Rabu, 31 Agustus 2016

Kampoeng Batja, Mengajak Indonesia ‘Membaca’


Dalam hal budaya membaca, kita sangat jauh tertinggal dari banyak negara. Hasil survei sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat pernah menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Kita hanya setingkat lebih baik dari Botswana, sebuah negara miskin di Afrika.

Budaya membaca yang baik akan sulit terwujud, jika kemampuan yang lebih mendasar, yakni kemampuan membaca itu sendiri, masih menjadi persoalan besar di negara kita. Buta aksara atau buta huruf masih terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Dan salah satu daerah yang pernah menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan jumlah buta huruf terbanyak adalah Kabupaten Jember. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PNFI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan awal 2010 lalu, Jember adalah kabupaten yang memiliki warga buta aksara paling banyak yakni sebanyak 232.000 orang.



Sebagai warga Jember, penulis sempat melihat langsung bagaimana sepinya perpustakaan daerah, perpustakaan sejumlah universitas, juga perpustakaan milik instansi pemerintah yang dibuka untuk publik. Animo masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan dan membaca berbagai koleksinya terkalahkan oleh semangat mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan atau tempat hiburan terutama di akhir pekan. Masyarakat juga lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton sinetron di televisi dibandingkan membaca koran/majalah, apalagi buku. Dan orang-orang yang tergolong buta aksara, ternyata cukup mudah ditemui bahkan di daerah yang terbilang maju dan cukup dekat dengan wilayah perkotaan.

Rendahnya minat baca masyarakat ini terjadi karena banyak faktor. Faktor ekonomi salah satunya. Buku dan sumber bacaan lain, terbilang cukup mahal harganya. Buku tidak masuk dalam list kebutuhan kebanyakan masyarakat Jember yang memiliki angka kemiskinan cukup tinggi. Faktor kesadaran juga turut berkontribusi. Masyarakat belum memahami dengan baik, betapa pentingnya membaca.

Selain dua hal di atas, faktor lain yang juga mempengaruhi rendahnya minat dan budaya baca masyarakat adalah karena membaca, dalam persepsi umum masyarakat kita, identik dengan sesuatu yang serius dan membosankan. Inilah mengapa perpustakaan seringkali sepi, sedang pusat-pusat perbelanjaan, hiburan bahkan warung-warung di pinggir jalan justru ramai. Fenomena ini sebenarnya adalah gambaran umum masyarakat kita, bukan hanya Jember. Beruntung, di balik problematika semacam ini, selalu ada kabar baik yang menyertai. Dan kabar baik bagi Jember, ia memiliki seorang sosok yang kreatif dan memiliki kepedulian besar terhadap masalah literasi. Sosok kreatif itu adalah Bapak Iman Suligi, penggagas, pendiri sekaligus pengelola sebuah Taman Baca Masyarakat (TBM) yang diberi nama Kampoeng Batja.


Suasana Kampoeng Batja dari berbagai sudut

Nama Kampoeng Batja tentu sudah tidak asing lagi bagi para pegiat literasi dan TBM di Tanah Air. TBM yang pernah mendapat penghargaan sebagai TBM kreatif dari Kementerian dan Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2014 lalu ini, sudah cukup sering diekspos oleh sejumlah media, baik lokal, regional maupun nasional. Bisa dibilang, Kampoeng Batja sudah cukup luas dikenal publik. Namun bukan karena popularitasnya semata yang mendorong penulis memilihnya sebagai salah satu inovasi daerah yang sangat kreatif dari Kabupaten Jember yang bisa menginspirasi banyak daerah lain di Indonesia. Sejarah, semangat, dan cita-cita Kampoeng Batja bagi kemajuan literasi masyarakat, sangat patut untuk dibagi.


Mari Mengenal Kampoeng Batja Lebih Dekat

Kampoeng Batja telah memulai perjuangannya jauh sebelum publik mengenalnya seperti sekarang. Adalah Bapak Iman Suligi, seorang pensiunan guru, sosok kreatif yang menggagas, mendirikan dan mengelola Kampoeng Batja hingga saat ini.


Pak Iman Suligi, pendiri sekaligus pengelola Kampoeng Batja


Kampoeng Batja awalnya merupakan perpustakaan keluarga yang sempat mengalami sejumlah metamorfosis hingga menjadi Kampoeng Batja. Nama Kampoeng Batja dipilih karena dirasa lebih merakyat, agar nantinya masyarakat menjadi lebih dekat. Secara filosofi, nama Kampoeng Batja dipilih juga untuk menyiratkan bahwa perubahan besar itu harus dimulai dari bawah. Kampoeng atau kampung, adalah salah satu struktur terkecil di negara dan masyarakat kita. Meski lahir dari tatanan struktur terkecil, namun Kampong Batja memiliki cita-cita dan impian untuk berkontribusi dalam lingkup yang lebih besar, yakni untuk Indonesia. Kurang lebih ini yang penulis tangkap dari banyak perbincangan dengan Bapak Iman Suligi tentang Kampoeng Batja.

Untuk merealisasikan mimpinya, Pak Iman kemudian mengubah perpustakaan pribadi/keluarganya menjadi TBM agar lebih mudah diakses oleh masyarakat. Sebuah area kebun seluas sekitar 600 meter persegi yang dibeli secara bertahap, menjadi area berdirinya Kampoeng Batja. Konsep perpustakaan kebun atau garden library dipilih untuk mengubah stigma masyarakat yang mengidentikkan membaca sebagai aktivitas yang membosankan dan serius menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan.


Anak-anak membaca di area terbuka

Karena mengusung konsep perpustakaan kebun, maka area Kampoeng Batja tidak hanya terdiri dari bangunan dengan tumpukan buku di lemari, namun juga dilengkapi dengan area bermain anak, area untuk berdiskusi, serta taman yang dipenuhi oleh beraneka macam tumbuhan unik. Jadi di Kampoeng Batja, membaca tidak hanya bisa dilakukan di dalam gedung perpus, tapi juga di gazebo halaman sembari menikmati semilir angin di bawah pohon jati. Untuk anak-anak yang memang mudah bosan, kegiatan membaca bisa diselingi dengan kegiatan bermain. Beberapa permainan tradisional dan juga modern disediakan di Kampoeng Batja. Salah satu tujuannya mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget dan televisi.

Bermain di Kampoeng Batja

Selain sebagai taman baca, Pak Iman juga memiliki mimpi lain tentang Kampoeng Batja-nya, yakni menjadikannya sebagai rintisan museum literasi. Beberapa benda atau barang kuno terkait literasi mulai bisa dinikmati masyarakat meski jumlahnya masih terbatas. Ini ditujukan salah satunya agar masyarakat khususnya generasi muda, mengenal bagaimana literasi berkembang dari waktu ke waktu.

Konsep perpustakaan yang menarik ditambah dengan sejumlah prasarana yang cukup lengkap dan menyenangkan membuat Kampoeng Batja tidak hanya dikenal masyarakat sebagai perpustakaan atau taman baca, tapi juga menjadi tujuan alternatif liburan keluarga terutama di akhir pekan. Pak Iman sendiri pernah mengutarakan bahwa salah satu tujuan berdirinya Kampoeng Batja adalah agar aktivitas liburan masyarakat sedikit teralihkan dari mall atau tempat liburan ke perpustakaan. Selain menjadi tempat alternatif liburan keluarga, Kampoeng Batja juga kerap menjadi tujuan wisata edukasi anak-anak sekolah. Pak Iman beserta istri tidak hanya membuka pintu Kampoeng Batja lebar-lebar, namun juga ‘menghadiahi’ anak-anak dengan pelajaran tentang seni melipat atau origami. Sehingga, ada karya dan keterampilan baru yang bisa dibawa pulang oleh anak-anak setelah berkunjung ke Kampoeng Batja.


Wisata Literasi di Kampoeng Batja


Semakin banyak yang berkunjung ke Kampoeng Batja, tidak serta merta membuat Pak Iman merasa cukup. Semangat membaca dan kesadaran pentingnya membaca harus terus ditularkan. Untuk mewujudkan harapan ini, Pak Iman beserta tim relawan Kampoeng Batja ‘menjemput bola’ dengan hadir langsung di tengah-tengah kerumunan masyarakat. Minggu pagi di alun-alun menjadi pilihan waktu dan tempat. Sehingga masyarakat yang beraktivitas di sana, bisa langsung mengunjungi dan membaca buku di lesehan baca Kampoeng Batja. Ke alun-alun tak lagi identik dengan hanya jalan-jalan dan jajan, tapi juga membaca buku. Great....


Minggu pagi, di alun-alun Jember

Bukan Pak Iman namanya jika tak punya mimpi dan impian lagi. Lesehan baca di alun-alun saat minggu pagi memang membuat masyarakat semakin dengan membaca. Tapi, masyarakat yang tersentuh umumnya adalah masyarakat kota, masyarakat kelas menengah. Bagaimana dengan masyarakat pinggiran, masyarakat kelas bawah?

Kampoeng Batja lalu menggulirkan program baru berupa bantuan pendirian sudut baca-sudut baca atau reading corner. Berharap dengan berdirinya reading corner di banyak tempat, terutama di daerah yang belum memiliki fasilitas bacaan yang memadai, akses masyarakat terhadap sarana baca menjadi semakin baik. Program ini sudah berjalan beberapa bulan. 


Sudut Baca Arrohmah, salah satu Sudut Baca Sahabat Kampoeng Baca


Cukupkah sampai di sini?

Belum ternyata. Pak Iman Suligi merasa perlu menyisir masyarakat lebih jauh lagi, segmen yang lebih potensial, yakni anak-anak. Program terbaru ini diberi nama "Perpustakaan Anak, Oleh Anak Untuk Anak.


Info terbaru di beranda Facebook Pak Iman

Selain berbagai program di atas, Kampoeng Batja juga giat berpromosi dan melakukan 'kampanye literasi' melalui sejumlah media. Selain melalui siaran di RRI Jember setiap hari Jumat, Pak Iman juga aktif di media sosial, salah satunya Facebook (bisa dikunjungi di sini). Berbagai cara, media, dan inovasi ini dilakukan agar semangat membaca yang coba ditularkan oleh Kampoeng Batja bisa tersebar luas ke seantero negeri. Ya, Pak Iman melalui Kampoeng Batja-nya mengajak Indonesia 'membaca'. Tidak hanya membaca buku, tapi juga membaca sejarah dan kenangan, juga masa depan dengan mimpi-mimpi brilian untuk Indonesia yang lebih baik.

Ini salah satu inovasi di daerahku untuk bidang literasi. Apa inovasi daerahmu?

* * *

Catatan : seluruh foto dalam tulisan ini bersumber dari beranda Bapak Iman Suligi di Facebook. Bisa dilihat di https://www.facebook.com/suligi


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku





6 komentar:

  1. Ishhhh keren bangwt yaaaah..... Kalau aku di jembwr dah bolak balik kesana kali yaaa pinakan aku sukak bgt mbaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, anak-anak segmen yang paling banyak berkunjung Mbak. Ayo ke Jember.... :)

      Hapus
  2. cakep bgd sih idenya pak iman mbk, bikin garden library, niatnya jg mulia bgd, sukses deh bt pak iman dan kampung batja nya, amin

    BalasHapus
  3. taman bacanya keren ya, semoga yang baca semakin banyak

    BalasHapus

 
;