Jumat, 08 November 2013

Mengatasi Badmood Menulis


Sumber Foto : www.qorisme.com

Jika mood sedang baik, sebuah artikel dengan kisaran kata berjumlah 400-500 kadang bisa saya selesaikan dalam waktu 30 menit, bahkan bisa lebih cepat. Namun, jika sedang jutek atau badmood, tema sudah adapun bahkan data juga sudah lengkap, tak mampu saya selesaikan dalam tiga hari, satu minggu bahkan setengah bulan :) Karena cukup sering saya mengalami ini, membuat saya mencoba memahami apa akar masalahnya lalu mencoba mencari cara mengatasinya. Berikut hal-hal yang biasanya membuat semangat menulis saya hilang.


Pertama, masalah pribadi yang sangat mengganggu. Masalah yang satu ini seringkali menjadi penyebab utama dan yang paling sering membuat semangat menulis saya hilang dan berantakan. Kadang, durasinya bisa sangat lama. Bisa dalam hitungan hari, minggu, bulan. Karena hal ini kadang tak bisa dielakkan dalam hidup, maka saya mencoba menyiasatinya dengan mengubah masalah menjadi motivasi.

Kedua, sepertinya saya termasuk orang yang cukup perfeksionis dalam menulis. Sehingga, jika topic yang ingin saya tulis sudah ada yang menulisnya bahkan lebih baik dari yang ingin saya tulis, mood saya untuk menulis sebuah tema biasanya akan menguap. Jika ini yang menjadi penyebabnya, biasanya saya akan berusaha keras menemukan celah kebaruan yang akan membedakan tulisan saya dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Kalaupun ternyata mentok, biasanya saya memilih menyimpan topic tersebut dalam ‘kotak ide’ di kepala sampai saya menemukan sesuatu yang baru tentangnya untuk saya tulis.

Ketiga, ingin menulis sebaik mungkin kadang membuat saya tidak menulis-menulis karena merasa ada yang kurang dalam bahan yang ingin saya ramu menjadi tulisan. Biasanya ini terkait dengan hal data atau teori pendukung, saat saya ingin menulis tulisan ilmiah. Jika ini masalahnya, biasanya waktu saya butuhkan untuk mencari bahan pendukung tersebut bisa lama, bisa dua minggu misalnya. Ujung-ujungnya semangat sayapun hilang berceceran sepanjang jalan mencari si bahan :)

Keempat, kegagalan beruntun yang menghilangkan rasa percaya diri. Misalnya saja dalam beberapa minggu atau bulan terakhir, tulisan saya ditolak terus oleh media atau kalah terus dalam lomba. Meski porsi untuk hal ini terbilang kecil, namun acapkali juga mempengaruhi semangat saya dalam menulis. Biasanya, saya memilih lebih menggiatkan diri menulis blog saat hal ini yang menjadi pemicu hilangnya semangat saya dalam menulis. Menulis di blog kan pasti langsung tayang dan InsyaAllah ada yang membaca :) Bagi saya ini adalah salah satu bentuk ‘kemenangan’ tersendiri, dan kebahagiaan tentunya.

Semoga bermanfaat…..

5 komentar:

  1. Sebuah pertanyaan tentang posisi kepenulisan seseorang. http://www.airlimbahku.com/2006/04/writing-quadrant.html

    BalasHapus
  2. Artikelnya sangat informatif Pak Gede, terimkasih :)

    BalasHapus
  3. Saya setuju dengan point pertama, masalah pribadi membuat mood menulis kita hilang. Saya sudah sering mengalaminya. Saya juga termasuk pribadi yg ingin tampil perfect dan kadang2 tak rasional juga. Bayangkan, saya selalu punya hasrat menulis langsung jadi...sebab jika tak selesai, maka tulisan itu tak akan selesai lagi...parah kan? Salam kenal ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perfeksionis kadang harus fleksibel Mas Taufik, karena berdasarkan pengalaman saya, jika terlalu kaku kadang justru merepotkan :) Kadang saya juga harus membuatnya menjadi realistis juga, bahwa saya tidak bisa selalu menulis dengan sempurna. Salam kenal kembali, terimakasih ..... :)

      Hapus
  4. Artikelnya bagus, mantep
    ,.. saya juga punya artikel tentang menulis,.
    nih link nya http://thatiscallphysics.blogspot.com/2013/06/jurus-jitu-menulis-kreatif.html#more

    BalasHapus

 
;