Minggu, 21 Agustus 2016

Lampung, The Treasure of Sumatera



LKF2016
Silahkan kunjungi http://lampungkrakataufest.com/

Saya pernah tinggal di Lampung selama hampir 12 tahun. Masih segar dalam ingatan, harum semerbak bunga kopi yang menyeruak dari kebun kopi di sebelah rumah yang saya tinggali, di pagi pertama saya tinggal di sana. Harum sekali, hampir menyerupai harumnya bunga melati.

Selama hampir 12 tahun menjadi ‘orang Lampung’, menjalani masa-masa akhir golden age dan masa remaja, banyak hal lain yang juga membekas di benak dan memori saya hingga sekarang. Alamnya yang khas dengan perkebunan, juga masyarakatnya yang begitu heterogen. Begitu kuatnya, hingga bagi saya, Lampung itu adalah kampung halaman kedua. 


Saya dan keluarga tinggal di Tegineneng. Daerah ini dulunya masuk dalam Kabupaten Lampung Selatan yang sekarang berubah menjadi Kabupaten Pesawaran. Tegineneng berjarak sekitar 30 menit dari Kota Bandar Lampung. Di daerah yang terbilang kecil dan sepi ini, terutama pada malam hari, masyarakatnya terdiri dari beberapa suku dan agama. Selain suku Lampung dan Jawa sebagai suku mayoritas, tetangga-tetangga saya ada juga yang bersuku Palembang, Padang, Batak dan beberapa suku lain di Sumatera. Sepertinya, hampir semua suku di pulau Sumatera ada di Lampung. Sampai-sampai saya berpikir, Lampung itu seperti miniaturnya Pulau Sumatera. Selain orang-orang Sumatera, beberapa suku di Jawa seperti orang Jawa dan Sunda, yang saya perhatikan jumlah penduduknya juga cukup signifikan. Untuk suku Jawa sendiri, selain suku Jawa yang berbahasa halus, ada juga yang Jawa Ngapak. Madura juga ada. Sangat heterogen.

Suku yang cukup beragam, berimbas pada sangat beragamnya kuliner masyarakatnya. Masing-masing daerah membawa sekaligus melestarikan masakan tradisionalnya di Lampung. Yang Padang dengan Nasi Padang-nya, Palembang dengan pempek-nya, Sunda dengan siomay-nya, yang Betawi dengan nasi uduk-nya. Lampung sendiri salah satunya dengan sambal seruit-nya. Meski beberapa makanan tradisional itu ‘merantau’ cukup jauh dari daerah asalnya, anehnya, rasa yang di Lampung, nyaris sama dengan aslinya. Pada beberapa orang bahkan terasa lebih enak. Jadi, tak perlu ke Palembang kalau mau icip-icip pempek original khas Palembang. Karena di Lampung, rasa pempeknya nyaris sama dengan yang di Palembang. Begitu pula dengan nasi Padang, siomay, nasi uduk, dan sebagainya. Keenakannya hampir serupa dengan di daerahnya masing-masing. Eh, menurut saya sih, hehehe….

Selain terdiri dari berbagai suku bangsa, agama yang dianut masyarakat Lampung, juga beragam. Semua agama terwakili. Mulai Islam, Kristen, hingga Hindu dan Buddha. Ke-Bhinekaan Indonesia di Lampung sangat terasa. Kebetulan di daerah saya tinggal, kerukunan masyarakatnya cukup terjaga. Rasa persaudaraan dari berbagai suku bangsa sangat terasa. Entahlah. Apa karena mayoritas kami adalah perantau ya? Lampung adalah rumah kami, dan orang-orang yang tinggal di sana adalah saudara kami. Ini membuat saya merasa welcome, dan dengan sendirinya, sense of belonging saya pada Lampung, terbentuk dengan sendirinya.

Selain terkesan dengan masyarakatnya yang multikultural dan heterogen, kulinernya yang enak dan mendekati sempurna seperti daerah asalnya, hal lain yang juga terekam baik dalam ingatan saya adalah Lampung itu terkenal dengan gajahnya, daerah penghasil kopi, hasil pisangnya berlimpah, memiliki kain tradisional bernama Tapis, dan hiasan kepala mempelai perempuan yang disebut Siger. Inilah kurang lebih kenangan dan pengetahuan saya tentang Lampung selama hampir 12 tahun tinggal di sana.

Medio 1999, saya melanjutkan studi ke Universitas Jember dan menetap hingga sekarang di Jember, kota kelahiran saya. Meski tidak lagi tinggal di Lampung, saya tetap merasakan ikatan emosional yang kuat dengan Sai Bhumi Rwa Jurai meski kenangan saya tentang Lampung masih berkutat pada gajah, kopi, pisang, siger, tapis, dan masyarakatnya yang heterogen serta kulinernya yang enak. Hingga kemudian, ketika teknologi informasi booming terutama dalam beberapa tahun terakhir, saya terbelalak.

What??? Teluk Kiluan dengan lumba-lumbanya yang cantik itu ada di Lampung?



Teluk Kiluan Lampung dengan lumba-lumbanya. Sumber Foto: www.wisatatelukkiluan.com

Lampung juga punya Pulau Pahawang dan Kelagian yang pantainya sangat eksotis? Dan masih ada beberapa pantai cantik lainnya. Melongo mode on :p


Beningnya Pulau Pahawang :) Sumber Foto: piknikzone.com


Wow, itu semua surga. Surga yang tersembunyi sekaligus harta karun. Ah, ke mana saja mereka selama ini kenapa baru ‘muncul’ sekarang? Ish, saya aja kali ya yang kurang update, kurang piknik, jarang mudik :p


Bak Putri Raja yang Jelita

Saya pertama kali melihat kecantikan alam Lampung yang sangat luar biasa dari sejumlah beranda teman-teman di Facebook, yang sudah menjelajah sejumlah surga tersembunyi di sana. Lewat jepretan kamera mereka, terlihat kecantikan Lampung yang selama ini tersembunyi. Sangat cantik dan eksotis. Lampung bak putri raja yang sangat jelita.

Ya, Lampung dengan keindahan alamnya, terutama pantainya, tak ubahnya seperti seorang perempuan yang sangat cantik. Kekayaan alamnya yang berlimpah terutama dari sektor perkebunan dan perikanan, bila dianalogikan, bak raja yang sangat kaya. Lalu keunikan budayanya, heterogenitas masyarakatnya, serta posisinya yang sangat strategis. Selain menjadi pintu gerbang pulau Sumatera, Lampung juga diapit oleh sejumlah kota dan provinsi penting.

Dengan begitu banyak potensi yang dimilikinya, Lampung seharusnya memiliki peluang besar untuk menjadi ‘primadona’ di Tanah Air bahkan di mancanegara. Tak hanya di sektor ekonomi secara luas, namun juga di sektor pariwisata secara lebih spesifik. Sayangnya, sang putri nampaknya masih ‘tertidur’. Meski mulai sedikit menggeliat.

Geliat itu antara lain terlihat dengan cukup seringnya objek wisata Lampung terekspos di layar televisi melalui sejumlah acara/program liburan atau jalan-jalan, semakin banyak juga netizen yang meng-up load tempat-tempat cantik dan tradisi unik di Sai Bhumi Rwa Jurai. Lambat laun, apa yang publik ketahui soal Lampung tak lagi berkutat hanya pada gajah, kopi, pisang, tapis, siger ataupun dikenal sebagai daerah tujuan utama transmigrasi.


Saatnya ‘Tebar Pesona’

Banyak daerah bahkan negara berlomba-lomba menjadi destinasi utama tujuan wisata. Sektor pariwisata memang sedang menjadi primadona baru untuk mendongkrak pendapatan daerah atau Negara saat ini. Dan untuk mewujudkan impian sebagai salah satu pemain utama di sektor ini, masing-masing berupaya memoles dirinya secantik mungkin dan menggali berbagai potensi ‘harta karun’ yang dimiliki. Saatnya ‘tebar pesona’ (baca: aktif memromosikan diri). Tak terkecuali Lampung dengan segenap potensi besarnya.

Agar ‘tebar pesona’ berjalan optimal, syarat utama yang harus terpenuhi adalah rajin eksis dan narsis :) Gaet sebanyak mungkin mitra untuk menjadi partner potensial dalam memromosikan Lampung ke seantero negeri bahkan mancanegara. Selain menggunakan media promosi ‘konvensional’ seperti iklan di media cetak, televisi, spanduk, poster dan lain sebagainya, bisa ditempuh pula media promosi yang lebih kekinian, yakni melalui media sosial. Partner pentingnya adalah para netizen dengan berbagai media yang mereka miliki. Tulisan untuk blogger, video blog untuk vlogger, foto untuk Facebook dan instagram, dan sebagainya. Menggaet netizen sebagai partner potensial untuk tujuan promosi relatif low cost namun memiliki dampak yang sangat luar biasa. Tak mengherankan jika banyak perusahaan besar mulai mengalokasikan anggaran promosi yang cukup signifikan untuk promosi melalui cara yang satu ini. Begitu pula dengan sejumlah daerah di Tanah Air yang gencar memromosikan potensi daerahnya melalui ujung jari para netizen. Salah satunya melalui kompetisi. 


Buka Pintu Lebar-lebar

Langkah selanjutnya setelah mengoptimalisasi ‘tebar pesona’ (alias promosi) hingga ke taraf maksimal,  hal lain yang harus dilakukan adalah ‘membuka pintu lebar-lebar’. Sederhananya, permudah akses untuk datang ke Lampung. Dalam hal ini, salah satu aspek yang sangat krusial adalah masalah moda transportasi yang efisien dan murah untuk menjangkau Lampung, karena salah satu prinsip penting dalam berwisata bagi kebanyakan orang adalah low budget. Biarpun tempat wisatanya cantik dan eksotis, tapi kalau berat di ongkos, bisa berdampak daerah yang bersangkutan tidak dimasukkan dalam daftar tujuan wisata prioritas.

Sebagai contoh bagaimana low budget bisa dibilang berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan ke suatu tempat bisa kita lihat dalam kasus Singapura dan Malaysia. Keduanya ramai dikunjungi salah satunya karena harga tiket pesawat ke sana sangat kompetitif. Jika sedang promo dan beruntung, dengan tiga hingga empat atau lima ratus ribu rupiah, kita sudah bisa menjejakkan kaki di negeri tetangga. Sedangkan untuk ke Lampung, dari Surabaya sebagai contoh, perlu dua kali naik pesawat dengan harga yang meski normal bahkan promo, jumlahnya bisa mencapai dua hingga tiga kali ke Singapura atau Kuala Lumpur. Sudahlah harganya tiketnya lebih mahal, ada transit juga tidak efisien dari segi waktu dan tenaga.

Persoalan pentingnya akses moda transportasi yang mudah dan efisien (ditambah lagi murah) terutama untuk transportasi udara, nampaknya semakin diseriusi oleh Pemprov Lampung dan jajaran terkait. Salah satunya dengan pembenahan Bandara Raden Inten II menjadi bandara internasional. Good job. Saya sendiri belum mendapatkan informasi, rute internasional mana yang akan dibuka. Adanya rute internasional nantinya akan membuat Lampung kian terbuka lebar untuk dikunjungi. Apalagi sebelumnya, selain ke Jakarta, ada sejumlah rute domestik yang juga sudah dibuka. Yakni Bandung dan Batam. Yang Indonesia timur kapan ya? #ngarep.com :) Surabaya misalnya. Atau Denpasar. Dua bandara yang memiliki traffic sangat tinggi untuk tujuan wisata dan bisnis.

Selain meningkatkan kapasitas Bandara Radin Inten II, Pemprov Lampung juga kian mengoptimalkan pengembangan dan perbaikan infrastrukturnya. Salah satunya, pembangunan jalur logistik nasional berupa pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, Lampung. Sebuah langkah penting dan strategis untuk menyingkap harta karun-harta karun yang selama ini tersembunyi sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat di berbagai sektor. Percepatan pembangunan dan pengembangan beberapa pelabuhan potensial di Provinsi Lampung juga dilakukan untuk mendukung pengembangan kawasan. Di antaranya, Pelabuhan Regional Mesuji dan Pelabuhan Internasional Panjang yang merupakan pelabuhan peti kemas dan menjadi akses utama di wilayah selatan Sumatera bagi perdagangan luar negeri. Selanjutnya, di wilayah Pantai Barat, Bandara Pekon Serai dikembangkan sebagai bandara komersial untuk mendukung pengembangan pariwisata serta pembangunan Trans Sumatera Railways yang saat ini sedang dalam tahap perencanaan untuk segera dapat direalisasikan.

Well, promosi sudah, perbaikan infrastruktur juga terus dikembangkan, what’s next?


Festival Krakatau : Unik dan Beda

Memiliki potensi wisata yang cantik dan eksotis, ditambah posisi yang strategis, adalah sebuah modal besar untuk menjadi primadona di sektor pariwisata. Namun, hanya mengandalkan pesona alamnya saja, sulit bagi siapapun untuk menjadi pemain utama dan memenangkan persaingan yang sangat ketat saat ini.

Menyadari bahwa perlu strategi dan kreativitas untuk masuk dalam pilihan prioritas wisata masyarakat, banyak daerah berlomba-lomba mengemas sejumlah even spektakuler guna menarik pengunjung. Salah satunya melalui penyelenggaraan festival.

Dalam beberapa tahun terakhir, even dalam bentuk festival dalam rangka mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan baik nusantara (wisnu) maupun mancanegara (wisman) nampaknya sedang naik daun sebagai salah satu strategi utama. Sejumlah daerah secara besar-besaran dan kontinyu, menyelenggarakannya. Dampak positifnya memang luar biasa. Beberapa festival dari sejumlah daerah sangat dinanti-nanti.

Festival memang memiliki sejumlah nilai strategis. Dia adalah magnet, momen spektakuler untuk menggaet pengunjung. Dan ketika kunjungan wisatawan bertambah secara signifikan, ada sejumlah manfaat besar yang didapat khususnya dalam upaya lebih menggerakkan ekonomi masyarakat setempat. Masalahnya, ketika banyak daerah sama-sama intens menyelenggarakan acara yang hampir serupa, maka perlu membuat sebuah festival yang unik dan beda. Inilah salah satu tantangan Lampung.

Tak banyak daerah seberuntung Lampung yang dikaruniai keindahan sekaligus kekayaan alam yang sangat luar biasa. Ditambah dengan posisi yang strategis dan masyarakat dengan budayanya yang unik. Sungguh sebuah anugerah. Lalu dalam soal festival, lagi-lagi Lampung juga sangat beruntung. Sejak tahun 1991, atau seperempat abad yang lalu, Lampung sudah memiliki festival yang sudah melegenda bahkan mendunia, yakni Festival Krakatau atau yang kini populer dengan Lampung Krakatau Festival.

Lampung Krakatau Festival merupakan agenda pariwisata tahunan Provinsi Lampung yang sudah berlangsung sejak tahun 1991, dalam rangka promosi pariwisata dan budaya serta memperingati peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Even ini merupakan Even Kepariwisataan Nasional yang mempunyai sejarah panjang. Menginjak tahun ke-25, sejumlah perubahan dilakukan agar Festival Krakatau bisa berjalan seiring dengan dinamisasi  dan perkembangan kepariwisataan Lampung. Karenanya, Festival Krakatau kali ini tidak hanya memperkenalkan panorama alam Lampung saja, tapi juga melibatkan unsur kebudayaan. Tag line-nya tidak hanya nature, tapi juga culture dan adventure Wisata Lampung. Karena itu, Lampung Krakatau Festival 2016 akan diselenggarakan di beberapa titik yakni, di Bandar Lampung, Pesawaran dan Kepulauan Gunung Krakatau. Adapun beberapa destinasi yang akan ditonjolkan dalam festival ini yakni Teluk Kiluan, Gunung Krakatau, Pulau Pahawang dan Taman Nasional Waykambas. Kegiatan Festival Krakatau 2016 meliputi Jelajah  Pasar Seni, Jelajah Layang-layang, Jelajah Rasa (Festival Kuliner), Jelajah Krakatau, Jelajah Semarak Budaya (Lampung Culture & Tapis Carnival), serta Investor Summit (Gala Dinner). Tersebar di banyak titik dengan aneka kegiatan yang terbilang komplit, Lampung Krakatau Festival 2016 bisa dibilang merupakan sebuah festival yang wah, unik dan tak banyak daerah bisa. Seperti saya kemukakan sebelumnya, tak banyak daerah seberuntung Lampung.

Salah satu indikator yang bisa kita gunakan untuk mengukur kesuksesan Festival Krakatau 2016 adalah dengan melihat pertambahan jumlah wisatawan yang berkunjung. Pada tahun 2014, kunjungan wisatawan yang datang ke Lampung tercatat sekitar 3,5 juta orang. Jumlah ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan menjadi sekitar 5,5 juta orang pada tahun 2015. Seiring dengan semakin gencarnya promosi, pembenahan infrastruktur dan pengemasan strategi yang lebih komprehensif, salah satunya dengan pengemasan baru Lampung Krakatau Festival 2016, jumlah kunjungan wisatawan yang mengunjungi Lampung ditargetkan akan mengalami peningkatan sebanyak 20 persen hingga akhir 2016 nanti. Mungkinkah target ini akan tercapai? Let’s pray, wait n see.


Kontribusi (yang diharapkan) bagi Masyarakat

Terakselerasinya ekonomi masyarakat adalah salah tujuan utama yang ingin dicapai dari pembangunan di banyak sektor termasuk pariwisata. Sektor pariwisata dan jasa memiliki dampak empat kali lipat lebih besar dibanding sejumlah sektor lain seperti pertanian yang hanya satu kali dan industri dua kali, dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Atas dasar ini, banyak daerah bahkan negara menjadikan sektor pariwisata dan jasa sebagai ujung tombak baru perekonomian mereka.

Lalu, manfaat apa yang bisa didapat oleh masyarakat terkait dengan pengembangan sektor pariwisata Lampung yang terus berbenah? Setidaknya, ada dua hal penting yang masuk dalam list penulis. Pertama, pengembangan sektor pariwisata mengharuskan infrastruktur harus dibenahi, baik darat, laut maupun udara. Infrastruktur yang semakin baik dan memadai, idealnya akan membuat ekonomi masyarakat semakin terbuka dan dinamis. Idealnya, aktivitas perekonomian masyarakat yang bergerak di bidang pertanian, perikanan dan juga industri akan semakin terakselerasi. Infrastruktur yang semakin baik juga diharapkan akan berdampak pada pemerataan ekonomi yang lebih luas hingga ke pelosok. Tidak lagi terpusat di kota-kota besar. Berharap pula, ‘harta karun-harta karun’ yang selama ini tersembunyi, baik berupa potensi wisata, hasil pertanian, perikanan dan lain sebagainya, akan semakin menyeruak dan dikenal luas oleh masyarakat baik dalam maupun luar negeri.

Kedua, pengembangan sektor pariwisata biasanya akan dibarengi dengan tumbuh suburnya sejumlah ekonomi kreatif masyarakat. Salah satunya industri makanan tradisional.

Jalan-jalan biasanya identik dengan oleh-oleh khas daerah yang dikunjungi. Dan Lampung sebenarnya sudah memiliki sejumlah makanan khas daerah yang sudah cukup banyak dikenal. Seperti kopi Lampung yang kabarnya sudah memiliki sejumlah varian rasa selain yang original. Begitu pula dengan keripik pisangnya yang varian rasanya juga semakin banyak. Ada juga kerupuk Kemplang (ini kayaknya khas Palembang ya, tapi sering juga disebut sebagai oleh-oleh dari Lampung :) ). Sudah cukup variatif. Namun saya melihat ada sejumlah potensi besar dalam industri makanan tradisional Lampung yang perlu dikembangkan dan memiliki potensi jual yang tinggi. Salah duanya yang berbahan dasar cempedak dan jengkol. Ada apa dengan dua makanan ini?

Menurut sejumlah referensi yang pernah saya baca dan dengar, cempedak dan jengkol bukan milik Lampung saja. Sama halnya dengan tempoyak yang ternyata juga dikenal sebagai makanan khas sejumlah daerah lain. Namun, sebagian masyarakat di luar Lampung lagi-lagi sering mengidentikkan dua makanan ini dengan Lampung. Sehingga kalau mendengar Lampung, seringkali dua makanan ini dimasukkan dalam daftar prioritas oleh-oleh. Hehehe.

Nah, karena dua makanan ini sepertinya banyak di Lampung, peminatnya juga banyak dan bisa terus bertambah secara signifikan seiring dengan semakin meningkatnya promosi, ini bisa membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat Lampung untuk menjual aneka produk olahan berbahan cempedak dan jengkol. Misal, menjadi pancake cempedak dan rendang jengkol. Ini hanya contoh. Atau sudah ada ya di Lampung? Semoga saya tidak ketinggalan info :)

Selain makanan khas daerah, ekonomi kreatif lain yang berpeluang tumbuh pesat adalah dunia tulis menulis dan film. Banyak wisata sekaligus keunikan Lampung yang sangat bagus untuk diangkat menjadi tulisan atau film. Mana kita tahu, salah satunya nanti akan se-booming Laskar Pelangi misalnya. Atau nantinya menjadi salah satu lokasi film kelas dunia.

Selain dua hal di atas, masih banyak kontribusi lain yang bisa didapat masyarakat terkait dengan pengembangan sektor pariwisata yang semakin optimal. Inti utamanya, tujuan besar yang ingin dicapai antara lain terjadi peningkatan pendapatan masyarakat, terciptanya lapangan kerja, meningkatnya kualitas hidup masyarakat, pembangunan yang lebih merata, dan sebagainya. Saya turut mendoakan.

Akhir kata, selamat berbenah diri Sang Putri. Bersiaplah menjadi ‘primadona’, bagi Indonesia, juga dunia. 

* * *

2 komentar:

  1. Mantap Mbk ulasannya, semoga wisatawan ke Lampung semakin meningkat ya :)

    BalasHapus

 
;