Jumat, 11 Juli 2014

Menembus Rubrik 'Buah Hati' Leisure Republika

Foto: Ini artikelnya mbak, bisa dibuka dari http://epaper.republika.co.id/ tapi register dulu cc Ririn Handayani

Bagi seorang penulis lepas seperti saya, yang jam terbangnya terbilang masih sedikit, bisa 'berkenalan' dengan banyak media itu sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga. Dalam rangka mengukur sekaligus mengasuh kemampuan diri dalam menulis, satu per satu media dicoba. Dan Alhamdulillah, meski sementara ini mungkin hanya bisa dihitung dengan jari telunjuk dan sesekali ditambah dengan jari tengah, sejumlah media yang dulu sebatas masih menjadi media impian, satu per satu kini menjadi nyata. Salah satunya ini, rubrik 'Buah Hati' Leisure Republika.


Rubrik 'Buah Hati' di Harian Republika ini bisa jadi adalah salah satu rubrik impian orang tua, terutama ibu, termasuk saya salah satunya :) Dan tulisan saya yang dimuat pada 1 Juli kemarin, mungkin adalah tulisan ke-3 atau ke-4 yang saya kirim. Tak pernah dimuat hingga hitungan lebih dari satu, sempat membuat saya berpikir salah kirim naskah. Ternyata, salah satu sebabnya adalah karena momentum yang kurang tepat :)

Judul asli dari tulisan saya di atas sebenarnya adalah 'Istimewanya Rapor Sasha'. Saya kirimkan beberapa hari setelah pembagian rapor di sekolah. Sempat berpikir sudah lewat momentum karena bertepatan dengan permulaan puasa, ternyata masih berkesempatan dimuat, seminggu setelah saya kirim. Alhamdulillah....

Berikut versi aslinya :



Istimewanya Rapor Sasha


Pada akhir minggu ke-3 Juni, untuk ke-8 kalinya saya menerima rapor Sasha selama duduk di bangku SD. Selama delapan kali itu, nilai dan peringkat Sasha di kelas hampir selalu sama. Yakni rata-rata delapan untuk nilai, dan peringkat ke-8 atau 9 dari 17 siswa.

Relatif stagnan membuat saya nyaris tidak pernah merasakan jantung berdebar ketika akan menerima rapor. Bahkan sebelum berangkat ke sekolah, atau beberapa hari sebelumnya, saya biasanya sudah bisa menebak berapa nilai dan peringkat Sasha di sekolah. Dan tebakan saya hampir selalu benar.

Berbeda dengan Sasha yang hampir selalu berada di posisi 8 atau 9, peringkat di atasnya cukup sering bertukar posisi. Beberapa ibu telah bergantian maju ke depan kelas mewakili putrinya yang menempati posisi pertama. Sedang saya, hanya bisa menatap dari kejauhan tanpa pernah berharap akan pernah mendapat giliran.

Saya tak pernah berkecil hati ataupun sedih, ketika nilai dan peringkat Sasha nyaris selalu sama. Tetap begitu meski porsi jam belajarnya ditambah. Sayapun tak mau membandingkannya dengan nilai dan peringkat saya saat duduk di bangku SD yang nyaris selalu peringkat satu.

“Wah, mama selalu peringkat satu ya waktu SD?” komentarnya dengan takjub saat mengetahui nilai akademik saya.

“Mbak Sasha gak harus seperti Mama. Pelajaran kita kan beda? Mbak Sasha hebat lho dapat nilai dan peringkat segitu. Kan ada bahasa Arab dan bahasa Inggris. Mama belum tentu bisa dapat nilai sebaik Mbak Sasha kalau dulu dua pelajaran itu ada” jawab saya membesarkan hatinya.

Nilai akademik Sasha mungkin ‘biasa’, tapi di sisi lain, saya merasa Sasha memiliki nilai istimewa yang justru tak mampu saya raih saat seusianya.

“Mama, tadi Alisa bilang katanya dia senang berteman denganku. Katanya aku teman yang baik” cerita Sasha suatu hari saat pulang sekolah.

“Oya? Tapi hanya Alisa kan yang bilang kalau Mbak Sasha baik?” tanya saya sekaligus mencoba meredam rasa ge-ernya agar tidak besar kepala dengan pujian temannya.

“Dinda juga pernah bilang begitu Ma” jawabnya dengan kalem menyebut nama temannya yang lain.

Saya diam. Soal Sasha sebagai sosok yang menyenangkan bukan sekali ini saya dengar. Beberapa kerabat dan teman pernah mengatakan hal itu saat mereka melihat bagaimana Sasha berinteraksi dengan putra-putri mereka. Sayapun sering mendapatinya bersikap lembut dan sabar pada adiknya yang sering mengusik waktu dan barang-barangnya. Sasha juga anak yang pengalah dan menganyomi, membuatnya sering dikerumuni anak-anak yang lebih muda darinya.

Dari Sasha saya kerap belajar, bagaimana menyenangkan orang lain agar betah berteman. Sayapun sering salut dengan sikapnya yang mudah memuji orang lain agar yang bersangkutan merasa senang dan tak berkecil hati. Misal, saat membuat karya yang kurang bagus.

Jadi, dengan kecerdasan emosionalnya yang baik itu, saya merasa tak perlu berkecil hati saat hampir selalu mendapati nilai dan peringkatnya di kelas relatif stagnan. Bagi saya, Sasha selalu istimewa.

* * *

3 komentar:

  1. Wah, Sasha mirip banget kayak anak saya mbka. Dia memang agak kurang motivasinya kalo belajar, tapi saya tidak memaksanya, karena dia juga masih TK. Saya pikir biarlah dia bermain sepuasnya. tapi saya senang saat gurunya memujinya kalau dia suka berteman, penurut, jarang usilin teman, dan berbagai sikap positif lainnya.
    Bagi kami, itu udah cukup dulu buat modal dia untuk menikmati dunianya, hehee
    Nice mbak ririn, thanks for sharing tulisannya mbak

    BalasHapus
  2. Wah mbak sasha keren..Pasti byk temen2 yg sayang karena mbak sasha baik ya ;)
    Anakku jg modelnya bgni mbak kl belajar gampang bosen tp tmn2nya byk yg suka dia jg sabar kl sama tmn2/sepupu yg lebih muda. Setiap orang punya kelebihan masing2 ya ;)

    BalasHapus
  3. mba, kalau nulis buat buah hari republika, ada minimal berapa kata gak?

    terimakasih.

    BalasHapus

 
;