Senin, 28 April 2014

Pusaka bagi Anak Negeri


Sasha, si sulung, dalam balutan busana Minangkabau :)

Hanya berbeda satu generasi, tapi saya merasakan perbedaan yang sangat signifikan antara kehidupan saya dan putri-putri saya dalam mengenal Indonesia.

Saat saya kecil, ada begitu banyak mainan tradisional dan kearifan lokal masyarakat yang saya kenal. Saya juga mudah menemukan rumah-rumah tradisional di sejumlah daerah yang pernah saya tinggali saat kecil, terutama di Pulau Jawa bagian timur dan Sumatera bagian selatan. Hampir setiap hari pula saya bisa menyantap makanan dan camilan tradisional, terutama yang berbahan singkong seperti getuk dan geblek (makanan tradisional yang terbuat dari tepung kanji atau singkong).


kuliner khas geblek magelang oleh-oleh
Penampakan Geblek, sumber foto www.magelangonline.com

Tapi, seperempat abad kemudian, saat anak-anak saya seusia saya dulu, banyak mainan tradisional dan kekayaan nusantara lainnya yang seolah hilang. Sebagai gantinya, anak-anak lebih akrab dengan gadget daripada memainkan sejumlah permainan tradisional bersama teman-temannya seperti saat saya kecil dulu. Anak-anak juga kerap tidak tertarik dan merasa asing dengan makanan-makanan tradisional Indonesia. Sebaliknya, sebagaimana anak Indonesia pada umumnya, anak-anak saya juga sangat menggandrungi sejumlah makanan cepat saji.

Hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah anak-anak sepertinya tak begitu mengenal Tanah Airnya. Banyak rumah-rumah tradisional yang punah, entah karena faktor usia, mahalnya perawatan atau karena tergusur lalu menjelma menjadi perumahan, pusat perbelanjaan, pusat perkantoran dan sebagainya. Semakin banyak pula kearifan lokal masyarakat yang punah seiring dengan terinternalisasinya nilai-nilai globalisasi yang tak selalu seiring dengan nilai dan budaya kita, seperti gotong royong yang tergantikan oleh individualisme. Sikap hidup sederhana juga mulai terkikis menjadi konsumerisme. Belum lagi konflik dan kekerasan baik vertikal maupun horizontal yang marak terjadi akhir-akhir ini membuat anak-anak dan generasi muda seakan semakin enggan untuk mengenal Indonesia-nya lebih jauh.

Ya, anak-anak dan generasi muda saat ini memang menghadapi tantangan dan krisis nasionalisme yang sangat kompleks dibanding ayah dan ibu mereka. Dulu, nuansa ke-Indonesiaan kita dalam banyak aspek (kearifan lokal, tradisi, seni dan budaya) masih seperti udara yang bisa kita hirup hampir setiap waktu. Juga seperti hamparan awan yang mudah kita lihat sejauh mata memandang. Arus globalisasi juga tak sehebat sekarang. Tapi kini, nuansa ke-Indoensiaan kita justru menjadi sesuatu yang sangat langka. Sebaliknya, nilai-nilai globalisasi bahkan menjadi ‘konsumsi’ setiap waktu, bahkan hampir di semua tempat. Apalagi, nilai-nilai globalisasi acapkali dikemas sedemikian menarik dan kreatifnya sehingga dengan mudah terinternalisasi dalam benak anak-anak dan generasi muda kita dan nyaris tak menyisakan tempat bagi yang namanya nasionalisme. Sangat memprihatinkan.


TMII, Sebuah Pusaka bagi Anak Negeri

Waktu akan terus berjalan. Tanpa usaha dan upaya yang optimal, ke-Indonesiaan kita akan semakin terkikis hingga tak menyisakan sedikitpun warisan dan kenangan bagi anak cucu kita. Padahal, kekayaan Nusantara dalam banyak aspeknya seharusnya menjadi warisan yang sangat berharga dan membanggakan bagi anak negeri. Dalam kondisi kritis dan genting ini, sejumlah ‘pusaka’ memungkinkan kita tetap bisa menjaga kelestarian budaya bangsa sekaligus mewariskannya pada anak cucu kita sebagai salah satu modal besar untuk menjadi negara yang besar di kemudian hari. Salah satunya melalui Taman Mini Indonesia Indah atau yang sering disebut masyarakat dengan TMII.

Pintu Masuk TMII
Pintu Masuk TMII, sumber foto www.tempatwisataid.com

Terdapat sejumlah alasan mengapa TMII layak sekaligus memiliki peran sangat strategis untuk menjadi salah satu ‘pusaka’ bagi anak negeri. Pertama, sesuai dengan namanya, Taman Mini Indonesia Indah, TMII merupakan sebuah miniatur Indonesia yang memudahkan kita untuk melihat Indonesia secara lebih menyeluruh, sehingga bisa muncul kesadaran dalam benak kita betapa sangat kaya, luas dan beragamnya Indonesia. Ini sejalan dengan pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Bagaimana kita akan tahu Indonesia sangat kaya, luas dan beragam kekayaan alam serta budayanya jika orang Jawa hanya mengenal Jawa, orang Sumatera hanya mengenal Sumatera, begitu pula dengan orang Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Dibutuhkan biaya, energi dan waktu yang sangat besar jika ingin melihat Indonesia secara keseluruhan. Untungnya kita punya TMII, sebuah miniatur Indonesia yang memungkinkan kita seolah melihat Indonesia secara keseluruhan. Tempat di mana kita akan melihat bagaimana Indonesia yang sangat beragam mampu bersatu menjadi satu dengan rukun dan damai.

Kedua, TMII merupakan museum budaya, di mana di dalamnya kita bisa melihat sejumlah kebudayaan Indonesia dalam berbagai bentuk yang di daerah asalnya mungkin sudah sulit ditemui bahkan mungkin sudah punah. Ketiga, TMII tidak hanya memiliki peran strategis dalam konteks pelestarian budaya namun juga dalam hal toleransi dan kerukunan umat baik dalam konteks beragama maupun suku bangsa. Toleransi dan kerukunan menjadi salah satu masalah krusial yang perlu ditanamkan pada sanubari generasi muda mengingat meningkatnya eskalasi konflik dan perpecahan di Tanah Air dalam beberapa waktu terakhir. 

Keempat, selain ketiga hal di atas, keberadaan TMII juga penting sebagai aset negara sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden RI NO.51 Tahun 1977. Sebagai aset, maka keberadaan TMII bisa menjadi salah satu ‘warisan’ bagi anak negeri yang kehadirannya akan mengingatkan sekaligus mendorong munculnya rasa bangga dan memiliki akan kekayaan negeri yang sangat berlimpah.
Lalu yang kelima, dalam perkembangannya TMII juga tidak hanya berkutat dalam hal pelestarian seni dan budaya, namun juga satwa mengingat satwa Indonesia merupakan salah satu yang terbaik dan terbanyak di dunia di mana sebagian di antaranya telah berada di ambang kepunahan. Sejumlah multifungsi ini membuat peran dan kehadiran TMII semakin strategis.


TMII, Destinasi Wisata Edukasi Keluarga Indonesia

Saat membahas TMII, biasanya pikiran pertama kita mungkin langsung tertuju pada wisata. Yup, tak salah. TMII saat ini memang telah menjadi salah satu destinasi utama banyak keluarga Indonesia bahkan mancanegara dengan sejumlah unggulan yang tidak selalu dimiliki oleh tempat-tempat wisata ternama baik dalam maupun luar negeri. Salah satu keunggulan TMII adalah menyajikan wisata edukasi berbasis kebudayaan Nusantara yang dikemas secara apik dan modern. Sehingga di TMII, pengunjung tidak hanya bersenang-senang (fun), tapi juga belajar (learn) sekaligus mengenal keragaman dan kekayaan budaya Nusantara yang sangat luar biasa. Sebuah cara yang efektif sekaligus menyenangkan untuk memperkenalkan Indonesia pada anak-anak dan generasi muda termasuk wisatawan mancanegara.

Keunggulan lain TMII selain sebagai wahana rekreasi edukasi sarat nilai budaya bangsa, fasilitas di TMII juga terbilang lengkap dan modern dengan harga yang cukup terjangkau bagi banyak kalangan. Sejumlah keunggulan ini membuat TMII masuk dalam daftar destinasi utama tujuan wisata kami yang kebetulan hingga saat ini belum berkesempatan berkunjung ke TMII. Cerita seru teman-teman ataupun hasil browsing di internet membuat kami semakin penasaran saja untuk segera berkunjung ke sana. Dan salah satu objek utama yang sangat ingin kami lihat saat ke TMII nanti adalah anjungan 33 provinsi. 

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari berbagai sumber, tiap anjungan menampilkan rumah adat bercorak arsitektur tradisional berikut penyajian benda-benda budaya, pentas seni, upacara adat, keragaman kuliner, dan berbagai seluk beluk yang berkait dengan daerah bersangkutan. Namanya saja sudah membuat kami sangat penasaran dan kagum. 

Sangat luar biasa rasanya membayangkan bisa melihat 33 provinsi di Indonesia dalam sekali kunjungan. Sehingga anak-anak tahu bahwa Indonesia bukan hanya daerah tempat kami tinggal saja. Juga bukan hanya Pulau Jawa. Tapi dari Sabang sampai Merauke dengan beraneka macam budaya dan tradisi di dalamnya. Sebuah pengalaman yang akan membuka cakrawala dan wawasan kebangsaan anak-anak, sekaligus rasa cinta, bangga dan memiliki terhadap kekayaan budaya negeri sendiri. 

Tentu saja kami tak hanya ingin mengunjungi anjungan provinsi saat mengunjungi TMII nanti. Karena selain anjungan provinsi, banyak objek lain yang sangat sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah museum. Tempat di mana anak-anak bisa melihat koleksi sejarah, budaya, serta teknologi masa lalu dan masa kini yang sekaligus bisa menjadi tonggak penciptaan di masa depan. Objek wisata dan permainan lainnya tentu tak ingin kami lewatkan. Apalagi, di TMII juga sering diadakan acara atau pagelaran seni dan budaya yang membuat kami semakin antusias untuk segera berkunjung ke sana. Semoga segera terwujud :)


Obyek Wisata TMII
Salah satu objek wisata di TMII yang pasti sangat diminati anak-anak :) Foto dari www.tempatwisataid.com


Harapan bagi TMII di Usianya yang Ke-39

TMII baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-39 pada 20 April 2014 lalu dengan tema Indonesia Satoe. Sebuah tema yang menegaskan arti penting TMII bagi kondisi kekinian Indonesia. Bahwa betapapun perbedaan kita semakin beragam, kita tetap Indonesia yang satu.

Meski belum pernah ke sana, sebagai bagian dari warga negara yang turut bangga dengan kehadirannya, saya memiliki sejumlah harapan besar bagi TMII. Di antaranya, semoga dengan usia yang semakin matang, TMII semakin siap mengemban amanah besar mengawal nasionalisme bangsa yang semakin kritis terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda. TMII yang terus berbenah kita harapkan juga mampu menjadi ikon kebanggaan negeri di era global dan pasar bebas saat ini. 

Usia 39 juga merupakan usia yang tepat bagi TMII untuk melahirkan ‘TMII-TMII baru’ di tingkat provinsi sebagai miniatur daerah yang menyangga kebudayaan nasional. Sehingga nantinya akan terbentuk jaring laba-laba pelestarian budaya melalui wahana wisata edukasi dengan TMII sebagai role model-nya. Munculnya replika TMII di banyak daerah nantinya bisa menjadi semacam laboratorium sekaligus museum budaya daerah yang bisa memudahkan masyarakat setempat untuk lebih mengenal daerahnya sendiri dan sejumlah daerah di sekitarnya. Ini sangat penting mengingat banyak daerah telah kehilangan aset budayanya tanpa memiliki upaya yang konkrit untuk mengantisipasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;