Minggu, 29 Juni 2014

Ketika Air Mulai Tak Bersahabat dengan Kita


Pada malam pergantian tahun 1 Januari 2014 lalu, warga Jember mendapat ‘kado’ yang sangat mengejutkan. Yakni banjir di sejumlah wilayah yang sebelumnya sangat jarang bahkan sama sekali tidak pernah mengalami banjir. Sejumlah wilayah tersebut antara lain area Kampus STAIN Jember, dan beberapa perumahan yang sebelumnya nyaris tak pernah mengalami banjir. Namun pada malam tahun baru, saat hujan lebat dari siang hingga malam tak juga kunjung reda, ketinggian air ada yang mencapai hingga setinggi dada orang dewasa. Di luar kota, ratusan rumah bahkan terendam hingga beberapa hari sehingga berdampak sangat signifikan bagi warga setempat baik dari sisi kesehatan maupun aktivitas ekonomi dan kegiatan sehari-hari.


Ratusan rumah warga Jember kembali terendam banjir
Warga di Desa Kraton, Kencong, Jember, terpaksa mengevakuasi ternak mereka. Foto dari www.antaranews.com

Bagi kami warga Jember, terutama yang tinggal di wilayah perkotaan, banjir semacam ini terbilang langka kecuali sejumlah wilayah yang memang dikenal memiliki drainase buruk sehingga menjadi langganan banjir saat musim hujan. Salah satunya di seputar wilayah kampus Universitas Jember yang dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ruko di wilayah tersebut seperti jamur di musim penghujan.
  
Selain banjir, problem serius lain yang kami hadapi adalah kekeringan di musim kemarau. Tak hanya tanaman dan hewan ternak, bahkan manusia pun semakin mengeluhkan langkanya air bersih di wilayah kami yang sebelumnya, nyaris tak pernah menghadapi masalah berarti terkait dengan ketersediaan air bersih. Air, nampaknya mulai tak bersahabat dengan kami. Mereka tetap ada, namun dalam wujud, karakter dan kualitas yang berbeda.


Alam Mulai Murka karena Ulah Kita

Bagi yang pernah tinggal di Jember terutama sebelum era millennium, kota yang sejuk dan bersih adalah kesan yang paling sering dikemukakan. Ini terjadi karena pada saat itu, jumlah gumuk di kota Jember masih cukup banyak. Untuk yang belum tau apa itu gumuk, berikut deskripsi singkatnya.

Secara  visual, gumuk tak jauh beda dengan sebuah bukit kecil. Namun, keduanya sangat berbeda dari sisi proses pembentukan. Gunung atau bukit terjadi karena aktifitas lempeng di perut bumi yang mengakibatkan munculnya tonjolan pada permukaan tanah. Sedang gumuk terjadi akibat muntahan material berupa lava dan lahar dari ledakan besar gunung berapi pada masa silam. (Sumber: save-gumuk).

Gumuk merupakan bentangan alam yang sangat langka. Hanya tiga wilayah di dunia yang memiliki bentangan gumuk besar dalam jumlah banyak. Dua di antaranya ada di Indonesia, yakni Jember dan Tasikmalaya. Satu lagi di sekitar wilayah gunung api Bandai San Jepang.

Selain langka, gumuk ternyata memiliki banyak manfaat dan fungsi dalam menjaga keseimbangan alam. Terkait dengan ketersediaan air bersih, gumuk memiliki fungsi alami sebagai galon air raksasa yang menyerap banyak air di kala musim hujan dan menjadi cadangan air bersih masyarakat ketika musim kemarau. Selain fungsi penting ini, gumuk yang umumnya dipenuhi pepohonan juga bisa menjadi paru-paru kota. Gumuk juga memiliki peran signifikan sebagai pemecah angin yang alami. Bahkan di sejumlah daerah yang berdekatan dengan pantai, gumuk juga berfungsi sebagai penahan tsunami.

Sejumlah fungsi penting gumuk di atas perlahan mulai hilang seiring dengan jumlah gumuk yang terus berkurang bahkan mulai memasuki ambang kepunahan. JIka pada era 1990-an awal jumlah gumuk di Jember diperkirakan berjumlah sekitar 1500, jumlah ini menurun drastis hingga hampir separuhnya pada tahun 2005 dengan perkiraan jumlah gumuk yang tersisa sekitar 823 buah. Hingga menjelang akhir tahun 2013 lalu, aktivis lingkungan yang concern terhadap penyelamatan gumuk di Jember memperkirakan jumlahnya hanya sekitar 600-an gumuk saja. Jumlah ini sangat mungkin terus berkurang mengingat eksploitasi gumuk terus berlangsung hingga saat ini. Satu per satu gumuk hilang. Isi perutnya dikuras hingga nyaris tak tersisa lalu area gumuk menjelma menjadi area perumahan atau pertanian. Tak mengherankan jika alam murka. Banjir menjadi langganan di musim hujan, lalu kekeringan di musim kemarau. Kamipun harus lebih waspada dengan angin puting beliung yang mulai kerap menyapa karena hilangnya fungsi gumuk sebagai pemecah angin alami.


Tempat penulis berdiri mengambil foto ini dulunya adalah perut sebuah gumuk atau bukit :(



Sinyal Alam yang Kita Abaikan

Ketika keberadaan gumuk terus diusik, air adalah salah satu komponen alam yang paling lantang menyerukan protes. Ia seolah menghilang di musim kemarau, lalu datang dengan penuh amarah di saat musim hujan. Kuantitas dan kualitas air bersihpun sangat terpengaruh.

Sebelum problem air di Jember menjadi seserius sekarang, alam sebenarnya telah memberi alarm yang sayangnya, tak terlalu diindahkan oleh manusia. Salah satunya dengan hilangnya capung yang selama ini menjadi salah satu penghuni utama gumuk. 


Capung, foto dari www.biodiversitas-indonesia.org

Capung adalah salah satu jenis serangga yang menyukai daerah yang penuh pepohonan dan memiliki kandungan air cukup sebagai tempat tinggalnya. Sehingga ketika gumuk mulai gundul apalagi kemudian diratakan dengan tanah, capung kehilangan habitatnya dan mengakibatkan jumlah mereka berkurang drastis. Hewan yang satu ini semakin sulit ditemukan. Dan capung yang semakin sulit ditemukan merupakan sebuah sinyal dari alam, bahwa ketersediaan air bersih di daerah yang bersangkutan juga telah berkurang. Ini karena, capung memiliki seperangkat penciuman dan daya deteksi zat berbahaya di dalamnya tubuhnya. Fungsi ini membuat capung menjadi salah satu bioindikator terhadap kualitas dan kebersihan air serta lingkungan (lebih lengkap tentang capung sebagai bioindikator bisa dilihat di kompas.com)

Problem air yang semakin serius di daerah tempat saya tinggal mengingatkan saya pada sejumlah materi saat di bangku kuliah. Salah satunya yakni bahwa jumlah atau volume air di bumi sesungguhnya adalah tetap. Hanya bentuk, karakter dan kualitasnya yang berubah.

Perubahan bentuk misal dari lempengan es lalu mencair, perubahan karakter dari semula bak malaikat di musim kemarau lalu menjadi seperti monster di musim hujan, serta perubahan kualitas dari yang semula bersih menjadi tercemar, sesungguhnya tidak terjadi begitu saja tanpa sebab yang terus menerus dalam kurun waktu yang lama. Kitalah yang membuat bentuk, karakter dan kualitas air berubah. Yakni dengan mengusik keseimbangan alam baik melalui eksploitasi di luar ambang batas, mengubah fungsi alam secara brutal, serta pola hidup yang tak ramah lingkungan. 

Alam akhirnya murka. Dan air yang mulai tak bersahabat dengan kita adalah sebuah pertanda agar kita bersikap lebih arif dan bijaksana. Hilangnya gumuk dan ‘kemurkaan’ air hanya satu contoh bahwa kita tak sendiri di semesta ini. Kita dan alam saling terhubung, sehingga keseimbangan kita dengan mereka harus terjalin baik dan harmonis.


Problem Jember adalah Problem Indonesia dan Dunia

Apa yang terjadi di Jember hanyalah sebuah potret kecil dari kerusakan lingkungan yang sedemikian akut hampir di seluruh penjuru muka bumi. Dalam konteks Indonesia saja misalnya. Bencana alam yang terkait dengan air, baik banjir maupun kekeringan, merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi di Tanah Air dengan kerugian jiwa dan materi yang tidak sedikit. Belum lagi beban ekonomi yang terus bertambah dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan ketersediaan air bersih yang terus berkurang dan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat.

Sama halnya dengan Jember, perubahan bentuk, karakter dan kualitas air tidak terjadi begitu saja tanpa trigger yang dilakukan oleh manusia sendiri. Penebangan dan pembakaran hutan secara brutal telah mengundang datangnya banjir bandang dan longsor di kala musim hujan dan kekeringan berkepanjangan saat musim kemarau. Limbah industri telah mencemari kualitas air tanah kita yang jumlahnya tak seberapa. Dan sampah yang dibuang sembarangan serta tata kota dan drainase yang mengabaikan hak-hak alam menjadi pemicu banjir rutin terutama di wilayah di perkotaan. Kita dengan sengaja telah menyulut api peperangan dengan alam.

Banjir di Polman Akibat Pembalakan Hutan Perusahaan Besar
Kawasan penebangan hutan di Provinsi Jambi, foto dari www.antaranews.com


Bersahabat dengan Air itu Sangat Mungkin!

Saat orang-orang di perkotaan seringkali mengambinghitamkan pembangunan dan kepentingan ekonomi untuk mengeksploitasi alam habis-habisan, saya begitu terenyuh membaca bagaimana banyak saudara-saudara kita terutama yang tinggal di pedalaman masih menjunjung tinggi dan teguh memegang prinsip persahabatan dengan alam, terutama air. Suku Dayak Iban yang tinggal di sekitar sungai Kapuas Kalimantan Barat misalnya. Mereka sangat menjaga kelestarian hutannya karena menganggap hutan sebagai salah satu penopang utama hidup yang sehat dan berkualitas.

"Hutan memberi kami air bersih, sehingga darah kami bersih. Tanah kami utuh, tanah menua dan tidak dibabat. Hutan kami menangkap karbon, gas yang beracun sehingga kami terlindung dan kami tidak terkena penyakit" demikian kesadaran mereka atas eksistensi hutan. 

Tak hanya sekedar slogan, suku Dayak Iban menerapkan aturan yang tegas dan jelas tentang sejauh mana hutan boleh dimanfaatkan. Salah satunya aturan yang membolehkan satu kepala keluarga maksimal satu tahun hanya boleh menebang 30 batang (selengkapnya tentang suku Dayak Iban dan suku-suku lain di Indonesia yang tetap konsisten menjaga kelestarian air hingga kini bisa dilihat di 7 suku indonesia yang berjuang menjaga kelestarian hutan).

Lalu, bagaimana dengan kita? Haruskah kita kembali menjalani kehidupan tradisional untuk bisa tetap menjaga kelestarian lingkungan dan air seperti suku-suku di atas? Tentu saja tidak.

Dalam tataran pemerintahan, khususnya pemerintah daerah, terobosan penghijauan kota yang dilakukan oleh Walikota Surabaya, Ibu Risma, bisa menjadi salah satu langkah nyata. Upaya menghijaukan Surabaya yang sebelumnya identik dengan kota berpolusi dengan kualitas air yang sangat buruk, perlahan berganti sebagai kota yang nyaman dan hijau. Sejumlah penghargaan bergengsi berhasil diraih. Antara lain, penghargaan sebagai kota terbaik se-Asia Pasifik pada tahun 2012 versi Citynet atas keberhasilan pemerintah kota dan partisipasi rakyat dalam mengelola lingkungan, penghargaan The 2013 Asian Townscape Awards pada tahun 2013, lalu dinobatkan sebagai Future Government Awards tingkat Asia Pasifik pada Februari lalu (sumber: www.bbc.co.uk). 


Salah satu area hijau di Kota Surabaya, sumber foto: swa.co.id

Untuk penghargaan dalam negeri, kota Surabaya dinilai oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sebagai Kota Sehat pada 2013 lalu. Terdapat beberapa parameter yang menjadi dasar penilaian dalam menentukan sebuah kota atau daerah layak atau tidak disebut sebagai kota sehat. Antara lain, kawasan pemukiman, sarana umum, transportasi, gedung perkantoran, pariwisata, hutan kota, ketahanan pangan dan gizi, serta kehidupan sosial yang sehat.
 

Salah satu sudut hijau di kota Surabaya, sumber foto: kabarsurabaya.com

Meski bukan warga Surabaya, saya turut bangga dengan pencapaian Surabaya. Dan tentu saja berharap, pemerintah daerah saya dan pemerintah daerah lain di Indonesia juga melakukan hal yang sama. Karena peran pemerintah sangat besar dalam menjaga kelestarian lingkungan. Seperti halnya masalah gumuk di Jember. Hingga saat ini, belum ada peraturan daerah yang secara tegas melindungi gumuk. Akibatnya, eksploitasi dan pengalihfungsian gumuk terus berlangsung.

Dalam tataran institusi yang lebih kecil, yakni desa/kampung bahkan RT/RW, gerakan melestarikan lingkungan juga sangat efektif dalam menciptakan lingkungan yang lebih asri. Lingkungan yang lebih terjaga tak hanya baik bagi kualitas udara, namun juga air sekaligus bisa meminimalisir sejumlah bencana yang sangat berkaitan dengan air, yakni banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Gerakan kampung hijau kini semakin meluas di banyak wilayah di Tanah Air. 


Penampakan Kampung Hijau di Surabaya yang tidak lepas dari peran Bu Risma, sumber foto: detik.com

Dalam tataran individu, pola hidup ramah lingkungan dan bersahabat dengan air dapat dilakukan dengan banyak cara. Antara lain hemat dan efisien dalam penggunaan air untuk keperluan sehari-hari, menyediakan lahan serapan di pekarangan sebagai ‘rumah’ bagi air, membuang sampah pada tempatnya untuk meminimalisir pencemaran air dan mengantisipasi banjir, serta menghijaukan area sekitar rumah dan pekarangan dengan tanaman-tanaman yang bisa menyerap air di kala musim hujan sekaligus menjadi cadangan air di saat musim kemarau. Tak terlalu sulit sebenarnya, asal kita benar-benar berkomitmen untuk memperbaiki kualitas lingkungan, yang berarti juga menjaga kelestarian air.


Ilustrasi/Ecofriend
Sumber foto: Ecofriend

Belum terlambat untuk memperbaiki persahabatan kita dengan alam, dengan air, untuk kualitas kehidupan yang lebih baik dan keberlangsungan hidup umat manusia di masa mendatang. Mari kita mulai dengan hal-hal yang kecil, saat ini juga.

 

2 komentar:

  1. sayang sekali ya, gumuk2 itu sudah semakin menipis :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Santi, jadi sama anak-anak hanya bisa memperlihatkan foto-fotonya saja sekaligus membekali mereka dengan beragam pengetahuan tentang dampak yang ditimbulkan dari hilangnya gumuk :(

      Hapus

 
;