Sabtu, 30 Agustus 2014

Mengapa Universitas Terbuka Kian Menjadi Pilihan?


Universitas Terbuka (UT) Pondok Cabe Pamulang Tangsel
Kampus Universitas Terbuka di Pamulang, sumber Foto :kabartangsel.com

Meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi di Indonesia yang mencapai angka 29,9 % pada tahun 2013 lalu, merupakan sebuah pencapaian yang sangat menggembirakan. Sangat menggembirakan karena sejak Indonesia merdeka hingga tahun 2000, baru ada sekitar 13,8 % anak usia 19-23 tahun yang bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Perubahan sangat dratis terjadi setelah memasuki era milenium sehingga APK perguruan tinggi mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat. Persentase ini bisa menjadi salah satu indikasi sederhana bahwa akses masyarakat terutama generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi semakin baik.

Pertanyaan selanjutnya, pentingkah pendidikan formal di perguruan tinggi bagi masa depan dan prestasi yang bersangkutan, juga bagi masyarakat, bangsa dan negara?

Jawabannya tentu sangat penting.

Pendidikan tinggi merupakan salah satu jembatan utama menuju masa depan dan prestasi gemilang. Pendidikan tinggi memungkinkan seseorang membuka cakrawala ilmu pengetahuan, kemampuan dan keterampilan, serta kedewasaan berpikir yang lebih baik lagi. Selain itu, legalitas pendidikan tinggi yang dibuktikan dengan ijasah juga bisa menjadi ‘tiket’ untuk meraih masa depan dan prestasi yang lebih baik. Terbentuknya sumber daya manusia yang demikian, handal secara keilmuan dan keterampilan serta memiliki legalitas formal, akan menjadi penopang utama bangsa untuk menjadi bangsa yang maju dan disegani.


Terurainya Simpul Penghalang

Pencapaian APK perguruan tinggi yang sangat signifikan sejak tahun 2000 dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebagaimana kita ketahui, ada sejumlah faktor yang menjadi penghalang utama masyarakat terutama kalangan generasi muda, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Di antaranya karena kendala ekonomi, jarak dan waktu, termasuk juga persoalan jender. Sejumlah persoalan ini coba diminimalisir, sehingga satu per satu simpul penghalang akses masyarakat terhadap pendidikan di perguruan tinggi kian terurai. Salah satu inovasi dalam pendidikan kita yang memberi kontribusi signifikan adalah Universitas Terbuka.

Universitas Terbuka atau yang populer dengan sebutan UT adalah Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 41 Tahun 1984. UT didirikan dengan tujuan yang sangat kontekstual dengan persoalan bangsa. Yakni : (1) memberikan kesempatan yang luas bagi warga negara Indonesia dan warga negara asing, di mana pun tempat tinggalnya, untuk memperoleh pendidikan tinggi; (2) memberikan layanan pendidikan tinggi bagi mereka, yang karena bekerja atau karena alasan lain, tidak dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi tatap muka; dan (3) mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional sesuai dengan kebutuhan nyata pembangunan yang belum banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.

Mengapa tujuan didirikannya UT sangat kontekstual dengan persoalan bangsa?

Pendidikan tinggi di negeri kita masih merupakan sesuatu yang sangat mahal sehingga masih sulit dijangkau oleh semua kalangan masyarakat. Kendala ekonomi ini masih diperparah oleh masalah jarak, waktu, bahkan jender. Jarak yang jauh berarti biaya kuliah semakin membengkak. Padahal untuk membayar biaya kuliah saja sudah sulit. Hadirnya UT memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat dan anak bangsa yang tinggal di daerah terpencil, terluar atau tertinggal (3T) untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Selain soal biaya dan jarak, waktu juga acapkali menjadi halangan terutama mereka yang sudah bekerja. Jender juga masih menjadi kendala meski porsinya mungkin tak sebesar tiga masalah sebelumnya.

Pendidikan bagi perempuan acapkali dianggap tidak penting karena masyarakat umum kita masih berpandangan bahwa ‘rugi’ jika sekolah tinggi-tinggi akhirnya hanya kerja di dapur alias jadi ibu rumah tangga. Daripada menghabiskan banyak biaya dan juga waktu, lebih baik segera menikah dan uang yang ada dimanfaatkan untuk modal usaha.

Masih bagi perempuan, menikah juga seringkali menguburkan impian kaum hawa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Menikah berarti banyak di rumah mengurus keluarga. Tak banyak waktu, energi dan biaya yang tersisa untuk melanjutkan pendidikan. Hadirnya UT memberi secercah harapan bagi masyarakat untuk kembali menggapai mimpi dan cita-citanya. UT yang mudah dan murah, tersebar di banyak wilayah Indonesia bahkan mancanegara, membuat simpul-simpul yang selama ini menutup akses masyarakat terhadap perguruan tinggi satu per satu mulai terurai.


Eksistensi UT dalam Pendidikan Indonesia

UT semula identik dengan universitas guru dan orang tua. Stigma ini perlahan memudar. Dalam beberapa tahun terakhir, UT semakin diminati oleh kalangan muda, yang sebenarnya jika mereka mau, bisa saja memilih universitas lain.

Ada sejumlah kelebihan UT dari universitas lain pada umumnya. Sejumlah kelebihan itu antara lain menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Sedangkan makna terbuka adalah tidak ada batasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat).

Dari segi biaya, biaya kuliah di UT cukup kompetitif dengan universitas lain. Begitu pula dari segi pilihan jurusan. Selain sejumlah jurusan yang memang umum ada di kebanyakan universitas seperti FKIP dan FISIP, UT memiliki sejumlah jurusan lain yang terbilang langka namun tingkat kebutuhannya di dunia kerja cukup besar yakni Kearsipan dan Perpustakaan. Hingga 2013, UT sudah memiliki 27 program studi S1, 3 program studi diploma, 4 program magister yang ditawarkan oleh 4 fakultas dan 1 program pascasarjana. Disamping program pascasarjana, UT juga sedang mengembangkan program internasional yaitu program Asean Studies yang bekerjasama dengan 3 perguruan tinggi jarak jauh di negara anggota Asean.

Dengan sejumlah kelebihan di atas, UT semakin diminati. Bahkan bagi sejumlah kelompok masyarakat, UT adalah jembatan emas mereka menuju masa depan yang lebih baik. 


Jumlah Mahasiswa UT 2 Juni 2014 Umur
Sumber : klik di sini

Selain semakin diminati oleh kalangan muda, kuliah di UT juga menjadi pilihan favorit banyak pekerja yang sulit untuk meluangkan waktu untuk kuliah di perguruan tinggi umum, padahal bergelar sarjana sangat penting bagi kariri mereka. Bagi guru-guru yang belum memiliki gelar sarjana misalnya. Pendidikan jarak jauh, terbuka dan fleksibel sangat memudahkan mereka untuk memenuhi syarat tersebut. Tak mengherankan jika hingga Juni 2014, guru adalah mahasiswa UT terbanyak dilihat dari segi pekerjaan, yakni 319.342 dari total mahasiswa UT sebesar 433.763 pada periode yang sama sebagaimana ditunjukkan oleh gambar berikut :


Jumlah Mahasiswa UT 2 Juni 2014 Pekerjaan
Sumber : klik di sini

Dilihat dari segi jender atau jenis kelamin, sebagaimana ditunjukkan oleh gambar berikut, terlihat bahwa jumlah perempuan mendominasi dengan jumlah yang lebih dari dua kali lipat jumlah laki-laki, yakni sebesar 298.436 mahasiswa. Jumlah ini tidak hanya menggembirakan dari segi angka, namun memiliki banyak arti lain di baliknya. Di antaranya, meningkatnya partisipasi pendidikan perempuan di tingkat perguruan tinggi. Salah satu persoalan klasik dalam dunia pendidikan kita terutama jika dikaitkan dengan peran perempuan dalam pembangunan. Tingkat pendidikan perempuan yang semakin baik diharapkan berbanding lurus dengan kontribusi mereka terhadap pembangunan.


Jumlah Mahasiswa UT 2 Juni 2014 Jenis Kelamin
Sumber : klik di sini

Tak hanya bagi pekerja terutama guru yang ingin melengkapi gelar sarjananya, atau perempuan dan ibu rumah tangga yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, hadirnya UT juga menjadi secercah harapan bagi tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ingin meraih masa depan lebih baik. UT bisa dibilang adalah satu-satunya perguruan tinggi dalam negeri yang memberi kesempatan pada TKI untuk bekerja di luar negeri sembari mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sehingga dengan demikian, TKI tak ubahnya seperti sembari menyelam minum air.

Tinggal di luar negeri memungkinkan TKI memperoleh banyak pengalaman dan keterampilan baru seperti penguasaan bahasa asing. Bila kemampuan ini ditunjang dengan pendidikan tinggi hingga meraih gelar sarjana dan skill tambahan, pilihan untuk meniti masa depan yang lebih baik sekembalinya ke Tanah Air kian terbuka lebar. Kesadaran TKI yang semakin tinggi akan pentingnya pendidikan tinggi terlihat dari meningkatnya jumlah TKI yang melanjutkan pendidikan di UT. 

Berdasarkan data per 2 Juni 2014, tercatat ada 2.266 orang yang menempuh pendidikan di UT di sejumlah negara seperti Arab Saudi, Malaysia, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, bahkan ada pula yang di Amerika Serikat, Australia dan sejumlah negara di Eropa dan Afrika. Meski tidak seluruhnya adalah TKI, namun proporsi TKI yang melanjutkan pendidikan tinggi melalui UT semakin banyak dari waktu waktu. Percepatan ini akan semakin signifikan jika pemerintah semakin membuka akses TKI untuk kuliah lagi, salah satunya dengan memasukkan item bisa melanjutkan pendidikan ke dalam poin perjanjian dengan negara-negara yang memperkerjakan TKI kita.


Jumlah Mahasiswa UT 2 Juni 2014 Luar Negeri
Sumber : klik di sini


Fakta ‘Mencengangkan’ tentang UT

Popularitas UT semakin bersinar karena sejumlah kelebihannya sebagaimana telah kita bahas sebagian di antaranya pada sejumlah poin di atas. Meski demikian, banyak masyarakat yang belum tahu sejumlah pencapaian dan fakta tentang UT, yang menurut saya sangat luar biasa.

Pertama, UT adalah universitas negeri. Banyak masyarakat masih bingung dengan status UT yang dianggap kurang jelas. Negeri apa swasta ya? Hal yang satu ini perlu semakin disosialisasikan secara lebih luas pada masyarakat terutama generasi muda. Dengan status sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN), masyarakat tidak perlu cemas soal legalitas perkuliahan dan ijasah serta gelarnya.

Kedua, jumlah mahasiswa UT sangat banyak. Hingga pertengahan tahun 2014, mahasiswa aktif UT tercatat sebesar 433.763. Sementara itu, hingga awal tahun 2014, jumlah mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di Indonesia baik PTN maupun PTS diperkirakan sebesar 3,2 juta. Di mana sebanyak 72 % di antaranya ditampung di perguruan tinggi swasta, dan sisanya di perguruan tinggi negeri. Dengan jumlah mahasiswa yang sangat banyak ini, UT tergolong dalam The Top Ten Mega University of the World dan salah satu anggota sekaligus pendiri The Global Mega-University Network (GMUNET). GMUNET yang didirikan pada tahun 2003 lalu merupakan jaringan universitas terbuka seluruh dunia dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar lebih dari 100 ribu orang.

Ketiga, prestasi yang mendunia. Tidak hanya luar biasa dari sejumlah mahasiswa, UT juga menorehkan sejumlah prestasi yang membanggakan. Di antaranya, berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh Webometrics, sebuah situs yang melakukan pemeringkatan universitas-universitas di seluruh dunia berdasarkan parameter digital (konten global yang terindeks oleh Google, jumlah rich file yang terindeks di Google Scholar dan karya akademik yang terpublikasi di jurnal internasional) pada Januari 2013 lalu, UT berada di peringkat ke-64 universitas terbaik di Indonesia dan peringkat 3544 untuk dunia. 

Dengan sejumlah kelebihan UT di atas, fakta menarik dan pencapaian luar biasa yang berhasil diraihnya, kita bangun optimisme bahwa jalan menuju Indonesia berprestasi mulai kita tapaki. Dalam jangka pendek dan menengah, target APK Perguruan Tinggi sebesar 33 persen pada tahun ini dan 35 % pada tahun 2015, bisa kita capai. Dengan pencapaian yang simultan, persentase ini bisa mencapai 75 % pada tahun 2030. Semoga.

5 komentar:

 
;