Kamis, 20 Maret 2014

Lebih Berempati pada Petugas Kebersihan

Seorang petugas kebersihan membersihkan sampah yang menumpuk di pinggir jalan (ilustrasi).
Sumber Foto : www.republika.co.id

Musim durian kali ini, suami sering sewot hampir setiap kali makan durian :) Pasalnya ia mendapat 'tugas' untuk membuang kulit durian ke depo atau tempat pembuangan akhir sampah saat berangkat ke kantor. Gimana gak sebel, tampilan sudah rapi mau ngantor tapi mesti njinjing kresek besar berisi kulit durian :) Tapi bagaimana lagi, membuang kulit durian langsung ke depo sampah telah menjadi 'konsekuensi' yang kami terima karena telah memakan buahnya.

Kan ada petugas kebersihan yang setiap hari keliling perumahan mengambil sampah di tiap rumah? Iya sih, tapi kami mencoba berempati pada tugas mereka yang tidak mudah tapi dibayar dengan sangat murah.


Seingat saya, sejak sekitar 10 tahun lalu tinggal terpisah dengan orang tua, iuran yang saya bayar untuk petugas kebersihan adalah 5 ribu per bulan. Jumlah ini sepertinya tetap hingga sekarang (Bu RT, tolong koreksi masih tetap atau sudah naik :) ). Kalaupun ada kenaikan, sepertinya maksimal hanya sampai 10 ribu saja. Bayangkan, 10 tahun naiknya cuma 5 ribu? Padahal BBM entah sudah berapa kali naik ya?

Ok, katakanlah iuran sampah per keluarga saat ini 10 ribu per bulan. Kebetulan di perumahan tempat saya tinggal, petugas kebersihannya keliling hampir setiap hari. Artinya, untuk setiap sampah yang mereka ambil dari rumah lalu mengantarkannya ke depo sampah, nominal yang kita bayarkan setiap harinya hanya sekitar Rp 300-350. Padahal, jarak yang mereka tempuh untuk keliling blok-blok yang menjadi area tugas mereka berkisar antara 1-2 km. Lalu jarak antara perumahan ke depo sampah sendiri sekitar 2 km. Total sekitar 4 km setiap harinya, dan biasanya ini dilakukan dengan berjalan kaki atau setidaknya separuhnya karena ada beberapa petugas kebersihan yang menggunakan sepeda motor.

Ini baru soal jarak yang tidak dekat. Lalu bagaimana soal jumlah sampah yang tidak ada batasan maksimalnya? Rp 10 ribu adalah jumlah pasti yang didapat oleh petugas kebersihan setiap bulannya dari setiap keluarga. Ini berlaku flat atau rata. Tak peduli apakah sampah yang kita 'setor' hanya 1 ons saja, atau 3 kg bahkan lebih. Belum lagi soal baunya yang ya ampun, hampir selalu membuat saya mual tiap kali berpapasan dengan gerobak sampah.

Saya hampir selalu meringis tiap kali melihat petugas kebersihan yang menarik gerobaknya sekuat tenaga hingga terlihat urat di lehernya begitu menonjol, juga dengan wajah yang kadang menegang karena beratnya gerobak sampah yang harus mereka tarik menempuh jarak kiloan meter. Belum lagi wajah yang sepertinya kurang sehat dan segar karena setiap hari bergumul dengan bakteri dan kuman-kuman di sampah.

Jadi, masih tegakah kita menambah beban mereka dengan memberi 'bonus' kulit durian yang pastinya tidak ringan? Untuk sebuah durian kecil saja, berat kulitnya hampir 1 kg. Yang sedang apalagi besar bisa sampai 2 kg. Itu kalau satu, bagaimana kalau sekali makan, sampai 2-4 durian. Dan setiap blok setidaknya ada satu keluarga yang membuang limbah durian.

Setiap kali melihat kresek besar berisi kulit durian dekat tong sampah, hati saya sering bergumam, apa ya komentar para petugas kebersihan itu saat menemukannya?

"Anda yang makan buahnya, saya yang harus membuang jauh kulitnya" ah, tentu mereka hanya bisa 'ngedumel' dalam hati soal ini.

Hal-hal inilah yang kemudian membuat saya dan suami memutuskan bahwa setiap kali makan buah durian, maka kulitnya akan kami buang sendiri ke depo sampah. Karena, sekresek besar kulit durian jelas bukan 'bonus' yang diharapkan oleh para petugas kebersihan :(

Kecuali kita mau berbagi buah durian yang kita makan agar mereka juga mencicipi enaknya si raja buah dan tak hanya kebagian sampahnya saja Atau, kalau tak sempat atau malu mengantarkan limbahnya ke depo sampah, selipkan selembar uang yang pantas untuk petugas kebersihan karena kita telah menambah beban kerja mereka. Adil kan?:)

2 komentar:

  1. saya tertarik untuk comment :D kebenaran di daerah rumah saya, ibu saya ketua RW tiap awal bulan kaya sekarang gini para pegawai TPS ( tempat pembuangan sampah) setahu saya , gaji mereka di bandung sini 250rb/ bulannya.. dengan harus ngangkut sampah berapa RT dan ada RW lain yg nimbrung buang ke tps kita...suka sedih liatnya juga, sdah tua, hanya karna 250rb per bulan,demi anak istri...untungnya ada kebijakan yg diberikan ibu rw disini hehehe, barang plastik2 bisa dijual oleh mereka dan di loakan nanti keuntungannya untuk mereka dibagi rata :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekelas Bandung saja masih rendah ya Pak?

      Di Jember, yang terbilang kota kecil, per KK dikenai sekitar 5 ribu perbulan. Jadi kalau satu petugas kebersihan membersihkan 100 rumah, yang ia dapat sekitar 500 ribu rupiah. Terbilang kecil juga. Tapi biasanya warga sering meminta bantuan pertugas kebersihan untuk bersih-bersih pekarangan semisal rumput, dan biasanya upahnya lumayan Pak, belum lagi banyak warga yang menjadikan petugas kebersihan sebagai prioritas utama orang yang menerima lungsuran barang tak terpakai yang mungkin bisa dimanfaatkan lagi atau dijual

      Hapus

 
;