Senin, 29 September 2014

Belajar dari Kearifan Finansial Perempuan-perempuan Tempo Dulu


Sumber Foto : Liveolive.com

Seorang teman yang tengah berduka karena kepergian ibunya untuk selama-lamanya, bercerita betapa ia sangat terhenyak saat mengetahui betapa sangat baiknya pengelolaan keuangan yang dilakukan ibunya semasa hidupnya. Sebuah ‘rahasia’ yang baru dibeberkan sang ibu beberapa saat menjelang kepergiannya.

“Ibuku ternyata sangat detil mengingat semua utang dan piutang, kepada siapa dan berapa jumlahnya” terang teman saya tadi.

Tak hanya itu, dalam kondisi sakit parah, teman saya yang kebetulan anak tertua dalam keluarga, diminta untuk mencatat semua daftar kekayaan yang dimiliki keluarganya. Si anak terpukau, banyak sekali yang ia tidak ketahui selama ini. Dan ia kian takjub saat mengetahui bahwa sang ibu telah mempersiapkan banyak hal untuknya dan adik-adiknya. Misal, hasil panen kebun ditujukan untuk biaya pendidikan si tengah. Sedang hasil panen padi di sawah untuk persiapan biaya si bungsu yang tak lama lagi memasuki jenjang perguruan tinggi. Ia semakin tak tahan menahan tangis sangat mengetahui si ibu ternyata juga telah mempersiapkan biaya pernikahannya dalam jumlah yang tak sedikit, berupa sejumlah hewan ternak dan perhiasan emas.

Sabtu, 27 September 2014

Berburu 'Harta Karun' (Leisure Republika, 16 September 2014)

Hasil Jepretan Mbak Haya, trims Mbak :)
 
Kreativitas dan hasrat bereksperimen yang sangat besar membuat anak-anak mampu menyulap rumah yang semula rapi menjadi bak diterjang tsunami hanya dalam hitungan menit. Padahal, orang tua seringkali membutuhkan waktu berjam-jam untuk membuatnya rapi. Tak hanya membuat rumah seperti kapal pecah, banyak juga barang-barang yang hilang dan sulit ditemukan saat dibutuhkan.

Hanya ketika anak-anak berakhir pekan di rumah mertua, saya dan suami memiliki waktu yang cukup untuk merapikan rumah dengan seksama dan menemukan sejumlah barang yang hilang. Lalu menikmati kerapian rumah beberapa saat sebelum anak-anak kembali memorakporandakannya. Siklus rumah rapi, lalu berantakan dan banyak barang hilang ini lama-lama membuat kami berpikir, bahwa anak-anak harus belajar bertanggung jawab dan mulai dilibatkan dalam kegiatan merapikan rumah. Hanya saja, merapikan rumah yang seperti kapal pecah kadang membuat mereka belum apa-apa sudah mengeluh.

Senin, 15 September 2014

Rubrik-rubrik Tulisan yang Hilang



 
Hilangnya rubrik-rubrik favorit di sejumlah media cetak adalah sebuah 'kesedihan' tersendiri bagi penulis. Hilang satu rubrik berarti hilang satu tempat dan kesempatan untuk mengaktualisasikan ide dan pemikiran. Bagi penulis yang menjadikan menulis sebagai sandaran finansial, hilangnya satu rubrik berarti hilang satu pintu penghasilan.

Sejak mulai mencoba menembus media menjelang akhir 2010, saya mencatat setidaknya ada empat rubrik yang hilang di media cetak. Beruntung, di keempat rubrik tersebut, tulisan saya pernah dimuat. Beberapa di antaranya bahkan dimuat beberapa waktu sebelum rubrik tersebut hilang. Berikut keempat rubrik yang hilang itu :

Jumat, 12 September 2014

Serba-serbi Pasien BPJS Kelas III

  warga binaan Sosial (WBS) menunjukkan kartu BPJS miliknya pada acara penyerahan kartu BPJS Kesehatan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (24/4).  (Republika/Rakhmawaty La'lang)
Sumber Foto : www.republika.co.id

"Bu, tolong bilang sama mbak perawatnya, gak usah kasih bapak makan, nanti bayarnya mahal. Ibu bawa bekal saja dari rumah" bisik seorang pasien BPJS kelas III yang seumur-umur baru pertama kali rawat inap di rumah sakit, pada istrinya, saat petugas rumah sakit mengantarkan makan siang. Bagi pasien yang lugu ini, dikiranya yang gratis untuk pasien BPJS kelas III seperti dirinya, hanya tempat tidur dan botol infus saja :)

Hampir setiap kali perawat memasukkan obat ke selang infusnya, dengan wajah tegang si bapak bertanya, "Mbak, obat ini berapa harganya? Bayar tidak?"

Dan ketika dinyatakan boleh pulang oleh dokter, bukannya girang, wajahnya justru semakin tegang dengan jantung yang semakin berdegup kencang.

Berapa yang harus ia bayar untuk menginap 5 hari di rumah sakit, dokter spesialis yang berkunjung setiap hari, belasan botol infus, belum lagi obat-obat yang disuntikkan ke selang, makan 3 kali sehari, pemeriksaan lab yang berkali-kali, sedang yang ia bayar hanya 25 ribu setiap bulan, itupun sering nunggak.


* * *

Orang-orang di atas membutuhkan kita untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang apa saja yang menjadi hak mereka sebagai peserta BPJS, berapapun kelasnya :)

Rabu, 10 September 2014

Pilih Klinik atau Puskesmas, sebagai Faskes Tingkat I BPJS?

Sumber Foto : health.detik.com


Salah satu prosedur untuk mendapat layanan kesehatan sebagai peserta BPJS adalah memilih fasilitas kesehatan tingkat pertama (Faskes I). Ada beberapa pilihan yang bisa dipilih. Yakni puskesmas, klinik, ataukah dokter praktik perorangan yang bekerja sama dengan BPJS. Untuk pilihan yang pertama dan kedua, biasanya dokter umum dan dokter gigi langsung menjadi satu. Sedang untuk pilihan ketiga, keduanya biasanya terpisah.Untuk tiga opsi ini, pilihan saya jatuh pada klinik, dengan sejumlah pertimbangan.

 
;