Sabtu, 29 Maret 2014

Menyelamatkan Gumuk Lewat Jejaring Sosial


Tempat penulis berdiri mengambil foto ini dulunya adalah perut sebuah gumuk atau bukit :(


Kerusakan lingkungan di Tanah Air telah memasuki kondisi yang sangat mengkhawatirkan bahkan bisa menjadi ancaman sangat serius bagi keberlangsungan hidup manusia di masa mendatang. Salah satu contoh teraktual adalah masalah kabut asap di Riau sebagai akibat dari kebakaran hutan yang terus berlangsung. Kabut asap telah menimbulkan sejumlah kerugian yang sangat signifikan tak hanya bagi masyarakat Riau namun juga sejumlah daerah bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Aktivitas ekonomi masyarakat terganggu dan menimbulkan masalah yang tak kalah mengkhawatirkan dalam hal kesehatan. Ini baru sejumlah dampak langsung, belum lagi dampak tidak langsung yang mungkin baru beberapa tahun kemudian dirasakan oleh masyarakat.

Selain kebakaran hutan, kerusakan lingkungan lainnya yang kini juga menjadi salah satu ancaman serius adalah hilangnya gumuk atau yang oleh masyarakat kebanyakan sering disebut sebagai bukit. Kandungan gumuk yang umumnya terdiri dari bahan material seperti bebatuan, hingga tambang seperti kapur dan emas, membuatnya menjadi salah satu kekayaan alam yang dieksploitasi habis-habisan baik oleh masyarakat maupun kalangan investor. Ironisnya, tak banyak yang tahu bahwa gumuk sebenarnya terbilang kekayaan sekaligus eksotisme alam yang langka. Konon, hanya ada tiga wilayah di dunia yang memiliki bentang alam berupa gumuk dalam skala yang besar di mana dua di antaranya ada di Indonesia yakni di Jember dan Tasikmalaya. Satu lagi berada di wilayah sekitar gunung api Bandai San Jepang.


Gumuk yang Nyaris Jadi Kenangan

Sebagai salah satu daerah di Indonesia bahkan dunia yang memiliki bentangan alam berupa ribuan gumuk, Kabupaten Jember pernah mendapat predikat sebagai Kota Seribu Gumuk. Kebetulan, Jember adalah kota di mana penulis tinggal hampir dalam dua windu terakhir sehingga penulis masih sempat melihat bagaimana gumuk-gumuk besar di tengah-tengah kota bisa hilang dan rata dengan tanah kemudian berganti dengan area perumahan atau lahan pertanian. Inilah yang membuat predikat sebagai Kota Seribu Gumuk tak lagi sering disebut bahkan menjadi sebuah ironi.

Pada era 1990-an awal, jumlah gumuk di Jember diperkirakan berjumlah sekitar 1500. Jumlah ini menurun drastis hingga lebih dari separuhnya pada tahun 2005. Satu per satu gumuk hilang. Isi perutnya dikuras hingga nyaris tak tersisa lalu area gumuk menjelma menjadi area perumahan atau pertanian. Eksploitasi terhadap gumuk terus berlangsung hingga sekarang. Predikat sebagai Kota Seribu Gumuk bagi Jember tinggal menunggu waktu untuk hanya menjadi kenangan bagi generasi muda di masa mendatang.

Hilangnya gumuk yang dulu ribuan jumlahnya jelas memberi dampak sangat nyata terhadap perubahan iklim di Kota Jember dan sekitarnya. Jember yang dulu dikenal sebagai kota yang sejuk, kini terasa semakin panas. Banjir dan kekeringan juga kerap melanda. Bahkan puting beliung yang dulu dikenal sebagai bencana langka kini semakin tinggi intensitasnya dari waktu ke waktu. Sejumlah keseimbangan alam terganggu seiring dengan punahnya banyak gumuk.

Gumuk yang umumnya dipenuhi pepohonan dulunya adalah paru-paru kota. Ia juga berfungsi sebagai galon air raksasa yang menyerap banyak air di kala musim hujan dan menjadi cadangan air bersih masyarakat ketika musim kemarau. Gumuk juga memiliki peran signifikan sebagai pemecah angin yang alami. Bahkan di sejumlah daerah yang berdekatan dengan pantai, gumuk juga berfungsi sebagai penahan tsunami. Kini, ketika jumlah gumuk terus berkurang bahkan nyaris punah, kran bencana seperti terbuka di mana-mana terutama bagi masyarakat Jember dan sekitarnya. Hal serupa konon juga terjadi di Tasikmalaya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan gumuk nyaris hilang dari permukaan bumi khususnya di Kabupaten Jember. Salah satunya adalah karena faktor kepemilikan di mana sebagian besar gumuk dimiliki oleh perorangan. Dengan kepemilikan pribadi ini, maka gumuk dapat diperjualbelikan kepada pihak lain terutama kalangan investor baik yang bergerak di bidang perumahan, material bahan bangunan maupun pertambangan. Kondisi ini kian diperparah oleh belum adanya regulasi yang secara khusus melindungi keberadaan gumuk dan peran strategisnya terutama terhadap perubahan iklim. Kurangnya pengetahuan masyarakat dan desakan ekonomi membuat sejumlah masyarakat tradisional turut ambil bagian dalam kepunahan gumuk.


Tambang Batu Piring  - Image
Salah satu bentuk eksploitasi gumuk, sumber foto berniaga.com


Gerakan #SaveGumuk

Gumuk yang terus berkurang bahkan nyaris hilang, menggerakkan hati nurani sejumlah orang muda di Kabupaten Jember untuk melakukan sejumlah langkah nyata guna menyelamatkan gumuk dari kepunahan. Gerakan yang dipioniri oleh sejumlah mahasiswa dan aktivis lingkungan ini salah satunya menggagas ide #savegumuk. Ide ini disebarluaskan melalui jejaring sosial dan ditindaklanjuti dalam sejumlah langkah nyata seperti melalui seminar, sosialisasi langsung kepada masyarakat pekerja di gumuk hingga pengumpulan koin untuk membeli gumuk agar tidak jatuh ke tangan investor.


Sumber Foto savegumuk.blogspot.com


Ada dua poin utama yang ingin dicapai dalam gerakan #savegumuk. Pertama, sosialisasi tentang fungsi dan peranan gumuk di Jember yang ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya bahkan masyarakat Jember sendiri. Sosialisasi tidak hanya dalam konteks lingkungan namun juga ekonomi, sejarah, termasuk juga kelangkaan gumuk di Jember sebagai  salah satu eksotisme alam yang sangat langka di dunia. Adapun untuk poin kedua yang ingin dicapai adalah membeli gumuk secara kolektif dengan tujuan mengubah hak kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan bersama. Mengenai gerakan #savegumuk lebih lanjut bisa dilihat di sini

Untuk gerakan #savegumuk di media jejaring sosial, sejumlah terobosan yang dilakukan antara lain menyosialisasikan masalah gumuk melalui sejumlah media seperti facebook, twitter, blog, citizen journalism dan sebagainya. Sarana yang murah dan mudah didapat ini ternyata memiliki manfaat dan jangkauan yang sangat luar biasa. Sebagai contoh, jika kita ketik kata kunci gumuk saat ini, maka dengan cepat mesin pencari otomatis akan menampilkan banyak artikel dan foto yang terkait. Sesuatu yang sebelumnya masih terbilang sedikit bahkan susah didapat sebelum gerakan #savegumuk digulirkan. Jejaring sosial di dunia maya telah membuat isu yang selama ini terpendam menjadi lebih terekspos ke publik. Sesuatu yang bisa membuat masyarakat bisa menjadi lebih teredukasi, mengunggah kesadaran untuk lebih peduli, bahkan bisa menjadi bargaining position bagi pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih serius.

Apa yang dilakukan oleh sejumlah kalangan muda di kota Jember untuk secara nyata ambil bagian dalam penyelamatan gumuk dari kepunahan merupakan sebuah ide sekaligus gerakan yang perlu disebarluaskan pada masyarakat terutama kalangan muda di Tanah Air mengingat kerusakan lingkungan telah terjadi hampir di semua wilayah Indonesia. Apa yang mereka lakukan juga merupakan sebuah asa di tengah kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat saat ini di mana banyak generasi muda kita yang terlena pada aktivitas yang hanya berorientasi pada kesenangan, nyatanya sebagian yang lain justru memanfaatkannya sebagai sarana dan media untuk mendongkrak sesuatu yang bernilai sangat positif seperti menyosialisasikan masalah gumuk kepada masyarakat luas bahkan dunia.

Gerakan #savegumuk juga membuktikan bahwa upaya menyelamatkan lingkungan bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Siapapun bisa melakukannya, tidak hanya kalangan aktivis dan mahasiswa, namun juga blogger bahkan ibu rumah tangga :) Semakin banyak masyarakat yang peduli dan ikut andil, maka upaya penyelamatan lingkungan, termasuk gumuk, akan lebih terakselerasi. Partisipasi masyarakat yang luas semacam ini merupakan salah satu pilar utama untuk menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang lebih parah. Kita tak bisa berdiam diri menyerahkan seluruh persoalan lingkungan hanya pada pemerintah atau organisasi yang concern terhadap lingkungan seperti World Wildlife Fund atau WWF.

Akhir kata, menyelamatkan lingkungan khususnya gumuk memang tidak cukup hanya mengandalkan media jejaring sosial (facebook, twitter, blog, citizen Journalism dan sebagainya) namun jejaring sosial ini bisa menjadi starting point bahkan trigger bagi gerakan yang lebih besar lagi. Sesuatu yang harus kita lakukan saat ini juga karena bumi yang sedang ‘sakit’ tak bisa menunggu lebih lama lagi.

* * *

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba "Blogger Peduli Lingkungan"

6 komentar:

  1. wah mantap tulisannya mbak..saya bisa merasakan ada semangat yang megiringi disetiap kata yang terbentuk...ayo kita #save gumuk .... sukses lombanya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentarnya puitis sekali Mbak Helni, terimakasih atas kunjungan dan doanya.... :)

      Hapus
  2. Save Gumuk,,baru tau mbak, ternyata fungsi gumuk banyak. Keren tulisannya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak fungsi gumuk yang belum saya tulis sebenarnya Mbak, terimakasih :)

      Hapus
  3. Bukit di Bandar Lampung juga banyak rusak Mbak. Salah satunya di belakang sekolah saya. Dibelah! Lalu dijadikan perumahan. Di puncak yang masih tersisa ada rumah seorang pengusaha wanita yang pernah jadi pembicaraan karena selnya di penjara sangat mewah. Sedihnya pas sempat ada banjir di sini, wakil walikota saat itu malah menyalahkan warga. Okelah banyak yang buang sampah sembarangan, tapi beliau cuek saja dengan komentar WALHI soal bukit2 yang rusak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Heni dari Balam ya? Salam kenal, saya dulu menghabiskan masa SD-SMA di Lampung :)

      Kalau saya perhatikan kondisi Balam sepertinya lebih parah dari Jember Mbak, mungkin karena kotanya lebih besar sehingga dampak pembangunan terhadap lingkungan juga lebih besar. Eh ya, dulu kayaknya masih banyak bukit ya di Balam, terakhir pulang koq sepertinya gak lihat lagi :(

      Hapus

 
;