Selasa, 18 Februari 2014

Pengaruh Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja terhadap Tumbuh Kembang Anak



 Tulisan ini tidak bermaksud menjustifikasi bahwa ibu bekerja memiliki banyak dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak, ataupun sebaliknya. Saya hanya ingin sharing pengalaman tentang bagaimana pengaruh yang saya rasakan ketika ibu saya bekerja kemudian memutuskan sepenuhnya mengurus keluarga. Semoga ada hikmah yang bisa diambil tanpa harus merasa paling benar dan mencemooh pilihan dan 'takdir' yang lain :)
* * *

Menurut cerita yang saya dapat, ibu saya mulanya adalah seorang ibu rumah tangga murni alias di rumah saja full mengurus keluarga. Tapi kemudian, ketika usia saya kira-kira 3-4 tahun, ibu mulai 'merintis karir' dengan berjualan di toko milik keluarga dan menjalankan sejumlah bisnis lain. Alhasil ketika itu, pengasuhan saya dan adik banyak didelegasikan pada sejumlah kerabat dekat. Maklum, waktu itu asisten rumah tangga dan tempat penitipan anak tidak sesemarak seperti sekarang


Kesibukan ibu saya sebagai 'wanita karir' semakin meningkat saat saya masuk sekolah TK. Seringkali saat saya bangun, ibu saya telah pergi ke toko. Yang saya dapati hanya sejumlah uang di meja makan dan keperluan sekolah saya hari itu. Ibu baru pulang pada sore hari, itupun biasanya tidak lama. Begitu selesai mandi, sholat Ashar dan menyirami bunga-bunganya, biasanya ibu kembali pergi. Entah untuk urusan bisnis atau apa. Nampaknya, ibu saya ketika itu tidak hanya seorang business women, tapi juga seorang sosialita

Sebagai anak dari ibu bekerja, saya sangat berkecukupan dalam hal materi. Uang jajan banyak, mainan banyak, sering makan enak, jalan-jalan, baju juga banyak dan bermerek Salah satu hal lucu yang saya ingat ketika kecil dulu adalah saya biasa memakai sepatu yang berbeda setiap hari. Jadi ada sepatu khusus untuk hari senin, selasa dan seterusnya. Maklum, koleksi sepatu dan sandal saya banyak, haha. Untuk ukuran kampung di mana kebanyakan anak hanya punya satu-dua, pakai sepatu yang berbeda setiap hari saat itu cukup keren

Meski berkecukupan dalam hal materi, tapi saya merasa sangat kesepian secara emosional. Saya sering iri dengan teman-teman sebaya saat itu yang dipanggil ibunya untuk tidur siang. Sedang saya, hanya bisa termangu sendiri di teras rumah. Tak jarang saya menangis hingga tertidur. Hingga terbangun sendiri tanpa ada siapapun di samping saya. Ah ya, saya lupa menceritakan kalau ayah saya sejak kecil terbiasa bekerja di luar kota. Biasanya hanya satu hingga dua minggu beliau di rumah, lalu pergi antara satu sampai dua bulan. Begitu ritmenya. Jadi sempurnalah kesepian saya

Ibu yang sibuk bekerja dan ayah yang sering di luar kota, tak hanya membuat saya sering merasa kesepian, namun juga memperoleh prestasi akademik yang aduhai di sekolah Saya sering berada di urutan 3 besar dari bawah dengan nilai terbaik mungkin hanya 6, itupun sangat jarang sekali. Nilai yang sering saya dapat adalah 3, 4, dan 5. Dapat nolpun juga sangat sering. Padahal, ibu saya sangat sering menyuruh saya belajar. Ya, tapi lebih banyak hanya menyuruh namun sangat jarang menemani karena kesibukan beliau yang sangat luar biasa.

Kesepian nampaknya juga berpengaruh pada akhlak saya saat kecil dulu. Menurut cerita beberapa orang yang dulu mengenal saya, saya termasuk anak yang (sangat) nakal, bandel dan usil. Katanya sih Saya heran kenapa untuk bagian yang satu ini saya nyaris tidak ingat sama sekali, hehe.

Saat usia 8 tahun, kami sekeluarga hijrah dari Jember ke Lampung. Babak barupun di mulai. Di tanah rantau ini, ibu tak lagi bekerja namun fokus sebagai ibu rumah tangga. Dampak dalam hal finansial sangat kami rasakan terutama saya. Tak ada lagi sepatu yang berbeda setiap hari, tak ada lagi uang jajan yang berlimpah, baju dan tas bermerek yang selalu trendi dan terkini. Tapi sebagai gantinya, hampir selalu ada ibu dalam setiap detik yang saya lalui. Hampir selalu ada ini nampaknya memberi pengaruh sangat besar pada saya, terutama dalam hal-hal yang positif.

Ibu nyaris tak pernah menyuruh saya belajar atau menasihati saya untuk menjadi anak yang baik. Ajaibnya, sejak pertama kali sekolah di Lampung (sejak kelas 2 SD) hingga SMA, saya langganan jadi juara kelas atau paling tidak masuk 3-4 besar. Predikat sebagai 3 besar dari bawah yang semula menjadi langganan saya saat di Jember, mampu saya ubah menjadi 3 besar dari atas. Dan konon katanya lagi, saya dulu itu imut banget akhlaknya (maaf, saya sulit mencari padanan kata lain untuk menceritakan bagian ini, jadi dikira-kira saja ya :) )

Ya, kurang lebih begitu ceritanya. Sedemikian panjang, runut dan nyata, entah kenapa baru sekarang saya menyadari bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan pada diri saya saat ibu saya berkarir (dengan cukup sukses) dan ketika berkonsentrasi penuh sebagai ibu rumah tangga.

Saat ibu sibuk bekerja, saya teramat sering mendengar kata/kalimat, "Ayo belajar", dan atau "Jadilah anak baik". Tapi nyatanya, prestasi akademik saya di sekolah justru merosot. Sayapun suka bikin onar. Sebaliknya, ketika ibu fokus menjadi ibu rumah tangga, kata dan kalimat ajaib itu nyaris tak pernah saya dengar, namun prestasi akademik saya justru gemilang dan sayapun tumbuh menjadi anak yang (cukup) baik. Lalu, di mana letak masalahnya???

Menurut saya, bekerja atau fokus menjadi ibu rumah tangga bukan penentu utamanya. Tapi bagaimana seorang ibu mampu mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya, apapun statusnya, sehingga anak menemukan suasana yang kondusif untuk mengoptimalkan segenap potensi dan bakat emasnya. Hanya saja, bekerja sangat mungkin membuat tantangan seorang ibu menjadi lebih kompleks. Sehingga jika ia tak pandai-pandai memenej waktu dan perhatiannya, anak-anak bisa terenggut hak-haknya. Ya, ini memang salah satu tantangan besar bagi ibu bekerja.

Sebaliknya, fokus pada keluarga secara kuantitas tak berarti seorang ibu mampu menjamin bahwa perhatiannya secara kualitas juga pasti baik. Selalu di rumah dan di samping anak-anak hampir setiap waktu, acapkali membuat banyak ibu rumah tangga (menurut pengalaman pribadi saya), sering terjebak pada perasaan telah melakukan yang terbaik dan segalanya bagi anak. Padahal belum tentu. Meski dalam kasus saya di atas terdapat perubahan yang sangat baik ketika ibu saya berganti status dari wanita bekerja menjadi ibu rumah tangga, namun ini sifatnya sangat kasuistis.

Kesimpulan (sederhananya), mengutip kalimat seorang teman : setiap ibu, baik yang bekerja maupun yang fokus pada keluarga, memiliki tantangan dan problematikanya masing-masing. Tak perlu merasa paling baik dan mencemooh yang lain, karena bukan status yang menentukan apakah kita yang terbaik atau bukan. Tidakkah lebih baik kita saling berempati dan menyemangati agar setiap ibu melakukan yang terbaik bagi anak-anaknya, apapun statusnya.

9 komentar:

  1. Iya mbak Rini yang penting menjaga kualitas ya dan menurut saya ikatan batin atau apa ya namanya maksud saya keseriusan dan eyes contak juga penting loh walau jarang ketemu tapi sering di peluk sambil dinasihati itu juga pengaruh khususnya buat anak saya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kualitas sebaiknya memang bersanding dengan kuantitas Mbak Hana. Persoalan kuantitas dan kualitas ini sering menjadi masalah bagi ibu bekerja tapi ibu yang full mengurus rumah tangga juga bukan jaminan dua hal ini pasti baik. Semuanya butuh perjuangan Mbak seperti yang Mbak sebutkan contohnya di atas, terimakasih atas masukannya :)

      Hapus
  2. Buat saya pribadi, kerja di luar rumah itu pilihan. Suami saya ndak pernah melarang. Asal urusan anak2 tidak terbengkalai, tak apa bekerja. Saya malah pernah bekerja satu perusahaan dengan suami.

    Ketika anak saya yang kecil masuk TK itu saya coba bekerja part time. Hanya 3 kali seminggu pula. Saat anak2 pulang di tengah hari, saya juga sudah ada di rumah. Saya pikir dengan demikian, kualitas dan kuantitas hubungan saya dengan anak2 tidak terganggu.

    Saya suka dengan pekerjaan part time tersebut. Sangat sesuai dengan bidang saya. Ibu bosnya baik. Dan teman seruangan semuanya perempuan. Menurut saya ideal sekali.

    Namun beban kerja yang tampaknya tidak seberapa itu sangat berpengaruh pada kondisi rumah. Saya jadi cepat capek. Rumah berantakan dan agak kotor. Sedangkan mata saya paling sepet kalau melihat hal2 seperti ini. Mau menggaji orang untuk membantu, sayang duitnya. Hehehehe.

    Qadarullah, di saat bersamaan, anak-anak saya gantian sakit. DI bungsu bahkan sampai sempat dirawat dua minggu di RS. Suami saya sakit. Terakhir saya sakit berkepanjangan.

    Sepertinya memang saya belum mampu memenej semua sekaligus. Akhirnya saya pilih mundur dan di rumah lagi. Maaf ceritanya jadi panjang, Mbak Rin. Ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru tau Mbak Ira pernah bekerja, terimakasih sudah berbagi Mbak :)

      Saya setuju Mbak, bagi sebagian perempuan bekerja adalah pilihan, bagi sebagian yang lain mungkin justru adalah keharusan. Apapun status yang kita jalani, semoga tugas utama sebagai ibu tetap terjaga dengan baik :)

      Hapus
  3. Karena sudah pernah tahu rasanya itu saya jadi merasakan beratnya tugas ibu yang berperan ganda. Kalau saya karena, pilihan, masih bisa seenaknya berhenti dan jadi ibu RT. Lha kalau yang keharusan itu yang terbayang bagaimana beratnya. Saya selalu kagum sama ibu-ibu ynag mampu demikian.

    Benar sekali kata Mbak Ririrn, semoga apa pun keadaannya, kita sanggup menjaga amanah dan tugas menjadi ibu ynag baik. In shaa Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, bahagianya kita yang masih bisa 'memilih', sementara banyak saudara kita yang terpaksa bekerja karena itu mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia. Entah karena menjadi single parent, keadaan yang memang sangat mendesak, dan sejumlah keadaan lain yang mungkin tak bisa dibargain lagi. wallahualam

      Hapus
  4. Pengalaman saling pengaruh mempengaruhi antara ibu dan anak bersifat sangat unik pada masing-masingnya.
    Pengalaman Ririn, yah unik untuk Ririn saja.
    Pengalaman hubungan ibu anak yang lain akan berbeda ceritanya.
    Lagi pula faktor pembentuk karakter anak tak cuma dari ibunya.
    Tapi ada juga dari orang-orang lain, lingkungan sosial, lingkungan alam, gizi dan genetis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, saya setuju, makanya di awal sudah saya sebutkan bahwa pengalaman saya sifatnya kasuistis sehingga tidak bisa digeneralisir pada semua orang apalagi kemudian menjustifikasi bahwa ibu bekerja memiliki dampak negatif banyak pada anak. Terimakasih sudah mampir Pak Heru :)

      Hapus
  5. Saya ibu dari baby 5,5 bulan, saat ini saya masih bekerja kantoran berangkat jam 6.30 pulang jam 8 malam. ada kepikiran untuk resign nanti saat anak saya usia 2 atau 3 tahun, walaupun di benak banyak sekali kekhawatiran apabila hanya tergantung sama suami, khawatir kekurangan gak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, khawatir gak bisa nabung untuk sekolah anak nantinya, khawatir gak bisa menyisihkan untuk memberikan orang tua, dan masih banyak lagi kekhawatiran lainnya. dan yang paling buat saya sedih adalah sekarang baru menyadari ternyata saya tidak punya skill lain sekalian kerja kantoran. apa ada saran untuk kondisi saya saat ini?

    BalasHapus

 
;