Jumat, 16 Mei 2014

'Rumah Impian' yang Disita Bank

Sumber Foto : swa.co.id

Sore tadi tak sengaja berkesempatan keliling perumahan dan melihat lagi sebuah rumah yang beberapa tahun lalu, beberapa kali saya gumami sebagai 'rumah impian' :)

"Warna catnya cantik. Desain rumahnya juga oke. Aku suka kalau posisi kamar tidur dan ruang tamu seperti itu. Taman mungilnya membuat rumah semakin cantik. Posisi garasi juga sangat strategis" bla bla bla puji saya pada si 'rumah impian' saat suatu hari berjalan kaki bersama suami.

Sangking kesengsemnya sama rumah itu, saya sering melewatinya saat akan bepergian meski itu berarti saya harus berputar arah. Dan hampir setiap kali melewatinya, saya sering bergumam dalam hati, "kau rumah impianku", sambil tersenyum sendiri. Sampai segitunya ya :)

Lama-lama saya merasa lelah sendiri. Terus memikirkannya telah mengurangi rasa syukur dan bahagia saya pada apa yang telah saya miliki. Dan seperti biasa ketika menghadapi situasi seperti ini, saya berusaha segera melupakannya. Dan saya benar-benar lupa hingga tadi sore kembali melewatinya.


Rumah itu nyaris tak mengalami perubahan berarti dari saat dulu saya begitu mengaguminya, kecuali stiker bertuliskan "Rumah ini dalam pengawasan Bank" yang menempel di banyak tempat. Saya tertunduk, dan tiba-tiba teringat dengan salah satu tulisan saya di blog yang isinya kurang lebih sama dengan inti cerita ini :) Tentang bagaimana dulu saya sempat iri dengan keberuntungan seseorang yang seolah hidup dalam impian saya, tapi kemudian saya dapati ia terpuruk dalam musibah yang teramat berat. Selengkapnya di sini.

"Bukankah kebahagian yang sangat luar biasa terkadang bersanding dengan kesedihan yang juga luar biasa?"

Pelajaran yang saya tangkap sore tadi, "Tak perlu merasa diri lebih beruntung atau hebat saat mendapati orang lain sedang kesusahan atau tertimpa musibah, giliran kita mungkin belum saja. Begitu juga sebaliknya, tak perlu merasa diri jauh dari kemujuran saat melihat orang lain lebih dulu meraih kesuksesan padahal kita memulainya dari garis start yang sama, usaha kitapun juga tak kalah dari mereka. Giliran kita mungkin belum saja.....":)

2 komentar:

  1. makasih ya mak sudah diingatkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mak Armita, terimakasih juga sudah mampir. Sesama blogger harus saling mengingatkan, bukan begitu Mak? :)

      Hapus

 
;