Selasa, 18 Maret 2014

Meminimalisir Penggunaan Kantong Plastik

Foto dari ahok.org

Hampir selalu ada tatap aneh, rasa tidak percaya, cemoohan dan caci maki bahkan hingga penolakan yang ekstrim untuk sebuah inisiatif kebaikan. Salah satunya saya rasakan ketika mencoba lebih berkomitmen meminimalisir penggunaan kantong plastik dalam kehidupan sehari-hari :)


Biasanya saya menyediakan kantong plastik di tas dalam berbagai ukuran sehingga tak perlu menambah koleksi kantong plastik di rumah saat berbelanja. Atau jika memang kebetulan tidak bawa dan belanjaan bisa dipegang dengan tangan, saya menolak belanjaan saya diplastiki. Responnya ternyata sangat beragam :)


Saat belanja di warung tetangga yang kebetulan dekat rumah, beliau 'memaksa' saya untuk mengantongi belanjaan saya dengan kantong plastik ketika saya tolak dengan halus.

"Pamali Bu, Njenengan kan punya anak cewek" katanya. Duh, beda donk Bu anak perempuan dengan belanjaan, batin saya dalam hati Saya gak malu koq dilihat tetangga-tetangga habis belanja sayur, tempe, tahu dsb. Tapi kalau anak saya keluyuran dengan rambut yang terurai bahkan memperlihatkan aurat yang lain, itu lain persoalan :)

Respon hampir sama juga saya dapati saat berbelanja di toko waralaba yang terkenal sangat royal dalam hal kantong plastik :)

"Ih, ibu bawa kantong plastik sendiri ya?" kata seorang kasir sambil menahan tawa begitu dilihatnya saya mengeluarkan kantong plastik sendiri. Kalau tidak ingat bumi yang semakin sekarat, ingin sekali saya balas tawanya yang meremehkan itu :(

Tidak hanya 'ditertawakan', ada juga kasir yang ngotot 'memaksa' saya membungkus belanjaan saya dengan kantong plastik seperti tetangga saya tadi.

"Ibu, tidak apa-apa kami bungkus belanjaan ibu" katanya dengan mimik serius seakan ingin menambahkan "Ini bentuk layanan optimal kami bagi pelanggan", atau "Tolong jangan permalukan kami di depan para kompetitor dengan keluar dari toko kami dengan belanjaan yang tidak diplastiki", hehe, ini hanya imajinasi saya saja menafsirkan ekspresi mereka :)

Tatap aneh dan respon kurang mendukung itu perlahan berubah seiring dengan sikap saya yang mencoba tetap konsisten mengurangi limbah plastik. Beberapa kasir sengaja menunggu saya mengeluarkan plastik sendiri sebelum mereka mengambil kantong plastik dari laci meja. Beberapa bahkan secara langsung bertanya,

"Belanjaannya mau diplastiki atau langsung Ibu bawa?" tanya mereka dengan ramah.

Atau,

"Ibu cinta lingkungan ya?" senyum manis saya untuk pertanyaan yang ini

Ada juga lho yang memberi diskon harga, bonus buah atau kerupuk ketika saya membawa plastik sendiri :)



* * *

# harus ada pengorbanan untuk setiap 'cinta', termasuk cinta pada bumi:)

5 komentar:

  1. Setuju, mak. For things to change, I must change first, semoga semuanya selalu dimudahkan dan dilancarkan, ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin, banyak agenda perubahan lain yang menunggu Mak, yuk ambil bagian sebagai pelopor :)

      Hapus
  2. Haduuuh iyaaa kantong plastik nih banyak banget di rumah :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah sampai berkresek-kresek Mbak, jadi merasa sangat bersalah pada bumi :(

      Hapus
  3. betul, katanya pamali. Dan dengan ngotot tapi sopan, saya mencoba tersenyum dan menjawab "nggak papa buk, biar keliatan kalau belanja sayur" xixixixi,, jengkel kali tu ibu-ibu nya,, Semangat terus mak. Tapi saya masihhhh aja banyak plastik di rumah, karena setiap ada plastik yang kebawa, langsung dilipat dan digunakan lagi untuk pembungkus sampah,, ouuhh sepertinya sama saja ya,, tapi kan,,ayooo keep the earth ah,, :)

    BalasHapus

 
;