Senin, 29 September 2014

Belajar dari Kearifan Finansial Perempuan-perempuan Tempo Dulu


Sumber Foto : Liveolive.com

Seorang teman yang tengah berduka karena kepergian ibunya untuk selama-lamanya, bercerita betapa ia sangat terhenyak saat mengetahui betapa sangat baiknya pengelolaan keuangan yang dilakukan ibunya semasa hidupnya. Sebuah ‘rahasia’ yang baru dibeberkan sang ibu beberapa saat menjelang kepergiannya.

“Ibuku ternyata sangat detil mengingat semua utang dan piutang, kepada siapa dan berapa jumlahnya” terang teman saya tadi.

Tak hanya itu, dalam kondisi sakit parah, teman saya yang kebetulan anak tertua dalam keluarga, diminta untuk mencatat semua daftar kekayaan yang dimiliki keluarganya. Si anak terpukau, banyak sekali yang ia tidak ketahui selama ini. Dan ia kian takjub saat mengetahui bahwa sang ibu telah mempersiapkan banyak hal untuknya dan adik-adiknya. Misal, hasil panen kebun ditujukan untuk biaya pendidikan si tengah. Sedang hasil panen padi di sawah untuk persiapan biaya si bungsu yang tak lama lagi memasuki jenjang perguruan tinggi. Ia semakin tak tahan menahan tangis sangat mengetahui si ibu ternyata juga telah mempersiapkan biaya pernikahannya dalam jumlah yang tak sedikit, berupa sejumlah hewan ternak dan perhiasan emas.


Teman lain yang ditinggal ayahnya saat masih kecil juga pernah bercerita tentang betapa tangguhnya sang ibu yang tiba-tiba harus merawat ketujuh anaknya seorang diri. Padahal, sebelumnya, ibunya hanya ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak-anak. Tak butuh lama bagi sang ibu untuk segera  move on, dari tulang rusuk menjadi tulang punggung dalam keluarga. Di bawah kepiawaan sang ibu melanjutkan estafet perjuangan dari almarhum suaminya, teman saya dan keenam saudaranya bisa menjadi sarjana semua.

Kearifan finansial orang tua terutama ibu dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan di masa depan juga kerap saya dengar langsung dari sejumlah kerabat. Banyak di antara mereka yang tidak hanya telah mempersiapkan tabungan masa depan untuk pendidikan dan bekal berumah tangga anak-anaknya, bahkan ada juga yang sampai mempersiapkan berbagai kebutuhan saat mereka sudah tiada. Dalam masyarakat Jawa misalnya, yang sebagian di antaranya masih banyak yang melangsungkan perayaan kematian hingga hari ketujuh, peringatan 40 hari, 100 hari, hingga satu tahun. Peringatan ini seringkali membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Banyak orang tua yang tidak ingin peringatan kematian mereka menjadi beban bagi anak dan cucunya. Hingga sejak jauh hari, kebutuhan yang satu ini masuk dalam ‘tabungan masa depan’ mereka.

Dari sejumlah kearifan finansial di atas, saya menjadi tercenung, betapa sangat bagusnya kecerdasan finansial para orang tua, terutama perempuan tempo dulu. Manfaat dari kearifan finansial mereka tidak hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri, tapi juga oleh anak cucu mereka. Bahkan mungkin juga generasi setelahnya. Tidak hanya untuk semasa mereka masih hidup, bahkan juga setelah kepergiannya. Dari berbagai kisah, baik yang saya saksikan langsung atau sekedar mendengarkannya dari sharing beberapa teman dan kerabat, saya mencoba menginventaris sejumlah ‘resep rahasia’ mereka dalam mengelola keuangan secara bijak. Dan berikut sejumlah ‘resep rahasia’ tersebut.


Resep Terbesar : Hidup Sederhana dan Hemat

Hemat pangkal kaya, hemat pangkal sejahtera. Inilah resep rahasia utama yang saya ‘catat’ dari kearifan finansial orang tua tempo dulu. Untuk resep yang satu ini, saya masih berkesempatan menyaksikannya secara langsung dari kakek nenek saya. Betapa mereka sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal makanan dan pakaian.

Meski kakek nenek terbilang cukup berada, lauk istimewa seperti daging biasanya hanya ada ketika ada perayaan atau hari besar. Begitu pula dengan pakaian baru. Saya sempat berpikir, mereka pelit. Jadul sekali pemikirannya yang begitu membatasi diri untuk bersenang-senang. Hehe. Ternyata, di balik kesederhanaannya, mereka memiliki orientasi jauh ke depan. Untuk masa depan anak-anak bahkan cucunya nanti.

Sikap sederhana ternyata juga menjadi salah satu karakteristik utama sejumlah orang terkaya di dunia. Warren Buffet misalnya. Pria yang dinobatkan menjadi orang terkaya ketiga di dunia pada tahun 2011 lalu dengan total kekayaan mencapai Rp 439 triliun ini, menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Begitu pula dengan sejumlah miliarder dunia lainnya seperti Ingvard kampard (pemilik gerai ritel furniture Ikea) dan Chuck feeney (pendiri Duty free store), juga sangat terkenal dengan kesederhanaan mereka dalam kehidupan sehari. Dalam soal rumah dan kendaraan misalnya. Padahal jika mau, menjalani kehidupan glamour sangat mudah mereka lakukan. Tapi mereka memilih hidup sederhana.

Kearifan finansial yang utama ini nampaknya sudah semakin luntur dalam kehidupan orang-orang muda di masa sekarang. Berkebalikan dengan orang tua tempo dulu yang banyak memilih hidup sederhana meski kekayaannya sangat berlimpah, banyak orang muda masa sekarang yang justru hidup sebaliknya. Bermewah-mewah meski sebenarnya tidak punya apa-apa.


Saving First!

Jika hanya mengalokasikan sedikit saja dari pendapatan dan harta yang dimiliki untuk hidup sehari-hari, lalu ke manakah sejumlah besar lainnya dialokasikan? Inilah salah satu pertanyaan besar yang acapkali bergemuruh di kepala, terutama saat saya masih anak-anak dulu. Ternyata, dalam kasus ibu saya juga beberapa ibu teman-teman lain, sebagian dari pendapatan itu dialokasikan untuk tabungan. Uniknya, menabung di sini bahkan menjadi kebutuhan dan prioritas. Bukan jika ada sisa. Istilahnya, saving first.

Dan lagi, sikap hidup yang satu ini ternyata juga menjadi salah satu resep rahasia orang-orang terkaya di dunia. Seperti yang dinasihatkan Warren Buffet misalnya, do not save what is left after spending but spend what is left after saving. Utamakan berhemat, gunakan sisanya dengan bijak. 

Karena pada jaman dulu keberadaan bank belum sepopuler sekarang, tabungan yang paling sering dipilih oleh para orang tua, terutama ibu biasanya melalui barang perhiasan. Perhiasan di sini memiliki fungsi ganda, yakni sebagai perhiasan sekaligus investasi. Perhiasan dipilih karena bisa dibeli dalam jumlah sedikit, yang bisa terus dikumpulkan seiring dengan bertambahnya tabungan. Jika jumlahnya sudah banyak, bisa untuk membeli barang investasi yang lebih besar dan bisa lebih menghasilkan, tanah misalnya.

Menabung dan berinvestasi sebagai prioritas dan kebutuhan para orang tua tempo dulu agak berkebalikan dengan tren orang muda masa sekarang yang biasanya menjadikan menabung bukan sebagai prioritas, hanya jika kebetulan ada sisa uang berlebih. Bukan saving first, but lifestyle first. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam besar pasak daripada tiang. Pendapatan bulan depan sering sudah habis untuk kebutuhan bulan ini.


Kreatif Mengoptimalkan Sumber Daya di Sekitar

Tak hanya suka hidup sederhana dan gemar menabung, para orang tua terutama ibu jaman dulu juga sangat kreatif dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada di sekitar. Pekarangan misalnya. Mereka menanaminya dengan sejumlah sayuran dan buah, yang hasilnya bisa digunakan untuk menu sehari-hari bahkan sebagian lagi bisa dijual yang bisa menambah penghasilan keluarga.

Pekarangan yang cukup memadai bahkan juga digunakan untuk memelihara hewan ternak seperti ayam. Untuk yang satu ini, ibu saya bahkan pernah bercerita bahwa memelihara hewan ternak bisa jadi ‘wajib’ hukumnya pada keluarga tempo dulu.

“Adanya hewan ternak di rumah, seperti ayam, akan membuat sisa makanan di rumah tidak mubazir” demikian ibu saya bercerita.

Selain membuat makanan sisa tidak terbuang percuma, adanya hewan ternak membuat keluarga yang memeliharanya tidak perlu mengeluarkan biaya lagi saat ada perayaan yang biasanya menyuguhkan lauk istimewa seperti opor ayam. Dengan demikian, mereka bisa berhemat dan sekaligus lebih sehat.

“Ayam sewaktu-waktu juga bisa dijual jika kita membutuhkan uang tambahan segera” tambah ibu saya.

Jika tidak ada hewan ternak untuk menghabiskan sisa makanan, para ibu jaman dulu tidak kehabisan akal  agar sisa makanan terutama nasi, tetap tidak terbuang percuma. Mereka mengolahnya menjadi kerupuk puli yang nyami. Kerupuk ini bisa menjadi teman makan bersama sayur dan lauk lain, atau bisa juga menjadi camilan, yang berarti akan menghemat belanja karena tak perlu membeli. Sikap kreatif ini pula yang nampaknya sangat membantu para ibu untuk mudah dan segera move on manakala mereka harus berubah fungsi dari tulang rusuk menjadi tulang punggung saat hal tak terduga terjadi.


Mereka Juga Suka Utang dan Kredit Lho, Tapi….

Hidup sederhana dan gemar menabung apakah akan membuat para orang tua tempo dulu lantas tak perlu lagi bahkan anti berutang? Tidak juga ternyata. Ada kalanya kebutuhan lebih besar dari pendapatan. Kadang uang yang ada tak cukup untuk membeli barang yang sangat dibutuhkan. Dalam situasi ini, berutang atau kredit, menjadi salah satu solusi.

Saya masih ingat saat kecil dulu, ada abang tukang kredit yang menjadi idola ibu-ibu sekitar rumah. Saat si abang kredit datang, ibu-ibu mengerumuninya. Setelah kerumunan bubar, barang si abang biasanya akan berkurang banyak. Ibu-ibu jaman dulu ternyata juga demen kredit lho J Tapi, barang yang mereka kredit, yang umumnya adalah barang-barang keperluan rumah tangga seperti panci, wajan dan rantang, biasanya adalah barang-barang yang memang sangat mereka butuhkan. Barang-barang ini sangat dibutuhkan terutama ketika harus masak besar.

Biarpun juga suka kredit, ternyata mereka juga gak asal kredit lho. Saya perhatikan, selain memang barang yang dibutuhkan, barang yang mereka kredit biasanya adalah barang yang mereka memang belum memilikinya. Ini agak berkebalikan dengan tren ngredit jaman sekarang. Selain suka mengredit barang-barang yang tidak selalu masuk kategori ‘wajib’, banyak orang masa sekarang yang suka mengredit barang yang sebenarnya mereka sudah punya. Gadget misalnya.

Banyak orang suka mengredit barang yang satu ini bukan karena mereka belum punya, tapi karena tertarik pada keluaran terbaru. Biasanya, ini lebih karena tuntutan gaya hidup dan prestis, bukan karena faktor kegunaan. Pola yang sama juga sering terjadi pada kendaraan. Sering gonta-ganti kendaraan bukan karena kendaraan yang lama kurang memadai lagi penggunaannya, namun karena tergoda dengan kendaraan model terbaru yang baru saja rilis.

Tidak mudah tergoda dengan merk ternyata juga menjadi salah satu resep rahasia para miliarder lho. Seperti yang dikatakan Warren Buffet, jangan memaksakan diri untuk memiliki barang-barang bermerk, pakailah apa yang sekiranya nyaman bagi Anda. Para orang tua kita yang mungkin tidak kenal siapa itu Warren dan rahasianya menjadi kaya, ternyata banyak yang sudah memraktikkan nasihatnya.


Punya ‘Simpanan Rahasia’

Simpanan rahasia di sini maksudnya adalah simpanan uang atau barang perhiasan, atau tabungan dalam bentuk lain yang keberadaannya seringkali dirahasiakan oleh ibu. Baru mereka keluarkan ketika keluarga dalam situasi sangat membutuhkan sedang tak ada lagi simpanan yang bisa digunakan. Saya beberapa kali menyaksikan langsung, dan merasa sangat takjub, ketika keuangan keluarga dalam situasi sangat genting, tiba-tiba ibu mengeluarkan ‘simpanan rahasia’-nya dalam jumlah yang kadang tidak sedikit. Bagaimana bisa, sedang mayoritas ibu jaman dulu banyak yang tidak bekerja. Lagi-lagi, mereka bisa memiliki simpanan rahasia karena sikap kreatif mereka dan orientasi menabung yang sangat besar.

Kreativitas dalam menyajikan menu sehat dan menggugah selera tanpa menyedot banyak anggaran, membuat ibu bisa menyisihkan sedikit uang untuk tabungan rahasia. Sisa uang belanja yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun, dan berusaha menahan diri untuk tidak membelanjakannya untuk keperluan yang konsumtif, acapkali menjadi ‘malaikat penolong’ saat keluarga tengah menghadapi krisis keuangan.

Selain dari sisa uang belanja harian, sumber ‘simpanan rahasia’ ibu lainnya biasanya dari penjualan hasil pekarangan atau ternak yang mereka pelihara sehari-hari. Kadang, ibu juga menyisihkannya dari ‘jatah’ mereka untuk pakaian atau kecantikan. Sungguh luar biasa kearifan finansial mereka. Para ibu berpikir jauh ke depan, saat keluarga tiba-tiba membutuhkan banyak dana. Sehingga mereka rela menyisihkan apa yang menjadi ‘hak’nya sebagai dana cadangan rahasia.


Beda Jaman, Beda Tantangan

Seiring waktu yang terus berlalu dan jaman yang terus berganti, orang muda masa kini menghadapi tantangan yang berbeda dengan orang tua jaman dulu, terutama dilihat dari segi ‘tantangan’ dan ‘godaan’. Misal, mungkin relatif lebih mudah bagi ibu-ibu jaman dulu untuk hidup sederhana dan gemar menabung karena karena godaan gadget dan fashion tidak segila sekarang. Terkait dengan ini, menarik apa yang dikemukakan oleh para miliarder tingkat dunia yang memilih hidup sederhana meski bergelimang harta, yakni bahwa hidup sederhana adalah pilihan yang muncul dari dalam diri, bukan semata karena faktor lingkungan atau dorongan dari luar. Artinya, kitalah yang memegang kendali utama atas diri kita. Terbawa arus jaman, atau tetap memegang teguh prinsip?

Godaan yang semakin bertambah bukankah juga diiringi dengan sejumlah kemudahan untuk menabung dan berinvestasi? Ini keuntungan kita yang hidup di masa sekarang. Ibu-ibu jaman dulu biasanya hanya menabung dalam bentuk perhiasan karena pilihan investasi memang masih sangat terbatas. Nyatanya, pilihan terbatas tak menghalangi mereka untuk terus menabung. Sedang kita sekarang, bank bertaburan di mana-mana. Pilihan investasi lainnya juga banyak.

Soal peluang berkreativitas juga seperti dua sisi mata uang. Berbagai kemudahan seringkali mematikan kreativitas kita. Soal makanan misalnya. Mudah mendapatkan makanan siap santap membuat banyak ibu jadi enggan memasak. Namun di sisi lain, waktu yang dihabiskan untuk masak bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang bersifat produktif, seperti menjalankan bisnis online atau mengembangkan hobi yang bisa menghasilkan uang.

Ibu-ibu jaman dulu biasanya hanya berkutat pada pekarangan dan hewan ternak untuk menghasilkan uang tambahan, sedang ibu masa sekarang ‘dimanjakan’ oleh banyak fasilitas dan kemudahan. Dengan hadirnya perangkat teknologi komunikasi yang semakin canggih dan murah misalnya. Benda ajaib ini memungkinkan ibu mengembangkan banyak usaha sampingan yang sangat bervariatif. Hasilnya pun bisa berlipat ganda dari sekedar mengoptimalkan pekarangan dan memelihara hewan ternak.

Soal ‘jaring pengaman’ juga beda. Jaman dulu belum ada yang namanya asuransi kesehatan, sehingga setiap keluarga mau tidak mau harus mengalokasikan tabungan khusus untuk kesehatan. Sedang kini, adanya asuransi kesehatan membuat kita lebih tenang. Tapi, resiko yang mengancam kesehatan juga semakin besar. Jaman dulu, jenis dan frekuensi sakit mungkin belum semengkhawatirkan sekarang karena kondisi lingkungan yang masih terjaga dan pola hidup yang jauh lebih sehat. Beda jaman memang beda tantangannya. Setiap masa memiliki karakteristiknya sendiri. Tantangan kita untuk menjadi ‘pemenang’, di jaman apapun kita hidup.



Menjadi Perempuan Melek Finansial Masa Kini

Sejumlah kearifan finansial perempuan tempo dulu di atas merupakan ilmu sangat berharga yang sangat kita butuhkan untuk menjadi perempuan melek finansial di masa sekarang. Prinsip-prinsip dasar seperti hidup sederhana, suka menabung, bijak menentukan skala prioritas dan kreatif merupakan prinsip-prinsip dasar yang masih relevan dengan masa sekarang. Tren investasi yang semakin beragam dan tantangan hidup yang semakin kompleks mengharuskan kita untuk memiliki formulasi yang tepat. Terkait bagaimana mengalokasikan pendapatan secara bijak dan tepat, tips dari Sun Life Financial Indonesia berikut bisa menjadi pegangan :

Foto dari Fanpage Brighter Life Indonesia

Berdasarkan gambar di atas, harus ada ‘keseimbangan’ antara pengeluaran rutin, gaya hidup, pos investasi, sosial, dana darurat, juga cicilan dan pos asuransi. Artinya, jangan sampai pendapatan habis hanya untuk keperluan masa kini (terutama untuk pengeluaran rutin dan gaya hidup), dan mengabaikan keperluan jangka panjang dan investasi. Dalam hal ini, kemampuan kita untuk menentukan skala prioritas secara tepat mutlak diperlukan.

Kemampuan menentukan skala prioritas bisa dimulai dengan membangun cara pandang finansial yang tepat dan bijak. Seperti, hidup sederhana adalah pilihan yang lahir dari kesadaran diri. Sederhana juga tidak berarti menyusahkan diri dan identik dengan segala sesuatu yang pas-pasan, namun sesuai dengan kebutuhan. Pada tahap selanjutnya atau yang kedua, mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Keinginan sangat mungkin tidak terbatas sedang kemampuan untuk menuruti keinginan sebenarnya sangatlah terbatas. Karena itu, penting bagi kita terutama perempuan yang sering menjadi target utama pasar, untuk bisa mengontrol diri.

Ketiga, berorientasi jauh ke depan bahwa kebutuhan jangka panjang kita sangat banyak dan perlu dipersiapkan sebaik mungkin sejak dini. Misal, dana pensiun dan hari tua, serta pendidikan anak-anak di masa depan. Ada banyak instrumen investasi yang bisa kita pilih untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan jangka panjang ini. Keempat, mengembangkan kreativitas yang bisa menghasilkan atau penopang pendapatan keluarga. Kreativitas sangat penting artinya bagi perempuan meski pencari nafkah utama adalah suami/laki-laki. Kreativitas akan membuat hidup perempuan lebih hidup, sekaligus membuat dirinya lebih siap untuk move on saat hal tak terduga terjadi. 

Dan yang kelima atau terakhir, jangan lupa untuk mempersiapkan anak-anak kita melek finansial sejak dini. Karena tantangan dan godaan finansial mereka di masa depan pasti akan lebih kompleks. Sama halnya dengan para orang tua kita dalam mengajarkan kearifan finansial, keteladanan adalah lebih penting dari sekedar kata-kata. Kata-kata mungkin akan hilang dalam sekejap, tapi keteladanan akan membantu mereka belajar dan terus belajar, selamanya.

* * *

Tulisan diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog SAC 2014

Lomba Menulis Blog SAC 2014

 


13 komentar:

  1. sukses buat lombanya, semoga menang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbak, kebetulan ada ide dan pengalaman yang relevan dengan topik, sayang kalau hanya disimpan di kepala :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terimakasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  3. Waaaa... salah satu ceritanya mirip ibu mertuaku, Mbak Rin. Beliau orang tangguh. Dulu tidak lulus SD. Sejak kecil biasa jualan. Setelah menikah dengan kakek, terus berjualan. Untungnya ditabung. Dibelikan emas sedikit2. Setelah emas terkumpul, dijual buat beli tanah. Begitu seterusnya sampai mereka berdua berhasil menyekolahkan 5 dari 6 anak sampai sarjana. Bahkan menyekolahkan suami saya sampai ke luar negeri. Sekarang sudah tua tinggal menikmati hasil investasi mereka. Tanah-tanah yang dibeli dibangun ruko dan disewakan. Atau dibangun rumah-rumah petak untuk disewakan juga. Hasilnya lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Ira, cara seperti itu sepertinya banyak dilakukan oleh para orang tua jaman dulu, dan terbukti banyak yang berhasil :) Hasilnya tidak hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan bisa diwariskan ke anak, cucu bahkan cicit :) Luar biasa sekali kearifan finansial mereka....

      Hapus
  4. waw,..makasih banget untuk artikelnya ya,...sangat2 bermanfaat,..
    kerenn bangett dech,..udh buat aku tersentak,..barakallah,.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kearifan orang tua memang sangat luar biasa, termasuk dalam masalah keuangan :) Semoga bermanfaat....

      Hapus
  5. Meuni hebat" ya Mbak, ibu dan nenek kita. Saya jadi inget almh nenek. Walau pensiunan guru SD, beliau dapat membekali anak" & cucu" perempuannya perhiasan emas. Bukan hanya dr nilai investasiny tp kenangannua terus terpatri dalam memori saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga yang sering membuat saya kagum Mbak :) Banyak di antara mereka yang hidup sederhana dan fokus pada rumah tangga (tidak berkarir murni maksudnya), tapi masih sempat mewariskan banyak materi yang kadang tidak hanya pada anak tapi juga cucu dan cicitnya. Dan emas/perhiasan adalah salah satu yang paling umum terutama untuk anak/cucu/cicit perempuan. Mungkin selain nilai investasinya, juga kenangan dan multifungsinya sebagai perhiasan juga.... :)

      Hapus
  6. luar biasa terimakasih tips nya sungguh bermanfaat

    BalasHapus
  7. Selamat siang,

    Saya Mr Arvo Antero, saya pribadi kepala pemberi pinjaman kredit dari Direktur Kredit Investasi John Frank. Ini adalah lembaga kredit milik pemberi pinjaman pribadi, dan itu sudah diatur untuk membantu mereka yang membutuhkan, seperti kemiskinan dan penderitaan di dunia dapat benar-benar diberantas. Kami terdaftar oleh Otoritas dan pinjaman uang, dan semua transaksi keuangan dipantau oleh pemerintah.

    Kami menawarkan pinjaman pribadi dan bisnis dari dana dalam jumlah $ 2,000.00 $ 150,000,000.00 dolar AS, euro atau pound sterling individu Eropa, perusahaan dan bekerja sama badan, terlepas dari status perkawinan, jenis kelamin, agama, dan lokasi, tetapi harus alat pembayaran yang sah dari pinjaman dalam batas waktu yang ditentukan, dan menjadi layak kepercayaan suku bunga serendah 2%.
    E-mail: kbloancompanyusa@gmail.com


    Rincian Pemohon:

    * Nama pemohon:
    * Alamat pemohon:
    * Negara:
    * Sex:
    * Status pernikahan:
    * Usia:
    * Pendapatan bulanan:
    * Pekerjaan:
    * Phone: / HP:
    Jangka waktu pinjaman:

    Kami berharap untuk balasan Anda.

    Hormat kami,

    BalasHapus
  8. mbak Ririn kok lamaaaa ga ngeblog lagiii?
    Kangen tulisan2 yg mencerahkan :)

    BalasHapus

 
;