Sabtu, 19 Juli 2014

Rahasia Tertundanya Sebuah Pinta.....

Set Meja Belajar Hello Kitty Kaki Bubutan
Foto dari www.garudajeparafurniture.com

Biasanya, saya baru tidur setelah anak-anak tidur. Tapi, jika sudah tak dapat menahan kantuk lagi, biasanya saya meminta ijin pada anak-anak untuk tidur terlebih dahulu lalu memesan sejumlah hal yang harus mereka lakukan sebelum pergi tidur. Mematikan lampu misalnya.

Namun, meski sudah minta ijin dan anak-anak mengiyakan saya tidur lebih dulu, saya sering bangun mendadak lalu dengan kesadaran yang mungkin hanya separo atau bahkan seperempatnya, saya ke kamar anak-anak dan spontan membenahi apa yang kurang. Bantal yang kurang tepat misalnya, atau posisi tidur anak-anak yang kurang nyaman. Dan malam itu, apa yang saya dapati di kamar anak-anak, nyaris membuat saya menangis.


Di tempat tidur Naura, saya dapati 'meja belajar' mainan yang dibuat dari tumpukan selimut dan juga bantal kecil. Lalu, di atasnya bertumpuk beberapa buku, kotak pensil dan peralatan belajar lainnya sehingga sekilas semuanya menyerupai meja belajar yang sempurna. Melihat itu, barulah saya ingat salah satu permintaan Naura yang cukup sering ia ucapkan, namun justru nyaris tak pernah saya indahkan.

"Ma, aku pingin kamarnya sendiri, gak mau berdua dengan Mbak Sasha. Terus aku mau punya meja belajar dan lemari sendiri" katanya dengan serius. Kamar yang ditempati anak-anak memang tidak terlalu besar. Kebetulan mereka memakai tempat tidur sorong yang jika digunakan semua, maka tidak memungkinkan untuk menempatkan meja belajar di kamar itu.

"Kalau Adik Nau pake meja belajar, nanti Mbak Sasha tidur di mana?" tanya saya mengajaknya 'berpikir'.

"Mbak Sasha pindah ke kamar belakang" jawabnya sambil menyebut kamar lain yang sementara ini kami manfaatkan sebagai 'gudang' karena ventilasi dan pencahayaannya yang kurang baik.

"Kamar itu kurang sehat Dek untuk jadi tempat tidur. Nantilah kalau sudah diperbaiki, itu jadi kamar Mbak Sasha, terus kamar depan jadi kamar Adek Nau" jawab saya mencoba menengahi.

"Aku gak papa koq Ma di kamar belakang" sela Sasha.

"Tapi kamar itu pengap dan gelap Mbak" kilah saya.

"Iya, gak papa Ma" jawab Sasha lagi. Ah, anak satu ini :)

Percakapan di atas seringkali terjadi, namun hanya sekedar menjadi obrolan tanpa pernah ada realisasi, karena saya belum memberi 'lampu hijau' atas permintaan Naura. Dan malam itu, ketika mendapati 'meja belajar' hasil kreasi Naura, hati saya dilanda rasa bersalah. Saya tak menyangka ia sebegitu inginnya akan meja belajar impiannya.

"Maafkan mama sayang. Mama bukan gak mau belikan Adek Nau meja belajar. Bukan juga karena gak sayang sama Adek. Tapi mama merasa, belum waktunya Adek Nau punya kamar sendiri. Selain karena Adek Nau masih kecil, butuh teman, kasihan juga Mbak Sasha kalau tidur di kamar belakang dengan kondisi seperti itu. Mama khawatir Mbak Sasha sakit kalau tidur di kamar yang ventilasi dan cahayanya kurang baik. Sabar ya sayang, mama 'catat' koq permintaan kamu...." kata saya dalam hati dengan mata memerah dan dada yang sesak sembari mengelus kepala Naura yang tengah tertidur pulas.

Sekembalinya ke kamar, saya merenungi apa yang baru saja terlintas di benak dan hati. Seperti itu jugakah 'rahasia' di balik tertundanya doa kita?

Saat doa dan pinta kita belum dikabulkan, bukan karena Allah tak sayang pada kita; bukan pula karena kurang usaha dan kesungguhan kita. Tapi, bisa jadi Allah menundanya karena jika dikabulkan sekarang, terkabulnya doa kita mungkin akan menjadi kesedihan dan kesusahan bagi yang lain, seperti dalam kasus meja belajar di atas. Secara keinginan mungkin kita sangat siap, tapi mungkin tidaklah demikian dengan keadaan dan orang-orang di sekitar kita yang akan ikut terpengaruh oleh terkabulnya pinta kita.

Jika meja belajar yang diminta Naura saya berikan sekarang, Sasha harus mengalah dan berkorban, yang dalam pandangan saya sebagai ibunya, itu akan berdampak kurang baik bagi kesehatannya. Dalam hal ini, saya InsyaAllah memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang kesehatan dari mereka berdua. Pengetahuan yang membuat saya 'mengerem' permintaan Naura yang hanya berdasarkan 'rasa ingin' tanpa tau apa pengaruh keinginannya bagi saudarinya.

Permintaan Naura soal meja belajar di atas mengingatkan saya bahwa Allah pasti 'mencatat' doa kita dan mengabulkannya pada waktu yang tepat; waktu di mana setiap orang akan mendapat kebahagiaan dan kebaikannya masing-masing. Dan saya semakin percaya Allah pasti 'mencatat' pinta-pinta saya yang belum dikabulkan hingga sekarang seperti saya 'mencatat' permintaan Naura dan berjanji, jika saatnya telah tiba, meja belajar impiannya akan segera menjadi nyata. InsyaAllah.....

1 komentar:

 
;