Minggu, 30 Maret 2014

Mencari 'Jodoh' untuk Tulisan

Sumber Foto www.arlan85.com


Setiap kali berpapasan dengan 'ide' dan tak sempat menulisnya, biasanya saya menyimpannya di kepala. Tak bisa dipastikan kapan si ide akan menetas menjadi tulisan; bisa satu hari, satu minggu, bahkan tiga tahun Biasanya bukan soal waktu yang paling menentukan, tapi momentum. Saya baru ingat si ide kalau misalnya ia menjadi buzzword di media, atau kebetulan menjadi tema sebuah lomba. Inipun tak langsung memuluskan perjalanan si tulisan menemukan 'jodoh'nya

Soal 'jodoh' tulisan, ada satu kisah tulisan saya yang saya rasa begitu inspiratif (menurut saya sebagai penulisnya :) )

Kala itu untuk pertama kalinya saya mencoba memberanikan diri ikut sebuah lomba karya jurnalistik. Sesuai dengan namanya, maka si tulisan harus sudah tayang di media. Dan ini merupakan salah satu lomba yang rumit (yang biasa ikut lomba pasti paham cukup rumitnya mekanisme lomba yang satu ini :) )


Langkah pertama adalah menulis dengan gaya jurnalistik. Dan kala itu, ini tak mudah bagi saya yang biasa menulis tulisan yang kalau diumpamakan dengan kendaraan, ibarat truk tronton Padahal, tulisan untuk media harusnya ramping bak peragawati

Sudahlah dengan sangat susah payah si ide ditulis, ternyata gak ada media yang mau memuatnya saudara-saudara, haha (kesedihan kala itu akhirnya bisa saya tertawakan sekarang :) )

Saya lupa berapa tepatnya media yang menolaknya, mungkin hampir sama dengan jumlah jari satu tangan. Bahkan salah satu media online yang kala itu hampir selalu memuat tulisan saya, juga menolaknya

Deadline tulisan yang semakin mepet sempat membuat saya mencoba memasukkannya lewat 'pintu samping', alias memanfaatkan kedekatan dengan sejumlah teman redaktur dengan catatan tulisan saya memang layak muat, bukan semata karena faktor pertemanan. Hasilnya juga sama, tulisan itu tetap tak bisa dimuat dengan sejumlah alasan. Gak tanggung-tanggung, tiga teman redaktur alias tiga media yang menolaknya :)

Mungkin karena kasihan, suami akhirnya menawari saya untuk mengirimkan tulisan tersebut ke media tempatnya bekerja dengan peluang muat yang lebih besar, tapi tawaran ini saya tepis dengan jawaban "Aku belum mau menyerah". Sip, pertahankan ya Rin semangat yang satu ini :)

Finally, dengan semangat yang hampir habis, saya kirimkan tulisan itu ke sebuah media online nun jauh di sana, media baru yang sebenarnya kurang saya perhitungkan. Sempat tertolak beberapa kali karena masalah teknis yang nyaris membuat saya menyerah. Susah payah lalu saya cari contact person redaksi, sampai kemudian tulisan itu akhirnya menemukan 'jodoh'nya di detik-detik terakhir deadline lomba. Lega rasanya, tahap pertama sudah terlalui meski dengan sangat susah payah, setidaknya 'tiket' untuk berkompetisi sudah di tangan :)

"Aku tidak yakin kamu memang, aku hanya menggenapkan ikhtiarku" kata saya pada si 'tulisan' ketika itu sembari mengirimkannya ke panitia lomba. Jelas saja mental saya ciut, dalam antrian muat di media saja ia ditolak hampir sepuluh media. Apalagi jika nanti saya harus berkompetisi dengan tulisan-tulisan yang sudah jelas lolos seleksi, dan bisa jadi mewakili media-media terbaik di Tanah Air. Tapi, siapa yang tau rahasia 'jodoh'? Tulisan itu, yang ditolak banyak media bahkan teman sendiri, akhirnya dinobatkan menjadi salah satu pemenang (tak perlu disebut tulisan dan lomba yang mana ya :) )

Jadi, siapa bilang cuma orang yang punya jodoh, tulisan juga Dan kadang, sama seperti jodoh dalam arti pasangan, tulisan kadang juga harus menunggu sangat lama, berjuang sangat keras dan menemui banyak kegagalan serta penolakan sebelum akhirnya menemukan jodoh terbaiknya......:)

2 komentar:

  1. Hehehe betul.., novelku yang 'Hasrat terdalam' dulunya ditolah banyak penerbit. Setelah aku endapkan dan baca ulang, ternyata memang banyak kekurangan. Diperbaiki dan akhirnya menemukan jodohnya juga. :D

    BalasHapus

 
;