Senin, 11 Agustus 2014

Tak Hanya Anak, Ibu Pun Sering di-Bully

Multi-tasking-Mom
Foto dari www.playwithyourfamily.com

Dua anak saya (Sasha dan Naura) pernah beberapa kali harus rawat inap di rumah sakit. Karena lebih dari sekali, terutama Sasha yang bahkan pernah tiap tahun opname selama tiga kali berturut-turut, saya kerap mendapat komentar miring soal bagaimana saya merawat anak-anak saya terutama dalam hal makanan. Hiks, sedih pastinya :)


Tanpa tau dengan sebenarnya bagaimana saya terbilang cukup ketat soal makan dan aktivitas mereka, 'vonis bersalah' sering begitu mudah diberikan justru di saat-saat di mana saya lebih membutuhkan empati daripada penghakiman apalagi tuduhan. Mengurus anak yang sakit saja sudah cukup menguras energi dan emosi, apalagi masih ditambah dengan sekian banyak vonis dan komentar miring, empati pliiiiis...... :)

Cukup di sini soal curhat saya yang gak ada apa-apanya :)

Pengalaman di atas membuat saya lebih tersadar betapa ibu sangat sering dan lebih sering di-bully terkait dengan anak-anak ketimbang ayahnya. Ironisnya, pelaku bully di sini justru sering dilakukan oleh sesama ibu sendiri (setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi).

Masih soal anak sakit saja misalnya.

"Sudah dua hari panas koq belum dibawa ke dokter?"

"Saya coba rawat di rumah saja dulu Bu, banyak minum dan dijaga nutrisinya. Baru kalau 3 hari tetap panas, saya bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut"

"Semakin cepat semakin baik Mbak" ah ini kan soal pilihan ya :)

Ketika ada ibu yang bersegera membawa anaknya ke dokter, kadang ada juga yang 'mempertanyakan'.

"Baru panas sehari koq sudah dibawa ke dokter?"

Kalau tanyanya sekedar bertanya sih gak apa-apa, tapi kalau pakai nada menyalahkan, ah Karena ada beberapa anak yang sering step hingga tak sadarkan diri ketika panas sehingga si ibu langsung membawanya ke dokter bahkan ke UGD.

Ketika sudah dibawa ke dokter, ternyata harus rawat inap atas saran dokter, ibu masih disalahkan

"Koq pake rawat inap segala? Gak kasihan sama anak kena jarum suntik dan infus? Makanya, makannya dijaga, bla bla" alamak (sambil garuk-garuk kepala ) :)

Ada ibu lain yang mencoba sekeras tenaga merawat anaknya di rumah dengan berbagai alasan (ini urusan pribadi menurut saya), dan baru membawa ke rumah sakit ketika kondisi si anak cukup parah bahkan mendekati kritis. Saat si ibu tengah berduka melihat kondisi anaknya, lelah, bingung juga mungkin terkait dengan biaya, ternyata masih ada juga yang 'tega' mengajarinya tentang bagaimana menjadi ibu yang baik. Nasihat yang baik memang diperlukan, tapi alangkah lebih baik jika diberikan pada saat yang tepat ya :)

Sepertinya selalu ada celah untuk menyalahkan seorang ibu Seperti ketika di perjalanan dengan angkutan umum, kereta api ekonomi misalnya.

"Dikasih minum donk Mbak anaknya, dibawa jalan-jalan kek biar gak bosan" komentar seorang ibu. Padahal si ibu bisa jadi sudah satu jam lebih melakukan hal itu, tapi anaknya tetap menangis. Sampai-sampai dia ingin menangis juga :)

"Anak pertama kali, belum pengalaman" komentar ibu yang lain. Hufffff. Padahal kalau bilang begini, "Sini Mbak, saya bantu gendong. Mbak duduk dulu, istirahat...." rasanya lebih adem ya :)

Ini baru soal anak sakit dan di perjalanan. Belum lagi kalau anak terlibat atau terkena masalah lain, biasanya ibulah orang pertama, kedua dan ketiga yang harus menjadi penanggung jawabnya (hehe, gak selalu berurutan sampai tiga kali ya, lagi ingat pesan Nabi aja ketika ditanya siapa yang harus pertama kali dihormati : )

Sebaliknya, ketika anak mendapat hal yang baik, biasanya yang pertama ditanya siapa ayahnya, dan kadang cukup hanya ditanya siapa ayahnya :)

Ibu, yang sabar ya, bully untuk Anda semoga dibalas dengan pahala berganda:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;