Rabu, 17 Agustus 2016

Universitas Terbuka, Secercah Asa untuk Mereka yang Ingin Menggapai Cita Lebih Tinggi

UPBJJ-UT Jember, sumber foto: di sini

Beberapa kali saya pernah terlibat perbincangan serius dengan sejumlah teman dan kerabat yang merasa gamang untuk melanjutkan studi, khususnya ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Terlepas apa alasan dan kondisi mereka, bisa mengenyam pendidikan tinggi adalah impian banyak orang. Sayang, tak semua beruntung bisa meraihnya. Entah karena faktor biaya, waktu, masalah sosial budaya, bahkan jender. Adanya lembaga dan akses pendidikan yang murah dan mudah tak ubahnya seperti oase di tengah kegersangan asa dan impian banyak orang saat ini. Pada mereka yang gamang, atau bahkan apatis dan tidak memiliki minat sama sekali untuk melanjutkan pendidikan, coba saya motivasi tentang arti pendidikan tinggi khususnya perguruan tinggi bagi kehidupan seseorang dalam konteks yang luas.


“Memiliki pendidikan tinggi memang tidak menjamin kita pasti memiliki pekerjaan yang mapan di kemudian hari. Tapi dengan pendidikan yang tinggi, kita memiliki peluang besar untuk meraih asa lebih tinggi, memiliki lebih banyak pilihan, memiliki cakrawala berpikir yang lebih luas, pikiran kita juga akan lebih terbuka pada banyak hal….” Demikian beberapa nasihat saya untuk mereka.

“Tidak ada biayanya Mbak” ini alasan yang paling sering saya dengar. Ya, biaya adalah salah satu kendala utama bagi banyak orang. Biaya pendidikan saat ini tak bisa dibilang murah, di tengah meroketnya harga kebutuhan dan biaya hidup lain yang lebih mendesak. Bisa dibilanng, pendidikan tinggi adalah salah satu ‘kemewahan’ di negeri ini.

“Ada koq universitas yang biayanya relatif murah” saya mencoba menyemangati, ketika yang menjadi kendala utama adalah soal biaya. Lalu, saya mengenalkan Universitas Terbuka atau UT kepada yang bersangkutan. Benarkah biaya kuliah di UT lebih murah? Kita bahas lebih detil nanti ya…. :)

Di lain waktu, sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, biaya bukanlah satu-satunya kendala.

“Ingin membantu orang tua dulu, mereka sudah mulai tua. Lebih baik saya bekerja, supaya bisa meringankan beban mereka. Supaya adik-adik nanti bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi dari saya” ini alasan lain yang juga sering dikemukakan, yang kemudian menjadi salah satu alasan utama sebagian mereka untuk memutuskan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Ah, ada pilihan yang lebih menarik sepertinya, bagi sebagian masyarakat kita merasa pendidikan seolah bintang di langit yang sangat tinggi. Kalau ini yang menjadi alasannya, saya sering speechless.

Kuliah di Indonesia umumnya membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun. Ini masuk kategori cepat. Kalau molor, bisa 5 hingga 6 tahun. Semakin lama masa studi, bisa berarti biaya yang dikeluarkan semakin banyak namun tidak selalu memberi jaminan kerja setelahnya. Sedangkan jika jadi TKI, beberapa bulan bekerja saja, bisa mengirimkan sejumlah uang yang jumlahnya bisa cukup signifikan ke kampung halaman.

Selain soal biaya dan desakan ekonomi keluarga, soal budaya dan jender juga acapkali muncul dalam diskusi saya dengan beberapa orang.

“Saya ingin sekolah lagi Mbak, tapi bapak ibu sudah menjodohkan saya” sekarang memang bukan jamannya lagi Siti Nurbaya, tapi jodoh menjodohkan tak lama setelah selesai masa studi SMA bahkan SMP, masih ada di masyarakat kita.

“Lagi pula, kata ayah ibu, kalau nantinya cuma jadi ibu rumah tangga,lulus SMP juga cukup, tidak usah repot-repot dan mengeluarkan banyak biaya sekolah sampai sarjana…..” ah, ingin menangis saya mendengar alasan yang satu ini…..

“Saya ingin mengajar Mbak. Saya merasa ilmu saya belum cukup, tapi sulit membagi waktu. Apalagi rumah saya di desa. Belum lagi soal biaya. Gaji saya sabagai guru honorer di desa sangat kecil” kalau ini ‘curhat’-nya seorang kerabat yang menjadi guru honorer di desa, dengan berbekal ijasah SMA.

Well, beberapa kisah di atas hanyalah sebagian realitas masalah pendidikan di masyarakat kita. Ada masalah yang sangat kompleks yang menjadi kendalanya. Seperti masalah tingginya biaya pendidikan, desakan ekonomi keluarga, sulit membagi waktu, jarak, sosial budaya bahkan masalah jender. Harus ada solusi, tak semata mendengar keluh kesah mereka dan memberi motivasi agar mereka tidak mudah menyerah. Dan salah satu solusi yang saya kemukakan, adalah melanjutkan studi ke Universitas Terbuka (UT).

Saya terbilang cukup gencar memromosikan UT ke sejumlah kerabat dan teman. Saya tidak bekerja atau menjadi bagian dari UT, bukan juga alumni UT. Tapi saya melihat UT memiliki sejumlah kelebihan yang bisa menjadi solusi bagi sejumlah problematika pendidikan di atas. UT terbilang universitas yang murah bagi yang kesulitan biaya. Metode studi di UT juga sangat nyaman bagi yang kesulitan membagi waktu atau tempat tinggalnya jauh karena UT menerapkan metode pendidikan jarak jauh dengan waktu yang fleksibel. UT tidak membatasi usia dan juga jender calon mahasiswanya sehingga ibu rumah tangga bahkan lansia pun welcome untuk melanjutkan studi di sana. Hal lain yang menurut saya juga luar biasa sebagai solusi bagi masyarakat kita adalah UT bisa juga diakses oleh TKI kita yang tersebar di banyak Negara. Sehingga saat berada di negeri orang, selain bekerja untuk menabung bagi masa depan yang lebih cerah secara financial juga menopang ekonomi keluarga di kampung halaman, memperoleh pengalaman berharga selama di negeri orang, mereka juga bisa mengenyam pendidikan formal di perguruan tinggi. Sejumlah syarat dan ketentuan tentu berlaku dan akan kita bahas lebih detil di bagian selanjutnya.


Mengenal Universitas Terbuka Lebih Dekat

Saya pertama kali mengenal Universitas Terbuka (UT) tahun 2007. Saat itu, UT di kota saya, Jember, masih menempati salah satu gedung milik Universitas Jember kalau tidak salah. Gedung yang terbilang cukup tua dan posisi yang agak masuk dari jalan raya utama, membuat UT, dalam pandangan saya terlihat agak sedikit kusam dibanding universitas lain pada umumnya yang terkesan kinclong dan mentereng. Tata ruang di dalamnya agak kurang rapi. Mungkin karena ruangan yang kurang memadai untuk menampung aktivitas UT sendiri. Perbedaan lain yang cukup kontras dari pemandangan khas universitas yang sering saya lihat sebelumnya, mahasiswa yang berseliweran yang sekilas saya lihat saat itu, umumnya sudah cukup berumur. Sedang yang biasa saya lihat, biasanya masih muda-muda. Sempat terbersit di benak saat itu, UT identik dengan mahasiswa yang sudah keriput dan ubanan. Upsss…..:p

Beberapa tahun kemudian, UT Jember akhirnya menempati gedung sendiri. Terbilang megah, dengan posisi yang cukup strategis. Tak perlu masuk ke dalamnya, cukup lihat sekilas saat berkendara di depannya, langsung terlihat UT yang modis dan lebih representatif sebagai sebuah universitas.


Gedung baru UBPJJ Jember, sumber foto: jember.ut.ac.id

Saya pribadi langsung terpukau saat masuk. Tak hanya kondisi yang jauh lebih rapi, teratur dan nyaman serta fasilitas pendukung yang lebih lengkap, penampakan mahasiswanya juga mengalami perubahan drastis. Mahasiswa yang berseliweran untuk berbagai keperluan, sama dengan universitas lain pada umumnya. Terlihat seperti benar-benar baru lulus SMA dan segera lanjut studi di UT. Alhamdulillah, ini sebuah indikasi bahwa UT kian menjadi pilihan. Mahasiswa yang cukup berusia juga beberapa kali saya temui. Alhamdulillah lagi, karena itu berarti UT masih menjadi solusi. Bisa berarti pula semangat untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi juga semakin terpatri di masyarakat kita meski usia tidak muda lagi. Meski sekian kendala yang harus dihadapi bisa jadi juga semakin kompleks.

Selanjutnya, mari kita mengenal UT lebih dekat. Universitas Terbuka atau yang populer dengan sebutan UT adalah Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 41 Tahun 1984. UT didirikan dengan tujuan yang sangat kontekstual dengan persoalan bangsa. Yakni : (1) memberikan kesempatan yang luas bagi warga negara Indonesia dan warga negara asing, di mana pun tempat tinggalnya, untuk memperoleh pendidikan tinggi; (2) memberikan layanan pendidikan tinggi bagi mereka, yang karena bekerja atau karena alasan lain, tidak dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi tatap muka; dan (3) mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional sesuai dengan kebutuhan nyata pembangunan yang belum banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.

Ada sejumlah kelebihan UT dari universitas lain pada umumnya. Sejumlah kelebihan itu antara lain menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Sedangkan makna terbuka adalah tidak ada batasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat).

Dari segi biaya, biaya kuliah di UT cukup kompetitif dengan universitas lain. Begitu pula dari segi pilihan jurusan. Selain sejumlah jurusan yang memang umum ada di kebanyakan universitas seperti FKIP dan FISIP, UT memiliki sejumlah jurusan lain yang terbilang langka namun tingkat kebutuhannya di dunia kerja cukup besar yakni Kearsipan dan Perpustakaan. Hingga saat ini, UT memiliki empat fakultas dan satu program pascasarjana yang menawarkan lebih dari 30 program studi dengan jenjang yang bervariasi meliputi: Program Magister, Program Sarjana/S1 (FKIP, FMIPA, FEKON, FISIP), Program Diploma dan Sertifikat.

Popularitas UT semakin bersinar karena sejumlah kelebihannya sebagaimana telah kita bahas sebagian di antaranya pada sejumlah poin di atas. Meski demikian, banyak masyarakat yang belum tahu sejumlah pencapaian dan fakta tentang UT, yang menurut saya sangat luar biasa.

Pertama, UT adalah universitas negeri. Banyak masyarakat masih bingung dengan status UT yang dianggap kurang jelas. Negeri apa swasta ya? Hal yang satu ini perlu semakin disosialisasikan secara lebih luas pada masyarakat terutama generasi muda. Dengan status sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN), masyarakat tidak perlu cemas soal legalitas perkuliahan dan ijasah serta gelarnya.

Kedua, jumlah mahasiswa UT sangat banyak. Hingga pertengahan tahun 2014, mahasiswa aktif UT tercatat sebesar 433.763. Sementara itu, hingga awal tahun 2014, jumlah mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di Indonesia baik PTN maupun PTS diperkirakan sebesar 3,2 juta. Di mana sebanyak 72 % di antaranya ditampung di perguruan tinggi swasta, dan sisanya di perguruan tinggi negeri. Dengan jumlah mahasiswa yang sangat banyak ini, UT tergolong dalam The Top Ten Mega University of the World dan salah satu anggota sekaligus pendiri The Global Mega-University Network (GMUNET). GMUNET yang didirikan pada tahun 2003 lalu merupakan jaringan universitas terbuka seluruh dunia dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar lebih dari 100 ribu orang.

Ketiga, prestasi yang mendunia. Tidak hanya luar biasa dari sejumlah mahasiswa, UT juga menorehkan sejumlah prestasi yang membanggakan. Di antaranya, berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Webometrics, sebuah situs yang melakukan pemeringkatan universitas-universitas di seluruh dunia berdasarkan parameter digital (konten global yang terindeks oleh Google, jumlah rich file yang terindeks di Google Scholar dan karya akademik yang terpublikasi di jurnal internasional) pada Januari 2013 lalu, UT berada di peringkat ke-64 universitas terbaik di Indonesia dan peringkat 3544 untuk dunia. 


Benarkah Kuliah di UT Murah?

Kuliah di UT (relatif) murah adalah promosi utama yang sering saya sampaikan pada banyak orang. Benarkah? Tidak benar-benar murah sebenarnya, terlebih jika dilihat dari sudut pandang dan kantong masyarakat bawah, tapi insyaAllah cukup terjangkau. Apalagi jika si mahasiswa bisa mendapatkan beasiswa mengingat beasiswa di UT juga semakin banyak sebagaimana universitas lain pada umumnya.

Secara umum, biaya pendidikan di UT dihitung berdasarkan jumlah SKS yang diambil ditambah sejumlah biaya lain bergantung jurusan yang diambil. Kita ambil contoh untuk program studi Matematika, Fakultas Matematika dan IPA, untuk Non SIPAS (Non Sistem Paket Semester). Berikut rincian biayanya:


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Program Studi Matematika
a)
Uang Kuliah
Rp36.000,00/ sks
OSMB, layanan administrasi akademik, transkrip sementara, alih kredit, bahan ajar digital pada ruang baca virtual, Tuton, UAS, TAP, publikasi karya ilmiah, wisuda/ UPI/ PI
b)
Registrasi Ujian Ulang/ TAP Ulang
Rp36.000,00/ sks

c)
Registrasi Karil
Rp200.000,00/ semester
Bagi mahasiswa yang meregistrasi karil karena mengulang TAP


Untuk rincian biaya yang lebih detil berdasarkan jurusan dan wilayah (dalam atau luar negeri) bisa dilihat di link berikut http://www.ut.ac.id/2015/tentang-ut/sistem-registrasi/biaya.html.


UT, Mudah Dijangkau dan Terintegrasi

Setelah sebelumnya dibahas mengenai keterjangkauan UT dari sisi biaya, dari segi lokasi UT juga mudah dijangkau hingga ke daerah karena memiliki banyak cabang tak hanya di dalam negeri, namun juga di sejumlah negara. Khusus untuk wilayah Indonesia, UPBJJ-UT umumnya ada di ibukota provinsi dan sejumlah kotamadya/kabupaten. Lebih lengkap mengenai daftar kode, nama dan alamat Kantor UPBJJ-UT (Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka) di Seluruh Indonesia bisa dilihat di sini.

Adapun maksud terintegrasi di sini, UT memungkinkan mahasiswanya untuk pindah dari satu UPBJJ ke UPBJJ lain, baik dalam maupun luar negeri jika karena satu dan lain hal, mahasiswa harus berpindah domisili.


UT, Universitas Ramah Perempuan

Poin ini menurut saya sangat istimewa mengingat pendidikan bagi banyak perempuan di Negara berkembang seperti kita seperti rembulan bagi si pungguk.

Pendidikan bagi perempuan acapkali dianggap tidak penting karena masyarakat umum kita masih berpandangan bahwa ‘rugi’ jika sekolah tinggi-tinggi akhirnya hanya kerja di dapur alias jadi ibu rumah tangga. Daripada menghabiskan banyak biaya dan juga waktu, lebih baik segera menikah dan uang yang ada dimanfaatkan untuk modal usaha.

Masih bagi perempuan, menikah juga seringkali menguburkan impian kaum hawa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Menikah berarti banyak di rumah mengurus keluarga. Tak banyak waktu, energi dan biaya yang tersisa untuk melanjutkan pendidikan. Hadirnya UT memberi secercah harapan bagi masyarakat untuk kembali menggapai mimpi dan cita-citanya. UT yang mudah dan murah, tersebar di banyak wilayah Indonesia bahkan mancanegara, membuat simpul-simpul yang selama ini menutup akses masyarakat khususnya perempuan terhadap perguruan tinggi satu per satu mulai terurai.

Antusiasme perempuan untuk melanjutkan studi di UT, di antaranya bisa dilihat dari cukup dominannya komposisi jumlah mahasiswi dibanding dengan jumlah mahasiswa, yang lebih dari dua kali lipat jumlah laki-laki, yakni sebesar 298.436 mahasiswa pada tahun 2014. Jumlah ini tidak hanya menggembirakan dari segi angka, namun memiliki banyak arti lain di baliknya. Di antaranya, meningkatnya partisipasi pendidikan perempuan di tingkat perguruan tinggi. Salah satu persoalan klasik dalam dunia pendidikan kita terutama jika dikaitkan dengan peran perempuan dalam pembangunan. Tingkat pendidikan perempuan yang semakin baik diharapkan berbanding lurus dengan kontribusi mereka terhadap pembangunan.


UT, Universitas yang Pro TKI

Hadirnya UT juga menjadi secercah harapan bagi tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ingin meraih masa depan lebih baik. UT bisa dibilang adalah satu-satunya perguruan tinggi dalam negeri yang memberi kesempatan pada TKI untuk bekerja di luar negeri sembari mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga dengan demikian, TKI tak ubahnya seperti sembari menyelam minum air.

Tinggal di luar negeri memungkinkan TKI memperoleh banyak pengalaman dan keterampilan baru seperti penguasaan bahasa asing. Bila kemampuan ini ditunjang dengan pendidikan tinggi hingga meraih gelar sarjana dan skill tambahan, pilihan untuk meniti masa depan yang lebih baik sekembalinya ke Tanah Air kian terbuka lebar. Kesadaran TKI yang semakin tinggi akan pentingnya pendidikan tinggi terlihat dari meningkatnya jumlah TKI yang melanjutkan pendidikan di UT. 

Berdasarkan data per 2 Juni 2014, tercatat ada 2.266 orang yang menempuh pendidikan di UT di sejumlah negara seperti Arab Saudi, Malaysia, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, bahkan ada pula yang di Amerika Serikat, Australia dan sejumlah negara di Eropa dan Afrika. Meski tidak seluruhnya adalah TKI, namun proporsi TKI yang melanjutkan pendidikan tinggi melalui UT semakin banyak dari waktu waktu. Percepatan ini akan semakin signifikan jika pemerintah semakin membuka akses TKI untuk kuliah lagi, salah satunya dengan memasukkan item bisa melanjutkan pendidikan ke dalam poin perjanjian dengan negara-negara yang memperkerjakan TKI kita.



Penutup

Persoalan pendidikan kita memang sangat kompleks. Mulai soal biaya, waktu, jarak, sosial budaya hingga jender. UT hadir sebagai bagian dari solusi bagi anak negeri.  Akhir kata, semoga tulisan ini informatif dan bermanfaat.


* * *

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Logo Dies UT32
HUT Universitas Terbuka Ke-32


logo UT
www.ut.ac.id

2 komentar:

  1. Memang UT adalah Universitas sejuta umat ya mbak..gak ada batasan usia untuk kuliah disitu...ngomong2 apa khabar jember? dulu saya ngekost di jalan jawa trus pindah ke karimata :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Istilah 'universitas sejuta umat'-nya keren :)

      Jember sudah banyak perubahan, beberapa di antaranya saya tuliskan di blog ini juga, silahkan lihat-lihat :)

      btw, saya juga dulu pernah kost di jalan Jawa juga. Salam kenal, alumni Unej jugakah?

      Hapus

 
;