Kamis, 25 September 2014

Lompatan Besar Hidup TKI Berkat Teknologi Komunikasi


Tulisan TKI NOT 4 SALE di Solo, Jawa Tengah
TKI Not 4 Sale, Sumber Foto : store.tempo.co

Awal-awal menjadi pengguna Facebook sekitar awal 2009, saya banyak berteman dengan teman-teman Tenaga Kerja Indonesia atau TKI, terutama yang bekerja di Singapura, Korea dan Hongkong. Sebagian besar dari mereka sengaja saya add terlebih dahulu, karena keunikan sosok mereka di jejaring sosial.

Mayoritas teman-teman TKI saya di Facebook ketika itu adalah pekerja rumah tangga. Sebuah jenis pekerjaan yang kalau di dalam negeri, seringkali identik dengan lulusan Sekolah Dasar (SD), bahkan banyak yang tidak lulus dan tidak bisa baca tulis, gagap informasi dan teknologi, gaya hidup dan cara pandang yang jadul, dan sejumlah stigma inferior lainnya. Sangat berkebalikan dengan teman-teman TKI di dunia maya. Sekalipun profesinya sama-sama mbabu, tapi mereka memiliki sejumlah nilai plus yang sangat luar biasa.


Pertama, dari segi penampilan. Teman-teman TKI di dunia maya nampaknya berhasil mendobrak stigma bahwa babu atau pembantu identik dengan baju lusuh dan kumal. Lihat saja foto profil mereka. Banyak yang terlihat elegan bak mahasiswa, bahkan tak kalah dengan penampilan para artis yang modis dan trendi.

Penampilan mungkin bisa menipu, tapi mari coba kita lihat kelebihan mereka yang kedua, pemikirannya. Banyak TKI yang sangat piawai merangkai kata untuk mengungkapkan pemikiran yang kritis dan brilian. Tentang banyak hal. Tak hanya soal hak mereka yang sering tertindas, tapi juga tentang banyak persoalan pelik di negeri ini. Soal politik misalnya.

Tak hanya bercuap-cuap di jejaring sosial, banyak buah pikiran TKI yang dimuat di berbagai media baik dalam maupun luar negeri, bahkan dibukukan. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa karena kemampuan menulis apalagi sampai dimuat di media dan dibukukan biasanya identik dengan kelompok masyarakat intelektual.

Ketiga, piawai berbahasa asing. Sejumlah teman TKI sangat piawai menggunakan bahasa asing saat menulis status di Facebook, Twitter atau memosting artikel di blog. Tak hanya bahasa Inggris yang memang sudah mendunia, namun juga sejumlah bahasa asing lain seperti Melayu untuk yang bekerja di Malaysia dan Singapura, ataupun bahasa Kanton untuk yang bekerja di Hongkong.

Sejumlah keunikan di atas membuat mereka masuk dalam list saya sebagai orang yang asyik dan perlu diajak berteman di dunia maya. Dari mereka saya menjadi tahu langsung bagaimana kehidupan para buruh migran di luar negeri. Sebuah topik yang sangat saya minati dalam beberapa tahun terakhir. Tak hanya soal kisah hidupnya, namun juga perjuangan mereka untuk meraih kehidupan yang lebih baik sejak di dalam negeri hingga kembali ke Tanah Air setelah kontrak kerja habis. Hal lain yang juga membuat saya terpukau adalah bagaimana teknologi komunikasi telah memberi andil sangat besar dalam kehidupan TKI kita. Dari yang semula orang desa, lugu dan tidak tahu apa-apa, menjadi sosok yang brilian, komunikatif bahkan memiliki banyak karya dan penggemar.


Bermula dari Ponsel

Dari sejumlah pengamatan dan obrolan singkat saya dengan beberapa teman TKI dan keluarganya, saya ketahui bahwa ternyata telepon seluler (ponsel) adalah salah satu benda yang pertama kali mereka beli saat mendapat gaji pertama. Sangat masuk akal, karena benda satu ini memiliki fungsi vital untuk menyambung komunikasi antar mereka terutama untuk melepas rindu dan saling bertukar kabar. Kebutuhan yang satu ini sudah masuk kategori wajib di masyarakat kita, apalagi mereka yang tinggal berjauhan lintas negara bahkan benua.

Bulan-bulan pertama, jenis ponsel yang digunakan mungkin hanya bisa untuk telepon dan berkirim pesan singkat. Seiring waktu, sejalan dengan bertambahnya pendapatan dan semakin berkurangnya utang, serta harga perangkat teknologi komunikasi yang semakin murah dan terjangkau, mereka mulai bermigrasi ke ponsel pintar dengan fitur yang semakin lengkap dan canggih. Dengan ponsel pintar, mereka tak lagi hanya bisa saling mendengar suara, namun juga bisa saling bertatap muka. Komunikasi yang intens dengan biaya murah, membuat jarak seolah tak lagi bersekat. Hati menjadi lebih tenang sehingga masing-masing bisa lebih konsentrasi pada pekerjaan atau kegiatannya, baik bagi TKI yang sedang bekerja di luar negeri maupun keluarga yang ditinggalkan.


Teknologi Komunikasi Membuat TKI Melek Literasi

Bagi TKI yang bekerja di luar negeri, kehadiran ponsel pintar tak lagi hanya sebagai sarana komunikasi dengan keluarga di kampung halaman. Mereka juga menjadikannya sebagai media untuk terus belajar dan membuka diri dengan dunia luar. Salah satunya dengan aktif di jejaring sosial dan aktif memantau berita terkini di sejumlah portal berita.

Tidak semua teman-teman TKI memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan teknologi komunikasi dengan baik. Berdasarkan obrolan dengan sejumlah teman buruh migran, kesempatan ini terutama sangat terkait dengan kondisi dan aturan negara tempat mereka bekerja. Hongkong, Korea dan Singapura relatif lebih terbuka. Sedang Arab Saudi cenderung lebih tertutup. Inilah mengapa teman-teman TKI yang biasanya cukup eksis di dunia maya mayoritas adalah mereka yang bekerja di tiga negara tersebut (Hongkong, Korea dan Singapura).

Faktor lain yang juga mempengaruhi kesempatan TKI untuk aktif di dunia maya adalah intensitas pekerjaan dan sikap majikan. Ada TKI yang pekerjaannya sangat padat dengan sikap majikan yang ketat, sehingga kesempatan untuk berselancar biasanya mereka dapat hanya ketika jam istirahat atau malam hari. Namun ada pula buruh migran yang pekerjaannya tidak terlalu berat dan majikan yang lebih toleran. Misalnya, hanya mengurusi satu anak usia sekolah dengan ayah ibu yang keduanya bekerja. Saat si anak sekolah dan pekerjaan rumah sudah beres, banyak teman TKI yang memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari informasi sebanyak mungkin di dunia maya.

Menjadikan perangkat teknologi informasi sebagai media belajar membuat TKI tak lagi seperti katak dalam tempurung yang hanya sibuk berjibaku dengan urusan pekerjaan domestik atau pabrik. Melek informasi, melek teknologi, akhirnya membuat membuat mereka melek literasi. Mereka tak hanya mampu meraup informasi dan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin, tapi juga mampu mencernanya dengan lebih baik, mengolahnya lalu menuangkan kembali dalam bentuk karya atau sikap kritis yang bisa memberi solusi alternatif. Yang tak kalah penting, mereka menjadi tahu apa saja hak dan kewajiban mereka sebagai pekerja migran. Tak hanya tahu hak dan kewajibannya, banyak TKI yang bersikap kritis dan berani ‘bersuara’ ketika mendapati ketidakadilan. Sesuatu yang sangat memudahkan pemerintah untuk lebih melindungi mereka.


Melompat Lebih Tinggi Melalui Pendidikan Jarak Jauh

Kehadiran perangkat teknologi komunikasi yang semakin murah dan terjangkau, memungkinkan teman-teman TKI bisa ‘melompat lebih tinggi’ di bidang pendidikan formal. Yakni melalui kejar paket dan pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka. Sebuah kesempatan yang luar biasa karena TKI terutama yang bekerja di sektor informal seperti pembantu rumah tangga, banyak yang hanya lulusan SMA, bahkan ada pula yang SMP dan SD. Dengan adanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal, mereka seperti sambil menyelam minum air.

Ada modal yang bisa mereka kumpulkan saat bekerja di luar negeri, pengalaman berharga tinggal di negeri orang, kemampuan bahasa asing yang semakin terasah, akan membuat mereka lebih siap memulai hidup baru sekembalinya ke Tanah Air jika masih ditambah dengan pendidikan formal. Pemerintah cukup concern akan hal ini dengan ditambahnya sejumlah fasilitas dan kemudahan bagi TKI untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak hanya melalui hadirnya sekolah dan universitas jarak jauh, namun juga dengan memperbaiki perjanjian kerjasama dengan negara yang bersangkutan. Misalnya dengan ketentuan hari libur setidaknya satu hari dalam sepekan sehingga memungkinkan TKI memiliki waktu yang cukup untuk belajar.

Kemudahan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi-lagi sangat terbantu oleh hadirnya teknologi komunikasi, terutama internet. Bagi mahasiswa Universitas Terbuka misalnya. Sejumlah tatap muka dilakukan secara online. Di luar tatap muka formal, teknologi komunikasi juga memudahkan mahasiswa untuk belajar secara mandiri.


Mempersiapkan Masa Depan Lebih Baik

Memiliki kehidupan yang lebih baik sekembalinya ke Tanah Air menjadi impian besar semua TKI. Tapi, modal saja tidak cukup. Dibutuhkan kemampuan dan skill yang memadai serta jaringan yang luas. Itulah mengapa banyak teman TKI yang jauh hari sebelum kepulangannya telah menggali informasi sebanyak mungkin tentang peluang bisnis dan pekerjaan yang mungkin dilakoni sekembalinya ke Tanah Air.

Ada yang bertanya tentang budidaya tanaman dan hasil perkebunan, budidaya hewan ternak, pengembangan kerajinan tangan dan makanan tradisional hingga peluang bisnis laundry, air minum dan katering. Akses informasi yang pesat telah membuka cakrawala pikir mereka jauh ke depan. Orientasi hidup tak lagi hanya bersenang-senang sesaat menikmati hasil jerih payah bekerja di negeri orang tetapi bagaimana hasil usaha itu bisa mengubah taraf hidup pribadi dan keluarganya secara signifikan. Tak hanya itu, ada pula TKI yang sampai memikirkan bagaimana caranya menciptakan lapangan kerja di kampung halamannya yang bisa menaikkan taraf perekonomian masyarakat sekitar. Agar masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan generasi muda tak perlu meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab yang lebih utama untuk mengais rizki di negeri orang. Luar biasa.

Perangkat teknologi komunikasi lagi-lagi sangat membantu TKI untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik, baik bagi diri maupun keluarga bahkan masyarakat sekitar. Melalui teknologi komunikasi yang semakin murah dan mudah, khususnya internet, mereka bisa mencari informasi sebanyak mungkin tentang berbagai kemungkinan dan peluang. Tak sedikit yang kemudian membentuk jaringan dan kerja sama sehingga ketika kembali ke Tanah Air, mimpi-mimpi besar mereka lebih mudah diwujudkan.


Teknologi Komunikasi Memungkinkan TKI Berbagi

Kisah sukses TKI di luar negeri acapkali menjadi daya tarik besar bagi banyak generasi muda untuk memilih jalan yang sama. Melalui media teknologi komunikasi, TKI yang telah sukses berjuang di negeri orang dapat berbagi kisah inspiratifnya pada orang lain. Agar orang lain bisa belajar dan bisa mempersiapkan diri lebih baik jika memang tertarik melalui jalan yang sama. Banyak hal yang bisa dibagi. Misal, penentuan negara tujuan, jenis pekerjaan, tips memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat, bagaimana membuat jaringan, bagaimana memanfaatkan modal untuk keperluan yang produktif sehingga tabungan yang didapat tidak habis begitu saja, dan masih banyak hal lain yang bisa dibagi.

Sebaliknya, TKI yang memiliki pengalaman buruk saat bekerja di luar negeri juga tetap bisa membagikan pengalamannya, agar orang lain bisa belajar dan berupaya mengantisipasi sejak dini. Misal, menghindari kemungkinan human trafficking yang kerap dilakukan oleh PJTKI, memahami hak dan kewajibannya sebagai pekerja migran,  bagaimana cara mengadu ke KBRI atau lembaga terkait jika ada masalah, dan sebagainya. Banyak media yang bisa digunakan untuk sarana berbagi, selain jejaring sosial seperti Facebook, banyak TKI yang membagikan kisahnya melalui tulisan di blog, komunitas di dunia maya, citizen journalism, dan sebagainya. 


Buku Karya Anung D'Lizta dan kawan-kawan TKI lainnya
Salah satu karya teman-teman TKI, sumber foto : buruhmigran.or.id
 
Akhir kata, kehadiran teknologi komunikasi telah membantu saudara-saudara kita yang bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia atau TKI melakukan lompatan sangat besar dalam hidupnya, terutama dalam bidang pendidikan dan keterampilan, baik formal maupun informal. Teknologi komunikasi telah ‘menyulap’ banyak TKI yang dulunya hanya orang desa yang lugu, tamatan SMP, menjadi sosok pembelajar dengan wawasan dan kemampuan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan tak sedikit yang kemudian bisa memiliki karya dan jaringan luar biasa.

Bersama modal yang mereka kumpulkan selama bekerja di luar negeri, pengalaman dan skill tambahan selama berada di negeri orang, memungkinkan mereka bisa meraih kehidupan yang lebih baik sekembalinya ke Tanah Air. Seharusnya kita tak boleh kalah dari mereka…. :)



1 komentar:

 
;