ciri penjual yang amanah dan tidak apalagi yang berindikasi kuat penipu. Penjual yang amanah biasanya mudah ditanyai dan dimintai keterangan dan atau foto produknya. Beberapa penjual bahkan memiliki foto sendiri, bukan iklan atau katalog. Sedang penipu kadang suka mencla mencle jika ditanya soal deskripsi barang. Foto seringkali dari iklan atau katalog, kadang justru hasil comot dari internet atau pedagang lain.

Dari segi harga, harga yang ditawarkan biasanya mengikuti harga keumuman yang berlaku. Kalaupun sedikit murah, selisihnya biasanya tidak jauh dari harga normal. Sedang penipu, harga yang ditawarkan kadang sangat menggiurkan. Ini pun kadang masih bisa ditawar. Berkebalikan dengan pedagang asli yang acapkali susah ditawar karena mereka begitu perhitungan terhadap margin keuntungan riil yang akan didapat. Bila sudah deal, pedagang asli biasanya menggunakan rekening atas namanya sendiri. Bahkan kadang ia memberi beberapa pilihan nomor rekening di beberapa bank untuk memudah calon membeli menransfer uang tanpa biaya. Beberapa nomor rekening biasanya dalam satu nama. Penipu, acapkali menggunakan nomor rekening dengan nama yang beda dengan nama akunnya.

Pada tahap selanjutnya, penjual asli biasanya akan segera memberi nomor resi pengiriman sesuai dengan ekspedisi yang disepakati. Namun penipu, kadang berkelit ke sana kemari jika ditanya soal resi. Ada juga penipu yang ogah capek lebih lanjut dalam melayani pertanyaan dan uberan pembeli, maka begitu uang sukses masuk ke rekeningnya, nomor dan akun korban biasanya akan langsung didelcon atau blokir. Ya salam.

Bila Tertipu, Jangan Diam

Slogan ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’ nampaknya juga sangat kontekstual dalam mengantisipasi terjadinya penipuan/kejahatan saat bertransaksi online. Namun kadang, betapa pun kita sudah cukup berhati-hati dan taat protokol panduan bertransaksi online secara aman, penipuan online tetap tak dapat kita hindari. Bila ini yang terjadi, jangan diam.

Belajar dari pengalaman saya tertipu, ternyata ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil untuk kemudian penting dibagikan seluas mungkin agar tindak penipuan khususnya saat bertransaksi online bisa dicegah dan diminimalisir.

Pertama, biasakan untuk menyimpan segala bukti transaksi mulai dari percakapan hingga bukti transfer. Di kemudian hari, sejumlah bukti ini sangat penting arti dan manfaatnya baik ketika kasus tersebut kita tindaklanjuti ke bank dan kepolisian, atau ketika kita laporkan ke komunitas atau grup. Tanpa bukti, kita tidak kekuatan dan posisi tawar di hadapan hukum. Tanpa bukti juga, kita bisa disebut sebagai pemfitnah atau mencemarkan nama baik orang lain. Sekali lagi, simpan selalu segala bukti transaksi dengan baik.

Kedua, jangan ragu untuk melaporkan dan menindaklanjuti secara hukum. Nah, ini yang masih sedikit dilakukan oleh para korban. Banyak korban lebih memilih diam dalam kedongkolan dan ketakikhlasan atas kasus yang menimpa dan kerugian yang ditanggungnya. Ada beberapa faktor. Pertama, nilai kerugian dirasa sedikit. Misalnya hanya beberapa puluh atau ratus ribu. Kedua, banyak masyarakat yang belum paham atau benar-benar tidak tahu bagaimana cara melaporkan kasus penipuan online yang menimpanya. Untuk yang satu ini, sosialisasi dan edukasi oleh pihak-pihak terkait nampaknya perlu semakin digalakkan. Bagaimana prosesnya, melaporkan ke mana, apa saja yang diperlukan, dan sebagainya. Masyarakat kita masih sangat awam soal ini. Ketiga, tahu tapi tidak mau. Jadi, ada korban yang sudah tahu mengenai mekanisme melaporkan kasus penipuan, namun memilih diam saja karena merasa pesimis bahwa kasusnya akan diproses dengan baik dan uangnya bisa kembali. Membayangkan ribet dan lamanya waktu untuk memproses kasus, kebanyakan korban sudah merasa malas duluan apalagi jika nilai kerugiannya memang sedikit. Coba kita renungkan sejenak, bagi kita mungkin kecil tapi bisa jadi sangat besar bagi orang lain yang mungkin akan menjadi korban selanjutnya. Lagi pula, jika pun kerugiannya relatif sedikit, tapi jika pelaku menjadikan menipu sebagai profesi yang dijalankan secara professional dan terus menerus, maka total kerugiannya akan besar juga.

Berdasarkan pengalaman saya tertipu beberapa waktu yang lalu, apa yang dikhawatirkan pada poin ketiga, beberapa ada benarnya. Pihak kepolisian kadang bersikap kurang welcome pada para korban. Kadang bukan empati yang kita dapat, justru ceramah dan kadang masih disalahkan karena kurang berhati-hati. Tidak semua aparat seperti itu. Sikap pihak bank sendiri kadang kurang menganggap kasus kita penting terlebih jika nominal kerugian kita sedikit. Tapi sekali lagi, tidak semua orang bank bersikap begitu. Seperti yang saya alami. Bank di mana saya menjadi nasabahnya justru sangat care, antusias dan sepenuh hati membantu saya memblokir rekening yang digunakan pelaku, yang di kemudian, akibat pemblokiran tersebut, uang saya kembali. Cerita selengkapnya di sini.

Kembali pada bahasan mengapa kita sebaiknya tidak diam saat mengalami kasus penipuan, ada beberapa poin penting yang perlu kita perhatikan. Pertama, diam berarti membiarkan pelaku penipuan bersorak dan terus menjalankan aksinya. Penipuan di dunia maya telah menjadi sindikat dan ‘profesi’ yang terus dijalankan oleh beberapa orang secara professional dan terus menerus. Kedua, diam bisa juga berarti kita membiarkan korban terus berjatuhan. Kita bisa jadi bukan korban pertama, korban terakhir atau korban satu-satunya. Bereaksi adalah salah satu cara nyata kita untuk berusaha menghentikan atau setidaknya membatasi gerak mereka. Ketiga, melaporkan dan menindaklanjuti kasus penipuan yang kita alami adalah salah satu cara untuk membangun kekuatan sekaligus meningkatkan posisi tawar dalam melawan sindikat penipuan yang semakin marak dan terorganisir. Semoga dengan semakin banyak yang melaporkan, pemerintah melalui pihak terkait semakin gencar dalam melakukan upaya pencegahan dan penanganan yang lebih baik terhadap kasus penipuan dan kejahatan dalam transaksi online. Keempat, dengan melaporkan dan juga menyosialisasikan melalui berbagai media diharapkan akan turut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat yang lebih baik tentang menjadi konsumen cerdas di era digital.

Selanjutnya, kita akan bahas bagaimana cara melaporkan penipuan online. Info mengenai hal ini cukup mudah ditemui di internet. Berdasarkan pengalaman pribadi, ada beberapa hal dan tahapan yang perlu diperhatikan. Pertama, siapkan berkas dan dokumen pendukung seperti bukti percakapan dan transfer. Kedua, datang dan lapor ke polres terdekat ke bagian yang mengurusi kehilangan, pencurian dan sebagainya. Bagian ini buka selama 24 jam. Di kantor polisi kita akan dimintai keterangan dan mengisi form bermaterai. Pihak kepolisian lalu akan menerbitkan surat keterangan bahwa kita telah menjadi korban penipuan. Perlu dicatat bahwa nominal minimal yang bisa dilaporkan adalah lima ratus ribu rupiah. Jika kurang dari nominal ini, kasus tidak bisa ditindaklanjuti. Jika kita bisa menemukan korban lain sehingga total kerugian bisa lebih dari lima ratus ribu, kasus bisa dilaporkan dengan menyertakan bukti-bukti. Ketiga, datang ke bank di mana rekening kita dan atau rekening pelaku dibuka. Jika kebetulan saat itu sedang tidak hari dan jam kerja, kita menghubungi call center bank yang bersangkutan untuk melaporkan dan atau mendapat arahan lebih lanjut.

Berbekal surat keterangan dari kepolisian, kita memiliki kekuatan hukum untuk meminta bank melakukan pemblokiran terhadap rekening pelaku. Jika kebetulan di rekening pelaku ada saldo yang mencukupi untuk mengganti nominal kita yang hilang, bank bisa melakukan mutasi saldo. Namun jika tidak, yang bisa dilakukan bank adalah membuat pelaku tidak bisa menggunakan rekeningnya untuk melakukan transaksi, salah satunya menerima transferan dari korban. Pemblokiran ini tidak hanya membuat gerak pelaku semakin terbatas, namun bisa juga membuat si pelaku terpaksa ke luar dari persembunyiannya dan atau sindikatnya terkuak. Pelaku tidak selalu tahu bahwa pemblokiran atas rekeningnya terjadi karena laporan korbannya. Karena itu, ketika rekeningnya terblokir, dia mendatangi bank untuk mencari tahu masalahnya. Bank tentu akan meminta kartu identitas dan sebagainya. Di sinilah pelaku bisa diproses lebih lanjut. Bank akan memberi opsi, terutama jika nominalnya relatif kecil, mengembalikan dana korban atau bank akan menyerahkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Perlu dicatat bahwa kasus penipuan dengan nominal di bawah dua juta rupiah digolongkan sebagai kasus perdata ringan. Mungkin karena aturan ini maka opsi mengembalikan dana korban seringkali lebih menjadi pilihan. Dan jika korban beruntung, maka dana yang hilang akan segera kembali ke rekeningnya seperti yang saya alami beberapa waktu lalu.

Penutup

Penipuan online hanya satu dari sekian banyak bentuk kejahatan di era digital. Ragam dan intensitasnya semakin meningkat seiring dengan semakin tingginya frekuensi dan nilai transaksi. Dan kita sebagai konsumen, mau tidak mau harus terus membenahi dan mempersiapkan diri menjadi konsumen yang cerdas. Semakin selektif dan hati-hati saat akan melakukan transaksi secara online agar tidak menjadi korban. Melalui berbagai media yang ada, kita juga bisa berbagi info dan pengalaman agar kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang bagaimana menjadi konsumen yang cerdas di era digital semakin baik pula.

Kita pun berharap keamanan infrastruktur transaksi online seperti jaminan atas kebenaran identitas penjual/pembeli, jaminan keamanan jalur pembayaran (payment gateway), jaminan keamanan dan keandalan web site electronic commerce kian menjadi perhatian utama bagi penjual maupun pembeli, terlebih pada transaksi berskala kecil sampai medium dengan nilai nominal transaksi yang tidak terlalu besar. Dari aspek hukum, kita juga berharap pemerintah akan semakin memberi perhatian dan penanganan yang lebih baik dan mudah sehingga laporan atas kasus-kasus penipuan tidak hanya menjadi tumpukan kertas dan lalu menguap begitu saja.

Akhir kata, mari menjadi konsumen cerdas di era digital. Mari kita cegah dan lawan para penipu online yang bergentayangan.....






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;