Sabtu, 22 Februari 2014

Bunga Bank vs 'Bunga Pahala'

Sumber Foto : di sini
"Gratis berobat ke luar negeri bagi nasabah dengan saldo minimal tertentu"

Demikian salah satu poin utama tulisan yang saya baca di sebuah koran nasional beberapa waktu lalu. Meski tau bahwa saya tidak mungkin masuk dalam kategori nasabah 'istimewa' itu, saya tetap penasaran untuk membaca keseluruhan tulisan. Dan tetap penasaran meski hal ini sebenarnya sudah teramat sering diulas dan saya baca Hasilnya, wow (semakin) luar biasa :(


Berobat gratis ke luar negeri itu hanya salah satu dan bagian kecil saja dari sejumlah 'iming-iming' yang ditawarkan oleh bank (terutama konvensional) untuk menarik nasabah kelas kakap menyimpan uangnya di bank. Sejumlah fasilitas lain yang sudah sangat umum kita ketahui antara lain, hadiah langsung bagi penabung dalam jumlah tertentu di awal mereka menjadi nasabah (biasanya dalam jumlah puluhan juta). Lalu undian berkala dengan taburan hadiah yang sangat wah (tentu saja lagi-lagi hanya diperuntukkan bagi nasabah 'istimewa'). Terkait dengan fasilitas layanan kesehatan, berobat ke luar negeri ini hanya salah satunya. Fasilitas cuma-cuma lainnya antara lain layanan antar jemput dengan helikopter dari rumah ke rumah sakit, dan kembali ke rumah.

Tentu saja, daya tarik utamanya ada pada bunga yang jumlahnya sangat fantastis (catat: lagi-lagi untuk nasabah kelas kakap). Dengan pendapatan bunga yang sangat fantastis, para pemilik modal bisa hidup nyaman dengan hanya ongkang-ongkang kaki bersama anak, cucu bahkan mungkin cicitnya. Konon, sangking besarnya jumlah pendapatan mereka dari bunga ini, ada yang bisa beli mobil setiap bulan hanya dari bunga tabungannya di bank.

Well, terlepas dari perdebatan soal halal haram bunga bank, Islam juga menawarkan insentif yang (sebenarnya) tak kalah menggiurkan. Bagusnya lagi, penawaran insentif ini tidak hanya berlaku bagi pemilik modal besar tapi juga pemilik modal pas-pasan seperti saya yang jika menabung di bank, tabungan tidak tergerus biaya admin saja sudah untung

Salah satu alternatif 'tabungan' dan bentuk 'investasi' yang bisa kita pilih adalah dengan meminjamkannya kepada kerabat atau teman tanpa melipatgandakannya dan dalam jangka waktu yang tidak memberatkan. Insentif yang Islam tawarkan adalah pahala seperti bersedekah dalam jumlah uang yang kita pinjamkan selama kita meminjamkan.

Sebagai contoh, jika kita meminjamkan 100 ribu pada X selama satu minggu, maka dalam perhitungan Allah, pahala yang akan kita dapatkan (InsyaAllah) seperti bersedekah sebesar 100 ribu setiap hari selama satu minggu. Ini baru kalau 100 ribu, dalam jangka waktu satu minggu. Belum lagi kalau kita bisa meminjamkan hingga 100 juta dalam waktu satu tahun

Tawaran yang menurut saya tak kalah menggiurkan dan ini hanya salah satu 'insentif' yang Allah tawarkan dari 'menginvetasikan' uang kita dalam bentuk pinjaman bagi orang lain yang membutuhkan dengan tanpa melipatgandakannya dan dalam jangka waktu yang (tidak) terlalu memberatkan.

Islam memang rahmatan lil'alamiin....

2 komentar:

  1. Berinvestasi di jalan memang banyak ragam dan caranya ya Jeng
    Menyingkirkan duri dari jalan agar tak diinjak orang lain saja sudah investasi yang akan mendapat balasan. Demikian pula berkata-kata baik, memberitahu orang tentang kebaikan dan lain sebagainya juga ivestasi. Dengan demikian maka semua orang bisa melakukannya.

    Terima kasih artikelnya yang bermakna
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Pakde, begitu banyak jalan dan cara yang bisa dilakukan. Terimakasih atas kunjungannya :)

      Hapus

 
;