Minggu, 17 Agustus 2014

Sumbangsih Ekonomi Kreatif untuk Indonesia Siaga Bencana


Sumber Foto : subditmbl.wordpress.com
Ada banyak cara kreatif yang bisa dilakukan agar edukasi tentang kebencanaan dapat tersampaikan dengan efektif dan menyenangkan. Seperti yang dilakukan Yuka Matsumoto, mantan Miss Japan untuk Miss Asia Pasific 2005 yang juga seorang jurnalis di NHK International. Yuka memilih manga atau komik khas Jepang sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat terutama di kalangan anak-anak dan perempuan. Dua kelompok masyarakat yang acapkali menjadi korban terbesar hampir di setiap bencana. Tak hanya di Jepang, edukasi kebencanaan juga dilakukan Yuka di Aceh, yang 10 tahun lalu mengalami bencana tsunami sangat dahsyat.

Yuka memilih manga atau komik, karena menurutnya, komik sangat mudah dipahami, termasuk oleh anak-anak. Bersama rekannya Nayu Hanii, seorang komikus Jepang yang bekerja untuk majalah Sho-comi, Yuka membuat komik yang berisi pesan-pesan tentang pendidikan kebencanaan lalu menyebarkannya ke berbagai wilayah dan negara yang rentan bencana, termasuk Aceh, dengan biaya sendiri. Menurut Yuka, pendidikan tentang bencana adalah sangat penting. Karena teknologi tanpa diikuti pendidikan bencana kepada masyarakat, tidak akan pernah memadai.


Apa yang dilakukan Yuka adalah sebuah terobosan edukasi kebencanaan yang sangat inspiratif dan relevan dengan persoalan global saat ini. Edukasi kebencanaan melalui cara dan media yang kreatif bisa menjadi solusi untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan bencana sejak dini dan semaksimal mungkin terutama pada anak-anak dan perempuan, yang seringkali menjadi korban terbesar saat bencana terjadi. Pada tsunami Aceh 2004 lalu misalnya, sekitar 75 persen korban tsunami di Aceh adalah perempuan dan anak-anak.

Fakta ini membuat pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 24 tentang Penanggulangan Bencana pada tahun 2007. Dalam UU disebutkan, pendidikan siaga bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk ke sektor pendidikan. Pada tahun 2011, Plan Indonesia dan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini juga menerbitkan buku panduan pendidikan siaga bencana untuk anak usia dini. Namun, upaya ini dinilai belum memadai. Masyarakat seringkali gagap saat bencana terjadi, dan susah untuk bangkit dalam masa recovery. Dalam konteks ini diperlukan terobosan dan komunikasi yang mudah dipahami terutama oleh anak-anak sekaligus mudah diaplikasikan oleh banyak masyarakat lain termasuk perempuan. Sebuah kebutuhan yang sangat mendesak mengingat negara kita adalah salah satu negara yang sangat rawan terhadap bencana. Sehingga mau tidak mau, kita harus bisa ‘berdamai’ dengan bencana.


Secercah Harapan dari Ekonomi Kreatif

Cara kreatif yang dilakukan Yuka dalam memaksimalkan edukasi bencana yakni melalui manga atau komik khas Jepang, sebenarnya tidak lain merupakan bagian dari ekonomi kreatif. Sebagaimana kita ketahui, ekonomi kreatif saat ini telah menjadi salah satu penentu daya saing bangsa. Banyak negara berlomba-lomba mengoptimalkan sektor ekonomi kreatifnya dan meraup banyak keuntungan serta manfaat darinya. Tak hanya dalam konteks ekonomi, namun juga sosial dan budaya.

Indonesia termasuk salah satu negara yang sedang giat mendongkrak potensi ekonomi kreatifnya. Ada lima belas sektor andalan yang masuk dalam kategori sektor ekonomi kreatif, yakni arsitektur, desain, fesyen, kerajinan, penerbitan dan percetakan, televisi dan radio, musik, film video dan fotografi, periklanan, layanan komputer dan software, pasar barang dan seni, seni pertunjukan, permainan interaktif, riset dan pengembangan serta kuliner. Sektor yang sangat banyak dan beragam ini memungkinkan kita untuk mengembangkan banyak upaya kreatif guna membangun masyarakat yang siaga bencana.

Seperti yang dilakukan Yuka, terkait dengan edukasi kebencanaan melalui bacaan, sejumlah sektor ekonomi kreatif yang bisa kita manfaatkan antara lain memperbanyak komik dan bacaan lain yang sarat dengan edukasi bencana. Sektor lain yang juga sangat mendukung adalah film dan iklan edukatif terkait bencana. Seni dan pertunjukan serta permainan interaktif dapat dimanfaatkan sebagai sarana simulasi manakala bencana terjadi. Dengan demikian, masyarakat terutama anak-anak tidak hanya paham secara teori, namun juga menguasai pelaksanaan nyata di lapangan.

Untuk yang terkait dengan teknologi, pengembangan layanan komputer dan software yang bisa digunakan untuk mendeteksi bencana seperti tsunami dan kebakaran hutan, juga sangat mungkin dikembangkan oleh anak negeri. Jika ini bisa dilakukan dengan mudah dan murah, jumlah korban dan kerusakan akibat bencana bisa diminimalisir secara signifikan. Adapun sektor desain dan arsitektur dapat turut berkontribusi dengan menciptakan desain dan arsitektur yang tahan bencana, untuk rumah misalnya, yang mudah diakses dan diaplikasikan oleh masyarakat terutama bagi kalangan menengah ke bawah.

Tak hanya sampai di sini, sektor ekonomi kreatif lain seperti kuliner dan fesyen dapat menjadi pilihan usaha untuk memperbaiki perekonomian masyarakat paska bencana terutama di kalangan perempuan. Bencana yang acapkali memorakporandakan perekonomian masyarakat, seringkali membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian hidup mereka. Dalam hal ini, sejumlah sektor ekonomi kreatif di atas bisa menjadi sandaran baru. Akan lebih optimal jika sebagian dana bencana baik dari pemerintah maupun charity masyarakat dialihkan sebagai modal usaha bagi mereka. Untuk itu, skill terkait dengan sektor ekonomi kreatif terutama yang erat dengan kehidupan perempuan seperti kuliner dan fesyen perlu diintegrasikan dengan program siaga bencana lainnya, sehingga masyarakat yang terkena bencana bisa segera bangkit dan menemukan asa baru untuk melanjutkan kehidupannya kembali.


Memontum Menyinergiskan Ekonomi Kreatif dan Indonesia Siaga Bencana

Tak lama lagi kita akan memperingati 10 tahun tsunami Aceh, tepatnya pada 26 Desember 2014 nanti. Sebuah bencana dahsyat yang membuat kita bahkan dunia sangat berduka. Ratusan ribu saudara kita menjadi korban. Kerusakan di mana-mana dengan kerugian materi yang sangat besar. Banyak saudara kita yang masih trauma dan merasa kehilangan hingga saat ini.

Sepuluh tahun tsunami Aceh adalah momentum besar bagi kita untuk lebih menyiagakan diri sekaligus memantapkan komitmen untuk berdamai dengan bencana. Mengapa ‘berdamai’ dan bukan ‘berperang’?

Indonesia ditakdirkan untuk berjalan beriringan bersama bencana. Bersama anugerah keindahan dan kekayaan alam yang sangat luar biasa, kita juga dianugerahi banyak sekali potensi bencana. Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerentanan bencana terbesar kedua di dunia setelah Bangladesh. Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan jumlah gempa bumi berkekuatan di atas 4 pada skala Richter yang terbanyak, yaitu rata-rata lebih dari 400 kali per tahun. Selain gempa dan tsunami, banyak bencana lain yang juga kerap mengintai. Seperti banjir, gunung meletus dan tanah longsor. Belum lagi sejumlah bencana yang sengaja kita ‘undang’, seperti kebakaran hutan yang disengaja.

Menjadi negara yang rentan bencana membuat kita mau tidak mau harus berdamai dengan bencana. Karena sebagian bencana bisa terjadi begitu saja dan kapan saja, tanpa bisa kita halau dan cegah sedikitpun. Untuk bencana semacam ini, yang harus kita lakukan adalah bersiaga dan tanggap. Tahu harus bagaimana ketika bencana terjadi, lalu segera bangkit untuk melanjutkan kehidupan seperti sedia kala. Bersyukur, bersama bencana Ia juga telah menyediakan sejumlah solusi untuk mengantisipasi dan mengatasi. Tinggal bagaimana kita bersegera mengupayakannya. Salah satunya melalui sejumlah sektor dan potensi ekonomi kreatif yang sangat berlimpah di negara kita.

Sinergitas antara ekonomi kreatif dan program kebencanaan lainnya perlu ditegaskan agar ke depan, segala upaya dalam rangka mewujudkan Indonesia siaga dan berdamai dengan bencana bisa saling bersinergi satu sama lain. Dan peringatan 10 tahun tsunami Aceh bisa menjadi momentum mendeklarasikan kesiapan kita untuk berdamai dengan bencana, lalu saling bergandengan tangan, saling bersinergi. Bukan tidak mungkin, kesiapan kita terhadap bencana akan sebaik masyarakat Jepang nantinya. Semoga…..  

* * *




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;