Jumat, 21 Maret 2014

Setiap Anak Perempuan Selamanya adalah 'Sang Putri' bagi Ayahnya

Bersama Sang Putri :),  Agustus 2009

Sepulang dari kolam renang dekat rumah, saat melalui pematang sawah, suami yang berada di barisan paling belakang tiba-tiba berhenti dan mengaduh kesakitan.

"Ma, tolong garukin donk, kayaknya ada yang gigit nih" katanya sembari membalikkan badan dan menunjukkan bagian yang dirasa sakit. Khawatir ada serangga cantik yang menggigit (hehe), apalagi di bawah terik matahari yang cukup sangar serta takut anak-anak menunggu terlalu lama, saya menggaruk punggung suami dengan cukup keras dan cepat.

"Stop, stop" katanya dengan cepat tak lama setelah saya menggaruk, dengan ekspresi wajah kesakitan yang lebih sakit dari sebelumnya. Saya menahan tanya sambil meneruskan perjalanan.


"Mama, garuknya kayak satpol PP" katanya beberapa saat kemudian.

"What????" pekik saya dalam hati sambil manyun. Bukannya terimakasih sudah digarukin, malah dibilang garukannya kayak satpol PP. Jelek sekali istilah yang dipilih. Mengingatkan saya saat satpol PP 'menggaruk' PKL atau orang yang lagi pacaran di alun-alun suami hanya senyum-senyum mendengar protes saya.

Di lain waktu, saat kami sekeluarga nonton TV bersama, Naura tiba-tiba memijat pundak suami tanpa diminta. Baru beberapa detik dipijat, suami langsung pura-pura glegekan sambil memuji Naura anak yang pintar, pijatannya enak dan sebagainya sebagainya.

"Perasaan pijitan Naura gak kerasa deh? Koq bisa sampai glegekan sekeras itu?" komentar saya pelan pada suami. Bukannya minta maaf karena kapan hari mengatakan garukan saya mirip satpol PP, suami justru glegekan semakin keras seolah pijitan kecil Naura berhasil mengusir angin jahat dari tubuhnya. Naurapun tertawa bahagia semakin keras, pujian ayahnya seolah melambungkan perasaannya.

Saya sadar diri, tak perlu iri dan bersaing dengan Naura, juga Sasha. Karena setiap anak perempuan selamanya adalah Sang Putri bagi ayahnya. Bukankah ayah saya juga bersikap demikian pada saya?

Berapa banyak makanan yang saya buat sangat tidak karuan rasa dan penampakannya, tapi bapak memakannya dengan penuh semangat dan suka cita seolah itu adalah masakan seorang master chef ternama. Padahal mungkin bapak akan protes jika ibu saya yang memasak makanan demikian. Pun ketika saya membuat celana panjang kesayangan beliau bolong karena setrikaan yang terlalu panas, tak ada amarah yang terlontar, hanya mengingatkan agar lebih berhati-hati jika menyetrika lagi. Dan masih banyak cerita lain yang terekam dalam hidup saya bagaimana bapak memperlakukan saya bak seorang putri.

# Ya, setiap anak perempuan selamanya adalah 'sang putri' bagi ayahnya.....:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;