Sabtu, 21 Juni 2014

Berkunjung ke 'Negeri 5 Menara' (Bagian Kedua)

Pada bagian kedua ini, saya ingin menceritakan kesan yang saya rasakan terhadap lingkungan dan orang-orang yang saya temui selama berada di Kampus ISID Gontor minggu lalu.


Sumber Foto www.demakita.com

Kampus ISID di Siman merupakan kampusnya para santri laki-laki. Ini sempat membuat saya merasa kurang nyaman untuk memasuki area kampus, membayangkan nantinya saya akan menjadi 'alien' di sana :) Beruntung, saat saya tengah kebingungan mencari lokasi wisma, saya melihat dari kejauhan tiga orang perempuan berkerudung baru keluar dari salah satu gedung. Melihat mereka, saya merasa seperti menemukan oase di tengah gurun :) Saya mengikuti langkah ketiga perempuan tadi yang rupanya seperti saya, juga sedang menuju ke wisma.

Di bagian resepsionis wisma, semua petugas yang saya temui adalah laki-laki. Meski mereka berpakaian rapi dan menunjukkan sikap seprofesional mungkin layaknya petugas di hotel pada umumnya, tetap saja saya merasa canggung. Kecanggungan tetap saya rasakan ketika ingin menanyakan banyak hal terkait dengan fasilitas wisma. Kecanggungan ini mungkin hanya masalah personal karena saya jarang sekali berinteraksi dengan santri laki-laki :)

Malam di lingkungan kampus terasa begitu hening. Karena area kampus memang cukup jauh dari perumahan penduduk, jauh juga dari jalan raya. Sehingga jika biasanya saat menginap di sebuah penginapan atau hotel, suara lalu lalang kendaraan menjadi satu hal yang biasa, di sana justru nyaris tak terdengar apa-apa. Yang kerap terdengar justru lantunan ayat suci Al Quran yang terdengar sangat jelas karena lokasi wisma tepat bersebelahan dengan masjid. Kalaupun terdengar suara manusia, frekuensinya sangat jarang, itupun dengan suara yang santun dan terbilang pelan.

Keesokan harinya, barulah saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang termasuk sejumlah ustadz dan santri lain. Mereka begitu ramah dan rendah hati meski mereka terbilang 'pendekar' di jagad akademik dan keilmuan :) Hal lain yang terasa juga sangat berkesan adalah sikap para santri yang menunjukkan sikap sangat santun pada para ustadznya. Kesantunan yang begitu tulus yang di luar sana justru semakin kritis. Melihat interaksi mereka, saya seolah menemukan jawaban mengapa banyak orang tua mengirim putra-putri mereka ke pesantren. Tempat di mana jiwa, karakter dan keilmuan anak akan dibina sedemikian rupa. Ibarat dari logam biasa menjadi seumpama permata.....

Sebelum tengah hari, saya mengakhiri kunjungan saya di ISID. Dalam perjalanan menuju Madiun, saya sempat berbincang dengan santri yang mengantar saya dan beberapa teman lain. Banyak hal baru yang saya dapat dari perbincangan tersebut. Dan salah satunya yang sangat berkesan adalah bagaimana pesantren menyiapkan para santrinya sedemikian rupa agar siap saat nanti kembali ke kampung halaman, keluarga dan masyarakat.

Salah satu bentuk persiapan tersebut adalah dengan mewajibkan para santri yang lulus dari kelas 6 (setara dengan kelas 3 SMA) untuk melakukan pengabdian selama satu tahun. Banyak bentuk pengabdian yang bisa dipilih. Mulai dari lingkungan pesantren Gontor yang tersebar di banyak wilayah di Indonesia, maupun di sejumlah pesantren milik alumni yang juga tersebar di hampir seluruh Indonesia. Pengabdian ini sekilas mirip dengan program Indonesia Mengajar (IM). Bedanya, jika IM umumnya diperuntukkan bagi alumni perguruan tinggi, pengabdian di pesantren Gontor diperuntukkan bagi lulusan jenjang menengah atas-nya.

Santri yang mengantar kami juga menceritakan bagaimana kehidupan keseharian santri yang tidak hanya ditekankan untuk hidup sederhana namun juga mandiri. Mereka tidak boleh pulang ke rumah selain saat liburan, meski jarak pesantren dan rumahnya terbilang dekat, kecuali untuk kepentingan yang uzur. Cerita si santri mengingatkan saya pada impian lama yang sangat ingin sekali merasakan tinggal dan belajar di pesantren :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;