Kamis, 01 September 2016

Pengalaman Melaporkan Penipuan Online

WASPADA PENIPUAN BELANJA ONLINE
Foto dari www.xohop.com

Setahun lalu, saya kena tipu waktu belanja perlengkapan bayi di salah satu situs belanja online. Agak panjang ceritanya kenapa saya sampai tertipu. Lain waktu saya ceritakan sekalian dengan tips mengenali gelagat buruk saat belanja online (InsyaAllah). Khusus untuk tulisan saya kali ini, saya akan sharing tentang bagaimana melaporkan penipuan online, yang dalam kasus saya, Alhamdulillah uang bisa kembali.

Nominal kerugian saya sebenarnya tidak terlalu banyak, Rp 650.000 (kayaknya banyak juga ya :) ). Nominal ini untuk dua jenis barang dalam dua kali transaksi. Saya mulai merasa ada yang salah ketika tanya resi, lama dijawab. Lalu didelcon dari BBM. Masih mencoba berprasangka baik. Tapi barang tidak juga datang. Setelah menunggu sekitar seminggu, lalu dua minggu, fix saya tertipu.

Rabu, 31 Agustus 2016

Kampoeng Batja, Mengajak Indonesia ‘Membaca’

Dalam hal budaya membaca, kita sangat jauh tertinggal dari banyak negara. Hasil survei sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat pernah menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Kita hanya setingkat lebih baik dari Botswana, sebuah negara miskin di Afrika.

Budaya membaca yang baik akan sulit terwujud, jika kemampuan yang lebih mendasar, yakni kemampuan membaca itu sendiri, masih menjadi persoalan besar di negara kita. Buta aksara atau buta huruf masih terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Dan salah satu daerah yang pernah menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan jumlah buta huruf terbanyak adalah Kabupaten Jember. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Ditjen PNFI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan awal 2010 lalu, Jember adalah kabupaten yang memiliki warga buta aksara paling banyak yakni sebanyak 232.000 orang.


Minggu, 21 Agustus 2016

Lampung, The Treasure of Sumatera



LKF2016
Silahkan kunjungi http://lampungkrakataufest.com/

Saya pernah tinggal di Lampung selama hampir 12 tahun. Masih segar dalam ingatan, harum semerbak bunga kopi yang menyeruak dari kebun kopi di sebelah rumah yang saya tinggali, di pagi pertama saya tinggal di sana. Harum sekali, hampir menyerupai harumnya bunga melati.

Selama hampir 12 tahun menjadi ‘orang Lampung’, menjalani masa-masa akhir golden age dan masa remaja, banyak hal lain yang juga membekas di benak dan memori saya hingga sekarang. Alamnya yang khas dengan perkebunan, juga masyarakatnya yang begitu heterogen. Begitu kuatnya, hingga bagi saya, Lampung itu adalah kampung halaman kedua. 

Rabu, 17 Agustus 2016

Universitas Terbuka, Secercah Asa untuk Mereka yang Ingin Menggapai Cita Lebih Tinggi

UPBJJ-UT Jember, sumber foto: di sini

Beberapa kali saya pernah terlibat perbincangan serius dengan sejumlah teman dan kerabat yang merasa gamang untuk melanjutkan studi, khususnya ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Terlepas apa alasan dan kondisi mereka, bisa mengenyam pendidikan tinggi adalah impian banyak orang. Sayang, tak semua beruntung bisa meraihnya. Entah karena faktor biaya, waktu, masalah sosial budaya, bahkan jender. Adanya lembaga dan akses pendidikan yang murah dan mudah tak ubahnya seperti oase di tengah kegersangan asa dan impian banyak orang saat ini. Pada mereka yang gamang, atau bahkan apatis dan tidak memiliki minat sama sekali untuk melanjutkan pendidikan, coba saya motivasi tentang arti pendidikan tinggi khususnya perguruan tinggi bagi kehidupan seseorang dalam konteks yang luas.
 
;