Jumat, 23 Oktober 2015

Bersegera ke Tanah Suci dengan Arisan Keluarga

Jamaah haji melakukan sujud syukur saat tiba di bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Rabu (5/11)
Seorang jamaah haji sujud syukur saat tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma, sumber foto : Republika

Selain memiliki rumah dan kendaraan, menjadi tamu Allah di Baitullah baik dengan haji maupun umroh adalah impian lain yang bahkan masuk kategori wajib bagi sebagian keluarga muslim. Sayangnya, impian yang satu ini terbilang ‘wah’ bagi kebanyakan masyarakat kita. Perlu menabung dalam kurun waktu yang lama karena biayanya tidak sedikit. Tak jarang, ‘kebutuhan’ yang satu ini juga kerap tergeser oleh kebutuhan lain yang lebih mendesak. Akhirnya, seringkali terjadi, berkunjung ke rumah Allah seakan bulan bagi para pungguk yang hanya bisa merindukannya dari kejauhan. Dan saya mungkin termasuk salah satu dari para pungguk itu :)

* * *


Suatu hari, saat sedang berselancar di jagad Facebook, saya dapati seorang teman memosting status kalau dia tengah bersiap menuju ke Tanah Suci. Turut bahagia, tapi juga ada sedikit rasa ‘iri’ :)

“Koq bisa ya? Kayaknya kerjanya biasa aja deh, kalau hanya mengandalkan gaji bulanan kayaknya gak bakalan bisa ke Tanah Suci di usia semuda ini” hahaha, saya mulai berprasangka.

“Apa bonus kantor ya? Atau habis dapat warisin?” hihihi. Maka, demi memuaskan rasa penasaran, saya mulai ngepo-in wallnya. Postingan demi postingan berikut setiap komen yang masuk, saya baca dengan teliti jangan sampai ada yang terlewat. Dan sampai jugalah saya pada satu jawaban. Ternyata, teman saya itu bisa berangkat umroh karena dapat arisan kantor yang memang dikhususkan untuk umroh.

“Wah, boleh juga nih, dengan arisan” sorak saya dalam hati. Tapi, mekanisme ini rasanya sulit untuk diterapkan di kantor tempat suami bekerja. Arisan sebelumnya saja yang nominalnya terbilang kecil, tidak berlanjut. Apalagi arisan umroh ya?

“Jangan patah semangat Rin” saya menyemangati diri sendiri. Gak bisa arisan umroh di kantor suami, siapa tahu di tempat lain ada.

“Fit, tahu komunitas atau lembaga terpercaya yang ngadain arisan umroh gak?” tanya saya pada seorang teman. Sebut saja namanya Fitri.

“Dulu ada, sebuah biro perjalanan haji dan umroh yang ngadakan. Tapi gak berlanjut. Banyak masalah katanya” ah, kuncup harapan di hati saya langsung lunglai usai mendengar jawabannya. Duhai Baitullah, betapa tinggi dirimu untuk kugapai dengan tangan kecilku….

“Tak boleh menyerah. Pasti ada jalan…” lagi-lagi saya menyemangati diri sendiri. Hingga suatu hari.

 “Nis, sudah daftar haji belum?” tanya saya pada seorang teman via pesan singkat. Sebut saja namanya Annisa. Dengannya saya mencoba berbagi ‘kegalauan’ tentang impian ke Tanah Suci. Siapa tahu ketemu teman senasib :)

“Alhamdulillah sudah Rin, InsyaAllah berangkat 5 tahun lagi” What? Yang kemarin pergi umroh saja sudah membuat saya ‘iri’, apalagi ini. Hiks. Usia sama, kerjaan juga hampir sama. Koq bisa sih dia sudah daftar haji dan akan berangkat tidak lama lagi? Sementara saya, ah tiba-tiba saya merasa seperti ketinggalan kereta.

Obrolan dengan Annisa seputar haji berlanjut dengan intens. Hingga saya ketahui dengan cukup detil bagaimana teman saya itu, dan suaminya, sudah mendaftar haji cukup lama, yakni dengan arisan keluarga.

“Jadi, di keluarga suami itu ada arisan keluarga. Satu keluarga diwakili oleh satu nama yakni kepala keluarga. Yang ikut anggota keluarga dari satu kakek. Jadi selain saudara kandung suami, ayah ibu mertua, om dan tante juga para sepupu suami juga ikut. Kalau ditotal, jumlah keluarga yang ikut arisan bisa belasan” terang Annisa.

“Karena tidak semua bekerja dengan gaji tetap bulanan, maka arisan plus pertemuan rutin keluarga dijadwal setiap 4 bulan sekali. Sama dengan musim panen petani. Kebetulan ada anggota keluarga yang bertani” lanjut Annisa. Saya menyimak dengan seksama.

“Oya, untuk menentukan siapa yang dapat, kami tidak menggunakan sistem kocok seperti arisan pada umumnya”

“Terus?” tanya saya penasaran.

“Salah satu tujuan diadakannya arisan keluarga ini kan agar para anggota keluarga saling bantu membantu agar satu per satu bisa berangkat haji. Jadi, sedari awal kami bersepakat bahwa penentuan siapa yang dapat arisan berdasarkan musyarawah. Sesama orang tua mendahulukan orang tua yang lain yang belum berhaji. Yang sekiranya mampu untuk mendaftar haji tanpa uang arisan umumnya juga mengalah kepada yang lebih membutuhkan. Lalu yang tua mendahulukan yang muda untuk dapat arisan lebih dulu dengan harapan mereka bisa segera mendaftar haji. Antrian haji sekarang kan panjang sekali. Kalau tidak cepat mendaftar dikhawatirkan akan semakin lama bisa berangkat ke Tanah Suci. Yang muda diprioritaskan juga karena biasanya mereka kan banyak kebutuhan ya? Rumah, kendaraan, biaya pendidikan anak-anak. Kalau tidak disemangati dan didukung untuk segera berhaji, dikhawatirkan yang muda-muda jadi tidak memikirkan soal haji”

Embedded image permalink
Waktu tunggu ke Tanah Suci yang kian panjang, sumber foto : Kominfo


“Selain karena faktor finansial dan usia, yang sekiranya urgent untuk diprioritaskan misalnya karena faktor kesehatan, juga kami dahulukan untuk mendapatkan arisan lebih dulu” jawab Annisa.

“Wah, MasyaAllah, tradisi di keluargamu mengagumkan sekali Nis. Kebersamaannya bikin iri” ah, saya tak mampu menyembunyikan rasa cemburu.

“Alhamdulillah” jawab Annisa singkat.

“Hmmm, by the way cukup ya uang arisannya untuk bayar haji?” hehe, salah satu poin yang juga sangat penting untuk ditanyakan.

“Gak cukup sih sebenarnya Rin, apalagi kalau yang berangkat dua orang ya, kayak aku dan suami. Tapi nambahnya jadi gak seberat dibanding harus mengumpulkan dari nol. Kami pakai tabungan yang lain, dibantu ortu juga….”

Saya tertegun. Banyak sekali pelajaran sangat berharga yang saya dapat dari cerita Annisa.

* * *

Cerita Annisa dengan arisan keluarga-nya  yang memang diprioritaskan untuk biaya berhaji, bisa menjadi salah satu solusi alternatif yang bisa diterapkan oleh banyak keluarga Indonesia. Mekanisme ini, selain memudahkan untuk bersegera ke Tanah Suci, juga memiliki sekian banyak manfaat dan kebaikan.

Arisan adalah sebuah tradisi yang sudah cukup mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara turun temurun yang bahkan masih dipertahankan hingga sekarang. Artinya, arisan yang khusus diperuntukkan untuk haji atau umroh, relatif mudah diterima dan diterapkan baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja, komunitas maupun lingkungan sosial lainnya. Dan di antara sekian komunitas ini, arisan keluarga memiliki sejumlah keunggulan dan kelebihan.

Pertama, aspek keamanan lebih terjaga. Dalam beberapa waktu terakhir, penghimpunan dana masyarakat di Tanah Air kerap diwarnai oleh penyelewengan. Banyak terjadi, uang yang dihimpun dibawa lari atau disalahgunakan oleh penanggung jawab. Mekanisme kontrol dalam komunitas non keluarga umumnya kurang optimal karena antara anggota yang satu dengan yang lain tidak selalu saling mengenal. Bahkan tak jarang, para anggota juga tidak mengenal baik para pengelola atau penanggung jawab dana. Sehingga ketika terjadi masalah, penyelesaian seringkali susah diupayakan bahkan tanpa penyelesaian sama sekali. Akibatnya, banyak anggota atau nasabah yang dirugikan. Dalam arisan keluarga, di mana orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya adalah satu keluarga, mekanisme kontrol berjalan lebih optimal. Para anggota arisan umumnya tidak hanya saling mengenal dengan baik, namun juga memiliki ikatan emosional yang besar. Ini merupakan sebuah pengikat komitmen yang penting agar keberlangsungan arisan bisa terus berjalan dengan baik.

Kedua, mudah mendapatkan anggota. Banyak arisan tidak berjalan bahkan sedari awal dicetuskan, karena sulitnya mendapatkan peserta atau anggota. Arisan keluarga relatif mudah mendapatkan anggota karena keluarga Indonesia umumnya jumlahnya lumayan, terlebih jika yang diikutsertakan merunut ke atas, kakek nenek misalnya, bukan hanya ayah ibu. Dengan begitu, selain mengajak saudara kandung, paman dan bibi serta sepupu satu kakek juga bisa diikusertakan. Semakin banyak anggota keluarga yang ikut serta, maka dana yang dikumpulkan bisa lebih banyak.

Ketiga, mengedepankan prinsip saling tolong menolong. Arisan, khususnya arisan keluarga untuk berhaji, memungkinkan seseorang bisa mendapatkan dana talangan dengan cepat untuk mewujudkan impiannya bertamu ke rumah Allah. Cara ini memiliki keunggulan dibanding misalnya melalui tabungan haji. Tanpa bermaksud menafikkan pentingnya tabungan haji, melalui arisan keluarga seseorang tidak hanya akan memikirkan tentang haji-nya, namun juga bagaimana agar anggota keluarga yang lain juga bisa berhaji. Lebih dari sekedar memikirkan, arisan keluarga khususnya untuk berhaji memungkinkan setiap anggota keluarga untuk menyemangati sekaligus membantu yang lain secara nyata untuk mewujudkan impian bersama ke Tanah Suci.

Keempat, melestarikan kebersamaan keluarga yang kian memudar. Kebersamaan keluarga dalam masyarakat kita bisa dibilang mengalami banyak penurunan. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Kesibukan dan mobilitas para anggota keluarga yang semakin tinggi misalnya. Juga pengaruh pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi akhir-akhir ini. Pertemuan rutin keluarga secara langsung mulai tergeser bahkan kadang digantikan oleh ‘pertemuan maya’ melalui sejumlah media social seperti Facebook, BBM maupun Whatsapp. Pertemuan melalui jejaring sosial memang lebih murah sehingga frekuensinya bisa lebih intens. Hanya saja, bagaimana pun, pertemuan secara langsung tetaplah diperlukan. Dan arisan keluarga adalah salah satu sarana yang bisa dipilih agar para anggota keluarga tidak hanya bersua hanya pada saat Idul Fitri saja (glek, poin terakhir ini membuat penulis seperti keselek buah kedondong, hehehe….).

Kelima, mendaftar haji dengan dana talangan dari arisan keluarga bisa menjadi salah satu solusi alternatif yang sangat potensial bagi orang-orang yang karena sejumlah alasan/faktor, tidak bisa atau memang tidak mau melibatkan bank maupun lembaga keuangan sejenis sebagai partner untuk menalangi biaya haji mereka. Selain untuk berhaji, dana talangan yang didapat dari arisan keluarga sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk sejumlah keperluan lain seperti memiliki atau membangun rumah, penyelenggaraan resepsi pernikahan, dan sebagainya. Saya pernah mendapati sejumlah keluarga menerapkan cara ini.

Selain memiliki sejumlah keunggulan dan kelebihan di atas, arisan keluarga juga memiliki sejumlah kekurangan. Setidaknya dalam pemikiran saya usai meresapi cerita Annisa lebih dalam. Di antaranya, media ini mungkin efektif dan bisa berjalan dengan baik untuk keluarga yang mayoritas perekonomiannya terbilang mapan. Mengingat dana untuk haji relatif besar bagi kebanyakan keluarga Indonesia. Selain karena faktor ekonomi atau keuangan, kesamaan visi misi tentang ibadah haji. Bagi sebagian orang, haji mungkin masuk dalam kategori wajib dan penting. Mungkin tidak bagi sebagian yang lain. Visi misi yang tidak sama mengenai haji, meski satu keluarga, akan menjadi kendala besar bagi terbentuknya arisan keluarga khusus untuk haji.

Well, katakanlah arisan keluarga ini bisa menjadi sarana untuk mendapatkan dana talangan untuk daftar haji. Pertanyaan penting selanjutnya, bagaimana cara menyisihkan sebagian penghasilan untuk arisan haji yang jumlahnya pasti tidak sedikit meski bayarnya, kalau melihat arisan haji di keluarga Annisa, tidak setiap bulan tapi empat bulan sekali.

Harus ada niat dan komitmen yang kuat bahwa kita memang ingin segera ke Tanah Suci. Niat dan komitmen yang kuat akan membuat kita bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk arisan keluarga khusus haji. Selanjutnya buat skala prioritas. Pangkas pengeluaran atau pos yang tidak penting atau tidak mendesak karena pos untuk arisan haji sudah kita labeli sebagai ‘PRIORITAS’. Yang ketiga, disiplin. Bila tidak disiplin, arisan haji bisa putus di tengah jalan, yang imbasnya tidak hanya pada kita tapi bisa juga pada anggota keluarga yang lain.

Jadi, masih bingung mencari cara mendapatkan dana talangan untuk bersegera ke Tanah Suci? Semoga artikel ini membantu. Dan semoga saya dan keluarga juga bisa segera mewujudkannya. Aaamiiin....

* * *

15 komentar:

  1. aku jadi pengen nawarin sistem arisan haji ke keleuargaku. mudah2an kita semua diberi jalan ya u ke tanah suci. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good luck ya Mak Irul, aamiiin untuk doanya.... :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Sukses juga untuk Mbak Naqi, terimakasih Mbak :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Selamat mencoba Bu, semoga berhasil dan memberi banyak manfaat, salam kenal.... :)

      Hapus
  4. wahh...ide nya menarik nih.
    salam kenal ya mbak....

    BalasHapus
  5. Siippp banget ini mbak.
    Semoga juara yah

    BalasHapus
  6. hebaaaattt... ide cemerlang ini mba,cuma ya hrs kompak ya keluarganya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini ide yang berhasil diterapkan keluarga teman saya Mak Aira, saya juga salut makanya ditulis supaya menjaga inspirasi keluarga Indonesia yang lain. Iya, harus kompak... :)

      Hapus
  7. boleh juga mbak idenya... tapi ya kudu displin ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mak Sari, harus disiplin. Baik disiplin dalam konteks pribadi maupun disiplin dalam konteks komunitas. Efeknya bisa besar bahkan fatal kalau ada satu aja yang 'macet" :)

      Hapus
  8. Emang ya mbak, Innamal a'malu bin niyat hehe

    BalasHapus

 
;