Minggu, 27 April 2014

Karena Skenario-Nya Seringkali Lebih Indah dari Rencana Kita

skenario allah untuk ismi
Sumber foto dari sini

Siang itu saya bersiap menjemput anak-anak di rumah mertua. Saya pikir, siang yang tak terlalu terik saat itu adalah waktu yang terbaik. Mumpung belum hujan, juga mumpung belum mengantuk Saya tinggal memakai sebelah kaos kaki lagi ketika tiba-tiba rintik hujan terdengar semakin keras. Padahal beberapa belas menit sebelumnya sinar matahari masih ada.

"Duh, kenapa gak dari tadi sih hujannya? Pas sudah siap begini, tinggal kunci pintu, koq hujan? Tiwas sudah pake sunblock segala" haha, demikian gerutu saya saat itu, khas manusia yang suka mengeluh :)


Trauma kehujanan di jalan sehari sebelumnya, membuat saya mengurungkan niat untuk pergi. Segera saya mengganti kostum bepergian dengan kostum rumah dan memajukan jadual makan siang yang saya rencanakan setelah menjemput anak-anak. Baru beberapa suap, ternyata matahari kembali bersinar dengan terang. Untuk beberapa saat saya merasa 'dipermainkan' Tapi sisi hati yang lain mencoba tetap berprasangka baik pada-Nya.

"Jika Allah menggagalkan atau mengubah rencana kita, biasanya Ia punya skenario yang lebih baik. Kita tunggu saja apa 'kejutan' dari-Nya" demikian saya menghibur hati sembari menghabiskan makanan yang terlanjur ditaruh di piring. Begitu selesai makan, saya kembali bersiap. Pada saat itulah saya mendengar suara pintu diketuk diiringi salam seorang anak kecil.

Begitu pintu terbuka, wajah mungil itu menyodorkan sebuah nampan berisi satu piring sate dan nasi. Subhanallah, cepat sekali Ia menunjukkan 'kejutan'-Nya. Ia sedikit memperlambat kepergian saya agar saya bisa bertemu dengan tetangga yang mengantarkan makanan enak :)

Kejutan atas keterlambatan bukan hanya sekali ini saya rasakan. Di lain waktu, saya sudah bersiap mengantar Sasha sekolah. Tapi tiba-tiba urung sehingga tugas tersebut digantikan oleh suami. Saya sempat bertanya dalam hati ketika itu, mengapa Allah mengubah jadual rutin kami secara tiba-tiba. Ternyata, di jalan yang biasa saya lalui terjadi kecelakaan yang jika saya saksikan langsung, mungkin saya akan trauma mengantar jemput Sasha dalam waktu yang cukup lama.

Kejadian-kejadian kecil di atas sering menjadi pengingat bagi saya manakala menghadapi 'kegagalan' atau 'keterlambatan' yang jauh lebih besar dan lebih memakan perasaan Agar senantiasa berprasangka baik pada-Nya, bahwa skenario-Nya seringkali lebih baik dari rencana terbaik kita, betapapun terkadang itu seperti menelan obat yang sangat pahit :)

Katanya, Allah tidak pernah tergesa-gesa terhadap sesuatu, juga tidak pernah terlambat barang sedetikpun, namun selalu tepat waktu..... :)

2 komentar:

  1. Berprasangka baik pada Allah, itu yang terbaik ya mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Santi, karena pengetahuan dan kemampuan kita sangat terbatas sehingga bisa jadi apa yang kita rencanakan masih jauh dari sempurna :)

      Hapus

 
;