Sabtu, 26 April 2014

Food Combining vs Tazkiyatun Nafs


Tazkiyatun Nafs2


Saat merasa bosan dengan postingan di Beranda, saya sering 'jalan-jalan' ke grup Food Combining Indonesia (FCI). Banyak postingan 'segar' di sana yang sering membuat pikiran saya menjadi fresh :)

Postingan 'segar' yang saya maksud adalah foto atau gambar makanan sehat yang diposting oleh anggota FCI, terutama untuk menu sarapan berupa buah dan makan malam yang umumnya didominasi oleh sayuran. Selain gambar/foto, hal lain yang saya suka saat mengunjungi grup ini adalah testimoni teman-teman pelaku food combining (FCers) terutama yang baru atau pemula tentang perubahan baik apa saja yang mereka rasakan setelah menerapkan pola makan dan pola hidup sehat. Dan di antara sekian banyak testimoni, salah satu favorit saya adalah cerita tentang bagaimana mereka menjadi tidak suka atau tidak lagi berselera terhadap makanan/minuman tidak sehat yang dulu sering bahkan hampir setiap hari mereka konsumsi. Tak hanya sampai tak lagi menyukai, sejumlah FCers bahkan merasakan respon tubuh yang sangat luar biasa ketika 'terpaksa' memakan/meminum makanan tersebut, misalnya saja karena faktor 'kangen' :)


Sebagai contoh, ada FCers yang cerita bahwa sebelumnya ia bisa menghabiskan satu loyang pizza ukuran sedang. Namun setelah mencoba konsisten menerapkan FC, baru makan satu iris saja, esoknya ia merasa pusing, mual bahkan muntah. Cerita hampir sama juga diungkapkan oleh teman lain yang makan mie instan. Padahal konon, ia hanya makan setengah porsi. Sedang sebelum menjalankan FC, ia bisa dua hari sekali makan mie instan, dan baik-baik saja :) Cerita hampir sama juga terjadi pada para pecandu kopi :)

Tak hanya pada makanan/minuman yang secara tegas dikategorikan tidak sehat, perubahan berupa respon tubuh juga dialami oleh sejumlah FCers hanya karena sedikit memakan makanan yang kadar gulanya tinggi (terlalu manis), atau menggunakan penyebab rasa secara berlebihan. Wow, luar biasa ya, bagaimana tubuh kita sebenarnya memiliki respon yang tinggi serta 'alarm' alami terhadap makanan/minuman yang kurang sehat. Sayangnya, jika makanan tidak sehat sudah menjadi rutinitas bahkan telah masuk dalam kategori kecanduan, alarm dalam tubuh kita menjadi kurang optimal bahkan tidak berfungsi sama sekali alias rusak. Sebagai gantinya, ia berubah menjadi 'bom waktu' yang sangat berbahaya berupa resiko sejumlah penyakit serius seperti stroke, diabetes, kanker dan sebagainya.

Postingan-postingan sehat nan segar di FCI tidak hanya membuat saya termotivasi untuk memperbaiki pola makan dan pola hidup menjadi lebih sehat, namun sekaligus mengingatkan saya bahwa esensi food combining memiliki banyak kesamaan dengan Tazkiyatun Nafs atau menyucikan jiwa.

Salah satu kesamaan keduanya yang menurut saya sangat menarik adalah, ternyata jika tubuh kita telah terbiasa mengonsumsi makanan/minuman sehat, ia akan memberi sinyal dan bahkan protes keras misal berupa pusing, mual dan muntah, jika kita menyantap makanan/minuman yang tidak sehat apalagi dalam jika dalam jumlah yang besar. Demikian pula hati dan pikiran kita. Jika keduanya (hati dan pikiran) telah terbiasa dengan hal-hal yang baik, maka akan ada rasa aneh, tidak enak bahkan tersiksa jika kita melakukan atau mengatakan hal-hal yang buruk.

Sama halnya dengan sistem organ tubuh secara fisik, secara ruhiyahpun sebenarnya tubuh kita memiliki 'alarm' untuk mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan dan atau katakan masuk kategori baik atau tidak baik. Sayangnya, sama halnya dengan sinyal tubuh terhadap makanan, 'alarm ruhiyah' dalam tubuh juga bisa rusak jika asupan keburukan kita jauh melampaui asupan kebaikan kita :)

Jika asupan makanan tidak sehat sangat dominan akan mengaktifkan 'bom waktu' dalam tubuh berupa beraneka macam penyakit berbahaya, maka matinya 'alarm ruhiyah' dalam diri kita akan mematikan hati kita pada kebaikan dan rahmat-Nya. Contoh sederhananya, jika kita merasa baik-baik saja atau bahkan justru merasa bahagia ketika baru saja mengatakan hal-hal yang buruk sebagai status FB, hal-hal yang mungkin bisa menyinggung atau melukai perasaaan saudara kita, hal-hal yang bisa memicu pertengkaran atau merusak silaturahim, atau baru saja menyebarluaskan sebuah berita yang tidak jelas kebenarannya hingga berpotensi menjadi fitnah bagi orang lain, dan sebagainya dan sebagainya. Sekali lagi, jika kita merasa baik-baik saja atau justru merasa bahagia, bangga dan bahkan merasa hebat saat melakukan hal-hal ini, hati kita mungkin sudah membatu dan mati. Mengerikan sekali teman :(

Hati yang telah mati padahal secara fisik kita masih hidup, diumpamakan (jika saya tak salah ) seperti mayat hidup alias zombie. Sosok mengerikan yang kehadirannya bisa menjadi masalah, menebar ketakutan dan bahkan teror bagi orang lain. Seorang zombie biasanya akan membuat orang lain juga akan menjadi zombie (dalam film-film begitu kan? ) :)

Jauh banget ya bahasannya, dari ngomongin food combining akhirnya nyambung ke zombie :) Anyway, selamat berhari libur teman.....:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;