Senin, 15 September 2014

Rubrik-rubrik Tulisan yang Hilang



 
Hilangnya rubrik-rubrik favorit di sejumlah media cetak adalah sebuah 'kesedihan' tersendiri bagi penulis. Hilang satu rubrik berarti hilang satu tempat dan kesempatan untuk mengaktualisasikan ide dan pemikiran. Bagi penulis yang menjadikan menulis sebagai sandaran finansial, hilangnya satu rubrik berarti hilang satu pintu penghasilan.

Sejak mulai mencoba menembus media menjelang akhir 2010, saya mencatat setidaknya ada empat rubrik yang hilang di media cetak. Beruntung, di keempat rubrik tersebut, tulisan saya pernah dimuat. Beberapa di antaranya bahkan dimuat beberapa waktu sebelum rubrik tersebut hilang. Berikut keempat rubrik yang hilang itu :

1. Rubrik Opini Harian Surya Surabaya

Harian Surya adalah surat kabar di kota Surabaya yang berada di naungan Kompas. Di rubrik ini, tulisan saya pernah dimuat sekali, yakni pada medio Desember 2010. Saya lupa kapan tepatnya rubrik Opini di harian ini hilang. Sepertinya beberapa bulan setelah tulisan saya dimuat.

2. Rubrik Opini Harian Jurnal Nasional

Rubrik Opini lain yang juga 'tutup usia' adalah rubrik Opini di Harian Jurnal Nasional atau sering juga disebut Jurnas. Media ini terbit di Jakarta dan termasuk rubrik favorit saya dan teman-teman. Salah satunya karena setiap harinya ada dua tulisan yang dimuat, sehingga peluangnya lebih besar. Honornya pun lumayan dan terbilang lancar :)

3. Rubrik Gagasan Jawa Pos

Rubrik ini adalah salah satu rubrik favorit ibu-ibu, karena bisa menjadi tempat 'curhat' dan 'sharing' ide sederhana tentang keseharian, sekaligus sebagai sarana untuk melatih kemampuan menulis. Sayang, rubrik ini sejak akhir Agustus lalu sepertinya, akhirnya juga wassalam. Hiks....

4. Rubrik Cerita Anda Parenting Indonesia

Selain media cetak (koran), adalah majalah juga yang ternyata ikutan menutup rubriknya, hiks lagi. Yakni rubrik 'Cerita Anda' di majalah Parenting Indonesia. Saya agak telat mengetahui info ini karena tidak berlangganan. Beruntung, satu tulisan saya pernah dimuat di majalah ini tahun lalu. Setidaknya bisa menjadi kenang-kenangan untuk anak-anak bahwa cerita tentang mereka pernah dimuat di majalah.

15 komentar:

  1. Kalau di Leisure Republika, yang menghilang Rubrik jalan-Jalan Religi. :) ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada rubriknya penggantinya gak Mbak? :)

      Hapus
  2. Wah, cerita anda dah nggak ada?..hilang deh lahanku..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kabarnya sudah cukup lama Mbak, tapi saya tidak tau pasti. Sudah dimuat dua kali ya Mbak di rubrik ini? Semoga setelah ini menemukan rubrik pengganti ya Mbak :)

      Hapus
  3. Semoga ada rubrik-rubrik baru sebagai gantinya ya, Mbak.. biar ada lahan baru.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiiin :) Hikmah baiknya, dengan ditutupnya sebuah rubrik yang jadi langganan, biasanya kita akan memperluas 'pandangan' hingga mendapatkan rubrik baru yang sebenarnya tidak benar-benar baru, tapi kitanya saja yang baru tau :)

      Semangat terus menulis ya Mbak :)

      Hapus
  4. Di Republika tidak ada penggantinya, Mbak Rin. Benar sekali kata Mbak Rin, kehilangan sebuah lahan akan 'mamaksa' kita memperluas pandangan untuk menemukan lahan baru. Meneliti kembali media-media lain, siapa tahu ada spot yang kita lewatkan. ira

    BalasHapus
  5. padahal saya suka tuh rubrik yang kelima , entah kenapa dihilangkan ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya yang keempat Mbak Rina? Sayapun merasa kehilangan :)

      Hapus
  6. Wah....aku baru coba2 pengen nulis di rubrik Gagasan Koran Jawa Pos.....eh taunya sudah gak ada lagi ya Mbak? Padahal rubrik2 seperti itu peluang dimuatnya akan lebih besar ya karena opini yang kita sampaikan itu sifatnya informasi dan berdasarkan pengalaman kita saja... Kalau nulis artikel2 yang gak terlalu banyak kata2nya seperti rubrik "Gagasan" aku masish mampu rasanya... Hilang deh kesempatan mencari ladang manis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, saya juga berpikir begitu :) btw di Radar Surabaya ada rubrik Opini yang kapasitas katanya maks hanya 500 kata Mbak, mungkin bisa dicoba sebagai 'media pengganti'. Saya lihat topik yang dimuat biasanya gak terlalu berat....

      Hapus
  7. Wah, sayang sekali rubrik Gagasan hilang ya mbak? Beruntung tulisan perdanaku pernah dimuat disini dan berhasil kudokumentasikan, berkat bantuan dari mbak Ririn juga :)
    Oya, untuk Opini Radar Surabaya biasanya tema yang dimuat seperti apa mbak? Boleh tau alamat emailnya g? Terima kasih sebelumnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. temanya umum Mbak Enda, seperti Opini pada umumnya, hanya saja jumlah katanya lebih sedikit, sekitar maks 500 kata. Bisa langsung dicek di webnya setiap hari, free :) Cuma saya perhatikan sepertinya belum tentu setiap hari ada Opini. Ini link yang hari ini Mbak, http://radarsby.com/radarsurabaya%20pdf/2.pdf.

      Saya baru pertama kali dimuat, ini linknya http://ririnhandayani.blogspot.com/2013/01/tentang-ibu-isme-masa-kini.html

      Selamat mencoba :)

      Hapus
  8. tips-tips menulis artikel di koran bisa di-sahre gak mbak? Thanks

    BalasHapus

 
;