Kamis, 01 September 2016

Pengalaman Melaporkan Penipuan Online

WASPADA PENIPUAN BELANJA ONLINE
Foto dari www.xohop.com

Setahun lalu, saya kena tipu waktu belanja perlengkapan bayi di salah satu situs belanja online. Agak panjang ceritanya kenapa saya sampai tertipu. Lain waktu saya ceritakan sekalian dengan tips mengenali gelagat buruk saat belanja online (InsyaAllah). Khusus untuk tulisan saya kali ini, saya akan sharing tentang bagaimana melaporkan penipuan online, yang dalam kasus saya, Alhamdulillah uang bisa kembali.

Nominal kerugian saya sebenarnya tidak terlalu banyak, Rp 650.000 (kayaknya banyak juga ya :) ). Nominal ini untuk dua jenis barang dalam dua kali transaksi. Saya mulai merasa ada yang salah ketika tanya resi, lama dijawab. Lalu didelcon dari BBM. Masih mencoba berprasangka baik. Tapi barang tidak juga datang. Setelah menunggu sekitar seminggu, lalu dua minggu, fix saya tertipu.

Sempat trauma untuk intip-intip situs belanja lagi. Namun karena barang yang saya cari belum dapat, dan saya butuh, maka hunting lagi deh. Hehehe. Nah, pas lagi cari-cari, ada barang murah yang ditawarkan. Iseng saya hubungi nomor yang tertera, ternyata terhubung dengan salah satu  nomor si penipu. Huff, kekesalan yang sempat mereda mencuat lagi. Kali itu saya merasa tidak bisa tinggal diam.

Langsung tanya-tanya Mbah Gugel bagaimana 'menghentikan' aksi penipuan online semacam itu. Dari beberapa referensi yang saya baca, pertama, lapor polisi. Lalu, dengan bekal surat kepolisian, melapor ke bank di mana pelaku membuka rekening agar rekening yang bersangkutan diblokir. Tujuannya, agar pelaku tidak menggunakan lagi rekeningnya untuk menerima uang hasil penipuan. Dan kalau kita beruntung, pihak bank bisa melakukan mutasi dari rekening pelaku ke rekening kita sesuai jumlah nominal kerugian. Untuk yang ini bergantung apakah saldo pelaku masih masih ada.

Lalu berbekal informasi dari teman yang bekerja di kepolisian bahwa pengaduan/laporan penipuan dilayani 24 jam (saya baru tahu soal ini, mirip IGD rumah sakit ya, siaga 24 jam :) ), siang itu juga, saya langsung ke Polres untuk melaporkan si penipu. Saya tidak mau menunggu lama, karena bisa saja sudah ada calon korban yang masuk dalam perangkap si penipu. Karena hari itu hari Minggu, kantor polisi relatif sepi, jadi saya tak perlu menunggu lama. Sayang, acara pelaporan tak bisa berjalan lancar karena beberapa hal.

Pertama, bukti-bukti penipuan yang saya bawa kurang lengkap. Agak mendadak juga ya perginya, jadi tidak terlalu siap. Apalagi, ini pertama kali saya melaporkan kasus penipuan. Bukti-bukti yang diperlukan antara lain bukti percakapan. Untuk yang satu ini, karena saya didelcon oleh si penipu dan saya tidak sempat menyimpan bukti percakapan, pihak kepolisian sulit untuk memproses lebih lanjut. Selain itu, bukti transfer saya juga kurang. Nominal Rp 650.000 yang hilang itu terbagi dalam dua kali transaksi. Nah, salah satu bukti transfernya hilang sehingga hanya satu yang bisa ditunjukkan. 

Kedua, karena hanya satu bukti transfer dan itu tidak sampai Rp 500.000, maka laporan saya tidak bisa diproses. Karena berdasarkan UU (lupa UU yang mana), laporan atas penipuan bisa ditindaklanjuti jika nilai kerugian minimal lima ratus ribu. Kurang dari itu, tidak bisa. Lalu, nominal kerugian yang bisa dipidanakan minimal Rp 2 juta, itu pun masuk kategori pidana ringan. Wow, baru tahu saya aturan ini.

“Pintar sekali si penipu” bisik saya geram di hati. Saya perhatikan, si penipu menjual barang yang secara umum memang di bawah Rp 500 ribu. Dengan begitu, sulit bagi korban untuk melaporkan ke pihak kepolisian karena terganjal aturan tadi. Kelihatannya seperti penipu kelas teri, menyisir uang ratusan ribu. Tapi jika dalam sebulan ada sepuluh korban, lalu aksinya sudah berjalan bertahun-tahun, nominalnya banyak juga. Saya semakin mantap untuk menindaklanjuti laporan.

Akhirnya, setelah sempat berdebat cukup lama dengan polisi di bagian kriminal, saya pulang. Keesokan harinya, saya datang lagi dengan membawa bukti transfer yang lengkap. Dan karena hari itu hari senin, kantor polisi sangat ramai. Sungguh tidak nyaman karena saya harus membawa Bilal yang masih berumur 4 bulan. Demi....

Selain antri cukup lama, ada rasa tak enak juga selama proses pelaporan berlangsung.

“Berapa nilai kerugian Ibu?” tanya polisi yang bertugas setelah saya menceritakan maksud kedatangan saya.

“Enam ratus lima puluh Pak”

“Juta?”

“Hmmm, ribu Pak” jawaban saya seolah membuat si bapak polisi menjadi kurang antusias lagi. Di sini tak enaknya :(

Sembari mengurus berkas laporan, si bapak ‘menasehati’ saya panjang lebar. Mulai dari mahalnya perangkat teknis pelacakan cyber crime yang mahal, maraknya penipuan online yang sebagian besar tidak ada penyelesaian alias si pelaku akhirnya tidak terungkap apalagi tertangkap. Si bapak juga menasihati saya agar lebih berhati-hati saat belanja online, dan sebagainya, dan sebagainya.

Well, akhirnya selesai juga, tinggal tanda tangan. Dan huff, yang ditandatangani lumayan banyak, berlembar-lembar. Lupa saya berapa jumlah tepatnya. Oya, tidak ada biaya ya, hanya keluar beberapa ribu rupiah untuk fotocopy saja.

Setelah berada sekitar 2-3 jam di kantor polisi, saya dan Bilal melanjutkan 'laporan' ke salah satu bank plat merah, bank tempat rekening pelaku. Di bank yang gedungnya megah itu, di mana saya harus naik tangga sembari menggendong Bilal, saya sempat ‘dilempar’ ke sana kemari. Entahlah, mungkin karena nominal yang saya perkarakan hanya ratusan ribu. Padahal saya sudah ingin bilang, "Please, permudah. Saya sudah lelah....", tapi hanya di hati saja.

Setelah sempat menunggu beberapa puluh menit, dengan ekspresi agak menyesal, CS yang menerima saya berkata bahwa mereka tidak bisa memproses laporan saya karena terhalang aturan untuk menjaga kerahasiaan data nasabah. Pengajuan blokir hanya bisa dilakukan oleh instansi, bukan per orangan. Sebagai solusi, mereka menyuruh saya untuk melapor ke bank di mana rekening saya dibuka. Dan biarkan bank saya yang mengajukan proses lebih lanjut.

Sudah hampir tengah hari, saya semakin lelah. Ya, lelah fisik karena kemana-mana harus menggendong Bilal yang lumayan chubby. Belum lagi lelah perasaan, hihihi. Bilal pun semakin rewel. Tapi, mengingat si penipu akan terus beraksi dan bisa jatuh lebih banyak korban, saya menyemangati diri untuk melanjutkan laporan ke bank di mana rekening saya dibuka. Salah satu bank syariah di kota Jember.

Alhamdulillah, Mbak CS menyambut saya ramah, memproses laporan saya tanpa memandang sebelah mata atas nominal kerugian saya. Si Mbak membantu hampir semua proses administrasi yang cukup rumit, kecuali pada bagian pernyataan yang harus saya tulis tangan sendiri. Melihat Bilal yang rewel sehingga saya agak kesulitan menulis, si Mbak CS menawarkan diri untuk menggendong Bilal. Sebuah tawaran yang menyejukkan hati meski akhirnya Bilal tetap di gendongan saya.

Sembari saya menulis pernyataan yang cukup panjang (berisi kronologi penipuan), Mbak CS menelpon ke sana kemari untuk mendapatkan data asli di penipu. Penipu yang mengaku beralamat di Tangerang, ternyata rekeningnya dibuka di salah satu kota di Jawa Barat. Mbak CS pun segera menghubungi kantor cabang tempat si penipu membuka rekeningnya. Lalu diketahui bahwa rekening sudah nyaris nol saldonya. Sehingga tidak bisa dilakukan mutasi ke rekening saya.

“Maaf ya Bu, rekeningnya sudah kosong” kata Mbak CS dengan ekspresi agak sedih.

“Tidak apa-apa Mbak, setidaknya mulai sekarang dia tidak bisa menipu lagi karena rekeningnya sudah diblokir” jawab saya. Dengan nada lelah, kesal, dan entah apa lagi.

Setelah menandatangani 3 berkas bermaterai, selesai juga. Lelaaaaah, dan tidak tahu akan bagaimana akhirnya, bagaimana hasilnya. Setidaknya saya sudah berusaha. Perlahan saya mencoba kembali melupakan soal penipuan itu hingga nyaris benar-benar lupa. Sampai kira-kira sebulan kemudian sejak saya melakukan pengaduan, saya mendapati saldo saya bertambah dengan jumlah berkisar sekitar Rp 650 ribu. Setelah tanya sana-sini yang mungkin transfer ke rekening saya dan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya memutuskan pergi ke bank untuk mencari informasi. Kembali ditemui oleh Mbak CS yang sebelumnya membantu saya.

Di layar monitor si Mbak tertulis kalau memang ada transfer senilai Rp 650 ribu atas nama seorang bapak-bapak (rekening si pelaku atas nama perempuan), dengan keterangan bahwa nominal itu adalah pengembalian belanja online. Alhamdulillah.

“Bagaimana bisa dikembalikan ya Mbak?” tanya saya pada Mbak CS.

“Jadi begini Bu, setelah Ibu melaporkan aksi si pelaku, maka rekening yang bersangkutan diblokir. Dia tidak bisa melakukan transaksi apapun. Jika ingin rekeningnya aktif kembali, maka si pemilik rekening harus datang ke bank. Nah, saat dia datang maka petugas bank meminta ybs untuk mengembalikan sejumlah uang yang dilaporkan sebagai penipuan kepada pemiliknya. Jadi ada dua opsi yang ditawarkan. Mengembalikan uang atau jika tidak mau, maka akan diproses melalui jalur hukum. Rupanya si pelaku memilih opsi pertama sehingga uang ibu kembali” begitu ceritanya.
Jadi, jangan ragu untuk melaporkan penipuan yang terjadi saat belanja online. Tidak semata untuk mengupayakan uang kita kembali, namun juga agar tidak jatuh korban lagi. Ribet memang. Tapi kejahatan harus kita hentikan.

Agar tidak mengalami proses pelaporan yang agak berbelit seperti yang saya alami di atas, ada sedikit tips antisipasi. Pertama, simpan bukti percakapan dan bukti transfer dengan baik. Bukti percakapan bisa berupa screenshot terutama yang berisi poin transaksi. Barang apa yang dibeli, berapa harga, juga percakapan yang menunjukkan kita sudah melakukan pembayaran dan sebagainya. Agar pengaduan kita bisa diproses, perlu dicatat bahwa laporan baru bisa diproses jika nominal kerugian mencapai minimal Rp 500 ribu. Bagaimana jika tidak sampai dan si pelaku ternyata terus menjalankan aksinya? Kata Pak Polisi, laporan bisa dilakukan secara kolektif dengan mengumpulkan sejumlah bukti dari orang-orang yang menjadi korban hingga mencapai nominal minimal.

Saya beruntung, uang saya kembali. Beberapa yang lain juga, kata Mbak CS. Sayangnya, banyak juga yang tetap harus kehilangan uangnya. Karena si penipu nampaknya memiliki banyak cara untuk terus menjalankan aksinya. Setidaknya dengan melaporkan ke kepolisian, lalu ke bank hingga rekening yang bersangkutan diblokir, satu rekening sudah tidak bisa lagi digunakan untuk menampung hasil curian.

Sedikit saran, jangan ragu untuk melaporkan penipuan online yang terjadi. Meski nilai kerugiannya terbilang kecil. Karena belum tentu, hanya kita yang menjadi korban. Laporkan, blokir rekeningnya. Agar tidak jatuh korban lagi.

Finally, lebih berhati-hati saat belanja online adalah langkah antisipasi terbaik…. :)

Semoga bermanfaat.

48 komentar:

  1. Sy baru tau, minimal 500rb toh. Makasih infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga tahunya pas sudah di kantor polisi Mbak. Ketentuan yang membuat banyak korban penipuan tidak bisa memproses kasusnya lebih lanjut, kecuali bersama korban lain sehingga nominal kerugian bisa memenuhi syarat.

      Hapus
    2. Mba mau nanya dong prosesnya brp lama ya? Aku tadi laporan ke kantor polisi tapi di suruh balik ke sana senin. Bisa ga ya ke bank langsung?

      Hapus
  2. Wah ada aturannya juga ya, kirain dibiarin gt aja laporannya.. Harusnya banyak orang yg kayak mbak, yg mau repot demi berkurangnya penipu online.. Kebanyakan yg ketipu lebih milih ngebiarin aja, dan penipu makin berkeliaran di banyak situs..
    Semoga kita lebih waspada dan hati2 ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada aturannya ternyata Mak, dan saya taunya pas sudah di kantor polisi :)

      Betul Mak, harus waspada dan hati-hati, karena penipu sekarang semakin kreatif dan main halus untuk menjebak korbannya...

      Hapus
  3. Mb klo lgsg lapor ke bank tanpa ke kantor polisi bisa gak? Di cerita mba polisinya berperan apa ya? Surat pengantar doang kah?

    Yg kedua lapor ke polisi bayar gak mba?

    Yg ketiga bukti percakapan ngrekamny gimana? Klo misal cm pake percakapan tertulis bs kah?

    Suwun jawabannya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemblokiran rekening tidak bisa dilakukan tanpa surat kepolisian Mbak. Iya, hanya buat surat pengantar, tapi pengantar yang memiliki kekuatan hukum :)

      Kebetulan untuk kasus saya kan cepet happy ending ya (alhamdulillah), kalo misal berlarut-larut sehingga proses hukum jalan terus, maka surat kepolisian yang kita buat di awal adalah 'modal' utama kita Mbak. Semoga gak keliru ya penjelasannya, bukan orang hukum soalnya :)

      Oya, di kantor polisi free Mbak, cuma fotocopy beberapa ribu. Di banknya beli materai 3 biji kalo gak salah

      Hapus
    2. Soal bukti percakapannya ketinggalan :)

      Pakai rekaman bisa juga Mbak, screenshot saja juga bisa. Itu kenapa saya sekarang sedikit-sedikit nge-screenshot percakapan transaksi, buat jaga-jaga :)

      Hapus
  4. Luar biasa perjuangan Mbak Ririn. Salut deh. Terkadang, malasnya orang mengusut adalah karena dia pakai rekening atas nama orang lain & belum tentu kembali. Xixi. Rata2 karena rekening kosong.
    Plus, malas menghadapi orang yang suka memandang sebelah mata gitu ya, Mbak. 650rb besar lho menurutku. Dan, UU-nya itu lho? Uang di bawah 500rb ga ada artinya? Hehe
    Salut sama niat baik Mbak Ririn.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, kelemahan kita adalah malas melaporkannya. Ribet sih soalnya, agak makan hati juga ya, hehe....

      Tapi kalau ingat akan jatuh korban lagi, hiks, kasihan. Harus ada yang berinisiatif menghentikan atau mempersempit ruang gerak mereka. Karena kata Pak Polisi, cyber crime di Indonesia perangkat teknisnya mahal sekali. Alhasil banyak kasus tidak terlacak. Dengan pelaporan dan pemblokiran rekening, pelaku paling tidak harus buat rekening baru atau pake rekeninng lain untuk menjalankan aksinya....

      Hapus
  5. wow tenkyu sharingnya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Ceria, semoga bermanfaat.... :)

      Hapus
  6. Salut... !!!
    بارك الله فيك

    BalasHapus
  7. di lapak emak2 yang jualan online banyak banget kasus penipuan, emang mesti hati2 belanja online. aku sekarang mau belanja yang sudah rekmended aja atau pakai marketplace

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, penipu banyak bergentayangan di grup belanja, makanya merasa punya utang janji untuk cerita pengalaman ini....

      Iya, sekarang saya juga lebih selektif dan lebih hati-hati kalau belanja :)

      Hapus
  8. bener banget mba kebanyakan korban malas untuk ngurusinnya akhirnya si pelaku makin keenakan, salut sama perjuangan mba ririn, semoga ada efek jera buat si pelaku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Akan lebih bagus lagi jika para korban mau melaporkan Mbak, jadi semacam perlawanan bersama, hehe. Soalnya penipu online itu ternyata sangat banyak jumlahnya, entahlah apa juga terorganisir. Yang pasti, kerugian masyarakat cukup signifikan

      Hapus
  9. INSPIRATIF : mohon ijin utk share ke komunitas fb ....

    BalasHapus
  10. Makasih sharingnya, mba. Biar kapok tuh penipu. Tega2nya menipu konsumen ya mba. Iparku pernah ketipu juga mba

    BalasHapus
  11. Mbak Ririn keren... Kalau saya pasti sudah malas ribetnya. Barokallah, Mbak... Sudah memberi manfaat untuk orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, aslinya saya juga sudah mau menyerah Mbak, sejak pertama datang ke kantor polisi :) Sempat debat lama dengan polisi di bagian kriminal, bahas soal aturan yang min 500 ribu plus bukti2 yang dirasa kurang. Pas di bank plat merah juga sudah mau 'menyerah'. Alhamdulillah pas di bank syariah mendapat respon yang bagus dan simpatik... :)

      Hapus
  12. wah kalau seperti ini sebenernya keenakan si penipu, alias uang hanya dikembalikan saja, pihak bank masak cuman memberikan opsi yang sangat biasa saja, kalau kayak gini berarti para penipu online itu sebenernya sudah melihat celah ini, jadi mereka tidak ada rugi sama sekali, hanya transfer balik saja. kalau begini caranya enakan jadi penipu dong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang banyak celah yang bisa dimanfaatkan penipu, terutama soal jumlah minimal yang bisa dilaporkan. Setidaknya, pelaporan akan membuat ruang gerak mereka sedikit banyak terbatasi. Syukur-syukur setelah itu mereka insaf :)

      Hapus
  13. Sekarang ini memang untuk kasus penipuan semacam ini sudah 'diperhatikan' oleh pihak terkait tidak seperti tahun 2013 yang masih bingung harus mengadu kemana, alih2 melapor ke kantor polisi yang ada malah terkuras uang didompet untuk ngurus kasus ini
    Untuk kasus yang sudah lama bisa dilaporkan ga nih hihihihi
    Berharap uang balik sih ga mungkin tapi pengen ngasih pelajaran buat aksi penipuannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal waktu ini saya lupa tanya, apakah ada batas kadaluarsa kasus? Tak ada salahnya dicoba Mas :)

      Hapus
  14. Malam Bu, saya baru saja ditipu uang sebesar 555rb, nah saya berniat lapor ke polisi, nah tp saya ini masih umur 16 tahun kira kira ditanggepin gak ya nanti, oh ya saya transfer dri rekening bca ke rekening penipu yg rekeningnya bni, nah nanti saya harus ke bank yg saya buka (yaitu bca) atau ke rekening penipunya (bni) terima kasihh

    BalasHapus
  15. https://agenkayurimba.blogspot.co.id/2016/02/kayu-kamper-medan.html?showComment=1485914663446#c872596459455193790
    A/n : SUN PHIN
    A/c : 0030501500013862
    Bank : BTN

    menipu dengan modus menjual kayu.

    BalasHapus
  16. Jangan berharap banyak sih sama polisi dan Bank. Sangat tidak membantu.. Pengalaman Juni 2016 yg lalu ditipu pemilik rek dari Bank Sumsel Babel. Saldo CIMB niaga saya ludes. Yg anehnya lagi, pihak banksumsel bilang nasabah yg saya laporkan tdk terdaftar. Walaupun sdh di tutup gak mungkin tdk ada datanya,Bagi nasabah CIMB NIAGA harus berhati2, banyak penipuan dr bank tsb. Pihak bank memang sering memperingatkan baik via sms maupun email. Saya agak curiga pelakunya dr pihak bank. Secara logika, agak tidak mungkin org lain bisa tau kita pny rekening di bank tsb dan tau id cimb clicks + no telp kita. Agak mustahil kalau pelakunya bukan dari pihak bank.

    BalasHapus
  17. Sekedar saya infokan, sangat penting ...!!
    Untuk toko online yang punya label 'Polisi Online (verified online)', tidak menjamin olshop yang berlabel tersebut bisa dipercaya.
    Misalnya jasa web 'www.solodesain.com', terdapat label 'polisi online', tapi pengalaman saya, mereka ternyata tidak memberikan jasa pelayanan SEO terhadap web saya dalam kurun yg mereka janjikan.
    Ketika dihubungi dg berbagai cara utk menanyakan tanggung jawab mereka, tidak ada jawaban/ respon sama sekali dari mereka.
    Jadi hati-hati ya...

    BalasHapus
  18. saya semalam tertipu orang yg pura2 mau beli barang saya...
    pakai mandiri ecash saya digiring ke ATM... dan mungkin karena "terhipnotis" akhirnya saya ketik kode2 yg dia sebutkan..
    akhirnya duid saya ilang 3jt...
    pagi ini saya ke kantor polisi dan ke bank...
    saya mau urus sampe totalitas...
    kalo perlu sampe BI dan MK...siapapun itu saya ga terima klo kejahatan ini didiamkan saja...
    mati2an saya akan berjuang keras...
    uang ga kembali ga papa..yg penting sudah lega bisa memperjuangkan hak keadilan saya...
    doakan lancar ya... hehe

    BalasHapus

  19. no rekening penipu
    rek BNI habibullah 0469506525
    rek BNI ibu ani haryati 0425106812

    nomor hp 081293946433
    nomor hp 082299218089
    modus penjualan online dan memberikan contoh resi” pengiriman berhasil agar kita percaya, dan kita setelah mentrasnfer diberikan nomor resi palsu / salah
    http://olx.co.id/iklan/bluetooth-car-charger-dengan-handsfree-fm-transmitter-m318-IDlzMvn.html#9c022a28d8
    beriklan di OLX dengan ID dreamhousedenpasar

    BalasHapus
  20. Saya kena tipu 12,5jt mbak. Syarat syarat lapor polisi gimana

    BalasHapus
  21. Selain Pembeli, Penjual Online Shop Juga Harus Hati-Hati! Modus Penipuan Mengatasnamakan Rekening Online Shop Lain

    Saya Ghina Amania, owner online shopnya @missgstore. Jujur aja, kalo masalah ditipu saya udah pernah, hampir ditipu tapi gagal dan gajadi ketipu saya juga udah pernah. Tapi jadi KORBAN PIHAK KETIGA dalam kasus penipuan? Saya nggak pernah ngebayangin. Sama sekali. Yang saya tau penipuan selama ini cuma ada dalam 2 pihak aja.

    Jadi kemarin malam sekitar jam setengah 8 ada yang WA saya. Nanya kalo dia pernah transfer uang 1 juta lebih ke rekening BCA atas nama saya, Ghina Amania, tapi belum ada respon sama sekali. Dia bilang transferan itu buat nyicil handphone. Loh, bingung kan saya? Si Miss G mana ada jualan handphone kredit? Awalnya saya kira dia mau nipu, tapi ternyata......

    Jadi beberapa hari kemarin ada yang beli pulsa di Miss G lewat LINE dengan nama Phill. Awalnya 250 ribu, terus jadi 500 ribu dan terakhir ini 1,5 juta. Saya gak pernah ada rasa curiga sama sekali karena uangnya selalu masuk di rekening saya. Saya juga ngira dia punya perusahaan marketing makanya butuh pulsa banyak.

    Ternyata... Dia pakai rekening saya buat nipu customer nya juga. Jadi si penipu ini punya olshop kredit hp, nah dia pakai rekening saya deh tuh buat nyuruh si customer nya transfer. Abis si customer transfer, si penipu ini pura2 chat ke saya mau beli pulsa dalam jumlah banyak dan lapor kalo udah transfer. Seakan2 yg transfer itu dia...

    Tapi ternyata... Yang transfer ke rekening saya itu customer olshop kredit hp yang dia tipu. Dan uang transferannya buat beli pulsa di Miss G. Di situ saya gak ada rasa curiga sama sekali. Karena ya... Namanya juga orang jualan. Asal uangnya udah kita terima toh, tinggal kewajiban kita ngasih apa yang dibeli sama customer, kan?

    Nah, dari mana saya tahu kalau transferan itu ternyata bukan dari si penipu? Balik lagi di cerita awal, si customernya ngechat saya. Dia sampai nge-google nama saya dan menemukan nomor saya di blog saya. Alhamdulillah nya dia orang baik. Gak ngechat saya pakai marah2 dan gak keburu judge saya macem2. Dia ngebiarin saya jelasin dulu kalau rekening saya dijadikan alat ketiga untuk menipu. Yang mau saya tekankan di sini, siapapun kalian, yang punya rekening BCA atas nama Ghina Amania cuma bisa keluar dari obrolan chat di nomor WA/kontak LINE yang ada di @missgstore aja. Selain itu, please, itu BUKAN SAYA. Saya cuma ada 2 akun untuk jualan, pertama akun produk @missgstore dan akun testimonial @missgtestimoni (yang sekarang saya lock karena saya gak mau hasil testimoni real dari customer saya nanti dipakai yang nggak2).

    Yang saya mau tanyakan, kalau jadi pihak ketiga seperti ini, bagaimana cata mengatasinya? Bagaimana cara hati2nya? Karena uang yang ditransfer itu masuk, ada, real, keliatan di histori dan toh kita sebagai penjual tinggal melayani kan? Tapi gimana cara kita tau itu beneran dari si penipu atau dari customer yang ditipu? Mungkin kalo temen2 ada saran/masukan boleh banget.

    Btw nama akun olshopnya @ cashkredithp , boleh banget di spam, atau kalau ada yang jago hack juga Alhamdulillah malah. Dan ini nomor yang dia minta isi pulsa 087821914622. Kalau yang di sini ada kenalan polisi boleh banget dilacak nomornya karena I really have no idea udah berapa banyak korban yang dia tipu.

    Sekali lagi, kalau kamu beli sesuatu dan minta kamu transfer BCA atas nama Ghina Amania, itu cuma ada di kontak WA/LINE @missgstore. Selebihnya, kamu harus hati2. Semoga kejadian saya ini bisa jadi pelajaran buat kita semua. Dan saya berharap banget ada yang bisa laporin olshop @ cashkredithp dan nomor 087821914622, biar orangnya bisa ketangkep. Aamiin Aamiin ya Rabbalalamin.

    BalasHapus
  22. Ribetnya laporan penipuan ini yang membuat oknum penjahat semakin senang berkeliaran ......

    Gemes saya nelpon call centre bank ...
    Banyak bertele - tele..

    BalasHapus
  23. Saya baca ceritanya dari awal hingga ahir cukup antusias, terima kasih sis atas sharing pengalamannya...

    BalasHapus
  24. Saya barusan ketipu 1jt dari bank mandiri ke bank bni atas nama dayanto, no reknya 0522876177,saya mau lapor tapi masih 16th, trs takut respon polisinya juga ogah2an,gmn ya sis bingung.....

    BalasHapus
  25. Sya jga abis ktipu kmrn dr bnk BNI K BCA an/ KENNY ADITYA PRATAMA norek 1010969057
    nama IG : GERRYVISCO_
    nama bbm : GERRY CANDY (D0246B07) tp nominal dibawah 500rb jdi gk bisa melaporkan k kntor polisi ya mbk😢

    BalasHapus
  26. Saya juga habis kena tipu 2,470,000
    pembayaran nya transfer bank bri 141101004389505 an wita rohmawati
    alamat emailnya (ginseptia@gmail.com)
    Nama penipu YULIANA ULFA/GINA SEPTIANA *di instagram dan line namanya YULIANAULFA7, pada saat ngirim email namanya GINA SEPTIANA, dan no.rek a/n WITA ROHMAWATI *pokoknya hati2 dengan nama tersebut, saya juga tidak tau ini pelakunya 1/2 org tapi yg jelas nama2 tersebut berkaitan*
    Butuh kesabaran dan keyakinan kalau mau ngelapor. Bukti yang saya punya cukup banyak mulai dari alamat email yg penipu pakai *tapi sudah tdk aktif, bukti transferan, bukti percakapan saya dengan penipu, foto KTP penipu *kalau polisi blng sih foto wajahnya editan,tapi kalau no.ktp nya benar (sy harap no ktp ini bisa dilacak)
    Jadi kalau beli di online shop sebelum barang datang jangan pernah menghapus percakapan nya mbak *jaga2 kalau penipuan.
    Saya baru ngelaporin penipuan sekali di kantor polisi terdekat, seperti yg mbak ririn bilang "dilempar" alhasil polisi menyarankan saya untuk melapor ke polda yg peralatannya cangih dan kalau mau prosesnya cepat.
    mohon doanya agar si penipu ini tobat,sadar bisa kelacak,bisa tertangkap, sukur alhamdulillah kalau uang saya balik karena bagaimanapun juga itu hak saya.
    menipu itu tidak akan berkah dunia akhirat apalagi kalau korban tidak iklas. Setiap perbuatan harus dipikirkan karena akan ada balasannya.

    BalasHapus
  27. Mbak sangat membantu sekali ,,

    BalasHapus
  28. Hbs kena tipu juga
    Tp cm nominal 110.000
    Beli online kena tipu baru ini
    Karena tledor dan di imingi harga murah
    Emng ga seberapa sih nominalnya
    Tp klu lapor ada syarat dan aturanya jd mls mau lapor
    Niat lapor Bank percuma stelah melihat keterangan di atas

    Pasti penipu itu beraksi lg
    Doakan saja penipu mendapat hikmah dan hidayah

    BalasHapus
  29. Asallamualaikum pak saya mau laporkan orang ini biar jangan banyak korban lainnya
    Cara ya gmna ya

    BalasHapus
  30. Saya juga sedang sial kena tipu..
    Saya Vina.. 2 hari yang lalu itu (rabu, 17 mei 2017) saya membeli sebuah handphone sebesar 1,2 juta dari web
    http://warungkopi.okezone.com/thread/623899/jual-oppo-f3-plus-blackmarket-murah-dan-terpercaya
    Lalu saya transfer ke rekening Bank cimb niaga
    A/n: Andi yusuf
    No rekening: 761132852700.
    No hp : 082304320000

    Tapi setelah di transfer pemilik barang tidak lagi membalas chat saya.. dan baru saja (kamis 18 mei 2017) saya kembali menelpon pemilik namun dengan nomor hp saya yg lain. Pemilik mengangkat telp dan berkata bahwa barang telah dikirim dah no resi belum sempat dia kirimkan.. dia berjanji akan menhirimnya secepatnya namun hingga kini tidak ada kelanjutannya.. besok saya akan lapor ke polisi terdekat

    BalasHapus
  31. Saya juga baru kena tipu...via olx..hati2 skrng jual beli online di olx sulit dilacak mana penjual yg menipu...seakan2 betul pajang barang ketika sudah transfer trus diminta resi...resi yg dikirim bohong...ktika dikonfirmasi hp dan sms ga dijawab

    BalasHapus

 
;