Selasa, 22 April 2014

Serba-serbi Pemilu yang Memprihatinkan

Demokrasi 'Wani Piro' Warnai Pemilu
Sumber Foto : http://www.jurnas.com


"Di pemilu kali ini minat masyarakat berpartisipasi sangat tinggi" ucap seorang kerabat saat saya bersilaturahim ke desa hari minggu kemarin.

"Pas pemilu 2009, baru jam 10 pagi saja TPS sudah sepi. Tapi kemarin, sampai jam 12 siang, masih banyak masyarakat yang datang ke TPS" lanjutnya.

Kesadaran politik masyarakat sepertinya semakin tinggi, gumam saya dalam hati. Atau karena banyak doorprize-nya ya, pikir saya lagi :) Tapi gak asyik donk kalau hanya berasumi, maka saya tanya apa sebabnya pada kerabat saya.

"Soalnya, banyak yang bagi-bagi uang. Per suara dihargai Rp 20 ribu" jawabannya membuat saya menarik nafas kecewa :( Akhirnya, kerabat saya menceritakan lebih detil bagaimana kronologi transaksi politik uang tersebut.


Menurutnya, 'kaki tangan' sejumlah partai di desa yang mayoritas berpenduduk kelas menengah ke bawah itu sudah melakukan 'pendekatan' beberapa hari sebelumnya. 'Pendekatan' di sini antara lain dengan bertanya pada penduduk siapa yang nanti akan mereka pilih.

Mendekati hari H, banyak kaki tangan partai yang to the point menyerahkan uang Rp 20 ribu (kebetulan sejumlah partai memberi nominal yang sama) kepada penduduk sembari "mengajari' siapa yang harus mereka pilih nanti.

Ah, namanya orang desa ya, jujur sekali mereka dengan 'akad' ini, sehingga dengan semangat datang ke TPS untuk memenuhi janjinya karena tak ingin menerima uang buta. Apalagi, Rp 20 ribu bagi masyarakat desa yang mayoritas berprofesi sebagai buruh tentu sangat berarti.

Jadi begitulah Teman, alhasil, partai dan caleg yang paling banyak bagi-bagi uang menjadi peraih suara terbanyak di desa itu :( Sebuah praktik yang mengajarkan masyarakat untuk berprinsip NPWP, 'nomor piro wani piro' :(

Dalam pemilu kali ini, masyarakat desa yang masih lugu itu mungkin masih mau suaranya hanya dihargai Rp 20 ribu, tapi nanti, pada pemilu-pemilu yang akan datang, ketika mereka semakin sadar bahwa suara mereka sangat berarti dan menentukan untuk pemenangan partai dan atau caleg tertentu, bukan untuk perbaikan bangsa ini, prinsip NPWP bisa jadi akan semakin merajalela....

# miris:(

2 komentar:

  1. Dihampir semua daerah begitu, mbak..... kita gak bisa juga nyalahin masyarakat, di tempat saya bahkan ada slogan "ambil uangnya coblos belakangan". hehee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, harusnya para caleg tidak 'menggiring' masyarakat untuk berperilaku semacam itu dengan melakukan politik uang. Masyarakat sendiri, entah karena kekurangtahuannya atau karena memang terpaksa karena alasan ekonomi, seringkali tidak punya banyak pilihan

      Hapus

 
;